pedagang bensin eceran dan perempuan yang tidak saya tahu namanya

jogja 30/10/2014. hari ini saya mendapatkan perlakuan tak simpatik dari pedagang bensin eceran. motor yang saya gunakan mogok di kantor pos gejayan depan realino. bensinnya habis. setelah dapat info dari tukang parkir, saya menuju pedagang bensin sekaligus tukang tambal ban yang jaraknya sekitar 25 meter dari kantor pos itu.

saya bawa bayi (1 tahun 10 bulan) serta abangnya (7 tahun). kepada tukang bensin itu, saya jelaskan bahwa motor saya posisinya di kantor pos yang saya yakin dia tahu betul. saya berniat meminjam jerigen bensinnya. sembari asyik menambal ban motor di hadapannya, dia bilang, “tidak bisa. bawa motornya ke sini.”

“waduh, saya bawa bayi pak, repot sekali. saya titip uang deh pak kalau bapak ragu. nanti saya lewat sini.”

“nggak boleh, mas, maaf ya, maaf ya.” tapi, wajahnya menjengkelkan.

saya naikkan posisi si bungsu di pangkuan, tarik tangan si sulung, “ayo pulang.”

kami berjalan kembali ke kantor pos. di jalan, seorang gadis berjilbab menghentikan kami. saya kira dia mahasiswi.

“ada apa pak? saya tadi tambal ban di situ.”

saya jelaskan apa yang terjadi.

“tunggu ya, pak saya carikan bensin,” janjinya, setelah paham motor saya ada di kantor pos yang saya tunjuk.

“terima kasih, mbak, merepotkan.”

kami menuju parkiran kantor pos. di otak saya, apes-apesnya, saya akan dorong motor itu. saya tendang lagi kick starter motor itu berharap keajaiban datang. sia-sia. tak lebih dari 10 menit, eh, si mbak tadi datang dengan seliter bensin di tangannya.

“maaf ya pak, bisanya pakai plastik.”

“terima kasih banyak ya, mbak, saya harus bayar berapa?”

“tujuh ribu saja,” katanya. wajahnya menarik. saya rogoh saku saya, saya berikan sepuluh ribu.

“jangan kembalikan,” saya bersikeras. ia memasukkan kembali recehan yang dia keluarkan dari tasnya.

“saya sudah merepotkan. terima kasih.”

“sama-sama. baik, pak. saya pergi dulu,” katanya setelah menggoda si kecil.

konyolnya saya, saya lupa tanya apa pun tentang dirinya. 😦
[]

Advertisements