pulang

aku: aku mau pulang. boleh kita ketemu?

kamu: pulang? pulang kantor?

aku: pulang. ke kotamu. oh, kota kita maksudku.

kamu: kapan?

aku: januari.

kamu: sendiri?

aku: dengan istri dan anakku.

kamu: hmm…

aku: kog, hmm?

kamu: aku senang kalau kita bisa ketemu.

aku: gitu dong.

kamu: aku nggak janji.

aku: kenapa?

kamu: aku harus izin suamiku dulu.

aku: apa? suami?

kamu: iya.

aku: kapan?

kamu: apanya?

aku: oh, kapan kamu married?

kamu: tahun lalu.

aku: kog aku nggak tahu?

kamu: buat apa?

aku: loh…

kamu: aku tak ingin mengganggumu

aku: …..

kamu: halo, masih di sana?

aku: …..

kamu: sudah kuduga, kamu akan marah.

aku: oh, nggak….

kamu: lalu kenapa diam?

aku: maaf, ada telepon tadi (dadaku sesak)

kamu: bukan, kamu pasti sedang marah?

aku: nggak, aku nggak marah

kamu:…………

aku: hai, masih di sana?

kamu:………..

aku: halo?????

(tut tut tut…………………….)

Orang-orang Bisu

Cerpen Slamat P.  Sinambela
Dimuat di Suara Pembaruan 09/18/2005
Cerpen ini dimuat juga dalam buku “Di Bawah Sinar Lampu Merkuri” yang diterbitkan Papyrus, Yogyakarta, 2006. Silakan beli bukunya yah 🙂

Matahari membakar kampung. Kulitku masih terasa digigiti ribuan jarum walau sudah terbalut jaket. Dari atas motorku yang uzur, aku menikmati gurauan anak-anak yang saling berkejaran di gang kecil yang aku lewati. Muatan motorku menagih kehati-hatian tambahan menghindari seliweran mereka.

Memasuki halaman rumah, aku meraungraungkan gas motor untuk memastikannya gampang dinyalakan lagi. Dengan tergopoh-gopoh, Juminten menyambutku. Dia langsung membantuku menurunkan beberapa barang belanjaan pesanannya.

“Bapak ndak lupa beli odol dan sabun cucinya kan?”

“Tidak, Bu. Ada di karton merah,” ujarku langsung menuju sebuah kursi di balai-balai rumah.

“Lho, rokok yang Ibu pesan?” tanyanya menyelidik.

“Ada, di plastik hitam. Semuanya lengkap. Ko Acuan bilang harga minyak goreng naik, harga sabun naik, rokok juga. Yang lain, mungkin akan naik juga bulan depan, Bu.”

“Lha piye iki Pak, besok-besok bisa ndak cukup buat modal dagang ini, huh….”

Istriku mulai mengomel-ngomel kecil. Setiap ada kenaikan harga dari toko Ko Acuan-agen termurah di kota kecamatan-dia akan bertingkah seperti itu.

Aku bersyukur, Juminten seorang yang setia dan ulet. Untuk seorang buruh di pabrik gula, mana mungkin aku bisa menyekolahkan anakku sampai SLTA. Dan, Juminten, dengan ketelatenannya telah membesarkan warung kelontong yang kami usahakan sejak enam tahun lalu. Jarang tak ada lauk di meja dapur. Paling tidak, ada telur ceplok atau tempe garing teman bersantap setiap hari. Sayur-asem berkuah banjir bisa dipastikan melengkapinya. Cukup memenuhi empat sehat-lah. Sempurna hanya bagi si bungsu Tono-putraku berumur lima tahun. Setiap hari, harus ada tambahan susu buatnya.

“Bu, tadi warungnya rame, ndak?” tanyaku sambil mengipas-ngipas sepotong koran bekas

“Lumayan Pak. Tapi, kelihatannya Bu Marman juga akan buka warung di ujung jalan. Aku dengar dari ‘Jeng Tuti, waktu dia belanja di sini. Kalau jadi begitu, piye yo, Pak? Rejeki kita bisa berkurang toh yo?” Tangan-tangan istriku itu terus bergerak. Barang-barang belanjaan dikeluarkan satu-persatu, disusunnya dengan kecepatan yang selalu mengagumkan.

“Welah, Bu, Bu. Rejeki kan Tuhan yang atur. Susah payah juga ndak menambahnya. Mbok ya jangan terlalu dipikirkan. Lagipula kan belum pasti toh ya, Bu Marman ngewarung di sana. Tapi, ngomong-ngomong, mana nih kopinya, Bu?”

“Maaf Pak, sampai lupa. ‘Ti, Wati, ambilkan kopi Bapakmu, Nduk!” Dia berteriak, sambil tangannya terus merapikan beberapa dagangan yang bergeser dari tempatnya. Tutup-tutup stoples yang terlihat kendor dikencangkan

“Lha, Wati sudah pulang, Bu?” tanyaku penasaran.

“Sudah Pak, di sekolahnya hari ini ada penyuluhan tentang Pilkada. Jadi anak-anak lebih cepat pulang.”

“Ooh…”

Tak lama, Wati, putri sulungku muncul dengan nampan berisi kopi yang masih panas. Tubuhnya terlihat melampaui umurnya. Beberapa kali aku diam-diam mendapatinya berlama-lama berdandan di cermin besar di ruang tamu-yang hanya ada satu di rumah ini. Aku geli sendiri jika mengingatnya.

“Kopinya, Pak,” ujarnya, kemudian duduk di sebelahku.

“Makasih ya, Nduk. Gimana sekolahmu?”

“Baik, Pak,” ujarnya tersenyum manis.

Aku sudah tahu, paling dia akan bilang baik. Dia selalu dapat rangking. Salah satu yang aku bisa banggakan. Putriku bisa masuk di SMU negeri dengan prestasi yang baik. Walaupun kadang aku kerap merasakan sebuah kekalahan tatkala perlengkapan belajarnya tidak dapat terpenuhi. Kebutuhan sekolahnya menyita bagian yang cukup besar dari penghasilan kami.

“Pak, mbok Wati dibelikan Majalah, Pak. Wati kan harus tahu perkembangan dunia perempuan. Sudah tak bilangin ibu, tapi ndak pernah dikasih,” rengeknya.

“Sabar ya, Nduk. Kalau Bapak ada duit, ntar tak belikan. Yang penting uang sekolahmu lunas dan bisa makan setiap hari kan sudah syukur toh, Nduk?” ujarku sambil merasakan campur-aduk, antara geli dan nelangsa.

“Bener lho, Pak! Matur nuwun ya, Pak!” segaris senyum terpatri di wajahnya. Wati beranjak dari kursinya ke dalam rumah. Wajah sumringah-nya itu menekan senut-senut yang mulai terasa di kepalaku. Entah bagaimana memenuhi keinginannya itu.

“Pak, mbok ya jangan selalu dituruti putrimu itu. Masih banyak yang harus kita pikirkan. Hutang pada bu Sastro-uang pengobatan si Tono yang dulu-masih seratus delapan puluh ribu lagi lho, Pak,” istriku mengangkat suara.

“Iya, iya Bu. Bapak ingat. Nanti gajian Bapak ngutang dulu ke pabrik. Bapak mau istirahat dulu,” ujarku.

Kulangkahkan kakiku menggapai kamar. Sambil lalu, kuperhatikan Wati yang sedang serius memelototi TV ukuran paling kecil itu. Di kamar, aku langsung menghempaskan badanku.

*

“KANG Pri, Kang…!” Suara itu memaksaku menoleh. Kulihat Budiyono setengah berlari ke arahku.

“Ono opo, Bud?” Kuhentikan motor bututku.

“Aku cuma mau bilang kalau Suharto ndak bisa masuk, Kang. Istrinya bilang kalau dia tiba-tiba bisu. Ndak tahu kenapa. Sudah dibawa ke dokter puskesmas, tapi belum ketahuan sakit apa. Dokter di kota kecamatan saja geleng-geleng kepala, ndak ngerti. Kasihan betul dia, Kang.”

“Jadi dia ndak kerja hari ini?” tanyaku

“Iya Kang, tolong Kang Pri bilang ke mandor pabrik juga. Aku ndak enak langsung ke pak mandor.”

“Iya, nanti aku bilang ke pak mandor,” kataku. “Mau pulang?”

“Iya, Kang. Tadi aku shift malam. Matur nuwun ya, Kang.” Dia meninggalkanku. Motorku kudorong masuk ke parkiran. “Kasihan Suharto,” batinku.

Keesokannya, tambah lagi buruh jadi bisu. Sebagai senior, aku segera mendapatkan kabar tentang teman-teman kerja itu. Ini membuat bagian produksi harus bekerja keras. Sejak krisis, satu regu diciutkan hanya beberapa orang. Ini membuat setiap regu akan kesulitan jika ada yang tidak masuk kerja.

Setiap hari, selalu bertambah yang jadi bisu. Seperti sambaran geledek. Pembicaraan di setiap sudut kampung hanya cerita tentang orang-orang bisu. Belum ada dokter yang mengetahui penyebabnya. Dukun-dukun kampung juga mulai kebingungan.

“Si Sapto juga sudah bisu,” ujar yang satu.

“Mbak Sri, bagian kontrol kena juga.”

“RT-ku juga jadi bisu,” suara yang lain

“Kang Pri, kenal dengan Plimin, tetangga RT-mu? Dia juga jadi bisu.”

“Sutikno, kakak Marni, juga bisu, Kang….”

*

SHIFT malam cukup melelahkanku. Hari ini, Minggu pagi, aku ingin istirahat tidur di rumah. Untung saja tidak ada mesin yang rewel malam tadi. Target produksi terlewati sedikit. Lebih dua ton.

“Wati, Wati, kemari Nduk!” seruku begitu memasuki pintu depan rumah. Aku tidak mendengar satupun sahutan.

“Wati…!” Aku mulai mendekati kamarnya yang tidak tertutup. Kusibakkan tirai pintunya. Aku mendapati wajah putriku yang memucat. Dia memandangku seperti melihat sesuatu yang mengerikan. “Kamu kenapa, Nduk?”

Dia menjauhkan tubuhnya dariku, kemudian dengan telunjuknya dia menunjuk bibirnya, dan mengisyaratkan kata “tidak”. Tapi, aku belum mengerti.

“Bicara Nduk, bicaralah!”

Dia terlihat ketakutan, air matanya tidak terbendung lagi. Aku memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya.

“Nduk, apa yang terjadi?”

“Nyanyanya…nyanya..nya..nya…nyanya…” itu saja yang terlintas di telingaku.

Seperti ada kala yang menyengatku tiba-tiba. Emosiku memuncak. Tubuhku bergetar. Berulangkali aku mengepalkan tangan, geram.

“Coba ulangi, Nduk. Coba ulangi!”

Lamat-lamat dia mengulanginya, tapi aku masih belum bisa mengerti maksudnya. Bunyinya masih “nyanyanya….”

Aku sambar pena dan selembar kertas di atas mejanya. Kusodorkan ke tangannya. “Sejak kapan kamu tidak bersuara lagi, Nduk?” Suaraku agak memaksa.

Mataku mengikuti tulisan tangannya:

Wati ndak tahu, Pak. Tadi malam, Wati masih bisa bicara sepulang dari rumah Pak Sastro. Tapi setelah pagi, Wati sudah ndak bisa bersuara lagi. “Ada apa di rumah Pak Sastro, Nduk? Tumben ke sana?” selidikku

Wati dikasih empat puluh ribu agar pilkada nanti Wati milih Pak Sastro. Uangnya buat beli Majalah. Aku tak dapat menahan diri lagi untuk memberitahu istriku, “Bu, Ibu…!” Aku setengah berlari mencarinya ke warung, tapi tetap tidak ada sahutan. Di sana, kutemukan istriku memandangku dengan tatapan yang sangat aneh.

“Lho, kog ndak dijawab, Bu?”

Dari bibirnya kudengar, “Nyanya…nya..nya..nyanya..nya….” Hampir seperti bisikan.

Duh, Gusti!!! *

Palmerah-Semarang, 3 Mei 2004 – 29 Juni 2005

A gift to Christina Margaretha Sinambela

Aku, Kau dan Sebuah Rahasia

Cerpen Slamat P. Sinambela

diunduh dari Suara Pembaruan

APALAGI yang bisa diandalkan dari seorang lelaki jika tak lagi menepati kata-katanya? Begitu katamu saat kita pacaran dulu. Kupikir kau tahu rahasiaku. Ternyata aku harus bersyukur; kau tak tahu. Dan, kubiarkan saja berlalu. Tak akan kuceritakan sedikit pun tentang kesalahan itu. Menghadapi perempuan dengan diam selalu lebih aman. Ada sisi yang memang akan dibiarkan gelap oleh seseorang sepanjang hidupnya. Bukankah bulan pun selalu malu menunjukkan separuh badannya yang gelap?

Kemudian kita masuki pernikahan. Sebuah ritual purba yang harus dilewati anak-anak manusia. Ibuku jadi ibumu, bundamu jadi bundaku. Dan, tiba-tiba saja aku dihadiahi tumpukan beban. Membayar tagihan listrik, kontrakan rumah, rekening air, cicilan mobil, menyisihkan keping-keping rupiah untuk si buah hati kelak. Lalu, setiap pagi mendapat jatah omelan karena memencet pasta gigi tidak di bagian belakang, asbak penuh puntung, gigi harus kinclong.“ Aku tak mau bercinta dengan napas nagamu,” katamu. Lain lagi lemari agak berantakan yang tak kausuka.

O, maafkan aku. Aku juga belum bisa menghentikan kebiasaanku mencabuti bulu-bulu selimut yang membalut kita kala gigil malam menyengat. Dan itu semua membuatmu berang. “Dulu, tak kukira kau seteledor ini,” katamu. Dan kadang kala, rumah kecil kita itu berubah seperti tungku rasanya.

Pagi ini kau bangun telat. Kau meloncat setelah mencampakkan selimutmu. Tubuhmu masih tak berpakaian. Sisa percintaan tadi malam.

“Kenapa aku tak kaubangunkan?” tanyamu kesal.

Segera suara guyuran air di kamar mandi memenuhi rumah kecil kita.

“Aku tak kauingatkan,” kataku agak keras. Kuharap suaraku mencapai gendang telingamu.

“Payah kau,” sahutmu dari dalam. “Aku telat satu jam.”

Yah, aku hanya mendesah. Mungkin ada klien luar kota yang harus kauurus. Kusibakkan selimutku dan segera menyambar celanaku.

Kutuang air dari termos untuk secangkir kopi. Wangi aromanya segera memenuhi dapur kita.

“Tolong handukku,” katamu. Segera kuberikan padamu. Kaubukakan pintu kamar mandi. Tubuhmu basah. Kupandangi lagi lekuk-lekuk tubuhmu sampai pintu itu tertutup lagi. Tak lama, kau keluar berbalut handuk menuju kamar.

“Kalau mandi, sabunmu jangan letakkan di pinggir bak, biar airnya nggak kotor!” Kau protes lagi.

Sebentar kau telah terbalut pakaian kerjamu. Segera pula kausobek roti di atas lemari pendingin. Kemudian kau duduk di samping kursiku.

“Bagi ya,” katamu menyambar kopiku.

Habisin aja,” kataku. Lalu kudengar seruputan-seruputan kecil di bibir tipismu.

“Kopinya enak. Kuhabisin nih?” tanyamu.

Aku mengangguk. Kuseduh satu cangkir lagi. Dan tak lama, kau pun berangkat kerja. Dengan tas berat itu, komputer tenteng, yang lengket terus seperti pacar bagimu. Aku hanya melirik langkah kakimu yang selalu bersemangat. Lalu, kaupalingkan wajahmu ke arahku.

“Aku pergi ya, Sayang.” Aku mengangguk tersenyum. Wajahmu manis sekali.

***

GADIS itu seorang pencandu kopi di kantorku. Wajahnya mirip seorang selebritas yang tahun lalu memenangi piala untuk aktingnya yang memukau. Tentu saja kau tahu selebritas itu. Siang itu dia menemuiku di pojok ruangan, tempat sebuah dispenser dengan panas mendidihkan. Sebuah saset plastik berisi kopi arabika di tangannya. Kemudian cangkir porselin putih dengan gambar Pegunungan Himalaya itu dia siram dengan air yang mengucur dari pipa bertombol merah.

Mataku menangkap tubuhnya yang padat berisi. Kulit putih berbulu halus di tangannya itu terlihat seksi menjulur dari pakaian kantor semijasnya. Belahan yang tidak terlalu tinggi di belakang roknya yang selutut mengizinkanku melihat kakinya yang mulus. Sepatu bertumit tak terlalu tinggi itu menopang pinggulnya menjadi tampak semakin kukuh. Pinggul itu, kupikir, tak akan mendapatkan kesulitan berarti bila masuk ruang persalinan.

Dan, inilah awalnya. Ia menyapaku. Sopan sekali.

“Mau ngopi juga, Pak?”

Aku mengangguk. Kupasang senyum paling bagus. Ia membalas tersenyum.

“Saya masih punya satu lagi. Mau?”

Kali ini tanpa “pak”. Kupikir dia mulai membuka diri untuk hubungan bersifat pribadi. Itu agak tabu jika mengingat level kami. Aku manajer muda. Ia staf pemula. Beda divisi pula.

“Aku bawa kopiku,” kataku. Aku rogoh satu saset plastik kopi yang kusambar sekenanya dari lemari persediaan di rumah. Baru kusadari, ternyata kopi kami sama! Setelah kuseduh, kutawarkan duduk di lobi gedung. Ia mengangguk. Lalu kami bercerita banyak hal. Tentang kehidupan. Tentang karier. Tentu saja kau dapat membayangkan betapa nikmat secangkir kopi panas dihajar AC yang menggigilkan di tengah jutaan jarum air yang tumpah di atas paving block di halaman kantor.

“Baru kali ini aku minum kopi ini. Hmm, enak,” kataku tanpa menoleh ke wajahnya. Kuteguk sedikit, kubiarkan cairan itu melumuri seluruh lidahku untuk mendapat cita rasa.

“Aku sudah setahun. Kerasan,” balasnya. “Tak terlalu pahit dan ada wangi cokelatnya.”

“Apa dicampur?” tanyaku. Ia tertawa.

“Tidak sama sekali. Kontur tanah tertentu bisa menambah aroma. Ini jenis java mocca,” katanya cerdas. Aku makin kagum.

“Impor?” tanyaku.

“Sama sekali bukan,” katanya sambil memutar kursi untuk memudahkan matanya menangkapku. “Tanah di sekitar Ambarawa bisa hasilkan java mocca. Khas. Tak akan ada di tanah lain. Yang bercita rasa cokelat jarang di dunia. Karena itulah diberi nama java mocca.”

“Pengetahuanmu luas,” pujiku.

“Ah, tidak juga. Ayahku kerja di perkebunan,” katanya.

Dan kami terpaksa bergegas ke ruangan masing-masing setelah ia memberi isyarat dengan mengetuk-ngetukkan ujung telunjuk yang lentik di atas kaca kristal arlojinya.

Hari kedua, aku bergegas ke tempat kemarin. Kuharap dia segera keluar dari ruangan divisinya. Aku duduk di lobi. Mengawasi kalau-kalau dia keluar. Sudah kusiapkan dua saset kopi. Dengan penuh harap aku menunggu. Dan benar saja. Dia keluar dengan rok lebih tinggi. Aih, kaki belalang itu. Cangkirnya bisa kupastikan masih yang kemarin. Foto puncak Himalaya dengan gugus salju yang menggigilkan. Namun, di tepi cangkir itu kulihat benang teh celup menjulur.

“Aku tak sadar kehabisan kopi,” katanya tersenyum.

“Aku bawa dua.” Kusodorkan sebuah.

“Aduh, terima kasih sekali. Besok kuganti, ya,” katanya tersenyum lagi. Dibalutnya dengan tisu teh berkantong kertas itu. Ah, mata itu indah sekali. Tanpa menatap bibirnya pun, mata itu sudah tersenyum. Diseduhnya untuk kami berdua. Kupikir semacam ungkapan terima kasih.

“Ini,” katanya sambil menyodorkan cangkirku. Kemudian kaki-kaki kami melangkah ke lobi gedung. Dia menangkupkan tangan ke sisi cangkirnya, seperti berdoa.

“Dingin,” katanya, sambil sesekali meniup dan menyeruput kopi panas itu. Kuberi tahu kau, seandainya mataku kamera, aku sedang men-zoom lansekap wajahnya dari samping. Hidungnya bangir, membentuk siku yang cantik di depan wajah. Bulu-bulu mata itu lentik dengan alis membentuk garis tegas. Tak ada goresan pensil alis di sana. Dan telinganya mungil. Putih dan mulus. Wajah yang sempurna. Kami kemudian bercerita tentang kota ini. Semua hiruk-pikuknya. Semua pernik-perniknya yang semu.

Hari kelima belas, ketika duduk bertatapan di meja di sudut ruang, entah kenapa, setelah upacara minum kopi, tiba-tiba aku punya alasan mengelus punggung tangannya. Wajah itu tiba-tiba disergap semu merah.…

Keesokan hari, kami di lobi itu lagi. Menghabiskan jam istirahat. Dengan kopi. Begitu setiap hari. Dan ini hari kedua puluh. Rasanya tak habis-habis cerita kami. Dan makin besar kekaguman itu. Rasa-rasanya kami tidak asing lagi dengan bisik-bisik teman-teman kantor tentang kedekatanku dengannya.

Hari kedua puluh delapan, aku berhasil mengajaknya makan di restoran yang lama sudah tidak aku kunjungi. Tentu saja, agar tak satu pun pelayan dapat membekaskan ingatan mereka dengan kedekatan ganjil itu. Di sana, berhasil kuletakkan tanganku di pinggulnya sampai membentuk sudut yang nyaman di antara dua lawan jenis. Dia hanya tersenyum. Tangannya menimpa jari-jariku, menggosokkannya lembut, seperti hendak mengekalkan sebuah hubungan. Kukecup keningnya ketika kami pulang….

***

MALAM ini kau pulang dengan wajah letih. Matamu teramat sayu. Dengan kunci serep, kaumasuki rumah kita satu jam setelah tengah malam. Mataku masih tak awas ketika pintu kamar berderit dan tubuhmu terempas ke ranjang kita.

“Maafkan aku, Sayang, klienku workaholic,” katamu. Dan malam ini, entah kenapa, setelah kita tenggelam dalam diam, dengan terdengar seperti gumaman, kauingatkan aku tentang momen ketika kita bersimpuh di depan altar, mengucapkan janji setia di hadapan pendeta yang berambut selalu kelimis itu. Tiba-tiba saja, tubuhku bergetar. Lalu ubun-ubunku direcoki. Kuingat senyummu. Kuingat pelukanmu yang selalu hangat. Omelanmu tentang pasta gigi yang selalu salah kupencet. Kuingat kesetiaanmu: melipatkan selimutku setiap pagi, yang selalu alpa kulakukan. Kata-kata cerewetmu kalau aku tak menutup lemari, pintu, atau apa saja yang baru kubuka—berdenging. Kuingat kata “teledor” yang kauucapkan atas kesembronoanku.

Kuingat setelan kemeja dan dasi yang selalu kausiapkan untukku setiap pagi.

Kau selalu siap menunggui setiap sakelar lampu yang selalu lupa kumatikan. Memutar keran-keran air sampai tuntas. Membisikkan namaku berkali-kali ketika kita bercinta. Terbayang tubuh ringkihmu mencuci pakaian kita, walau telah seharian penuh tubuhmu dihajar aktivitas. Ketika dua butir air mata itu meleleh membentuk dua garis hangat di wajahku, kau telah terlelap. Tak akan kuceritakan kisah tak setia itu. Maafkanlah aku…

***

GADIS itu kuperhatikan dari sebuah sudut ruang yang tertutup tanaman hias hijau dan tinggi. Kepalanya tertunduk beberapa lama. Sebelumnya, kulihat matanya nanar, seperti menunggu seseorang. Tangannya menggenggam dua buah saset kopi arabika dan sebuah cangkir porselin dengan gambar Pegunungan Himalaya. Pandangan matanya melemah. Diangsurkannya cangkir dan kopi itu di atas meja, di sebuah pojok ruang lobi. Ia melipat tangan. Kedua bahunya naik sebentar, kemudian turun tatkala bibirnya seperti menyebut “u”, lalu tubuhnya merosot di sandaran bangku kayu berukir itu.

Namun, di luar, dari selasar bertembok kaca itu, kulihat hari tampak cerah. Begitu cerah…***

Cengkeh Zanzibar, 24 Januari 2006
(A gift to Silvia Pohan)

Catatan kecil Slamat P. Sinambela:

PERINGKAT KETIGA APS 2006

MILIS APRESIASI SASTRA

Aku, Kau dan Sebuah Rahasia aku ikutkan Apresiasi Prosa Srikanda (APS) 2006 bertema “Lelaki yang Meneteskan Air Mata” di milis Apresiasi Sastra (Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com), dan tanpa disangka-sangka berhasil menduduki peringkat ke-3 dari puluhan peserta. Dan, yang bikin aku senang banget adalah karena posisiku tepat di bawah Kang Kurnia Effendi, yang sudah tidak diragukan lagi kehebatannya di dunia cerpen Indonesia. Peringkat pertama dipegang Kang Akmal Nasery Basral (penulis novel Imperia).

Harus diakui, penulisan cerpen tematik ini adalah hal yang cukup sulit. Artinya, kita bak mencipta cerpen pesanan. Ini sangat membatasi proses kreatif kita.

Analisisku, kebetulan saja karya ini masuk kriteria (aku sama sekali tidak mempersiapkannya untuk lomba ini), dan mungkin cukup touching untuk “menawan” para juri (14 orang srikandi, yang cukup kritis).

Terus terang, ini lomba yang pertama kali kuikuti (soalnya selalu nggak pede). Walau “cuma” kelas milis, tapi peringkat ini cukup menantangku untuk lebih “wah” lagi ke depan.  Semoga.