Ketika Para Penerjemah Berbagi

ppm0002Dipublikasikan di Koran Jakarta, Rabu, 15 Mei 2013.
“Anda membawa kelamin?” Tentu saja pertanyaan ini bisa runyam bila ditujukan kepada orang Indonesia. Di Malaysia, kalimat itu berarti apakah “Anda datang bersama keluarga?” (hal 103). Ini sebuah pertanyaan yang sangat wajar di Negeri Jiran. Namun, bagaimana bila tidak ada yang menjelaskan? Kalimat pertama tadi diulas dengan menarik oleh Sofia F Mansoor, seorang penerjemah senior dari ITB, di dalam artikelnya Suka Duka Berbahasa Serumpun.

Buku Pesona Penyingkap Makna hadir sebagai sarana berbagi para penerjemah yang bergabung dalam milis Bahasa dan Terjemahan Indonesia (Bahtera). Ini buku ketiga bertema alih bahasa. Isinya berbagai jenis tulisan, mulai catatan personal sampai teknis, yang disajikan dalam bahasa populer.

Tengoklah, misalnya, Kurnia Amirullah akhirnya menjadi penerjemah karena mengalami sindrom Tourette. Akibat minimnya literatur yang terperinci dalam bahasa Indonesia tentang sindrom Tourette, dia terpaksa menerjemahkan buku-buku dan berbagai teks lain tentang penyakit itu. Kurnia berharap hasil terjemahannya bisa meningkatkan awareness orang-orang Indonesia terhadap sindrom Tourette (hal 128-130).

Sindrom Tourette, suatu gangguan saraf dan perilaku (neurobehavioral disorder), dicirikan aksi tak disadari, berlangsung cepat (brief involuntary actions), berupa tics vokal (termasuk kata jorok) dan kotor, juga disertai gangguan kejiwaan (psychiatric disturbances).

Indah Nuritasari di Philadelphia bingung harus menerjemahkan keterangan dokter bahwa seorang pasien kanker hanya bisa bertahan sekitar 4 bulan. Dengan alasan kemanusiaan, akhirnya Indah menerjemahkan bahwa penyakit itu bisa disembuhkan, namun lama. Pasien akhirnya meninggal 5 tahun kemudian (hal 54–56). Tentu saja, tindakan Indah tidak dapat dibenarkan secara etika penerjemahan, namun apa jadinya jika saat itu Indah menerjemahkan apa adanya?

Buku ini memuat tulisan para penerjemah dari berbagai naungan organisasi profesi tersebut. Ada pula sharing dari Rahmad Ibrahim yang dapat hidup dari menerjemahkan. Dengan menerjemah, dia dapat membeli rumah dan membiayai kuliah pascasarjana istrinya di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang (hal 144).

Minat masyarakat untuk menekuni profesi penerjemah belum besar, namun cukup menjanjikan bila ditekuni secara serius. Beberapa tahun belakangan, penerjemah sudah diakui berupa tarif yang disahkan Menteri Keuangan. Di KTP pun sudah ada profesi penerjemah sebagai pekerjaan.

Diresensi Slamat P Sinambela, anggota penuh Himpunan Penerjemah Indonesia

Judul buku : Pesona Penyingkap Makna
Penyunting: Sofia F. Mansoor & Maria E. Sundah
Tebal : xiv + 216 halaman
Penerbit : Penerbit ITB, 2013
ISBN : 978-602-9056-47-1
Harga : Rp65.000

Sumber: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/119468

Edisi cetak:

A resensi

Jurus-jurus Bisnis dari Amerika

Judul: Solusi Bisnis dari Seberang
Penulis: Dr. Beni Bevly dan Jennie S Bev, DBA
Penerbit: Afton Asia, Jakarta
Genre: Bisnis
Jumlah Halaman: 194
Dimensi: 15,24 x 22,86 cm
ISBN: 978-602-97885-01
Edisi: I, Januari 2011
Harga: Rp. 58.500,-

Pernahkah Anda mendengar suatu department store menerima pengembalian roda mobil dari seorang pelanggan dan memberikan uang kepadanya walaupun jelas mereka tidak menjual roda mobil? Pernahkah Anda mendengar bahwa suatu toko menerima pengembalian sepatu yang rusak karena sudah dipakai tahunan dari pelanggannya dan memberikan uang kepadanya?

Di Indonesia, hal itu mustahil. Tetapi ini benar-benar terjadi di Nordstrom Inc. Department Store, Amerika. Kedua kasus di atas merupakan bagian dari ribuan kejadian di Nordstrom. Anda dapat memperoleh penjelasan tuntas perihal strategi layanan konsumen ini dalam artikel berjudul Customer Service Kelas Dunia di dalam buku ini.

Solusi Bisnis dari Seberang ditulis dua doktor business administration dari Amerika, yang berasal dari Indonesia. Keduanya merupakan praktisi, profesional dan pakar bisnis yang bermukim di Silicon Valley, USA.

Buku ini memuat 38 artikel yang dibagi dalam empat bagian. Artikel-artikel pada bagian pertama mendiskusikan berbagai business tool, menentukan mindset, juga meletakkan fondasi pengertian perihal resesi di Amerika yang pada akhirnya memengaruhi pola pengeluaran konsumen.

Bagian kedua, penulis menekankan integritas dalam berbisnis. Kecanggihan business plan berdasarkan business tool yang canggih ternyata bukan jaminan seratus persen terhadap kelanggengan bisnis. Bagian ini menggambarkan betapa pentingnya melatih dan menerapkan etika bisnis yang baik di kalangan internal karyawan, memperlakukan karyawan, pelanggan maupun pihak lain secara fair.

Bagian ketiga menyuguhkan solusi-solusi bisnis di era post-modern. Mereka melihat bahwa globalisasi yang dipicu oleh kemajuan telekomunikasi, mahalnya sumber daya, kondisi global warming menciptakan peluang besar untuk terjun pada bisnis yang bersifat post-modern.

Pada bagian terakhir, mereka menitikberatkan pada layanan konsumen kelas dunia. Bagian ini memberi pandangan bahwa setiap tahapan proses berbisnis, dari mulai perencanaan, penyediaan bahan baku, perekrutan dan pelatihan karyawan, produksi, perlakuan akuntansi, pemilihan lokasi bisnis dan sebagainya harus berfokus pada kebutuhan pelanggan.

Dengan ketajaman gabungan antara pengetahuan akademis dan profesionalisme berbisnis di Amerika Serikat, kedua penulis ini menghadirkan solusi dan model bisnis yang kehandalannya telah teruji di tengah krisis ekonomi Amerika untuk diperkenalkan dan diterapkan di Indonesia.

Disajikan dengan bahasa yang populer, membuat buku ini mudah untuk dipahami dan diterapkan. Selain untuk para pebisnis dan calon pebisnis, buku ini bagus juga untuk dibaca oleh para eksekutif, dosen, dan penikmat masalah bisnis.

Yang agak disayangkan, buku ini tampaknya tidak lolos proofreading yang ketat. Beberapa ejaan masih terlihat keteteran. Namun demikian, hal itu tidak mengurangi keampuhan jurus-jurus bisnis memukau yang diusungnya. Selamat menikmati!

Slamat P. Sinambela, penerjemah dan penyunting lepas, tinggal di Semarang

sumber: http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/650-solusi-bisnis-dari-seberang

Peta Menjelajah Tiga Kajian

Peta Menjelajah Tiga Kajian
oleh Slamat P Sinambela
dilansir dari analisisnews.com,  Selasa, 28 Juni 2011

Judul Buku  : Communication, Cultural, and Media Studies: Konsep Kunci
Penulis     : John Hartley
Penerjemah  : Kartika Wijayanti
Penerbit    : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan     : I, Oktober 2010
Tebal       : xx + 340 hlm
ISBN        : 978-602-8252-47-8
Harga       : Rp 55.000

Komunikasi memasuki suatu fase intensif yang tak terkira sebelumnya. Budaya berkembang. Informasi menjadi sangat berharga dan angkasa menjadi batasannya. Perkembangan ini memicu lahirnya kajian-kajian yang bertalian dengannya.

Kajian Komunikasi, Cultural Studies dan Media tumbuh pada era 1960an dan 1970an ketika pendidikan yang lebih tinggi mulai melihat komunikasi, budaya dan media modern secara lebih serius.

Sebagai kajian yang relatif baru, Kajian Komunikasi, Cultural Studies dan Media dikenali karena kecepatan geraknya dan kerja penelitiannya yang inovatif. Juga oleh usahanya untuk mengatakan hal baru dengan cara baru.

Pada saat yang sama, kajian ini secara luas meminjam banyak teori dan wacana pelbagai disiplin akademik yang lebih mapan. Sebagai konsekuensinya, ada masa-masa sulit bagi pendatang baru di area ini. Communication, Cultural, and Media Studies: Konsep Kunci hadir untuk mengurangi kesulitan-kesulitan itu.

Seperti peta menjelajah, buku ini menjadi panduan lengkap dan jitu mengenai Kajian Komunikasi, Cultural Studies, dan Media. Buku ini memadukan sejumlah konsep kunci yang mungkin Anda perlukan dalam format yang dapat diakses, dan bagaimana konsep-konsep kunci ini digunakan—atau akan digunakan.

Penulis buku ini, John Hartley, adalah Profesor dan Dekan Fakultas Industri Kreatif di University of Technology, Queensland, Australia. Ia merupakan penulis banyak buku dan artikel mengenai televisi, jurnalisme, dan cultural studies.

Di dalam Communication, Cultural, and Media Studies: Konsep Kunci, Hartley tak hanya menyajikan definisi yang bisa jadi malah mempersempit pemahaman, tetapi menelusuri latar belakang sejarah kemunculannya, siapa pencetus pertamanya, konteks penggunaannya dan status mutakhirnya.

Dengan membaca sebuah konsep, pembaca awal yang punya daya kritis dan naluri meneliti akan diajak menelusuri lebih jauh berdasarkan bacaan lebih lanjut atau literatur terkait yang akan meluaskan horison dan wawasan ilmiahnya.

Namun, pada saat yang sama, dengan kesederhanaan penjelasannya, beberapa konsep mempermudah pembaca untuk memahami pengertiannya dan arti pentingnya dalam kaitannya dengan bidang kajian kita (hal. vii).

Harus diakui, beberapa konsep kunci amat sulit, bahkan mustahil untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Untuk itu, penerjemah menyertakan beberapa kosa kata atau bahkan kalimat dari bahasa Inggris untuk menghindarkan pendangkalan atau pergeseran makna. Penerjemah juga menambahkan catatan kaki dengan kamus standar untuk memudahkan pembacaan buku ini.

Dengan penerjemahan yang cukup baik dan suntingan Idi Subandi Ibrahim, seorang  peneliti komunikasi politik, membuat buku edisi terjemahan ini cukup nyaman dibaca oleh mereka yang berniat merambah masuk atau meminati bidang-bidang kajian ini.

SLAMAT P. SINAMBELA, penerjemah & editor lepas

link terkait:http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/617-communication-cultural-and-media-studies-konsep-kunci

Lapotta direkam sebuah buku

Judul: Berguru Pada Pesohor, Panduan Wajib Menulis Resensi Buku Penulis: Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan Penerbit: d:buku dan I:BOEKOE Tebal: 265 hlm

Judul: Berguru Pada Pesohor, Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis: Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan
Penerbit: d:buku dan I:BOEKOE
Tebal: 265 hlm
Ukuran: 13 x 20 cm (Paperback)
ISBN: 978-602-98997-0-2
Harga: Rp 50.000 (tidak termasuk ongkos kirim)

LIMITED EDITION

Resensi bukan semata timbangan buku yang menjadi promosi, melainkan juga sebuah pengadilan atas sebuah buku. Melalui resensi nasib sebuah buku ditentukan takdirnya, cacat atau hidup mulus.

Di sini, penulis resensi dituntut bermata ganda: mata seorang wisatawan dan sekaligus penyidik.

Buku panduan menulis resensi ini mencoba merumuskan tahapan-tahapan penulisan resensi dari awal persiapan hingga akhir menjadi buku. Disertai pula contoh-contoh yang diambil dari resensi beberapa penulis ternama di Indonesia, mulai dari Tirto Adhi Soerjo, Abdullah SP, Boejong Saleh, hingga Budi Darma, Goenawan Mohamad, dan Syahrir.

Ada pula tips-tips praktis di setiap pokok bahasan.

++++++++++

Daftar Isi

KATA PENGANTAR » 5

APA, MENGAPA RESENSI » 12

  • Apa Resensi Buku Itu? » 13
  • Ringkasan Buku (Book Report) dan Resensi Buku (Book Review) » 14
  • Untuk Apa Resensi? » 14
  • Apa Bedanya Dengan Artikel? » 18

PERSIAPAN-PERSIAPAN » 20

  • Memilih » 20
  • Baru Atau Lama » 22
  • Membaca » 23
  • Daftar Pertanyaan Interogratif » 24

KARTU TANDA BUKU » 28

  • Penerbit » 30
  • Media Massa » 31

MODEL-MODEL RESENSI » 33

  • Model Rangkuman » 34
  • Model Resensi Lebih Dari Dua Buku » 36
  • Buku Sebagai Catatan Perjalanan » 41
  • Model Kritik » 43
  • Model Cerita » 54

MEMBUAT JUDUL MENGGUGAH » 57

  • Sarkastis » 65
  • Ironi » 69
  • Tindakan Tokoh » 70
  • Waktu/Silsilah » 72
  • Penulis » 73
  • Serial » 76
  • Poin Terpenting, Eye Catching » 77
  • Pertanyaan » 78
  • Metafora » 79
  • Mengolah Judul Buku » 81
  • Istilah Populer » 85
  • Penjelasan, Keluasan, Dan Peristiwa Buku » 86
  • Geografi/Tempat » 87
  • Kontradiksi » 87
  • Penekanan Dan Definitif » 89

MENAKLUKKAN PARAGRAF PERTAMA » 92

  • Tema dan Metode » 93
  • Pertanyaan » 97
  • Penulis Buku » 104
  • Gaya Penulisan » 112
  • Deskripsi » 116
  • Kisah Yang Paling Menarik » 120
  • Fisik Buku » 121
  • Kritik » 124
  • Kutipan » 127
  • Keunggulan Buku » 136
  • Perbandingan » 140
  • Angka Unik » 143
  • Puisi » 143

MENGOLAH TUBUH RESENSI » 146

  • Jenis Buku » 147
  • Metode Penulisan » 150
  • Tema » 152
  • Bagian Vital » 157
  • Karya-Karya Lain Penulis Yang Sama » 159
  • Cerita Yang Menonjol » 161
  • Kebaruan Dan Keunikan Tema » 166
  • Titik Perdebatan » 168
  • Kritik » 173
  • Cacat Buku » 178
  • Kisah Pribadi Peresensi dan
  • Buku yang Diresensinya » 188

MENGUNCI PARAGRAF TERAKHIR » 192

  • Kepada Siapa Buku Ini » 193
  • Kritik-Kritik » 194
  • Pujian » 201

PROSES AKHIR » 206

MENERBITKAN ANTOLOGI RESENSI BUKU » 210

  • Mengumpulkan Serpihan » 213
  • Terbitkan Bukumu » 215
  • Bagaimana Mendapatkan ISBN? » 219
  • Persyaratan Yang Mesti Disiapkan » 220
  • Promosi Buku » 221

KOLOM RESENSI DI MEDIA MASA » 222

  • Media Massa » 222
  • Radio » 235
  • Televisi » 237

HALAMAN RESENSI BUKU DI INTERNET » 239

BUKU RESENSI BUKU » 257

PROFIL PENULIS » 265

Sumber: Indonesia Buku

Menggugah Kesadaran akan Keberadaan Allah

Oleh Slamat P. Sinambela*)

Judul buku: You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
Kategori: Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
ISBN: 978-979-27-7918-9
Harga: Rp.52.800,-

The essence of religion did not lie in knowing or doing, but in the consciousness of being absolutely dependent or, which is the same thing, of being in relation with God. — Frederick Schleiermacher, filsuf (1768-1834)

Buku You Are Not Alone adalah karya Arvan Pradiansyah yang kelima setelah You Are A Leader (2003), Life is Beautiful (2004), Cherish Every Moment (2007), dan The 7 Laws of Happiness (2008).

Kreativitas desainer cover buku ini membuat kata “Not” tidak begitu kelihatan, sehingga bila dibaca dari jauh, selintas berjudul “You Are Alone” (kamu sendirian). Faktanya, kita memang seperti itu, sendirian; atau merasa sendirian, padahal sesungguhnya tidak, sebab Tuhan menemani kita melintasi ruang dan waktu.

Arvan, narasumber tetap untuk talkshow “Smart Happiness” di Smart FM Network yang disiarkan di 22 kota di Indonesia ini, mencoba menggugah kesadaran kita akan keberadaan Allah. Senada dengan apa yang dikatakan Schleiermacher di awal tulisan ini, Arvan berpendapat bahwa alasan mengapa agama tak berkaitan dengan perilaku manusia karena agama hanya diajarkan dalam bentuk pengetahuan dan bukan spiritualitas.

Ia menyoroti perilaku masyarakat kita yang dikenal sebagai masyarakat religius tetapi sayangnya bukan masyarakat yang spiritual. Kita rajin pergi ke tempat ibadat tetapi begitu keluar dari tempat ibadah kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Kita percaya kepada Tuhan tetapi tidak “beriman” kepada Tuhan. Ketika melakukan hal-hal tercela, kita melakukannya tanpa beban, seolah-olah Tuhan tidak melihat kita, bahkan seakan-akan Tuhan tidak pernah ada.

Kehadiran buku ini seakan tepat waktunya dengan kondisi yang terjadi pada bangsa kita: bencana alam seperti banjir Wasior, tsunami di Padang dan Kepulauan Mentawai, meletusnya Gunung Merapi, juga bencana politik kasus Bank Century, pola tingkah para wakil rakyat yang menodai akal sehat, kasus mafia hukum dan perpajakan Gayus, dan masih banyak lagi karut marut di bangsa ini. Buku ini, dari sudut pandang spiritual, membongkar pelbagai hal yang hakiki perihal persoalan yang kita hadapi sehari-hari.

Bagi Arvan, banyak persoalan yang muncul di tengah kehidupan kita terjadi karena lemahnya kesadaran kita akan keberadaan Allah. Sebutlah misalnya, bagaimanakah seharusnya memaknai bencana? Apakah bencana berarti Tuhan sedang marah seperti penafsiran beberapa tokoh agama yang tersiar di media massa?

Arvan mematahkan tafsiran itu. Pertama, menurut Arvan, pernyataan itu batal dengan sendirinya karena kenyataan di lapangan. Menurutnya, Tuhan seharusnya marah dengan orang-orang berdosa, para koruptor penghisap darah rakyat serta orang yang menyalahgunakan kekuasaannya. Sebab jika kita percaya Tuhan sedang marah, kita tak bisa menjelaskan mengapa Tuhan  selalu marah dengan orang-orang baik.

Kedua, pernyataan Tuhan marah sangatlah tidak sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Cinta Tuhan bersifat unconditional.

Ketiga, pernyataan bahwa Tuhan marah sangat tidak bertanggung jawab. Pernyataan tersebut sangat memojokkan dan menuduh Tuhan sebagai biang keladi dari segala bencana. Pernyataan tersebut menunjukkan ketidakmauan kita bertanggung jawab.

Buku ini tidaklah diperuntukkan khusus bagi pemeluk agama tertentu. Arvan mengapresiasi berbagai ajaran yang mulia dan indah dari pelbagai agama. Oleh karena itu, Tuhan yang dibicarakan di dalam buku ini adalah Tuhan yang bersifat universal. Inilah salah satu keunggulan buku ini.

Dalam renungan-renungannya ini, Arvan menyuguhkan ilustrasi yang ciamik untuk melontarkan argumennya atas topik yang sedang dibahas. Di dalam halaman-halaman tertentu disisipkan khusus kata-kata mutiara dari para ahli agama.

Beberapa renungannya menyulut kontroversi, bahkan ulasannya pernah dikecam ketika diangkat secara “live” pada program radionya. Bacalah, misalnya, bab yang diberi judul Orang Beragama Belum Tentu Baik. Bab ini mencoba mengurai fenomena mengapa banyak orang beragama ternyata tidak baik dan sebaliknya, orang tidak beragama, atau tidak menjalankan agamanya dengan baik, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya adalah orang baik.

Setelah perenungannya yang mendalam, Arvan mengajukan tiga kesalahan pokok dalam memaknai agama. Pertama, agama sering disosialisasikan dalam bentuk ritual semata. Sejak kecil kita belajar shalat namun kita lupa tidak pernah diajarkan” mengapa kita harus shalat?”

Kedua, agama sering diartikan sebagai sebuah kewajiban yang bila melakukannya akan diganjar pahala dan surga sedangkan mengabaikannya akan diganjar dosa dan neraka. Padahal kata-kata kewajiban seringkali bernuansa buruk. Kewajiban memberikan konotasi paksaan bagi orang yang melakukannya.

Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan. Padahal esensi agama adalah kasih. Dalam argumen Arvan, tanpa kasih tidak ada gunanya kita beragama. Orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama manusia.

Lewat renungan-renungannya Arvan seringkali dengan lugas mengoreksi pemahaman keberagamaan kita yang kadang picik, tertutup dan ekskusif. Ibarat sebuah sekolah rohani, buku ini menyibakkan berbagai wawasan kesadaran spiritual kita atas keberadaan Allah.

Seperti tujuan awalnya, ketiga puluh renungan ini berusaha memprovokasi para pembacanya untuk berubah secara spiritual menuju keadaan yang lebih baik dan memetik kebahagiaan hidup.

*)Slamat P. Sinambela, penerjemah dan editor lepas, tinggal di Semarang

sumber: Analisis News, 2 Maret 2011,

tautan:  http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/447-you-are-not-alone

Menguliti “Bahasa” Media

Judul : Bahasa, Citra, Media Penulis : Howard Davis dan Paul Walton (ed.) Penerjemah : Ikramullah Mahyuddin Penerbit : Jalasutra Tahun : I, 2010 Tebal : 350 halaman Harga : Rp67.000

oleh Slamat P. Sinambela

dimuat di Koran Jakarta, Selasa, 18 Januari 2011

Pers, radio, televisi, iklan, dan fotografi, masing-masing memiliki cara khas mengonstruksi dan menyampaikan pesan. “Bahasa” mereka, yang terbentuk dari ucapan dan teks tertulis, gambar diam dan bergerak, sama dalam satu hal: semuanya merupakan ekspresi dari dan kendaraan untuk menstrukturkan serta memperkuat hubungan sosial dan politik tertentu.

Esai-esai dalam buku ini mengeksplorasi dan mengurai pelbagai cara halus bagaimana media bekerja melegitimasi status quo dan memanipulasi citraan agar sesuai dengan pandangan dominan. Howard Davis dan Paul Walton mencoba menyuguhkan riset yang menguji seberapa jauh berita televisi menyimpang dari keharusannya agar tidak berpihak.

Dalam esai berjudul Kematian Seorang Perdana Menteri: Konsensus dan Penutupan dalam Berita Internasional (Bab 1), Davis dan Walton melakukan analisis sistematis terhadap peristiwa yang akan menarik pelbagai interpretasi yang bertentangan dan kemudian menyelidiki apakah ada beragam sudut pandang dalam berita itu.

Dengan mengangkat kisah pembunuhan Aldo Moro, mereka menganalisis makrostruktur teks, membuat daftar istilah deskriptif yang berlaku bagi para protagonis serta membuat perbandingan bahasa dan gaya dari contoh-contoh liputan pers. Materi yang mereka gunakan adalah kosakata berita dari rekaman dan transkrip pelbagai lembaga penyiaran jaringan berita utama di Inggris, Jerman dan AS.

Pada Bab 7, Walery Pisarek menghadirkan perbandingan bahasa representasi pers negara sosial dan negara kapitalis dalam esai Barat dan Timur “Realitas”. Dengan menggunakan kamus kekerapan kata sebagai material analisis, ia membandingkan frekuensi kata benda dan kata sifat. Salah satu simpulannya, surat kabar sosialis lebih mementingkan apa yang dianggap memiliki konsekuensi sosial dan ekonomi dibandingkan surat kabar kapitalis.

Anda juga akan secara rutin melakukan identifikasi, memahami dan mengkritik iklan ketika menonton televisi, mendengarkan radio, atau melewati papan reklame selepas membaca esai Bagaimana Memahami Iklan Menjadi Hal yang Dimungkinkan (Bab 9) yang dibesut Trevor Pateman.

Merujuk pernyataan Barthes bahwa keadaan kontras antara makna denotatif dan konotatif memainkan peran sentral dalam strukturalisme dan semiologi, Pateman memberi argumen: makna denotatif operatif suatu periklanan tidak bisa dirinci tanpa merujuk pada variabel kontekstual (atau pragmatis) (hlm. 211).

Semua esai dalam buku ini menarik wawasan dari sejumlah disiplin yang telah mapan maupun yang baru muncul, termasuk sosiolinguistik, analisis wacana, pragmatika, semiotika, dan sosiologi komunikasi.

Setelah disatukan, semua esai ini merepresentasikan contoh karya kontemporer terbaik dan paling menarik mengenai topik bahasa, pencitraan, dan kajian media. Analisisnya terikat kuat dengan ilustrasi yang antara lain mencakup bahasa radio, gambar diam dari televisi, kartun, iklan, dan tata letak surat kabar.***

Link terkait:

http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=73060

Tuhan Agamanya Apa?

Judul Indonesia : Miracle Man (sebuah NOVEL)
Judul asli : River Rising
Penulis : Athol Dickson
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Editor: G. D. Paramita
Penerbit: Gloria Graffa
Ukuran : 15X22 cm, 280 halaman
Kertas : HVS 70 gr (isi), AC 210 gr (cover)
Harga : Rp55.000,00
Kategori : Fiksi (suspense)
Sasaran : Umum
ISBN : 602-8139-22-X
EAN : 978-6028-13922-9

Tuhan Agamanya Apa?
oleh Ita Siregar

HALE Poser, seorang pendeta kulit hitam dari kota modern New Orleans, memutuskan pindah ke tempat sepi, Pilotville, daerah rerawa sepanjang sisi sungai Mississipi, negara bagian Louisiana, untuk suatu misi pribadi. Dia tidak keberatan bekerja menjadi pegawai rendahan dari satu rumah sakit khusus orang Negro. Pada waktu itu di rumah sakit, seorang ibu muda hamil tua tengah berjuang untuk melahirkan, begitu kesakitan hingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi Caesar. Dorothy, orang yang menerima bekerja di rumah sakit itu, mengajak Hale menengok. Entah apa yang terjadi tapi ketika Hale menyentuh perut si ibu, ibu itu bisa melahirkan secara normal.

Dorothy bertanya-tanya apa yang dilakukan Hale. Hale merasa tidak melakukan apa-apa, hanya berdoa. Di usia dua hari, bayi itu hilang. Seluruh warga –baik kulit hitam dan kulit putih- mencari bayi itu ke kolong tempat tidur rumah sakit sampai ke rawa-rawa. Pencarian yang aneh memang. Tak sengaja Dorothy mengeluh bahwa peristiwa seperti itu pernah terjadi 19 tahun lalu di daerah itu. Di kantor sheriff, Hale menemukan banyak catatan tentang kasus kehilangan tapi tidak pernah diusut tuntas. Karena penasaran, Hale bertekad mencari tahu.

Dengan rakit sederhana ia menyusuri sungai Missisipi hingga telat Meksiko. Selama empat hari ia malah sampai di satu ladang yang luas. Sekelompok orang Negro bekerja di sana sebagai kuli petik pohon kapas. Kondisi para pekerja sangat mengenaskan. Mereka sepertinya sudah tinggal selamanya di sana, tertindas dengan amat sangat sampai-sampai hilang percaya diri, merasa sebagai manusia warga kelas dua yang tidak layak menerima kebaikan apa pun dari hidup ini. Melihat pemandangan itu Hale sungguh prihatin, berusaha menghibur, berkata kepada mereka tentang Tuhan yang sanggup melepaskan manusia dari belenggu apa pun.

“Tapi Dia (Tuhan) kulit putih, kan?” tanya Marah, salah satu pekerja perempuan Negro di tempat itu, bertanya tentang fisik Tuhan (hal 132). Pada masa itu perbedaan status kulit putih dan hitam sangat lebar. Di ladang ini orang kulit putih akan dipanggil bos dan di dalam benak mereka orang kulit putih identik dengan bengis dan pembohong. Hale berkata, “Tidak. Dia bukan kulit putih. Paling tidak bukan hanya kulit putih. Kupikir, Dia berkulit seperti semua warna kulit yang ada.” Marah tidak puas dengan jawaban itu, juga para pekerja. Kalau Tuhan berkulit putih, bagaimana Dia bisa dipercaya? Tapi, bagaimana kalau Tuhan itu berkulit hitam?

Pertanyaan semodel itu mulai dipertanyakan lagi di masa perbudakan tahun 1600-an di daratan Amerika. Pertanyaan dasar yang mempertanyakan keberadaan Tuhan ini, seakan terus berkembang dari masa-ke-masa, dan di masa sekarang, mungkin pertanyaan itu telah menjadi, Tuhan itu agamanya apa? Sejarah umat manusia di muka bumi ini menunjukkan sulit untuk “berbagi Tuhan yang sama” dengan orang-orang yang tidak disukai atau dianggap sebagai musuh.

Kebebasan Sejati
Mengambil setting tahun 1927, Athol mengungkapkan interaksi orang kulit putih, kaum imigran, dan budak-budak Negro yang didatangkan dari Afrika, diperjualbelikan di Amerika, termasuk di Louisiana. Ia membeberkan ambisi orang kulit putih mencari lahan luas untuk menetap, membangun kerajaan kecil mereka, membeli budak-budak untuk dipekerjakan di tanah mereka.

Novel berjudul asli River Rising ini pernah memenangi Christy Award 2006 untuk novel jenis suspense. Buku ini sarat dengan nilai-nilai kekristenan. Dalam ceritanya Athol memanfaatkan keadaan para budak untuk mewakili kerinduan seluruh umat manusia untuk mendapatkan kebebasan sejati. Dalam satu dialog, Athol berhasil memunculkan masalah sederhana umat manusia, yaitu soal kebebasan jiwa manusia yang seringkali dilihat hanya secara kasat mata.

“Kau bilang Yesus ini akan memerdekakan kita di luar sana! Apakah Negro di luar sana benar-benar merdeka?” Pertanyaan yang bersifat fisik. Sementara tokoh dalam buku ini, Hale, menawarkan kebebasan yang jauh lebih bernilai. “Dalam dunia Yesus, kau dapat merdeka dari dalam dirimu sendiri, tak peduli apa pun yang mereka lakukan terhadapmu.” (hal 157). Sungguh menyedihkan bila hidup serba menderita (secara fisik) di dunia fana ini dan tidak paham bahwa kebebasan manusia sejati dimulai dari pikirannya. Bukan dari apa yang tampak. Bukankah di zaman modern ini manusia lebih tertarik memandang kebebasan semu sebagai yang kekal?

Manusia Ajaib
Plot dalam novel ini lurus tak berliku. Jika diibaratkan lagu, maka pada awal bernada rendah, naik sedikit ke tengah, terus meninggi di puncak, kemudian turun perlahan lalu menghilang. Seperti seorang yang ingin memberi petunjuk kepada pencari jejak di hutan lebat, Athol bermurah hati memberi rambu-rambu di setiap sudut hutan, menandai pohon-pohon, memberi fasilitas sehingga si pencari jejak tak mungkin kesasar.

Ada beberapa penjelasan kenapa buku ini diberi judul lain oleh penerbit menjadi Miracle Man. Mungkin karena Hale, yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, tiba-tiba menemukan buah persimmon padahal tidak sedang musim, membuat si ibu hamil tua melahirkan normal, meredakan badai di suatu malam, membuat isi panci selalu penuh sayuran dan daging sehingga para pekerja di ladang kapas itu tak kekurangan makanan saat banjir melanda, meramal akan turun hujan tak berhenti hingga menaikkan air rawa. Judul aslinya, River Rising, menurut saya kurang pas menggambarkan keseluruhan cerita, meski peristiwa hujan tak berhenti yang menyebabkan air pasang dan membubarkan pekerjaan di ladang kapas, seolah menyimbolkan putusnya penindasan di tempat itu.

Seandainya ini adalah cerita wayang, Athol adalah dalang yang baik. Ia mengatur para tokoh dalam ceritanya sesuai dengan kebutuhan, tidak membebaskan mereka sesuai karakternya masing-masing. Tokoh Hale dibuat seperti nabi yang tidak berbuat kesalahan. Tokoh Marah yang selama bertahun-tahun tertindas di ladang kapas, tiba-tiba pintar berbicara tanpa canggung ketika membeberkan rahasia hidupnya.

Buku ini juga menghibur. Dengan jenaka Athol melukiskan ‘persaingan’ dua gereja kulit putih dan khusus Negro, yang jaraknya berdekatan, saling bersaing untuk menyanyi lebih baik, berkotbah lebih baik. Anda akan dibawa pada suasana perkebunan kapas yang luas, berkenalan dengan pepohonan rawa, ‘mendengarkan’ orang-orang Negro bernyanyi merdu. Uniknya, Rokok Lucky Strike juga disebut di buku ini. Saya jadi penasaran, tahun berapa brand itu lahir. Anda akan menemukan kejutan manis gaya Holywood di akhir cerita alasan kenapa Poser pindah ke tempat ini. Atau mungkin Anda takkan lagi terkejut karena telah menangkap rambu-rambu sebelumnya. Selamat menyusur ke masa lalu.***