Bocah Laki-laki dan Para Perampok

diterjemahkan dari cerita The Boy and the Robbers dari Fifty Famous Stories oleh James Baldwin

Di Persia, pada masa pemerintahan Raja Koresh yang Agung, anak-anak laki-laki diajarkan untuk mengatakan yang sebenarnya. Inilah salah satu pelajaran pertama mereka di rumah dan di sekolah.

“Tidak seorang pun kecuali seorang pengecut yang akan mengatakan kebohongan,” kata ayah Otanes muda. “Kebenaran itu indah. Aku selalu menyukainya,” kata ibunya.

Ketika Otanes berusia dua belas tahun, orangtuanya ingin mengirimnya ke kota yang jauh untuk belajar di sebuah sekolah terkenal di sana. Itu akan menjadi perjalanan yang panjang dan berbahaya. Jadi sudah diatur bahwa bocah itu harus bepergian dengan sekelompok kecil pedagang yang akan pergi ke tempat yang sama. “Selamat jalan, Otanes! Selalu berani dan jujur,” kata ayahnya. “Sampai jumpa, anakku! Cintailah yang indah. Bencilah yang buruk,” kata ibunya.

Rombongan kecil itu memulai perjalanan panjangmereka. Beberapa pria menunggang unta, beberapa lainnya menunggang kuda. Mereka berjalan dengan perlahan, karena matahari panas dan jalannya kasar.

Tiba-tiba, menjelang malam, sekelompok perampok menyerbu mereka. Para pedagang itu tidak melawan para perampok itu. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menyerahkan semua barang dan uang mereka.

“Nak, apa yang kau punya?” Tanya salah satu perampok, ketika dia menarik Otanes turun dari kudanya.

“Empat puluh keping emas,” jawab pemuda itu.

Perampok itu tertawa. Dia belum pernah mendengar tentang anak laki-laki membawa uang sebanyak itu. “Itu adalah cerita yang bagus,” katanya. “Di mana kau menyimpan emasmu?”

“Ada di topiku, di dalam lapisannya,” jawab Otanes.

“Baiklah! Kau tidak bisa membuatku percaya soal itu,” kata perampok itu kemudian dia bergegas pergi untuk merampok salah satu pedagang kaya.

Tidak lama perampok yang lain datang dan berkata, “Nak, apakah kau bawa emas bersamamu?”

“Ya! Empat puluh keping, di topiku,” jawab Otanes.

“Kau anak yang berani bercanda dengan perampok,” kata pria itu; dan dia juga bergegas menuju pedagang yang lebih menjanjikan.

Akhirnya kepala perampok memanggil Otanes dan berkata, “Anak muda, apakah kau punya sesuatu yang layak untuk diambil?”

Otanes menjawab, “Aku sudah memberi tahu dua orang temanmu bahwa aku membawa empat puluh keping emas di topiku. Tapi mereka tidak percaya kepadaku.”

“Buka topimu,” kata kepala perampok.

Bocah itu menurut. Kepala perampok itu merobek lapisannya dan menemukan emas yang tersembunyi di bawahnya. “Mengapa kau memberi tahu kami di mana letaknya?” tanyanya. “Tidak ada yang akan berpikir seorang anak sepertimu membawa emas bersamanya.”

“Jika aku memberimu jawaban yang berbeda, aku harus berbohong,” kata Otanes; “Dan tidak ada selain pengecut berbohong.”

Kepala perampok dikejutkan oleh jawaban ini. Dia mengingat berapa kali dia sendiri menjadi pengecut. Kemudian dia berkata, “Kau adalah anak laki-laki pemberani, dan kau dapat menyimpan emasmu. Ini dia. Naiklah ke kudamu, dan anak buahku akan berjalan bersamamu dan memastikan bahwa kau mencapai akhir perjalananmu dengan aman.”

Otanes kelak menjadi salah satu pria terkenal di negaranya. Dia adalah penasihat dan teman dua raja yang menggantikan Koresh yang Agung.

***

Advertisements
%d bloggers like this: