Pemateri di Translation Workshop Unisbank Semarang

Unisbank Semarang bekerja sama dengan HPI Komda DIY-Jateng mengadakan Translation Worshop di Kampus Unisbank Mugas pada hari Selasa tanggal 14 November 2017.

Pembicara:
1. Ibu Elisabeth Titik Murtisari (Penerjemahan Dokumen Umum/Anggota HPI)
2. Bpk. Slamat P. Sinambela (Penerjemahan Novel/Anggota HPI)

Workshop ini atas diikuti sekitar 80 mahasiswa Unisbank.

Terima kasih atas budi baik Dekan FBIB Unisbank, Ibu Endang Yuliani Rahayu, S.S., M.Pd. dan panitia yang sangat kooperatif dan menyenangkan!

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Arabica! Arabica!

     “Arabica! Arabica!” seru pegawai imigrasi itu.
     Saya melongo. Saya coba pastikan perempuan berwajah tegang itu sedang berbicara ke arah saya. Wajah perempuan setengah baya itu membuat suasana amat kaku seperti rata-rata pegawai imigrasi di pelbagai bandara. Saya mematung sejenak. Tapi mata perempuan itu malah menghunjam saya.
     “Arabica! Arabica!” Dia bicara lagi lebih keras.
     “I am from Indonesia,” kata saya sambil bingung.
     Telinga saya mungkin lelah. Belasan jam lalu kami masih berkereta api dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur. Meski dengan kereta sleeper, tidur saya tidak lelap. Saya berulang kali terbangun untuk memastikan paspor kami tetap di belakang t-shirt saya, di balik jaket yang menggigil dihantam AC gerbong.
     Kami tiba tengah malam di KL Sentral dan terpaksa harus naik taksi dari stasiun kereta api di jantung Kuala Lumpur itu ke KLIA2 di Sepang. Kereta api ekspress, yang tiketnya lebih murah, dengan tujuan KLIA2 sudah habis jam segitu.
     Sehari sebelumnya, Encik sopir taksi yang kami tumpangi di Johor Bahru sudah cerita kalau pukul 23.59 s.d. 06.00 pengendara taksi akan membebankan surcharge 50 persen ke penumpang. Dan itu berlaku di 9 negeri di Malaysia. Apa boleh buat. Saat menyerahkan kupon taksi yang saya beli dari loket resmi di stasiun KL Sentral, si Encik sopir berwajah gelap itu senang luar biasa. KLIA2 jauh soalnya. Saya merogoh kocek setara Rp600.000 untuk perjalanan taksi kurang lebih 1 jam. Encik sopir menelepon temannya. Tafsiran saya, encik ini bilang, “Aku dapat ikan besar!” ke temannya. Lalu berkali-kali mereka tertawa.
     “Rezekimu!” batin saya.
     Apa boleh buat. Daripada tiket pesawat kami berempat pukul enam pagi ke Yangon, Myanmar hangus. Ya sudahlah.
     Dan, di Yangon-lah teriakan “arabica” itu. Saya pandangi istri saya di konter imigrasi sebelah. Teman tidur saya itu menggeleng.
     “Yo paspo, yo paspo”. Segera saya berikan paspor saya. Sebuah kertas kecil terselip bertuliskan “Arrival Card” menyembul. Kertas yang langsung saya isi setelah dibagikan pramugari cantik di pesawat tadi.
     Oalah, maksudnya ini toh. []
DSCN7267

Di depan kediaman Aung San Suu Kyi, Yangoon, Myanmar