Tips Menulis Resensi Buku

Oleh: NUR MURSIDI

[1] Memilih Buku yang Tepat

Sebelum memulai menulis resensi buku –jika tujuannya adalah untuk dikirim ke koran atau majalah–, ada satu hal penting yang tidak bisa dikesampingkan. Hal penting itu adalah memilih buku yang tepat untuk diresensi. Memang semua buku bisa diresensi karena tidak ada satu orang pun yang melarang Anda menulis resensi buku berdasarkan selera atau kecintaan Anda pada satu jenis buku. Itu sepenuhnya adalah hak Anda atau tergantung pada Anda (suka-suka Anda).

Tapi, jika tujuan menulis resensi buku adalah untuk dikirim ke media massa –baik koran atau majalah– maka mau tidak mau Anda harus menyesuaikan selera atau jenis [genre] buku yang kerap kali dimuat di sebuah koran yang ingin Anda kirimi atau menjadi prioritas redaktur dari sebuah media massa. Sebab, ketika Anda tidak jeli dalam memilih buku yang akan diresensi, bukan satu hal yang aneh jika pada akhirnya tulisan resensi Anda itu tidak dimuat.

Tentu saja, Anda tidak mau hal itu terjadi atau menimpa diri Anda. Sebab, Anda sudah bersusah payah menulis resensi kemudian mengirimkan naskah tersebut ke koran (atau majalah) dan berharap besar akan dimuat tetapi harapan itu ternyata tak berpihak kepada Anda. Jadi, tatkala Anda berharap tulisan resensi Anda bisa dimuat, tidak ada pilihan lain, kecuali Anda harus jeli menangkap peluang dan kehendak redaktur.

Dulu, waktu saya masih awal-awal belajar menulis resensi buku dan masih buta dengan semua itu, saya menulis resensi buku hampir [jenis buku] apa saja. Dengan kata lain,  hampir semua jenis buku yang ada -selama buku itu masih termasuk kategori buku baru— sudah pasti saya resensi. Tapi, setelah berlalunya waktu, saya jadi sadar dan tahu.

Pengalaman kata sebuah pepatah memang guru yang berharga. Dari pengalaman itu saya kemudian belajar untuk menangkap peluang; membaca dengan jeli jenis-jenis buku apa yang sekiranya laku dan memiliki nilai muat di media massa? Sewaktu resensi buku saya tak dimuat, saya berusaha berpikir dengan jeli bahkan melakukan intropeksi. Setelah berkali-kali melakukan intropeksi dan belajar dari pengalaman, saya akhirnya tahu jenis-jenis buku yang dimuat.

Kebetulan, saat itu ada seorang redaktur di sebuah majalah yang tergolong baik. Dari redaktur itulah saya belajar tentang pilihan buku yang tepat untuk diresensi. Dia itu tak pelit untuk membalas atau memberikan jawaban dari setiap kiriman naskah resensi yang telah saya kirim. Jadi ceritanya, tak lama setelah saya mengirimkan resensi, kadang tidak sampai sehari atau paling lambat tiga hari, ia sudah memberikan “jawaban”. Dan seleksi awal yang jadi kriteria bagi sang redaktur itu; adalah soal pilihan buku.

Jika memang pilihan buku yang saya resensi itu “tepat” dan memiliki nilai muat, redaktur itu akan membalas email saya dengan jawaban yang memberikan “harapan”. Ia menulis dengan jawaban yang pendek tetapi menggembirakan; buku yang Anda resensi memiliki peluang untuk dimuat. Tolong, kami beri waktu beberapa hari untuk membaca dan memutuskan apakah naskah Anda layak muat atau tidak. Jika jawaban itu yang saya terima, di dalam hati, setidaknya saya sudah menggenggam harapan. Sebab, tak jarang, beberapa hari kemudian, naskah resensi saya dimuat. Jika kemudian tidak dimuat, itu sepenuhnya karena tulisan resensi saya kurang bagus, kurang kritis atau bisa jadi kalah bersaing dengan peresensi lain –jika memang ada peresensi lain yang kebetulan juga mengirim naskah resensi buku yang ternyata sama dengan buku yang saya resensi.

Tapi, kadang-kadang saya mendapatkan balasan dari redaktur itu yang membuat hati saya langsung lemas. Sebab, jika pilihan buku yang saya resensi itu tidak tepat, tak butuh waktu lama, redaktur itu langsung mengembalikan tulisan resensi saya dengan kalimat pendek dan jelas; buku yang Anda resensi kebetulan tak masuk kriteria redaksi kami. Jadi naskah Anda dikembalikan. Tapi, jangan berkecil hati. Kami tetap menunggu naskah resensi Anda yang lain.

Jadi, kriteria awal dimuat atau tidaknya naskah resensi buku itu tergantung pada pilihan buku. Karena itu, jangan sampai Anda salah atau bahasa yang halus kurang tepat dalam memilih buku untuk diresensi. Sebab, kalau salah pilih atau kurang tepat memilih buku, Anda akan rugi dan gigit jari; mengalami penolakan bahkan sebelum naskah Anda dibaca oleh redaktur sebuah media massa. Itu sungguh menyedihkan dan menyesakkan dada. Ibarat perang, Anda kalah sebelum bertarung dengan lawan.

Lalu, jenis buku-buku apa yang memiliki nilai muat cukup tinggi di media massa dan benar-benar menarik minat sang redaktur untuk membaca kemudian memuatnya? Tentu, cukup banyak pilihan buku yang bisa dipilih bahkan berlimpah ruah. Di antara pilihan-pilihan itu, antara lain adalah;

A. Buku Aktual

Apa yang dimaksud dengan buku aktual? Buku yang bisa dikata isinya mengupas tema yang sedang hangat atau sedang menjadi perbincangan. Tak sedikit, penerbit yang cukup jeli menangkap peluang pasar atau momentum terkait tema atau isu yang sedang berkembang di tengah masyarakat sehingga akhirnya menerbitkan buku-buku yang baru untuk menjawab momentum tersebut.

Contoh paling mudah adalah buku tentang Obama dan McCain. Ketika Amerika Serikat (USA) akan menggelar pemilu tahun 2008 yang menjadi pusat perhatian dunia, buku-buku yang mengangkat kehidupan kedua calon presiden itu diterbitkan –bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerbit Zahra Pustaka menangkap peluang itu dan memilih menerbitkan buku The Real McCain –sebuah buku yang mengisahkan tentang kehidupan McCain. Sementara itu penerbit Ufuk menerjemahkan buah pemikiran Obama Menerjang Harapan, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih.

Adapun untuk contoh jenis buku aktual yang sekarang ini bisa dikategorikan ke dalam ranah buku aktual ini adalah buku mengangkat tentang sosok Jokowi. Pemimpin sederhana yang kini menjadi walikota Solo itu, tidak dimungkiri, telah menarik perhatian publik ketika di tengah kebobrokan moral para pemimpin di negeri ini yang lagi berada di titik nadir, ia seperti hadir menjawab tantangan zaman; menjadi “oase dan harapan” bagi rakyat Indonesia. Ia jadi sosok pemimpin masa depan yang dirindukan rakyat. Apalagi, ketika ia dengan gagah berani menjadikan mobil Esemka, mobil rakitan anak-anak negeri sendiri sebagai mobil dinas dan kemudian berjuang menjadi mobil tersebut sebagai mobil nasional.

Di tengah kepopuleran Jokowi di blantika politik nasional itu, penerbit Ufuk Press menerbitkan buku Jokowi: Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi (Ufuk Press; 2012) dan penerbit Noura Books (kelompok Mizan) menerbit buku Jokowi: Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker (Noura Books; 2012). Buku-buku tentang Obama dan McCain pada masa itu, tahun 2008, adalah buku aktual yang memiliki nilai muat cukup tinggi di koran atau majalah. Demikian juga untuk buku tentang sosok Jokowi untuk kategori sekarang ini.

Itulah jenis buku-buku yang masuk kategori “buku aktual”. Meskipun jenis buku-buku tersebut memiliki satu kelemahan, biasanya hanya akan booming tidak lama, tetapi jika diresensi akan memiliki nilai muat yang kuat. Kenapa? Sebab isi atau berita di koran itu memiliki kecenderungan mengejar hal-hal yang aktual, baru dan menjadi pembicaraan publik, maka rubrik resensi koran atau majalah pun lebih mempertimbangkan perihal unsur-unsur kebaruan tersebut. Tak pelak, jika buku-buku aktual pun menjadi pilihan redaktur.

B. Buku Bestseller

Selain buku aktual, jenis buku-buku lain yang memiliki nilai muat tinggi di koran dan majalah adalah buku bestseller. Kenapa buku yang masuk dalam kategori bestseller itu bisa memiliki peluang muat cukup tinggi di media massa? Jawabnya simpel; karena buku-buku tersebut sedang menjadi buku laris di pasar dan koran atau majalah biasanya ingin memberikan informasi terkait buku tersebut kepada pembaca.

Adapun untuk “kategori buku bestseller, dapat disebutkan salah satu contohnya adalah novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna karya dari A. Fuadi –yang keduanya diterbitkan oleh penerbit Gramedia. Juga, buku Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta. Tak pelak, karena buku-buku tersebut cukup laris manis di pasaran hingga dicetak berulang kali. Bahkan, buku bestseller yang belakangan ini adalah Kisah Cinta Ainun Habibie.

Tentu saja masih banyak jenis buku bestseller yang bisa dijadikan sebagai pilihan buku ketika memutuskan hendak meresensi buku di koran atau majalah. Apalagi, zaman terus bergerak dan setiap tahun bisa dipastikan akan selalu lahir “buku-buku bestseller”. Jadi, seorang peresensi itu harus jeli dan tahu jenis buku-buku yang sedang laris atau bestseller.

C. Buku Kontroversial

Pilihan buku lain yang bisa diresensi di koran ataupun majalah adalah jenis buku yang masuk dalam kategori buku kontroversial. Seperti apakah buku yang kontroversial itu? Secara gampangnya, bisa didefinisikan sebagai buku yang mengundang perdebatan, mengundang rasa ingin tahu atau mematik rasa penasaran. Sebab buku kontroversial itu memang sengaja diterbitkan untuk mendobrak mainstream, mengungkap satu masalah yang belum diketahui oleh banyak orang bahkan bisa jadi menggugat pakem yang sudah baku dan bercokol lama di pikiran orang secara umum.

Buku-buku yang masuk dalam kategori ini, antara lain adalah buku The Origin of the Species karya Carles Darwin, novel The Da Vinci Code karya Dan Brown, dan Satanic Verses karya Salman Rusdhie. Adapun untuk buku-buku lokal yang masuk kategori buku kontroversial antara lain; IPDN Undercover karya dari Inu Kencana, Jakarta Uncercover karya Muammar Emka, Detik-detik yang Menentukan karya B.J. Habibie hingga buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Weiner.

D. Buku Pemikiran Baru

Kategori buku lain yang bisa dijadikan buku pilihan untuk diresensi adalah buku yang menghadirkan pemikiran baru. Buku jenis apa yang bisa dimasukkan sebagai buku pemikiran baru? Buku kategori “pemikiran baru” biasanya ditulis berdasarkan riset yang mendalam, menggugat pemikiran lama atau bisa jadi melahirkan teori baru terkait satu masalah atau bidang tertentu.

Contoh untuk buku-buku dalam kategori ini antara lain, buku karya Nur Khalik Ridwan “Agama Bojuis: Kritik atas Nalar Islam Murni” dan “Islam Borjuis Islam Proletar dan Islam: Konstruksi baru masyarakat Islam Indonesia”, “Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental” dan “Islam Pesisir” karya Nur Syam dan masih banyak lagi kategori atau jenis buku pemikiran baru yang bisa dijadikan pilihan.  Sebab, buku-buku di atas adalah buku lama, sementara untuk rubrik resensi buku harus buku terbitan baru. Jadi, seorang peresensi itu dituntut tahu perkembangan buku agar bisa memiliki wawasan luas dalam hal memilih buku-buku yang layak dan memiliki nilai muat di koran atau majalah.

E. Buku Para Pesohor

Bukan satu hal yang mengejutkan bahwa dalam dunia penerbitan buku pun kini sedang diramiakan oleh penulis yang berlatar belakang dari orang-orang terkenal seperti artis, pejabat maupun publik figur. Jadi, buku yang ditulis oleh para pesohor inilah yang saya sebut sebagai buku para pesohor. Karena, buku itu ditulis oleh “orang tekenal” atau para pesohor.

Tak dimungkiri, jika buku-buku yang ditulis oleh orang terkenal seperti artis atau publik figur akan memiliki nilai muat cukup kuat di koran, karena ditulis oleh artis atau orang-orang terkenal. Meskipun tidak semua buku yang ditulis oleh para pesohor itu jadi jaminan dimuat di koran ketika diresensi, tetapi buku-buku kategori buku para pesohor ini memiliki nilai lebih.

Sebagai contoh buku para pesohor yang belakangan ini menarik perhatian publik adalah buku-buku yang ditulis oleh Dee Lestari, seperti yang terbit belakangan; Perahu Kertas dan Madre (Bentang Pustaka). Selain memang ditulis oleh seorang artis, hampir semua buku yang ditulis oleh Dee memang berkualitas dan bermutu. Tak salah jika mutu itu semakin membuat karya Dee selain diminati di pasar juga memiliki nilai muat tinggi ketika diresensi.

Tetapi, sebagai catatan penting dari saya bahwa tak semua kategori buku pilihan yang saya sebutkan di atas –mulai dari buku aktual, buku bestseller, buku kontroversial, buku pemikiran baru dan buku para pesohor- jika diresensi pasti memiliki jaminan akan dimuat oleh redaktur di media massa. Sebab, seorang peresensi hanya memprediksi tapi semua keputusan dimuat atau tidaknya sebuah naskah resensi buku –tak bisa dinafikan- tergantung keputusan redaktur. Apalagi dalam adagium di dunia tulis menulis (di koran atau majalah) dikenal pameo yang sudah cukup terkenal dan tak asing lagi; bagus atau tidaknya sebuah tulisan itu ketika hendak dimuat tidak tergantung selera pembaca tetapi selera redaktur.

Jadi, redaktur itulah yang akan mengetok palu apakah tulisan Anda dimuat atau tidak. Peresensi mencoba meraba tentang buku-buku pilihan yang bisa diresensi, tetapi redaktur-lah yang kelak memutuskan. Karena itulah, dalam kesempatan lain, akan saya kupas lebih jauh lagi tentang kecenderungan atau selera dari seorang redaktur –karena dengan mengetahui akan kecenderungan dan selera redaktur itu, bisa menjadi penentu bisa dimuat atau tidaknya naskah resensi Anda.
[2] Membaca Buku untuk Meresensi

Setelah memilih buku yang tepat, lantas apakah buku yang akan diresensi itu harus dibaca seluruhnya dari awal hingga akhir? Tidak jarang bahkan sering kali saya mendapatkan pertanyaan seperti itu dari beberapa peresensi pemula atau beberapa teman yang baru belajar menulis resensi.

Jawaban saya pendek; lebih baik bahkan lebih mumpuni jika buku yang akan diresensi itu dibaca seluruhnya dari awal hingga akhir. Apalagi jika buku yang akan diresensi itu adalah novel. Sebab, untuk meresensi sebuah novel, seorang peresensi dituntut harus tahu setiap tikungan cerita, titik balik (dari jalan cerita), tokoh-tokoh penting dalam novel, bahkan dituntut untuk mengetahui ending cerita. Kalau tidak sampai tahu semua hal itu dengan detail, pasti tulisan resensi (untuk kategori novel) yang dihasilkan akan kurang mendalam atau bahkan bisa menyesatkan.

Kenapa harus membaca buku seluruhnya? Jawabnya saya pun cukup simpel. Pertama, dengan membaca seluruh buku, maka seorang peresensi akan lebih banyak tahu isi buku daripada hanya membaca sekilas atau beberapa bagian penting saja dari buku tersebut. Kedua, dengan membaca seluruh isi buku, maka peresensi akan tahu kalau ada kekurangan atau kelemahan yang ada dalam buku yang sedang dibaca itu.

Sebab, seorang penulis buku itu sejatinya bukan “malaikat”. Jadi, bukan satu jaminan bahwa buku yang terbit atau beredar di pasaran itu  pasti “sempurna”. Maka dengan membaca seluruh (dari isi) buku, seorang peresensi bisa menemukan, misal jika ada satu bagian atau bab yang kurang sempurna –bahkan bisa pula menemukan jika ada kesalahan tulis, kutip atau bahkan kekurangan data.

Tak salah lagi, jika di sini saya harus berani mengatakan dengan tegas bahwa membaca untuk tujuan meresensi itu beda dengan membaca buku pada umumnya. Dalam membaca buku untuk tujuan meresensi, seorang peresensi dituntut jeli, kritis dan cermat. Sebab, tujuan “membaca buku” untuk meresensi itu adalah menangkap ruh,  point penting, bahkan inti sari dari buku tersebut. Jika gagal menemukan poin penting, ruh atau inti sari dari isi buku tersebut, bisa bahaya. Resensi yang dihasilkan –tidak menutup kemungkinan—akan melenceng dari buku yang justru diresensi.

Jika hal itu yang terjadi, apakah itu bukan tindakan yang “fatal”? Karena itu, saya selalu menyarankan bagi peresensi pemula untuk membaca “seluruh isi” buku yang hendak diresensi. Bahkan, syarat itu membaca seluruh buku dari awal hingga akhir pun bagi saya masih kurang. Sebab, hal penting lain –selain membaca untuk menangkap ruh buku– yang tidak bisa dilupakan lagi adalah membaca dengan kritis.

Tuntutan membaca dengan kritis itu dimaksudkan sebagai modal agar resensi yang dihasilkan nanti akan lebih “berbobot”, karena peresensi memiliki ruang untuk memberi kritikan, jeli memangkap secuil kelemahan atau kekurangan buku.

Apakah tuntutan untuk membaca buku (yang hendak diresensi) secara utuh –dari halaman pertama sampai halaman akhir– itu wajib? Jawaban saya pun simpel; tergantung kapasitas, pengetahuan dan wawasan dari seorang peresensi itu. Semisal, jika kebetulan seorang peresensi itu memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas tentang tema yang dibahas dalam buku yang hendak diresensi maka tak ada tuntutan harus membaca seluruh isi buku. Sebab, tugas seorang peresensi membaca itu tidak kurang dan tak lebih adalah menemukan pokok pikiran yang dituangkan oleh penulis dalam sebuah buku. Tetapi, dengan catatan harus tetap membaca dengan jeli bahkan kritis.

Jadi, jika seorang peresensi sudah mampu menangkap pokok pikiran (point penting) dalam buku yang hendak diresensi, maka itu sudah cukup. Lalu, bagaimana cara membaca buku yang bisa langsung menemukan pokok pikiran penulis yang ada dalam sebuah buku? Di sinilah, seorang penulis resensi dituntut menguasai “teknik” membaca. Sebab, untuk menemukan pokok pikiran itu tidak harus membaca seluruh isi buku. Apalagi, jika secara kebetulan tema yang diangkat dalam buku yang hendak diresensi itu sudah tidak asing lagi. Jika itu yang dilakukan (membaca seluruh buku), tentu akan memakan cukup “waktu lama”. Padahal, seorang peresensi buku itu –jika tujuan sedari awal hendak meresensi buku tersebut di koran— dituntut cepat.

Setidaknya, ada beberapa teknik dalam membaca buku yang bisa diterapkan.

a). Membaca Cepat (speed reading)  Meski dalam teknik ini, seorang peresensi dituntut untuk tetap konsentrasi menangkap substansi (isi/pokok pikiran) dari buku yang dibaca, tetap saja tidak mengabaikan konsentrasi pada substansi ejaan. Apalagi teknik membaca cepat ini, sekarang ini sedang trend. Sebab, dengan teknik ini, orang tidak lagi butuh waktu lama dalam membaca sebuah buku, tetapi tidak “mengurangi” kualitas seseorang dalam menangkap pesan, isi dan bahkan pokok pikiran penulis di dalam buku tersebut.

Jadi, intinya seorang peresensi bisa membaca dengan cepat tetapi tetap saja berkonsentrasi membaca naskah secara seksama agar tetap menemukan pemahaman serta pemaknaan yang benar dari pembacaan tersebut. Jika seorang peresensi sudah menguasai teknik ini, maka itu adalah satu point plus yang dimiliki. Sebab, dia tidak perlu membaca buku dalam waktu yang lama, tetapi bisa memangkap isi buku yang hendak diresensi.

b) Membaca Secara Sekilas

Dalam teknik ini, seorang peresensi buku tak harus membaca huruf per huruf, kata per kata, atau kalimat per kalimat. Jika hal itu yang dilakukan, lagi-lagi akan membutuhkan waktu yang lama. Apalagi, bagi seorang peresensi yang tidak memiliki minat baca tinggi. Maka bisa butuh waktu satu minggu untuk bisa menyelesaikan bacaan satu buku. Padahal, meresensi di koran itu butuh waktu cepat –mengingat dead line buku baru itu singkat dan persaingan ketat antar peresensi pun cukup tinggi.

Padahal, jika kalah bersaing atau bahkan resensi buku yang hendak diresensi itu kalah cepat atau dikerjakan lebih dulu oleh peresensi lain, maka itu bisa dikata kehilangan peluang yang cukup berharga (untuk kriteria buku baru dan bagaimana dapat memenangkan persaingan dengan peresensi lain sewaktu mengirim di koran, akan saya bahas di lain waktu. Jadi mohon sabar. Tips-tips berikutnya seputar kedua tema tersebut, saya jamin tidak akan kalah berharga dan patut dicermati) Tunggu ya!

Lalu, bagaimana cara “membaca sekilas” tetapi tidak kehilangan poin penting dari sebuah buku yang dibaca? Tentu harus jeli menangkap ide utama (main idea) di dalam setiap paragraf dari lembaran-lembaran buku. Dengan tangkas (jeli) membaca ide utama, maka tidak perlu butuh waktu lama. Sebab, seorang peresensi bisa lompat dari paragraf satu ke paragraf yang lain setelah mengkap maksud dari setiap paragraf dari lembaran-lembaran buku tersebut.

Dari ide utama yang berhasil ditangkap itulah, peresensi bisa memberi garis bawah atau menorehkan stabilo. Metode ini selain untuk menemukan ide utama dari sebuah paragraf, juga untuk menandai kalimat-kalimat penting yang kelak akan bisa dijadikan bahan dalam membuat resensi buku. Dengan patokan kalimat yang diberi garis bawah atau stabilo itu, peresensi kelak ketika menulis resensi tinggal membalik dan mencari mana bagian penting yang harus dimasukkan ke dalam resensi. Mudah dan simpel kan?

Jadi, tidak perlu repot-repot membaca kata per kata. Kalau sudah ditemukan jalan yang bisa ditempuh dengan cepat, kenapa harus menempuh cara yang lambat? Tetapi, metode ini menurut saya, tidak bisa diterapkan dalam membaca buku untuk genre novel. Sebab, untuk kategori novel, membaca seluruh isi buku adalah wajib. Itu tidak lain, karena novel memiliki kisi-kisi dan tikungan-tikungan yang tidak sedikit, sehingga perlu dibaca dengan seksama dan cermat dari awal hingga akhir.

c) Membaca “to the Point”

Apa yang dimaksud dengan membaca to the poin? Saya sebenarnya tak punya  sebutan yang pas untuk metode satu ini (mungkin ada sebutannya, tetapi kebetulan saya saja yang belum mengenal ataupun belum tahu nama untuk metode ini). Jadi, membaca “to the point” itu pada intinya adalah menangkap pokok pikiran, ruh, inti sari yang dituangkan oleh penulis dalam sebuah buku. Sekali lagi, metode ini tak bisa diterapkan untuk membaca jenis buku kategori novel. Metode ini –sekali lagi– hanya dapat diterapkan untuk genre buku sistematis –seperti buku yang semula diangkat dari skripsi, tesis atau desertasi. Juga, buku-buku yang ditulis secara runtut, urut dan sistematis seperti buku yang ditulis dari hasil sebuah penelitian.

Lalu, bagaimana teknik membaca “to the point” itu? Pertama-tama, bukalah daftar isi buku, lalu temukan pokok pikiran dari buku tersebut dalam daftar isi buku tersebut. Bagaimana cara menemukan pokok pikiran hanya dari membaca daftar isi? Tentu gampang! Ini hanya sekadar untuk mengenali sistematika sebuah buku saja. Karena itu, setelah membaca daftar isi, bukalah “pendahuluan” buku tersebut. Dari pendahuluan itu, sudah pasti akan ditemukan pokok masalah yang jadi bahasan dari buku tersebut.

Sebagaimana susunan buku yang ditulis secara sistematis, pada “bagian awal” (atau pendahuluan) buku itu, sudah pasti penulis buku akan mengajukan “poin-poin” penting berupa pertanyaan yang akan dijawab di dalam (pembahasan) buku tersebut. Dengan kata lain, poin-poin penting yang akan jadi pertanyaan itu tidak lain adalah rumusan masalah. Jadi, temukan dengan cermat “rumusan masalah” buku tersebut.

Jika sudah ketemu, langkah berikutnya adalah membuka “bab pembahasan” –biasanya di bab akhir—dan setelah itu, bacalah dengan seksama, cermat dan kritis. Dengan menerapkan metode ini, maka peresensi tak perlu lagi harus membaca dari halaman awal sampai akhir. Cukup hanya membaca poin penting sebuah buku sebab untuk menemukan pokok pikiran sebuah buku, apalagi kalau kebetulan peresensi itu sudah menguasai tema yang dikupas dalam buku tersebut, maka tinggal membaca to the point dari sebuah buku.

Jadi, pada intinya, membaca buku untuk meresensi itu hukumnya wajib. Tak bisa ditawar lagi. Tanpa membaca, pastilah seorang peresensi tidak memiliki modal apa pun untuk dijadikan “sebagai bahan” tulisan dalam menulis resensi buku. Di sini saya bercerita sedikit tentang sebuah kisah curang dan tragis yang pernah dilakukan oleh satu satu teman saya dalam meresensi buku. Tapi, sekali lagi, ini hanya sekadar contoh. Dan contoh ini adalah contoh buruk, yang tidak saya anjurkan untuk ditiru! Jadi, untuk apa saya perlu menceritakan kisah ini? Tujuannya, tidak lain, agar Anda dan juga saya bisa belajar tak saja dari kisah-kisah yang baik tapi juga bisa memetik pelajaran dari kisah-kisah yang kurang baik.

Saya sebenarnya tak tahu apa motif teman saya di balik ulah curang dan culas yang dia lakukan dalam menulis resensi buku itu. Jadi kisahnya, satu hari teman saya itu menulis resensi buku. Tetapi, dia itu tidak memiliki buku tersebut. Jadi, intinya, dia tidak membaca buku itu, tetapi memaksakan diri menulis resensi buku tersebut. Pertanyaan yang mungkin hendak Anda ajukan, bagaimana dia (teman saya itu) bisa menulis resensi padahal dia itu tidak memiliki buku itu, apalagi membuka dari setiap halaman dan membaca buku tersebut.

Lalu bagaimana ia bisa membuat resensi untuk buku yang tidak dia baca itu? Inilah yang saya cebut ulah curang dan culas. Mungkin, dia itu butuh uang, atau lagi butuh buku sehingga kebelet menulis resensi dengan mengambil jalan pintas. Jadi, singkat cerita, teman saya itu tak mau susah-susah membaca buku tersebut. Apalagi, mau membeli. Intinya dia tidak mau susah-susah membaca buku tersebut, tapi mau jalan pintas dengan cara mencari-cari bahan seputar tema yang diulas buku tersebut.

Setelah dia mendapatkan bahan, dia menulis resensi buku berdasarkan dari bahan yang dia kumpulkan dari internet itu. Ironisnya, nasibnya sedang mujur. Tak lama setelah ia mengirimkan hasil resensi (palsu) dan menunggu, ternyata “resensi” yang dia tulis itu dimuat di koran. Redaktur memang bisa “kecolongan”. Dan kasus ini salah satu satu contoh! Sebab tak sedikit redaktur yang juga belum pernah tahu wujud buku. Jadi, dia tentu belum tahu apa isi buku yang kebetulan diresensi oleh hampir peresensi yang mengirim. Sementara tugas dia hanya menyeleksi. Tapi itulah yang kemudian terjadi. Redaktur itu ketipu bahkan bisa disebut kecolongan. Karena dia memuat sebuah resensi palsu.

Tetapi, tidak demikian dengan orang penerbit –dalam hal ini editor di sebuah penerbit. Dia sudah pasti tahu isi buku itu. Maka, ketika teman saya itu menelpon ke penerbit untuk meminta buku baru dan bonus (berupa uang), dia –teman saya itu– bukan mendapatkan pujian, penghargaan yang baik, atau rasa simpati, tetapi justru diumpat. Sebab, editor di penerbit –yang kebetulan bukunya di resensi oleh teman saya itu—tahu bahwa teman saya meresensi buku dengan ngawur, bahkan melenceng dari isi buku.

Setelah mendapatkan complain pedas dari editor, teman saya itu pun hanya duduk lemas dan termangu. Lebih dari itu, dia “merasa malu” lantaran telah merusak kepercayaan dan reputasi yang dia bangun. Dia tidak saja tidak jujur pada penerbit, dan banyak pembaca yang telah resensi buku yang dia tulis –karena jauh dari isi buku—tapi dia juga tidak jujur pada dirinya sendiri.

Dari kisah ini, saya ingin menegaskan bahwa penulis itu dituntut untuk jujur dan mau tidak mau juga harus “berjuang sekuat tenaga” untuk menjaga reputasi dan kepercayaan. Sebab, jika reputasi dan kepercayaan yang sudah diberikan orang lain –baik itu penerbit maupun redaktur dilukai, penulis itu sendiri yang akan rugi. Dia tak lagi dipercaya dan nama baiknya hancur.

Jadi, apakah untuk meresensi buku itu seorang peresensi harus “membaca” buku tersebut dari awal sampai akhir? Hanya Anda yang bisa menjawab. Sebab tugas peresensi itu selain memberikan informasi seputar buku yang diresensi, pada intinya juga memberikan penilaian dan pendapat Anda tentang buku yang diresensi. Maka, hasil bacaan Anda itu menentukan seberapa kuat resensi yang akan Anda tulis. Kian kuat Anda membaca, akan semakin berbobot hasil resensi yang Anda hasilkan.

[3] Menunjang Resensi dengan Riset

Lalu, apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah seorang peresensi membaca buku hingga tamat bahkan sudah menemukan pokok pikiran sebuah buku yang hendak diresensi? Apakah setelah itu langsung “menulis” resensi buku? Tentu,  tidak ada yang melarang Anda jika memang sudah merasa siap melakukan “eksekusi” atau tepatnya memulai menulis resensi.

Tetapi, saran saya sebaiknya hasrat untuk segera menulis resensi itu ditunda dulu. Meskipun sebenarnya bisa langsung memulai menulis (resensi), tapi akan jauh lebih baik jika Anda melakukan riset. Apalagi kalau tema buku yang hendak diresensi itu tergolong berat. Maka, melakukan riset bisa dikata “setengah wajib” atau bahkan bisa digolongkan wajib.

Kenapa harus melakukan pekerjaan tambahan riset segala? Bukankah hal itu hanya akan membuang-buang waktu saja? Apalagi, dalam “meresensi buku” di koran atau majalah itu dibutuhkan waktu yang cepat dan harus buru-buru lantaran dibatasi deadline. Pada sisi lain, juga agar tidak keduluan dengan peresensi lain. Tentu benar. Bahkan, tuntutan bekerja dengan cepat dan buru-buru itu harus diingat.

Tetapi kalau sesuatu pekerjaan –termasuk menulis resensi– harus dikerjakan dengan buru-buru, dan tanpa didukung dengan “riset mendalam” sebagai tambahan bahan, tidak menutup kemungkinan hasil dari resensi itu bisa kurang mendalam dan kurang menggigit. Tulisan bisa jadi kering, datar dan biasa-biasa saja. Padahal, kalau tulisan resensi seperti itu yang dihasilkan, peresensi bisa rugi. Sebab, tulisan resensi yang sudah dibuat dengan susah payah bahkan sudah menulis sampai “larut malam” ujungnya tidak dimuat.

Dapat dipastikan, setiap peresensi tidak mau mengalami nasib buruk seperti itu. Sebab hal itu menandakan bahwa peresensi itu tidak bekerja  dengan baik apalagi mendekati sempurna. Karena itu, tuntutan melakukan riset benar-benar dibutuhkan bahkan bagi peresensi yang masih baru (pemula), hal itu sangat wajib.

Lalu, jenis riset seperti apa yang dibutuhkan itu? Setidaknya, ada dua (2) riset yang bisa dilakukan, yakni riset lewat internet dan riset dengan mencari buku-buku dengan tema yang sama (dengan buku yang hendak diresensi).

a) Riset Internet
Riset internet bisa dikata merupakan riset kecil-kecilan dengan tujuan untuk mencari bahan-bahan tentang tema yang diulas dalam buku yang hendak diresensi. Riset ini perlu ditempuh (tidak lain) untuk menambah data atau menambah referensi dari sudut pandang lain sebagai bahan pijakan. Data atau referensi tambahan ini bisa dari makalah, opini atau bahkan tulisan ringan dari orang lain yang ada di internet.

Sebab, tidak menutup kemungkinan buku yang hendak diresensi itu kurang data dan bahkan bisa jadi sajian yang dipaparkan penulis di dalam buku itu kurang mendalam. Wajar, jika peresensi harus mencari tambahan data atau referensi supaya peresensi itu memiliki tambahan wawasan dan pengatahuan. Dengan keluasan atau tambahan pengetahuan itu, peresensi nanti dalam menulis resensi –bisa dipastikan– akan memiliki dua kelebihan.

Pertama, tulisan resensi yang dihasilkan akan tampak kaya dengan data dan referensi lain karena ditunjang dengan pengetahuan dari peresensi yang luas. Ini bisa menjadi bukti bahwa peresensi itu tidak sekadar berpijak dari buku yang diresensi, tapi masih menambah dengan pengetahuan dan rujukan lain. Alhasil, tulisan resensi yang dihasilkan itupun bisa jaduh lebih berwarna karena ditulis oleh presensi dengan kekayaan pengetahuan.

Kedua, dengan adanya tambahan data dan referensi yang dihasilkan dari riset kecil-kecilan lewat internet itu, peresensi bisa memiliki modal yang bisa digunakan untuk melihat kekurangan dan kelemahan buku yang diresensi. Jika menang dalam buku yang diresensi itu ada kekurangan data, misal, maka peresensi bisa menyajikan adanya kekurangan dan kelemahan buku itu.

Inilah nilai plus dari seorang peresensi yang mau melakukan riset tambahan lewat internet –apalagi jika peresensi pemula itu masih belum menguasai betul tema atau bidang yang dikupas dalam buku yang diresensi. Jadi, tambahan riset itu akan banyak membantuk dan menunjang dalam menulis resensi. Karena itulah, semakin banyak peresensi itu menemukan data-data tambahan dari hasil riset tersebut, justru hal itu akan lebih baik.

b) Riset Buku
Meski buku yang akan diresensi itu sudah tamat dibaca, dan peresensi sudah menemukan pokok pikiran di dalam buku tersebut, dan siap menulis menulis resensi buku dengan segera, bukan berarti kegiatan “mencari” dan bahkan “membaca” buku-buku lain yang memiliki tema yang sama dengan buku yang akan diresensi tidak lagi dibutuhkan. Dengan kata lain, justru membaca buku-buku lain yang bertema sama dengan buku yang akan diresensi itu sangat dibutuhkan. Pada point inilah, peresensi itu diharuskan melakukan riset untuk “mencari tahu lebih jauh” tentang buku-buku yang bertema sama.

Jika penulis buku itu kebetulan sebelumnya pernah menulis buku-buku yang “bertema sama” –dengan buku yang hendak diresensi–, hal ini jelas harus diketahui oleh peresensi. Sebab, buku sebelumnya yang ditulis oleh penulis yang sama itu akan bisa membantu peresensi, setidaknya untuk menyelami isi buku yang dihasilkan oleh penulis itu pada buku-buku yang lain. Apalagi, jika buku yang diresensi itu adalah buku lanjutan atau setidaknya masih memiliki hubungan dengan buku sebelumnya. Jadi, membaca buku-buku lain dari penulis buku yang hendak diresensi itu sangat diperlukan. Jadi, perlu membaca buku-buku lain yang dihasilkan penulis tersebut.

Selain membaca buku-buku lain yang dihasilkan oleh penulis buku yang akan diresensi, membaca buku-buku dari penulis lain yang kebetulan membahas bidang atau tema yang sama dengan buku yang hendak diresensi pun juga tak kalah penting. Bahkan, kemauan peresensi untuk membaca buku dari penulis lain yang kebetulan bertema sama akan sangat membantu.

Setidaknya, ada dua hal penting yang bisa menjadi nilai lebih ketika peresensi mau melakukan riset dengan mencari dan membaca buku-buku yang bertema sama –baik dari penulis buku yang hendak diresensi (jika kebetulan ada) maupun dari penulis lain.

Pertama, peresensi jadi “tahu lebih banyak” tentang buku-buku yang bertema sama dengan buku yang hendak diresensi. Kedua, dengan pengetahuan itu peresensi nanti bisa melakukan komparasi atau membandingkan antara buku-buku tersebut.

Setelah riset dan bahan-bahan yang dikumpulkan dirasa cukup, kini saatnya untuk melakukan eksekusi; memulai menulis resensi buku. Lalu bagaimana langkah-langkah dalam meresensi buku itu? Bahasan ini akan saya kupas dalam kesempatan yang lain.
[4] Membuat Konsep Tulisan Resensi

Setelah seorang peresensi membaca buku hingga tamat, dan sudah menemukan pokok pikiran penulis yang dituangkan dalam buku yang hendak diresensi dan bahkan sudah melakukan riset kecil-kecilan untuk menambah pengetahuan terkait tema buku tersebut, kini tak ada lagi yang menghalangi seorang peresensi untuk segera melakukan eksekusi atau memulai menulis resensi.

Tapi bagi seorang peresensi pemula, seringkali dia dihadapkan pada setumpuk kebingungan ketika hendak menulis resensi. Dari setumpuk kebingungan itu, antara lain adalah seputar sistematika tulisan resensi dan unsur-unsur apa yang harus ada dalam resensi buku. Bahkan, bisa jadi peresensi pemula akan dihinggapi kebingungan tentang bagaimana goresan awal dalam menulis resensi.

Ironisnya, ketika setumpuk kebingungan itu masih mengganjal di otak, seorang peresensi pemula tetap memilih memaksakan diri untuk menulis. Tak jarang, ide yang sudah menggumpal dan sedang dituliskan itu pun pada akhirnya membuat peresensi itu harus dihadapakan pada tembok besar kebuntuan lantaran menabrak batu karang. Dia mengalami kebuntuan ide atau berhenti di tengah jalan.

Kalau hal itu tetap diteruskan, bisa jadi tulisan resensi yang dihasilkan akhirnya akan tidak sistematis. Ide yang ditorehkan dalam tulisan resensi itu “tidak mengerucut”, antara satu paragraf dengan paragraf berikutnya tak saling terkait dan bahkan bisa jadi tulisan terasa hambar saat dibaca karena tidak memiliki ruh lantaran ditulis dengan ide yang kurang dikonsep secara jelas dan detail.

Untuk mengantipasi agar tidak terjadi kecelakaan seperti itu, saya menyarankan bagi peresensi pemula untuk membuat konsep tulisan resensi lebih dulu. Memang, bagi seorang peresensi yang sudah memiliki jam terbang tinggi atau sudah berpengalaman, cara bekerja dengan membuat “konsep tulisan” resensi lebih dulu itu tidak lebih ibarat buang-buang waktu atau kerja dua kali. Maka, bukan sesuatu yang aneh kalau peresensi yang sudah makan asam garam dan berpengalaman, akan langsung menuliskan ide yang ada di pikiran langsung di komputer. Sebab, di dalam pikiran sudah terkonsep.

Tetapi bagi peresensi pemula, pekerjaan membuat konsep tulisan resensi itu bisa dikata pilihan yang tepat. Kenapa? Sebab, saya mengibaratkan bahwa praktek menulis –termasuk menulis resensi– itu tidak ubahnya seseorang yang sedang menempuh sebuah perjalanan atau pelayaran. Wajar, jika dia tidak ingin tersesat, tidak ingin terperojok ke dalam jurang dan bahkan ingin segera cepat sampai di tempat tujuan dengan selamat. Maka, bukan hal yang aneh jika dia harus memiliki semacam petunjuk jalan agar dalam perjalanan yang ditempuh itu berjalan mulus dan lancar.

Lalu, apa yang dijadikan petunjuk bagi seorang pejalan? Tidak lain adalah PETA. Demikian juga dengan aktivitas menulis. Sedari awal, seorang penulis pun ingin menulis dengan harapan bisa sampai di tempat tujuan dengan cepat dan bahkan selamat (artinya tidak melenceng dari harapan awal). Maka, agar tidak ampai melenceng atau merangsek ke mana-mana, seorang penulis –jika boleh diibaratkan seperti seorang pejalan– harus memiliki PETA supaya perjalanan (atau kegiatan menulisnya) itu tidak melenceng dari tujuan awal.

Lantas, PETA seperti apa yang harus dijadikan sandaran oleh peresensi pemula? Tidak lain adalah KONSEP tulisan. Jadi, sebelum menulis, seorang peresensi pemula itu sangat dan sangat dianjurkan untuk membuat konsep tulisan resensi lebih dulu. Konsep tulisan resensi ini bisa berupa outline atau lebih gamblang coret-coretan ringan ataupun ide utama dalam setiap paragraf.

Keuntungan Membuat Konsep Tulisan

Kalau seorang peresensi pemula membuat konsep tulisan lebih dulu, setidaknya ada dua hal penting yang akan didapatkan. Pertama, konsep tulisan itu akan membantu dia dalam menulis, ibarat seorang pejalan yang berjalan dengan membawa peta sehingga dia tidak tersesat di tengah jalan. Sebab, KONSEP tulisan itu akan selalu menjaga setiap gerakan tangan yang sedang menulis tetap berada dalam rel. Ketika gerakan tangan itu tak selaras dengan ide semula, maka KONSEP tulisan itu akan membantunya kembali di jalur atau rel yang harus ditempuh. Jadi, dengan KONSEP tulisan itu, peresensi pemula tidak akan terperosok.

Kedua, dengan bantuan KONSEP tulisan itu peresensi pemula dijamin tidak akan mengalama kebuntuan ide di tengah jalan. Sebab, jika hal itu sampai terjadi, dia tinggal merujuk pada merujuk atau bersandar kembali pada konsep tulisan (atau ide utama dari setiap paragraf). Dari KONSEP itu, dia tinggal mengembangkan dan menjabarkan lebih luas dan lebih detail. Dengan demikian, dia akan selamat dari kebuntuan atau berhenti di tengah jalan. Alhasil, tulisan resensi pun bisa dengan cepat diselesaikan karena tidak mengalami hambatan.

Ketiga, dengan membuat KONSEP tulisan lebih dulu, bisa dijamin tulisan resensi yang dihasilkan pun akan sistematis, runtut dan urut karena memang sudah dikonsep sejak awal. Kalau kemudian tulisan yang jadi itu ternyata tidak runtut, dapat dipastikan hal itu terjadi bukan karena proses penulisan tetapi justru terletak pada KONSEP tulisan yang sedari awal memang sudah ditulis dengan tidak runtut dan sistematis.

Tiga poin penting itu, tidak dapat disangsikan lagi, adalah tiga keuntungan yang didapatkan saat seorang peresensi pemula menulis dengan cara membuat konsep tulisan lebih dulu. Tetapi, jika memang seorang peresensi pemula merasa hal itu terlalu bertele-tele bahkan dirasa tak perlu, maka bisa saja tidak membuat konsep tulisan dan langsung menulis di depan komputer –tetapi dengan catatan “ide resensi” yang ada dalam pikiran harus dikerucutkan dalam konsep yang kuat dalam pikiran.

Jika tidak dikonsep di dalam pikiran, bisa dipastikan, “di tengah jalan” peresensi pemula akan mengalami kebuntuan. Jika pada akhirnya bisa jadi tulisan, kadang tidak sistematis, mengalir lancar dan runtut. Maka, tidak ada salahnya jika peresensi pemula itu mencoba bersusah-susah payah lebih dulu dengan membuat KONSEP tulisan resensi dan kelak jika memang sudah lihai, mahir dan berpengalaman, bisa langsung menulis di depan komputer tanpa harus membuat konsep lebih dulu.

[5] Membuat Judul Resensi Yang Memikat

Tulisan resensi buku itu –pada hakekatnya– tidak beda jauh dengan bentuk tulisan yang ada di koran pada umumnya. Memang, ada beberapa hal yang beda dan menjadi ciri khas atau unsur penting dari tulisan resensi buku. Tetapi, pada sisi lain, ada pula beberapa hal yang sama. Salah satu dari “kesamaan” itu adalah keberadaan “judul”. Sebab, sebuah tulisan resensi buku tetap mensyaratkan keberadaan “judul”.
Lalu, yang jadi pertanyaan adalah; bagaimana cara membuat judul yang bagus? Apakah ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam membuat judul tulisan resensi buku? Apakah sebuah judul tulisan resensi buku itu memiliki pengaruh yang kuat sehingga dapat memengaruhi redaktur tergerak untuk memuat tulisan resensi dengan alasan bahwa judul yang dibuat itu bagus dan memikat?

Memang, membuat judul resensi buku itu bisa dikatakan gampang-gampang susah. Bagi peresensi yang sudah berpengalaman, membuat judul bisa jadi gampang. Tapi tidak demikian dengan peresensi pemula. Bagi seorang peresensi pemula, bisa jadi membuat “judul” (resensi) bisa-bisa membutuhkan perenungan, bahkan sampai menyita waktu cukup lama karena tak terlintas inspirasi untuk sebuah judul yang pas dan cocok.

Celakanya lagi, tak jarang peresensi pemula sudah menemukan “judul” tetapi sayangnya judul itu dirasa masih kurang kuat atau memikat sehingga memunculkan perasaan ragu-ragu. Akhirnya, ia hanya berkutat mencari dan berusaha menemukan judul sampai-sampai tidak segera memulai menulis resensi. Jika hal ini yang terjadi, sungguh celaka. Sebab, waktu habis hanya untuk menemukan judul semata.

Saya tidak ingin peresensi pemula mengalami nasib seperti itu. Karena itulah, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana membuat “judul” yang kuat dan memikat. Bahkan, jika peresensi pemula sudah merasa menemukan “judul” tetapi kurang kuat, jangan hiraukan. Sebab, pada tahap editing judul itu nanti bisa diganti. Jadi buat saja judul apa adanya dulu yang sekiranya itu mewakili pikiran utama atau sudut pandang Anda dalam menimbang sebuah buku yang Anda resensi. Sebab, meresensi buku itu –pada intinya– adalah penilaian atau pendapat peresensi tentang sebuah buku.

Tapi, ada beberapa hal yang tidak bisa dikesampingkan dalam membuat judul resensi buku. Sebab, dalam membuat “judul” ada syarat yang harus dipatuhi –apalagi  jika tulisan resensi itu untuk dikirim ke koran atau majalah. Selain itu, judul sebuah pun –tak dapat dinafikan— memiliki kekuatan yang bisa menjadi penentu seorang redaktur bisa terpikat dan kemudian mau membaca lebih jauh.

Lalu apa syarat yang harus dipenuhi dalam membuat judul sehingga redaktur bisa tergerak untuk membaca lebih lanjut. Pertama, dalam membuat judul usahakan yang simpel dan pendek. Artinya, jangan terlalu panjang. Bahkan dalam sebuah buku tentang teori menulis (maaf saya lupa di buku apa dulu saya pernah membaca), saya pernah menemukan teori bahwa “membuat judul itu jangan sampai lebih dari lima kata”.

Kenapa? Sebab resensi yang dibuat itu diperuntukkan untuk dikirim ke koran atau majalah dan “space” (ruang) yang tersedia di halaman koran itu terbatas. Jadi, mau tidak mau, judul tulisan resensi pun harus disesuaikan dengan space yang ada di koran. Alasan lain, judul tulisan -termasuk judul tulisan resensi buku- itu tidak lebih sebagai wajah dari sebuah tulisan. Karena itu, judul harus dibuat dengan porsi yang pas dan tidak terlalu berlebihan atau terlalu panjang.

Tak salah, jika sepanjang karier saya sebagai peresensi buku, saya tak pernah membuat judul yang panjang. Saya selalu membuat judul tidak lebih dari lima kata. Saya memang pernah menjumpai seorang cerpenis yang cukup diakui mencoba-coba membuat terobosan dengan membuat judul yang justru panjang. Di balik itu, tak ada maksud lain kecuali dia ingin membuat redaktur melihatnya lain dan kemudian mau membaca cerpen yang dia kirim. Hanya itu, tujuanya tak lebih hanya menjerat sang redaktur mau membaca tulisan cerpen yang ia kirim. Tapi, soal dimuat atau tidak itu urusan lain –asal redaktur telah terjerat dan mau membaca cerpen yang dia kirim.

Tapi bagaimana dengan judul untuk tulisan resensi buku? Apakah bisa dibuat yang panjang (lebih dari lima kata) dengan tujuan agar redaktur “tertarik” membaca tulisan resensi yang Anda kirim? Bertahun-tahun saya jadi peresensi, belum pernah saya menjumpai judul tulisan resensi yang panjang. Saya memang pernah beberapa kali menjumpai judul cerpen yang panjang (bahkan sampai sepuluh kata). Tapi, soal judul cerpen memang lain dan tak bisa disamakan dengan judul resensi. Sebab untuk tulisan cerpen memiliki ruang kebebasan yang lebih longgar dan kadang menabrak pakem bahasa, apalagi untuk kategori puisi.

Sementara itu, untuk resensi buku, tidak ada ruang kebebasan yang lebih, dan biasanya mengikuti pakem atau “aturan” yang ada. Jadi, jangan sekali-kali mencoba untuk berbuat nyeleneh dengan membuat judul yang panjang (sampai sepuluh kata) sekadar untuk menarik perhatian redaktur. Justru, ulah Anda itu bisa-bisa dianggap iseng dan kurang serius.

Kedua, buatlah judul resensi dengan bahasa yang “tidak kaku”, tidak populer bahasa gaul, tetapi ilmiah populer. Sebab, resensi buku yang dibuat diperuntukkan untuk koran atau majalah, maka mau tidak mau harus mengikuti bahasa koran atau majalah karena bahasa koran dan majalah itu tidak kaku, tetapi ilmiah populer. Tapi, jika resensi yang dibuat itu untuk majalah remaja, bisa saja membuat judul yang gaul dan pop. Juga, jika resensi itu diperuntukkan untuk jurnal, bisa dibuat judul dengan bahasa yang ilmiah.

Ketiga, dalam membuat judul pilihlah diksi –pilihan bahasa– yang memiliki sentuhan sastra. Sebab, dengan membuat judul yang memiliki sentuhan sastra, Anda akan memiliki nilai lebih dan judul dengan diksi sentuhan sastra bisa mengesankan kuat dan memikat. Dan judul dengan sentuhan sastra inilah yang memiliki kekuatan lebih untuk memikat redaktur mau tergerak membaca lebih jauh tulisan resensi yang Anda kirim.

Kenapa? Sebab judul yang dibuat dengan sentuhan sastra atau “pilihan diksi” yang tepat memiliki kekuatan dan “sengatan” yang kuat di benak. Judul dengan diksi yang tepat dan kuat inilah yang kerap kali saya pilih dan saya gunakan dalam hampir resensi-resensi yang saya tulis.

Sebagai contoh, di sini saya sebutkan beberapa judul dari resensi buku yang pernah saya buat, antara lain “Hasrat Membunuh untuk Sebuah Aroma” (judul untuk resensi buku Perfume; The Story of a Murderer, dimuat di Kompas, Minggu 18 Juni 2006), “Sosok Galileo dalam Lipatan Surat” (judul untuk resensi buku Sang Putri Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama, Sains, dan Cinta dimuat di Kompas Minggu 1 Agustus 2004), “Sisi Gelap ‘Sang Maverick’ McCain” (judul untuk resensi buku The Real McCain, dimuat di Media Indonesia, Sabtu 6 September 2008).

Untuk bisa menghasilkan judul-judul yang kuat dan memikat, memang tidak jarang dibutuhkan perenungan dan latihan. Jadi, tidak usah risau dan khawatir kalau memang untuk sementara ini belum mampu membuat judul yang kuat dan memikat. Tapi, lama kelamaan akan terbangun satu kebiasaan setelah menempuh latihan dan menjadi peresensi yang handal. Judul kadang terlintas secara tiba-tiba, tak ubahnya mendapatkan sebuah ilham.

[6] Mencantumkan Data Buku

Bentuk tulisan resensi buku dengan genre tulisan lain –yang biasa dimuat di koran– memang memiliki perbedaan. Karena itu, adanya perbedaan tersebut harus diketahui dan perlu diperhatikan. Sebab, salah dalam menuliskan apa yang harus ada dalam naskah resensi buku, tentu bisa berakibat “fatal”; bisa-bisa resensi yang sudah ditulis dengan susah payah pun bisa tidak dimuat. Padahal, persoalan ini bisa dikata sepele!

Salah satu perbedaan yang harus diperhatikan adalah tentang penulisan data buku. Dalam tulisan resensi buku, data buku “wajib” dicantumkan (atau disertakan) dalam naskah resensi buku. Sebab, dengan pencantuman data buku tersebut, orang yang membaca resensi jadi “tahu” tentang buku yang diresensi. Maka, pencantuman data buku itu tidak boleh terlewatkan. Wajib dan harus dicantumkan.

Lantas, bagaimana cara penulisan data buku yang baku dalam sebuah naskah resensi buku? Tidak ada pakem atau aturan yang baku dalam hal ini. Sebab, setiap koran memiliki sajian yang berbeda-beda tentang pencantuman data buku (tentang buku yang diresensi). Ada satu koran yang mensyaratkan bagi peresensi buku harus mencantumkan tentang soal harga buku –dan salah satu koran yang mensyaratkan bagi peresensi untuk mencantumkan harga buku adalah Koran Jakarta. Tetapi, koran lain tidak mensyaratkan hal ini.

Karena itu, untuk “tahu” seputar data buku yang perlu dicantumkan, seorang peresensi harus mau meluangkan waktu untuk mengamati resensi buku yang dimuat di koran yang akan dikirimi naskah resensi buku. Dengan “cara melihat” bentuk dan struktur data buku yang ditulis di koran tersebut, maka seorang peresensi tidak ragu lagi tentang bentuk pencantuman data buku yang disyaratkan koran (atau majalah) tertentu.

Tetapi, perihal pencantuman data buku itu tidak usah dibuat risau. Meskipun setiap koran (atau majalah) memiliki penyajian data buku yang berbeda-beda, akan lebih aman kalau peresensi mencantumkan data buku secara lengkap. Adapun yang dimaksud dengan mencantumkan data buku secara lengkap itu meliputi; judul buku (untuk buku terjemahan dapat disebutkan judul asli), penulis (atau bisa juga ditulis pengarang untuk kategori novel atau kumpulan cerpen), penerjemah (jika memang buku itu merupakan buku terjemahan), editor, penerbit, cetakan buku, tebal buku, ISBN, dan yang terakhir harga buku.  Jadi dengan pencantuman data buku selengkap mungkin, peresensi akan terhindar dari kesalahan.

Untuk lebih jelesnya, di bawah ini sengaja saya kutipkan penulisan data buku yang dimuat di beberapa koran atau majalah:
a) Majalah Gatra

Dalam pencantuman data buku, majalah Gatra tidak menulis secara lengkap, kecuali hanya beberapa data sebagaimana di bawah ini:
The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis   : Kitami Masao
Penerbit : Redline Publishing, Jakarta, 2009, 256 halaman
(sumber: N. Mursidi, “Jenderal Legendaris dari Nakamura”, Gatra nomor 23 tahun XV/ 16-22 April 2009)

b) Koran Jakarta

Berbeda dengan koran lain, Koran Jakarta dalam penulisan (“pencantuman”) data buku mensyaratkan tentang harga buku;
Judul buku     : Karmaka Surjaudaja; Tidak Ada yang Tidak Bisa
Penulis           : Dahlan Iskan
Penerbit         : Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan         : Pertama, 2012
Tebal buku     : 280 halaman
Harga buku    : 49.800,00
(sumber: N Mursidi, “Perjuangan Hebat untuk Tetap “Hidup”, Koran Jakarta, Selasa 20 Maret 2012)

c) Kompas

Koran Kompas dalam pencantuman data buku dapat dikata menganut pakem atau aturan umum (yang juga biasa diterapkan oleh sebagian besar koran):
Judul buku   : Shin Suikoden: Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air
Penulis         : Eiji Yoshikawa
Penerbit       : Kansha Books, Jakarta
Cetakan       : Pertama, 2011
Tebal buku   : 486 halaman
(sumber N Mursidi, Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberontak, Kompas Minggu 31 Juli 2011)

Dari contoh-contoh penulisan data buku di atas, bisa ditarik satu kesimpulan bahwa dalam pencantuman data buku ternyata ada “banyak versi”. Dengan kata lain, antara satu koran dengan koran yang lain itu berbeda. Tetapi, saran saya, usahakan dalam memilih bentuk penulisan data buku, dengan menulis yang lengkap. Kenapa?

Pertama, dengan mencantumkan data buku secara lengkap, akan memberi gambaran utuh sebuah buku. Persoalan apakah nanti redaktur yang bersangkutan akan mencantumkan atau membuang sebagian data buku, itu adalah urusan lain. Itu sepenuhnya hak redaktur atau editor. Saya selalu mencantumkan data buku secara lengkap, tapi tak jarang redaktur yang bersangkutan kemudian membuang sebagian data buku yang saya tulis di naskah resensi. Sebab, dengan membuang sebagian data buku, redaktur merasa hal itu akan menjadi ciri khas rubrik resensi yang diasuh atau digawangi. Jadi, tulislah secara lengkap!

Kedua, dengan mencantumkan data buku secara lengkap, bagi saya, ada satu keuntungan yang bisa dipetik. Kenapa? Jika akhirnya resensi yang saya kirim itu tak dimuat, tapi saya ingin mengirimkan naskah resensi yang ditolak itu ke media (koran atau majalah) lain, saya tidak perlu lagi mengedit data buku. Dengan demikian, tidak lagi butuh waktu untuk sekadar mengedit urusan yang sepele seperti itu!

[7] Membuat Prolog [Resensi] yang Mengesankan

Prolog (kalimat pembuka) sebuah tulisan resensi buku itu –tidak dapat disangkal– memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Karena itulah, saya menyarakan kepada setiap peresensi buku (terlebih peresensi pemula) untuk tidak gegabah dalam membuat prolog. Dengan kata lain, “tuntutan” untuk membuat “prolog yang bagus” bahkan yang “mengesankan dan kuat” itu, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Meski keberadaan prolog (sebuah tulisan resensi buku) itu bukan faktor satu-satunya atau faktor penentu bagi seorang redaktur resensi buku di salah satu media massa untuk memberikan penilaian dan kemudian memuatnya tapi kekuatan prolog resensi buku yang dibuat oleh seorang peresensi itu memiliki andil yang cukup besar. Maka, tidak ada pilihan lain bagi seorang peresensi kecuali ia harus membuat prolog tulisan resensi buku itu dengan sepenuh kemampuan, “tidak asal” membuat, apalagi ditulis dengan ceroboh. Jadi, soal membuat prolog yang kuat ini harus diperhatikan!

Kenapa saya berani mengatakan bahwa prolog itu memiliki andil besar dalam menentukan nasib sebuah resensi buku? Dalam hal ini tidak saja ketika diseleksi di atas meja redaksi, melainkan juga saat proses penulisan resensi buku itu secara utuh. Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa jadi alasan.

Pertama, prolog –tulisan– itu merupakan langkah pertama yang digoreskan oleh seorang peresensi dalam membuat tulisan. Jadi, dalam proses penulisan resensi itu, langkah pertama ini akan menentukan peresensi dalam menggoreskan huruf, kata maupun kalimat lebih jauh. Meski “tidak ada jaminan” ketika prolog itu dibuat dengan bagus akan menjadikan tulisan itu bagus –secara keseluruhan–, tetapi prolog yang ditulis dengan tidak bagus, rasanya sulit diikuti rentetan tulisan yang bagus. Jadi, tak ada pilihan lagi bagi peresensi untuk tidak megoreskan kalimat yang bagus karena itu akan jadi langkah yang menentukan hingga akhir proses penulisan.

Kedua, prolog (tulisan) itu ibarat “jejak pertama” yang ditorehkan seorang peresensi dalam sebuah tulisan. Tidak salah jika prolog itu akan memberikan “kesan” bagi redaktur. Sebab, dari prolog itu seorang redaktur resensi buku (di media massa) akan memberikan penilaian awal. Jika dalam tulisan prolog itu, redaktur terkesima, mendapatkan kesan yang menggetarkan, dan terpikat, maka dapat dipastikan ia akan membaca lebih jauh.

Jika akhirnya redaktur itu membaca sampai tuntas, dan menemukan bahwa resensi buku yang dibaca itu memang mengagumkan, maka tak ada alasan lagi untuk tidak memuatnya. Jadi prolog itu memiliki andil besar dalam memberikan “kesan pertama” bagi redaktur; apakah dia akan membaca lebih jauh atau tidak. Di sinilah, prolog sebuah tulisan resensi itu memiliki kekuatan. Tapi, kekuatan prolog itu hanya sebatas memikat redaktur di awal. Selanjutnya, naskah resensi itu akan ditentukan oleh kekuatan “secara menyeluruh” dari tulisan resensi tersebut.

Sebaliknya, ketika redaktur membaca prolog resensi itu tidak menemukan hal yang mengesankan, dan kuat, sudah pasti resensi yang dikirim seorang peresensi itu akan ditinggalkan atau tak dibaca lagi. Ini sungguh menyakitkan. Karena peresensi tak berhasil memikat (mengetuk hati) redaktur dari awal. Ibarat  petinju, peresensi itu sudah KO di babak awal. Maka, resensi yang dikirim pun jelas tak dimuat karena sang redaktur tidak sampai membaca hingga tuntas –tidak terkesima bahkan sejak dari goresan yang ditorehkan seorang peresensi pada kalimat pertama.

Tentu, setiap peresensi tak mau mengalami nasib buruk seperti –resensi yang sudah ditulis dengan susah payah tidak dibaca oleh redaktur hingga tuntas. Lantas, bagaimanakan teknik membuat kalimat pembuka (prolog) yang kuat, mengesankan, dan mampu memikat redaktur. Tentu, dibutuhkan latihan, latihan dan latihan secara terus-menerus.

Tetapi, di bawah ini –sekadar sebagai gambaran– akan saya kupas beberapa bentuk atau cara dalam membuat prolog yang bisa dijadikan sebagai panduan.

a) Mengupas Rekam Jejak Penulis 

 Prolog dengan mengupas rekam jejak penulis, tak dapat diragukan lagi, tentu dapat dijadikan “pilihan” sebagai kalimat pembuka yang bagus serta mengesankan. Apalagi, kalau kebetulan sang penulis itu sudah dikenal luas –semisal artis ternama, pejabat publik atau intelektual yang sudah mumpuni. Dengan mengisahkan sekilas tentang sosok penulis, tidak saja hal itu akan memberikan spektrum yang luas akan nuansa tulisan resensi, melainkan juga memberikan penegasan bahwa penulis buku itu memang sudah punya reputasi yang tak diragukan lagi.

Tentu, prolog itu akan sangat berbobot jika ditambah dengan deretan prestasi yang telah diukir oleh penulis. Tujuan dari semua itu, tidak lain untuk mengokohkan reputasi penulis yang memang bisa dijadikan sebagai “jaminan” akan kualitas sebuah buku yang telah ditulis.

Contoh bagaimana menulis prolog dengan mengupas rekam jejak penulis itu bisa disimak di bawah ini:

BISA dihitung dengan jari, selebritis di negeri ini yang memiliki “keahlian” dalam menulis cerita. Jika ada, salah satu dari selebritis itu adalah Dee -nama pena dari Dewi Lestari. Bahkan dalam dunia kepenulisan, nama Dee tak dapat dipandang sebelah mata. Maklum, sedari awal menelurkan karya Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh kemudian disusul Supernova: Akar, Supernova: Petir, Filosofi Kopi, dan Rectoverso, kepiawaian Dee di jagat sastra tidak diragukan lagi. Karya-karya yang lahir dari ide dan imajinasi Dee dapat menjelma serupa magnet yang cukup ampuh menghipnotis perhatian pembaca.

Tak mustahil, jika kekuatan magnet karya-karya Dee itu bisa mengantarkan Dee meraih prestasi dan penghargaan yang semakin menjulangkan namanya. Dalam polling nasional “Penulis Perempuan Paling Dikenal Indonesia” tahun 2009 ini, Dee menduduki peringkat pertama. Selain itu, Dee pun dinobatkan sebagai Top 88 Most Influential Women in Indonesia (Globe Asia) dan juga meraih The Most Outstanding Woman 2009 (Kementerian Pembedayaan Perempuan & Kantor Berita Antara).

(sumber: N. Mursidi, “Sebuah Novel yang Menghanyutkan”, Jurnal Nasional, Minggu 9 Mei 2010)

b) Prolog dengan Mengajukan Pertanyaan

 Selain mengupas rekam jejak penulis, pilihan lain yang bisa dijadikan sebagai prolog dalam membuat resensi adalah dengan cara mengajukan pertanyaan. Pilihan membuat kalimat pembuka resensi dengan teknik ini, tentu tak semata-mata sekadar pilihan. Tetapi, lebih dari itu, prolog model ini memiliki “kekuatan” yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Kenapa? Prolog dengan teknik ini –tak dapat disangsikan lagi– mengundang rasa penasaran. Sebab sedari awal peresensi sudah mencoba mengajukan pertanyaan sehingga hal itu seperti “mematik” keingintahuan siapa pun yang membaca tulisan resensi itu –baik redaktur atau pembaca secara umum– dibuat ingin tahu mengenai apa jawaban yang nanti ditawarkan dalam naskah resensi itu.

Jadi, prolog ini ibarat pematik api yang memercikkan rasa panas kalau tidak membaca lebih lanjut (tulisan resensi tersebut), rasanya tetap dihantui “penasaran”. Tak berlebihan, kalau prolog ini membuka peluang besar resensi tersebut dibaca oleh sang redaktur karena dengan memiliki kekuatan sengatan yang kuat. Kalau akhirnya redaktur itu membaca hingga tuntas naskah resensi itu dan memberikan nilai bagus, besar kemungkinan akan dimuat.

Contoh bentuk prolog resensi dengan mengajukan pernyataan itu, setidaknya bisa disimak di bawah ini:

Mana ada samurai tanpa pedang? Bagaimana mungkin, dia bisa menang perang? Setumpuk pertanyaan lain menggayut ketika membaca judul buku ini. Tapi setelah ditelaah lebih ke dalam, ternyata ada kisah nyata seorang samurai yang tampil tanpa mengandalkan pedang sebagai simbol kependekaran Jepang.

Itulah yang terungkap dari riwayat Toyotomi Hideyoshi. Tidak hanya samurai biasa, ia bahkan menjadi pemimpin legendaris di Jepang. Dengan sosok yang jauh dari citra pendekar, ia menyatukan negeri itu yang tercabik-cabik di abad XV-XVI. Bahkan di puncak kariernya, Hideyoshi menjadi wakil kaisar. Kuncinya adalah kecerdasan, kelicinan dan kemampuan negosiasinya yang luar biasa.

(sumber: N. Mursidi, “Jenderal Legendaris dari Nakamura”, Majalah Gatra, No. 23 tahun XV/ 16-22 April 2009)

Contoh lain:

Benarkah ada orang Kristen yang pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji? Rasanya, pertanyaan itu mengada-ngada. Pasalnya, ibadah haji adalah ritual dalam syariat Islam (sebagai rukun Islam kelima yang digolongkan wajib bagi seorang muslim yang mampu -sekali dalam seumur hidupnya). Jadi, jika ada orang Kristen yang menunaikan ibadah haji, kisah itu sepertinya tak mungkin dan tidak masuk akal.

Tetapi, setelah membaca buku Orang Kristen Naik Haji karya dari Augustus Ralli ini, ternyata cerita itu benar adanya dan bukan sekadar bualan. Karena dalam catatan sejarah, sebagaimana diceritakan dalam buku ini, ternyata ada beberapa petualang Kristen yang tergerak hati pergi ke tanah suci dan menjalankan ritual haji. Ketertarikan mereka itu memang beragam. Tapi, pesona dan magnet kota suci tersebut seakan menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun ada undang-undang yang menegaskan; bahwa tak seorang pun selain orang mukmin (muslim) yang boleh menginjakkan kaki di tanah Mekah, larangan itu tidak membuat petualang Kristen itu dihimpit takut. Para petualangan Kristen itu “berani” menantang maut; tetap nekat pergi ke Mekah dan Madinah

(sumber: N. Mursidi, “Petualangan Berbahaya ke Tanah Suci”, Jawa Pos, Minggu 30 Oktober 2011)

c) Mengungkap Sekilas Pemikiran Penulis

 Pilihan lain tentang teknik membuat prolog, dapat pula dengan menjelaskan sekilas tentang pemikiran penulis buku. Di sini, peresensi dituntut untuk menyelami isi buku dengan baik sehingga dia bisa menemukan ide utama buku tersebut. Tujuan dari teknik atau cara membuat prolog jenis ini, tidak lain untuk memikat redaktur dan pembaca (resensi buku itu) secara umum sejak dari awal tulisan. Sebab, sedari paragraf awal sudah disodorkan secara sekilas pemikiran atau ide utama yang ditulis oleh penulis buku.

Tetapi, teknik ini bukan berarti tanpa cela atau kelemahan. Sebab, ketika ide utama atau pemikiran penulis yang disodorkan sedari awal tidak menarik minat atau hasrat untuk ditahui lebih jauh, bisa-bisa redaktur tak melanjutkan membaca resensi tersebut dan hal itu bisa dipastikan sebagai pertanda buruk bahwa resensi yang telah dikirim dan kemudian diseleksi oleh redaktur itu akan tidak lolos –tidak dimuat.

Jadi ketika seorang peresensi memilih membuat prolog dengan teknik ini, tak ada pilihan lain kecuali harus bisa menyajikan “sekilas pemikiran penulis” itu dengan mengagumkan, kuat dan memiliki cengkraman yang meninggalkan jejak mendalam sehingga redaktur terpikat dan digelayuti ingin tahu lebih jauh tentang pemikiran penulis itu sebagaimana diulas dalam naskah resensi. Contoh cara membuat prolog dengan mengungkap sekilas pemikiran penulis, bisa disimak di bawah ini:

Tuhan menganugerahi hadiah istimewa buat manusia berupa akal (rasio). Tidak disangsikan, kalau manusia merupakan satu-satunya makhluk mulia di muka bumi ini. Dengan akal itu, manusia kemudian bisa berpikir tentang masa depan, bercita-cita untuk menjadi apa yang diinginkan, merajut mimpi bahkan mengubah takdir atas jalan hidup yang ingin dipilihnya di kelak kemudian hari.

Tetapi “kekuatan pikiran” (sebagai watak akal) yang dihadiahkan Tuhan itu ternyata tak sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik sebagian besar umat manusia. Tak pelak, banyak orang tidak memahami kekuatan pikiran, dan efeknya terhadap kehidupan. Padahal, kalau kekuatan pikiran itu dikelola dengan baik, dan kemudian diselaraskan dengan jiwa –yang dibimbing oleh Daya Ilahi– maka tak mustahil setiap apa yang diinginkan manusia, bisa diwujudkan. Dengan kata lain, manusia dapat mengukir takdirnya dengan memanfaatkan kekuatan pikiran.

Tesis itulah yang digemakan Mary T Browne dalam buku 5 Aturan Pikiran ini. Ditulis berdasarkan pengalaman Browne -yang sudah bertahun-tahun menjadi seorang cenayang hebat-, tentu buku ini bukan sekadar susunan aturan mengenai pikiran melainkan juga telah teruji dan terbukti untuk bisa dimanfaatkan. Tak mustahil, dalam buku ini Mary T. Browne berpesan, “Berhati-hatilah dengan apa yang Anda pikirkan.”

(sumber: N. Mursidi, ”Merajut Takdir dengan Kekuatan Pikiran”,  Surya, Minggu 6 April 2008)

d) Mengungkapkan Tema Buku

Tema sebuah buku, sebenarnya, memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh untuk dijadikan sebagai prolog. Apalagi, kalau tema buku itu secara kebetulan memiliki keterkaitan dengan kondisi yang sedang terjadi dan sedang aktual di tengah masyarakat. Maka, mengangkat tema buku untuk dijadikan sebagai kalimat pembuka resensi bisa jadi merupakan sebuah pilihan yang tepat.

Contoh teknik ini bisa disimak di bawah ini:

Satu lagi, sebuah novel yang mengangkat tema tentang “terorisme” terbit –diterjemahkan– dalam edisi Indonesia. Setelah menerbitkan novel Terrorist (karya John Updike), penerbit Pustaka Alvabet, Jakarta kini menerbitkan lagi novel bertema sama karya dari Yasmina Khadra yang berjudul The Attack. Tapi, berbeda dengan novel Terrorist yang bercerita tentang terorisme di Amerika yang dilatarbelakangi ulah kaum militan setelah melihat hidup yang memuakkan di negara Paman Sam itu, novel The Attack mengangkat persoalan warga Israel (di Pelestina) yang melahirkan pejuang-pejuang militan, seperti Intifada.

Ditulis oleh pengarang ternama yang bernama asli Mohamed Maulessehoul, The Attack ini merupakan satu karya fiksi yang ingin memotret perbedaan pendapat antara seorang dokter bedah keturunan Arab yang memilih bernaturalisasi menjadi warga Israel dan “pandangan penduduk Palestina” yang hidup penuh derita dalam memaknai serangan bom bunuh diri untuk mencapai suatu kemerdekaan. Tak pelak, kalau perseteruan (konflik) itu lantas menyeret “dilema” yang menukik bahkan menohok; antara kematian -bom bunuh diri- yang dipilih kaum fundamentalis dalam mencapai kemerdekaan dan tugas suci agama menuju surga (baca: kemuliaan) dengan kelapangan dalam memaknai hidup sebagai hal yang cukup penting.

(sumber: N. Mursidi, “Menggugat Terorisme Lewat Novel” Koran Jakarta, Jum`at 9 Mei 2008)

e) Membandingkan dengan Buku Lain (Komparasi)

 Setiap peresensi itu dituntut untuk tahu lebih jauh tentang keberadaan buku-buku dari penulis lain yang kebetulan mengupas tema yang sama dengan buku yang sedang diresensi. Meskipun tuntutan itu tak bisa dikatakan wajib dan menjadi syarat mutlak, tapi dengan tahu keberadaan buku-buku lain yang bertema sama, akan jadi nilai plus bagi seorang peresensi. Hal ini sangat dibutuhkan tatkala seorang peresensi itu “dituntut” untuk melakukan komparasi atau membandingkan dengan buku-buku lain yang bertema sama.

Teknik komparasi ini tidak saja bisa diterapkan di bagian akhir resensi, tetapi juga bisa digunakan dalam membuat prolog resensi. Dengan menulis “prolog model komparasi” ini, seorang peresensi tidak saja akan “kelihatan” memiliki pengetahuan dan wawasan  yang luas tetapi justru membuat tulisan resensi itu bisa tampak kaya, mendalam dan mengesankan.

Pada sisi lain, dengan teknik memilih prolog komparasi, tentu resensi itu bisa mengungkap lebih jauh tentang kelebihan buku yang diresensi dibandingkan dengan buku-buku yang lain. Itu kelebihan dari model prolog komparasi. Contoh bagaimana teknik  membuat prolog model ini, bisa disimak di bawah ini:

Buku Sang Putri Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama, Sains, dan Cinta ini jelas bukan satu-satunya buku yang berbicara tentang Galileo. Sudah cukup banyak buku tentang Galileo yang ditulis, entah itu dalam bentuk biografi (misal, Galileo at Work: His Scientific Biography, Memorials of Galileo Galilei 1564-1642, dan A Life Galileo), lakon, (Lebens das Galileo karya Bertolt Brecht) maupun kajian lain. Semua itu lahir dari dorongan, kepentingan, dan sudut pandang yang berlainan.

Kendati demikian, kalau mau dibandingkan dengan buku-buku lain dalam bentuk biografi, buku karya Dava Sobel ini setidaknya patut diperhatikan karena tiga alasan. Pertama, buku ini merupakan suatu upaya realistis dalam menampilkan sosok Galileo. Lewat 124 surat Maria Celeste (putri Galileo yang memilih takdir sebagai biarawati) yang pernah dikirim kepada Galileo, Sobel coba menghadirkan sisi lain kehidupan Galileo di balik mitos dan kontroversi yang kerap melingkupinya, dengan sudut pandang kesaksian putri Galileo.

Kedua, di tengah hujatan dan cercaan gereja saat itu atas kiprah spektakuler dan menakjubkan yang diperankan Galileo di dunia sains, buku ini tidak lebih dari suatu pembelaan atas pengadilan Galileo. Ketiga, gaya tutur Sobel yang enak, bahkan mengalir dengan bertolak dari 124 surat sang putri, kemudian dirangkai dalam bentuk narative science history membuat buku ini memikat untuk dibaca.

(Sumber: N. Mursidi, “Sosok Galileo dalam Lipatan Surat”, KOMPAS, Minggu 1 Agustus 2004)

f) Menguatkan dengan Pendapat Penulis Lain

 Tak jarang, sebuah resensi –meskipun itu resensi novel— butuh pengukuhan dari pendapat seorang tokoh yang telah melahirkan teori atau pemikiran yang sudah dikenal luas di tengah masyarakat. Bahkan, hal itu bisa dikutip dari “pendapat” tokoh yang telah ditorehkan dalam buku. Lalu, untuk apa hal itu dilakukan? Tak lain adalah untuk menguatkan bahwa isi buku (ataupun cerita yang dikisahkan dalam novel) itu ternyata bukan hal aneh, tapi justru terjadi di tengah masyarakat dan bahkan cukup mengakar dalam perjalanan sejarah.

Cara ini –tidak bisa dimungkiri- dapat dijadikan pilihan untuk prolog resensi.  Dengan pilihan model ini, resensi yang dibuat tidak saja terlihat kuat, mengesankan dan kaya, melainkan juga menunjukkan bahwa sang peresensi memiliki pengetahuan luas dalam menghubungkan buku yang diresensi itu dengan pendapat penulis lain. Cara membuat prolog model ini, bisa disimak dalam contoh di bawah ini:

Bagi Machiavelli, seseorang bisa jadi pengeran dalam sebuah negera kerajaan karena ia memang diberkahi keberuntungan. Sebab dalam (negara) kerajaan, orang diangkat jadi pengeran berdasarkan keturunan. Tapi tanpa didukung “kemampuan”, jelas keberuntungan itu akan sirna. Dengan kata lain, keberuntungan itu haruslah ditopang dengan kemampuan besar, otak genius, tahu cara memimpin, bertahan, dan bahkan bertindak demi mempertahankan kekuasaan itu. Dan tindakan kejam (meskipun tak bermoral, dan tidak beragama), tetap dibutuhkan untuk memberikan sebuah kekuatan. Sekali pun langkah itu tidak mengantarkan sang pangeran itu pada kemuliaan.

Tetapi, sejarah menorehkan segudang kisah. Ketika sang pangeran (negara kerajaan) mengandalkan keberuntungan semata, pastilah akan berujung tragis –tersungkur dari tahta. Pasalnya, tatkala rakyat ditikam duka lara kelaparan, dan elite politik hanya mengurus perut sendiri, bahkan ketidakadilan teronggok di sudut-sudut kota, benih pemberontakan pun meneguhkan tindakan brutal di luar konstitusi untuk menumbangkan “kursi kekuasaan” sang pangeran.

Apa yang dikatakan Machiavelli di atas tidak dapat ditepis mengukuhkan ruh cerita novel Shin Suikoden karya Eiji Yoshikawa yang mengisahkan kepahlawanan 108 pendekar –yang di mata rakyat disebut-sebut pahlawan tetapi di mata penguasa disebut bandit– untuk melakukan pemberontakan melawan “kebengisan pemerintah Dinasti Song. Cerita ini sebenarnya adalah penuturan ulang Eiji Yoshikawa terhadap kisah klasik China Suikoden (Batas Air). Tetapi, Yoshikawa mampu menorehkan tinta dengan gemulai. Tak pelak, kisah ini pun menjadi kisah yang populer.

(sumber: N. Mursidi, “Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberontak”, Kompas, Minggu 31 Juli 2011)

g) Mengaitkan dengan Peristiwa Aktual

Tak jarang, sebuah buku ditulis oleh penulis dipicu dari latar belakang yang krusial sehingga dia bermaksud menerbitkan buku itu akan bisa menjawab persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Tak berlebihan, jika buku itu kemudian memiliki korelasi dengan peristiwa yang terjadi, aktual dan jadi pembicaraan. Maka, dengan mengaitkan dengan konteks yang terjadi atau peristiwa yang aktual itu pun memiliki nilai penting. Apalagi, koran tidak menepis dituntut untuk menyajikan berita yang aktual.

Pada aras itulah, pilihan peresensi untuk membuat kalimat pembuka dengan mengangkat satu peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat akan memiliki kekuatan –sebanding lurus dengan tuntutan koran yang menyajikan berita aktual. Di sinilah, nilai plus yang bisa diambil ketika seorang peresensi memutuskan membuat prolog dengan cara mengaitkan peristiwa yang terjadi –sehingga buku itu pun patut mendapat apresiasi.

Contoh model prolog ini, bisa disimak di bawah ini:

Dunia pendidikan kita kembali dirundung “duka”. Hasil dari pengumuman ujian nasional kemarin (Senin,26/4) benar-benar mengejutkan banyak pihak –terutama orangtua siswa, guru, kepala sekolah, dan siswa bersangkutan. Pasalnya, jumlah siswa yang tidak lulus meningkat drastis. Ujian nasional tingkat SMA (dan sederajat) 2010 terjun bebas mencapai 89,88% –kalau dibandingkan angka kelulusan ujian nasional 2009: 94,85%. Tak mustahil, jika dari 1.522.162 peserta, ada 154.079 peserta yang harus mengikuti UN ulang pada 10-14 Mei. Siapa yang patut disalahkan dalam kasus ini?

Tentu ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi keterpurukan angka kelulusan tersebut. Salah satunya adalah kopetensi guru. Memang, setiap orang bisa menjadi guru. Tetapi, tak bisa disangkal jika tidak semua orang mampu menjadi guru yang baik, mengobarkan semangat, memberi inspirasi, memancarkan energi, mencerahkan, sekaligus menanamkan pengaruh yang luar biasa sehingga bisa membekas sepanjang hidup di benak anak didik. Padahal guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan itulah yang saat ini dibutuhkan di negeri ini, karena guru semacam itu akan mengantarkan kesuksesan siswa di kelak kemudian hari dan membawa kemajuan bangsa.

(sumber: N. Mursidi, “Jadi Guru Yang Menginspirasi Siswa”, Jawa Pos, Minggu 2 Mei 2010)

h) Mengutip Hadits, Ayat, atau Kutipan Tokoh Terkenal 

 Setiap tulisan resensi itu memang terbuka peluang untuk dibuka atau diawali dengan berbagai bentuk prolog (kalimat pembuka). Tak terkecuali dengan mengutip hadits nabi, ayat al-Qur`an, peribahasa atau bahkan bisa (juga) diambil dari kutipan orang terkenal. Tetapi, dengan catatan, selama kutipan yang dipilih itu masih punya korelasi atau keterkaitan dengan tema yang dikupas dalam buku yang diresensi.

Ketepatan dalam “memilih kutipan” untuk dijadikan sebagai prolog itu, tentu akan memiliki nilai plus. Selain akan menguatkan tulisan resensi, poin penting lain adalah kesan yang kuat bahwa peresensi itu ingin menghubungkan atau mengaitkan buku tersebut dengan kutipan yang dipilih.

Bagaimana membuat prolog yang dibuka dengan kutipan itu, setidaknya bisa disimak dari contoh di bawah ini:

Suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah kami telah banyak berdoa, tetapi kenapa doa kami tak dikabulkan?” Rasulullah pun menjawab, “Sebab kalian berdoa kepada Tuhan yang tidak kalian kenal.”

Hadits nabi itu menegaskan bahwa mengenal Allah (ma`rifatullah) adalah kunci utama dari sebuah doa. Bahkan ibadah (baik itu shalat, haji maupun puasa) yang tidak disertai cinta dan ma`rifat kepada Allah, akan sia-sia. Secara syar`i memang bisa dikata sah, tapi ibadah itu akan jadi sebuah ritual yang semata-mata menggugurkan kewajiban, tak memiliki ruh. Tak meninggalkan bekas dan menimbulkan keberkahan. Hal itu tak lain, karena ma`rifatullah adalah pengetahuan yang paling penting bagi seorang hamba.

(sumber: N. Mursidi, “Meraih Ketenangan Berfondasikan Ma`rifatullah”, Majalah Hidayah edisi 103/Maret 2010)

i) Mengukuhkan dengan Kutipan dalam Buku

Saat peresensi membaca buku yang akan diresensi, tak jarang ia menemukan satu kutipan (atau bahkan dialog dalam sebuah novel) yang cukup mengesankan dan meninggalkan jejak yang mendalam. Tak salah, kalau peresensi itu kemudian merasa perlu kutipan itu dijadikan sebagai prolog sebuah tulisan resensi. Dengan kesan yang dia dapatkan saat membaca buku itu, ia pun berhasan dialog itu cukup berkesan kuat jika dijadikan prolog.

Teknik menorehkan prolog dengan model ini, memang jarang dilakukan oleh peresensi, tetapi tidak ada salahnya kalau sesekali waktu dicoba atau dipraktekkan. Adapun contoh bagaimana membuat prolog dengan mengutip dialog dalam buku itu, setidaknya bisa disimak di bawah ini:

“SAAT itu, usiaku sudah lebih tua dari usia kakakku Noura tatkala dia menikah. Usiaku delapan belas tahun atau mungkin saja lebih, aku tidak tahu dan aku berharap sekaligus berputus asa. Kenangan menguap bersama asap di hari api melahap tubuhku, tetapi aku mencoba membangun kembali apa yang terjadi,” demikianlah kesaksian Souad (nama samaran) dalam novel Burnaed alive, terkait pembunuhan dirinya atas nama kehormatan keluarga.

Kenapa Souad harus dibunuh? Semata-mata, karena keluarga Souad merasa “malu” dengan kondisinya yang hamil tanpa suami. Di tempat Souad dilahirkan dan dibesarkan (Tepi Barat, Palestina) ternyata perempuan dianggap tak lebih berharga dari seekor keledai. Tak salah, jika terlahir sebagai perempuan dianggap sebuah kutukan. Toh, kalau kemudian ia tak dibunuh saat lahir maka diperlakukan tak adil, tak mendapat kesempatan seperti anak lelaki, dan yang lebih tragis, hukum telah menetapkan bahwa membunuh perempuan itu bukan satu dosa. Apalagi jika perempuan itu dicap sebagai charmuta, maka atas nama kehormatan, tradisi dan adat justru menghalalkan perempuan seperti Suoad itu harus dibunuh!

(sumber: N. Mursidi, “Kesaksian Kejahatan atas Nama Kehormatan”, Sinar Harapan, Sabtu 30 September 2006)

j) Menjadikan Pembuka Buku Sebagai Prolog

Setiap penulis dituntut untuk membuat prolog buku (bahkan novel) yang dia tulis akan meninggalkan kesan kuat ketika dibaca. Maka, tidak ada salahnya, kalau seorang peresensi kemudian “ikut-ikutan” mengutip prolog yang ada dalam buku itu untuk dijadikan sebagai prolog tulisan resensi. Dengan memilih model prolog seperti ini, selain seorang peresensi itu ingin menunjukkan bahwa prolog buku itu dari awal mengesankan, juga “mengundang” keingintahuan lantaran tiba-tiba terjadi peristiwa yang tidak diketahui latar belakang.

Model prolog ini tak ubahnya dengan prolog mengajukan sebuah pertanyaan, tetapi tidak dibuat dalam kalimat tanya. Tetapi, mengisahkan peristiwa yang terjadi dan mengecutkan. Tak salah, jika model ini akan mematik hasrat yang kuat untuk membaca resensi itu lebih lanjut.

Contoh tentang teknik membuat prolog seperti ini, bisa disimak di bawah:

PAGI itu, Cecilia –putri terakhir dari keluarga Lisbon– memilih mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Gadis berusia 13 tahun itu berulah menyanyatkan silet di pergelangan tangannya seraya berendam di bak mandi. Ia ditemukan terkapar, dan bugil dalam genangan air yang penuh darah. Mata Cecilia terbelalak. Kedua tangannya mendekap erat gambar perawan suci. Mr dan Mrs Lisbon tercekat saat melihat putrinya itu memilih ritual bunuh diri seperti penganut aliran sesat.

Kisah cukup menegangkan itu menjadi pembuka novel The Virgin Suicides ini. Sebuah pilihan pembuka yang dapat dikatakan cukup memikat. Jeffrey Eugenides mengangkat tema tentang bunuh diri yang sebenarnya kisah amat biasa, tetapi pengarang yang lulus meraih predikat magna cumlaude dari Brown University, serta penghargaan gelar MA sastra Inggris juga penulisaan kreatif dari Stanford University 1986 ini ternyata mampu mengolahnya jadi cerita yang mendebarkan. Tak mustahil, kalau novel perdana karya pengarang –yang kini tinggal di Berlin, Jerman– ini sudah diterjemahkan ke dalam enam belas bahasa dan best seller.

(sumber: N Mursidi, “Ritual Bunuh Diri Lima Perawan”, Koran Jakarta Sabtu 9 Agustus 2008)

k) Prolog Bernada Pujian atau Kekaguman

Dalam buku biografi atau memoar, tak jarang tokoh yang dituliskan kisahnya dalam buku itu mengundang decak kagum bagi pembaca –bahkan tak terkecuali bagi peresensi. Apalagi jika buku memoar atau biografi itu tergolong buku inspiratif yang bisa memberikan asupan semangat untuk meraih sukses. Maka, sang tokoh seolah tampil bak seorang pahlawan dan pejuang hebat yang memang layak mendapatkan pujian dan sanjungan.

Pujian dan sanjungan itu –setidaknya— bisa dijadikan sebagai prolog resensi. Selain untuk tujuan rasa kekaguman, dengan memilih prolog itu, sebenarnya seorang peresensi ingin menggarisbawahi bahwa buku itu memang layak untuk dibaca sebab sang tokoh itu bisa dijadikan pelajaran dalam meraih sukses.

Contoh model prolog ini, bisa disimak di bawah ini:

SUNGGUH luar biasa dan mengagumkan! Itulah ungkapan yang pas untuk disematkan di pundak Merry Riana, wanita muda Indonesia yang kini jadi miliuner, diakui sebagai pengusaha sukses, motivator dan penulis buku terlaris di Singapura. Padahal, dulu waktu kuliah di Singapura, ia harus menelan “ludah pahit”. Ia menanggung utang 40 ribu dollar yang ia pinjam dari Development Bank of Singapore untuk kuliah di Nanyang Technological University, Singapura.

Tapi di tengah kondisi hidup pas-pasan itu, Merry ternyata memiliki strategi bertahan hidup yang luar biasa. Bahkan, selain itu ia mampu bangkit dari keheningan kemiskinan. Ia rela meredam segala keinginan bersenang-senang, hidup sederhana bahkan hemat –dengan mengkonsumsi mie instan hampir tiap hari dan menahan lapar lantaran tidak mampu membeli lauk yang mewah. Dengan kegigihan, tekat yang kuat, disiplin yang tinggi, bahkan melibatkan Tuhan dalam bekerja, akhirnya mimpi yang ia cita-citakan itu berhasil direngkuh setelah kerja dengan keras. Ia mampu mengumpulkan uang sejuta dolar ketika masih terbilang muda, 26 tahun.

Perjalanan hidup Merry penuh lika-liku itulah yang dituturkan Alberthiene Endah dengan bahasa yang mengalir lancar, indah, dan sungguh menggugah hati pembaca. Alberthiene Endah bisa mengungkap hampir setiap langkah yang dijejakkan Merry ketika mulai tantangan baru kuliah di Singapura dan harus menahan lapar hingga bisa mengukir prestasi gemilang sebagai seorang lulusan sarjana atau anak muda yang sukses lantaran mampu mewujudkan mimpinya meski dihadang keterbatasan dan kemiskinan. Apa rahasia di balik kecemerlangan prestasi Merry sehingga ia mampu meraih mimpi spektakuler dan terbebas dari belitan beban finasial di usia yang tergolong masih muda?

(sumber: N. Mursidi, “Sukses Mewujudkan Mimpi”, Seputar Indonesia, Minggu, 4 Desember 2011)

Tentu, teknik atau cara membuat prolog di atas bukanlah harga mati. Dengan kata lain, selain beberapa prolog yang saya sebutkan di atas, sebenarnya masih ada banyak teknik dan cara lain dalam membuat kalimat pembuka. Jadi, dalam konteks inilah, seorang peresensi itu dituntut untuk terus kreatif dan memiliki kemampuan plus dalam mengolah kata agar dia dapat membuat prolog yang kuat, mengesankan bahkan mengundang daya gugah redaktur untuk tidak menoleh ke naskah peresensi lain.

Sebab, semakin piawai seorang peresensi itu membuat prolog, reputasi dia sebagai peresensi buku akan diakui. Apalagi, kalau dia tidak saja mampu membuat prolog yang kuat dan memikat semata, melainkan juga mampu menulis tulisan utuh yang bagus. Pasalnya, bagi saya, menulis itu sebenarnya gampang. Tetapi bagaimana mampu menghasilkan tulisan yang bagus dan kemudian bisa dimuat di koran itulah yang sungguh sulit dan butuh kerja keras –bahkan kerja cerdas.

Untuk itu, saya berharap penjelasan saya tentang teknik bagaimana membuat prolog yang bagus, kuat dan mengesankan ini dapat menjadi “pemicu semangat” bagi peresensi lain (terlebih peresensi pemula) untuk tak menyerah dan dalam membuat prolog yang kuat. Sebab, prolog itu –meskipun bukan faktor utama seorang redaktur menilai sebuah naskah— tapi memberikan andil besar dimuat atau tidaknya sebuah tulisan resensi. ***

Advertisements

4 Buku Gratis untuk Anda

Anda mengalami kesulitan. Anda tahu apa rasanya menanggung penderitaan. Anda bertahan, bekerja keras, dan mengalami gelombang nasib buruk, berharap Anda bisa keluar hidup-hidup. Anda hanya melakukan apa yang diperlukan untuk bertahan hidup.

Tapi bagaimana jika pencobaan ini memiliki potensi untuk mengubah hidup Anda? Bagaimana jika kesulitan yang Anda hadapi bisa mendorong Anda ke tingkat iman dan kedewasaan berikutnya? Bagaimana jika Anda dirancang untuk berkembang dalam kesulitan, bukan hanya bertahan hidup?

Melalui Tak Kenal Menyerah, John Bevere ingin membawa Anda dalam perjalanan untuk mengeluarkan keuletan Anda. Ketika ia menceritakan kisah tokoh Alkitab dan kontemporer, ia menyajikan pola yang kuat: Laki-laki dan perempuan beriman tidak hanya bertahan dan menaklukkan masalah. Wajah mereka menunjukkan kesulitan dan menatap ke bawah.

Dilengkapi dengan Firman Allah dan kekuatan doa, Anda akan menemukan kebenaran pengubah kehidupan tentang penderitaan, perlawanan, dan pemenuhan takdir Allah dalam hidup Anda. Sebagai anak Allah, Anda memiliki apa yang diperlukan untuk mengubah kesulitan menjadi kekuatan dan mengakhirinya dengan baik!

Singa betina bangkit dari tidurnya, gambar megah kekuatan, gairah, dan keindahan. Kehadirannya membangkitkan lanskap, melindungi anak-anaknya, dan memberdayakan singa-singa jantan. Dalam kelompok, singa-singa betina bertindak sebagai salah satu untuk memengaruhi dunia di sekitar mereka.

Anda juga Singa Betina

Dalam Singa Betina Bangkit, Lisa Bevere menawarkan kehidupan dan gambar singa betina sebagai model sengit dan lembut untuk wanita. Mengungkap karakteristik mengejutkan makhluk menakjubkan, Lisa menantang perempuan untuk peduli satu sama lainnya, melayani dengan sungguh-sungguh, dan berani dalam doa. Melalui pesan ini, Anda akan menemukan bagaimana melindungi yang lebih muda dan memberikan suara untuk mereka yang dibungkam.

Dikemas dengan wawasan luar biasa dari alam dan kedalaman kekayaan referensi Alkitab untuk singa betina, Singa Betina Bangkit adalah panggilan bagi perempuan untuk berkumpul sebagai kekuatan strategis untuk kebaikan di bumi.

Bagaimanapun, Kristus disebut singa dari suku Yehuda. Dan kami adalah singa betinanya yang bangkit.

Singa Betina

Umpan Iblis memperlihatkan salah satu jerat yang paling menipu yang musuh gunakan untuk menarik orang percaya keluar dari kehendak Allah: pelanggaran. Kebanyakan orang telah terjerat oleh perangkap ini dan bahkan tidak menyadarinya.

Jangan tertipu! Kristus berkata, “Mustahil bahwa pelanggaran takkan datang” (Lukas 17:1, NKJV). Anda tidak dapat memilih apakah Anda akan tersinggung, tetapi Anda dapat memilih bagaimana Anda akan merespons. Jika Anda menangani pelanggaran secara benar, Anda akan menjadi lebih kuat dan bukannya mengalami kepahitan. Hanya respons yang tepat yang memungkinkan Anda untuk memiliki hubungan tanpa hambatan dengan Allah.

Melalui pesan ini, John Bevere memberdayakan Anda untuk tetap berada dalam kehendak Allah dan membebaskan diri dari kecurigaan dan ketidakpercayaan. Anda dapat melepaskan diri dari mentalitas korban dan hidup tanpa beban kejengkelan dan frustrasi. Ketika Anda menemukan ketundukan pada tingkatan yang lebih tinggi kepada Tuhan, hidup Anda akan berlimpah dengan pengampunan, rekonsiliasi, dan sukacita.