Sahabat Terakhir – Novel Tahar Ben Jelloun

sahabat terakhirMamed sering berujar, “Kata-kata tidak berbohong. Manusialah yang berbohong. Dan aku seperti halnya kata-kata.” Dia terbahak atas gurauannya sendiri, lalu mengambil sebatang rokok dari sakunya, dan pergi ke kamar mandi pria untuk merokok diam-diam. Itu adalah rokok pertamanya hari itu, dan dia menikmatinya.

Ali dan Mamed adalah remaja yang modern, sekuler, dan terobsesi pada seks di Tangier pada akhir 1950-an. Mereka berdebat tentang budaya dan politik, dan membanding-bandingkan metode bercinta dengan pacar yang akan melakukan apa pun, kecuali menyerahkan keperawanannya. Mereka bersatu seperti sepasang kekasih.

Persahabatan, tulis Oscar Wilde, jauh lebih tragis daripada cinta. Ia berlangsung lebih lama. Sahabat Terakhir, karya novelis Maroko, Tahar Ben Jelloun, menelusuri persahabatan mulai dari pencarian bersama dalam masa remaja, melalui jalan yang berbeda dalam menempuh kedewasaan, hingga kecemburuan pada usia paruh baya. (Oscar Turner, The Guardian)

Judul Buku: Sahabat Terakhir
Judul Asli: The Last Friend
Penulis: Tahar Ben Jelloun
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Penyunting: Tia Setiadi
Penerbit: Basabasi, Yogyakarta, 2018
Tebal 196 halaman.
Harga Rp55.000,-

Mengenal Tahar Ben Jelloun

Tahar Ben Jelloun, lahir 1 Desember 1944, di kota Fès, Maroko, adalah novelis, penyair, dan penulis Maroko berbahasa Prancis  yang menulis secara ekspresif tentang budaya Maroko, pengalaman imigran, hak asasi manusia, dan identitas seksual.thelastfriend

Saat belajar filsafat di Universitas Muḥammad V di Rabat, Ben Jelloun mulai menulis puisi untuk jurnal Soufflés yang bermuatan politis. Setelah menerbitkan koleksi puisi pertamanya, Hommes sous linceul de silence (Men Under the Shroud of Silence, 1971), ia pindah ke Prancis. Di sana ia terus menulis puisi, yang dikumpulkan dalam Cicatrices du soleil (Scars of the Sun, 1972), Le Discours du chameau (The Discourse of the Camel, 1974), dan Grains de peau (Particles of Skin, 1974). Ia juga mulai fokus pada bentuk tulisan lainnya. Novel pertamanya adalah Harrouda (1973), pembangkitan puitis erotis sejak masa bayi, remaja, dan menuju masa dewasa di Fès dan Tangier.

Pada 1975, Ben Jelloun menerima gelar doktor dalam bidang psikologi sosial dari Universitas Paris. Disertasinya diterbitkan dengan judul La Plus Haute des solitudes (The Highest of Solitudes, 1977). Pada tahun 1976,  ia menulis sebuah novel berdasarkan penelitiannya, La Réclusion solitaire (Solitaire), yang mengisahkan kesengsaraan pekerja imigran Afrika Utara. Novel itu juga dipentaskan sebagai drama, Chronique d’une solitude (Chronicle of Loneliness). Pada tahun yang sama, ia menerbitkan buku Les Amandiers sont morts de leurs blessures (The Almond Trees Are Dead from Their Wounds) yang memuat puisi dan cerita tentang kematian neneknya, imigrasi warga Afrika Utara ke Prancis, cinta, dan erotisme. Novel ketiga, Moha le fou, Moha le sage (Moha the Fool, Moha the Wise, 1978), adalah kisah satir dari negara Afrika Utara modern.

Sebagian besar karya Ben Jelloun pada awal 1980-an, khususnya koleksi puisi À l’insu du souvenir (Unknown to Memory, 1980) dan novel semiotobiografi  L’Écrivain public (The Public Writer, 1983) dikagumi karena kemampuannya untuk membangkitkan realitas melalui fantasi, lirik,  metafora dan keyakinan penulisnya bahwa seniman harus mengekspresikan perjuangan untuk kebebasan manusia. Namun, tidak hanya itu, lewat L’Enfant de sable (The Sand Child, 1985), sebuah novel imajinatif dan menarik yang mengkritisi peran gender di masyarakat Arab melalui kisah seorang gadis yang dibesarkan sebagai anak laki-laki, Ben Jelloun mendapat pujian dan pengakuan lebih luas. Sekuel novel itu, La Nuit sacrée (The Sacred Night, 1987), memenangkan penghargaan bergengsi Prancis Prix Goncourt, yang pertama kali diterima seorang penulis kelahiran Afrika, dan mengilhami sebuah adaptasi film (1993). Kedua buku itu telah  diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa.

Novel-novel selanjutnya terdiri atas Jour de silence a Tanger (Silent Day in Tangier, 1990), sebuah perenungan di usia tua, Les Yeux baissés (With Downcast Eyes, 1991), tentang perjuangan imigran Amazigh (Berber) untuk merekonsiliasi identitas bifurkasinya; dan L’Homme rompu (Corruption, 1994, sudah pernah terbit di Indonesia dengan judul Korupsi), penggambaran yang mencekam tentang kebingungan moral yang dihadapi oleh pegawai pemerintah. Novel Cette aveuglante absen de lumière (This Blinding Absence of Light, 2001), adalah catatan mengerikan tentang kehidupan seorang tahanan politik Maroko yang sebagian terinspirasi dari penahanan Ben Jelloun sendiri selama 18 bulan di sebuah kamp militer pada akhir 1960-an, yang memenangkan International IMPAC Dublin Literary Award pada tahun 2004.

Ben Jelloun juga menerima perhatian untuk tulisan-tulisan nonfiksinya, terutama Hospitalité francaise: racisme et immigration maghrebine (French Hospitality: Racism and North African Immigrants, 1984) dan Le Racisme expliqué à ma fille (Racism Explained to My Daughter , 1998), dua traktat provokatif yang mengatasi masalah xenophobia di Perancis. L’Islam expliqué aux enfants (Islam Explained, 2002), buku berformat tanya-jawab ditulis Ben Jelloun  untuk menanggapi sentimen anti-Muslim setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

La Belle au bois dormant  (The Sleeping Beauty in the Wood, 2004) adalah fiksi yang mengisahkan ulang dongeng klasik tentang seorang putri terpesona yang hanya bisa terbangun dengan ciuman. Nah, dalam Le Dernier Ami (The Last Friend, 2004, Sahabat Terakhir, novel yang ada di tangan Anda ini), Ben Jelloun menelusuri perubahan-perubahan persahabatan yang panjang antara dua pria Maroko. Dalam Partir (Leaving Tangier, 2005), dia memusatkan perhatian pada dua saudara Maroko yang harus melewati berbagai macam tantangan sosial dan pribadi setelah berimigrasi ke Spanyol. Au pays (A Palace in the Old Village, 2009) mengeksplorasi identitas Muslim melalui perjuangan seorang pensiunan Prancis Maroko yang kembali ke tanah airnya dan mulai membangun rumah besar untuk menarik keluarganya untuk bergabung dengannya.  Le Bonheur conjugal(The Happy Marriage, 2012) yang berstruktur tidak konvensional memuat catatan rahasia seorang seniman tentang keluhan istrinya dan tanggapan istrinya ketika perempuan itu menemukan rahasia-rahasia itu.

Selain itu, Ben Jelloun adalah kontributor reguler untuk Le Monde dan majalah lainnya. Pada tahun 2008 dia diangkat menjadi petugas di Legion of Honour.

Advertisements

AGAR MENEMBUS JURNAL INTERNASIONAL LEBIH MUDAH

Para akademisi yang kami hormati,

Menembus jurnal Internasional tidaklah mudah, tapi selalu ada cara untuk mengatasi setiap persoalan. Kami Telitikata Translocalize berpengalaman bertahun-tahun dalam membantu para akademisi menyiapkan manuskrip-manuskrip mereka sebelum dikirimkan ke jurnal internasional. Ada banyak klien kami yang manuskripnya lolos di jurnal berindeks Scopus!

1. PENERJEMAHAN

Siapkan naskah Anda sebaik mungkin (baik dari sisi konten, kebaruan ide, dan pastikan sesuai topiknya dengan jurnal yang Anda sasar) dalam Bahasa Indonesia, kami akan menerjemahkannya sebaik mungkin ke dalam Bahasa Inggris.

2. PROOFREADING

Anda mungkin punya kemampuan menulis dalam bahasa Inggris, namun ragu dengan kefasihan Anda, mari kami bantu. Meski kami sebut layanan ini Proofreading, namun pada praktiknya, kami melakukan lebih dari itu. Kami melakukan minor editing sampai proofreading. Ini layanan pemolesan bahasa manuskrip agar terbaca dengan baik oleh pembaca bahasa Inggris di seluruh dunia. Kami poles mulai dari gramatika, diksi, sampai ejaan.

BERGARANSI

Bila editor jurnal yang bersangkutan menginginkan pemolesan kembali dari segi Bahasa, maka kami tidak akan menagih serupiah pun kepada Anda. Kami akan mengeditnya Gratis! [Dengan syarat, konten tidak berubah]

Kami melayani konsultasi jika Anda ingin bertanya apa pun tentang layanan ini

Tunggu apa lagi, CATATKAN nama Anda di jurnal-jurnal Internasional!

Hubungi kami:

HP/SMS/WA: 0878 3101 8876 atau email kami di: telitikata@telitikata.com

Info lebih lengkap, silakan klik http://telitikata.com

The Button Undone (Kancing yang Terlepas)

Puji syukur kepada Tuhan!

Penerjemahan novel Kancing yang Terlepas karya Handry Tm ke Bahasa Inggris akhirnya tuntas saya lakukan. Naskah dinyatakan lolos review akhir pada 31 Juli 2017 lalu. Terima kasih kepada Panitia Program Penerjemahan Buku dan Dokumen Strategis PPSDK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah menanggung pembiayaan penerjemahan novel setebal 456 halaman ini. Terima kasih pula kepada teman-teman yang membantu saya selama proses pengerjaan naskah ini. Semoga novel ini menemukan nasib baiknya: segera terbit!

[Kabar burung, naskah versi Inggris novel ini sedang disunting Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) untuk mereka terbit. Mari kita tunggu!]

Kancing yang Terlepas, detailnya:

  • Ukuran : 13.5 x 20 cm
  • Tebal : 456 halaman
  • Terbit : Desember 2013
  • Cover : Softcover
  • ISBN : 978-602-03-0101-3

kancing yang terlepas photo

Pemateri di Translation Workshop Unisbank Semarang

Unisbank Semarang bekerja sama dengan HPI Komda DIY-Jateng mengadakan Translation Worshop di Kampus Unisbank Mugas pada hari Selasa tanggal 14 November 2017.

Pembicara:
1. Ibu Elisabeth Titik Murtisari (Penerjemahan Dokumen Umum/Anggota HPI)
2. Bpk. Slamat P. Sinambela (Penerjemahan Novel/Anggota HPI)

Workshop ini atas diikuti sekitar 80 mahasiswa Unisbank.

Terima kasih atas budi baik Dekan FBIB Unisbank, Ibu Endang Yuliani Rahayu, S.S., M.Pd. dan panitia yang sangat kooperatif dan menyenangkan!

This slideshow requires JavaScript.

Arabica! Arabica!

     “Arabica! Arabica!” seru pegawai imigrasi itu.
     Saya melongo. Saya coba pastikan perempuan berwajah tegang itu sedang berbicara ke arah saya. Wajah perempuan setengah baya itu membuat suasana amat kaku seperti rata-rata pegawai imigrasi di pelbagai bandara. Saya mematung sejenak. Tapi mata perempuan itu malah menghunjam saya.
     “Arabica! Arabica!” Dia bicara lagi lebih keras.
     “I am from Indonesia,” kata saya sambil bingung.
     Telinga saya mungkin lelah. Belasan jam lalu kami masih berkereta api dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur. Meski dengan kereta sleeper, tidur saya tidak lelap. Saya berulang kali terbangun untuk memastikan paspor kami tetap di belakang t-shirt saya, di balik jaket yang menggigil dihantam AC gerbong.
     Kami tiba tengah malam di KL Sentral dan terpaksa harus naik taksi dari stasiun kereta api di jantung Kuala Lumpur itu ke KLIA2 di Sepang. Kereta api ekspress, yang tiketnya lebih murah, dengan tujuan KLIA2 sudah habis jam segitu.
     Sehari sebelumnya, Encik sopir taksi yang kami tumpangi di Johor Bahru sudah cerita kalau pukul 23.59 s.d. 06.00 pengendara taksi akan membebankan surcharge 50 persen ke penumpang. Dan itu berlaku di 9 negeri di Malaysia. Apa boleh buat. Saat menyerahkan kupon taksi yang saya beli dari loket resmi di stasiun KL Sentral, si Encik sopir berwajah gelap itu senang luar biasa. KLIA2 jauh soalnya. Saya merogoh kocek setara Rp600.000 untuk perjalanan taksi kurang lebih 1 jam. Encik sopir menelepon temannya. Tafsiran saya, encik ini bilang, “Aku dapat ikan besar!” ke temannya. Lalu berkali-kali mereka tertawa.
     “Rezekimu!” batin saya.
     Apa boleh buat. Daripada tiket pesawat kami berempat pukul enam pagi ke Yangon, Myanmar hangus. Ya sudahlah.
     Dan, di Yangon-lah teriakan “arabica” itu. Saya pandangi istri saya di konter imigrasi sebelah. Teman tidur saya itu menggeleng.
     “Yo paspo, yo paspo”. Segera saya berikan paspor saya. Sebuah kertas kecil terselip bertuliskan “Arrival Card” menyembul. Kertas yang langsung saya isi setelah dibagikan pramugari cantik di pesawat tadi.
     Oalah, maksudnya ini toh. []
DSCN7267

Di depan kediaman Aung San Suu Kyi, Yangoon, Myanmar

The Death of the Black Crow (Tewasnya Gagak Hitam)

Rancangan sementara sampul “The Death of the Black Crow”, novel karya Sidik Nugroho yang tahun 2016 saya terjemahkan dari versi Bahasa Indonesia “Tewasnya Gagak Hitam”. Penerjemahannya dibiayai PPSDK Kemdikbud. Novelnya akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Silakan siap-siap memburunya ya

The Tale of Peter Rabbit

KISAH PETER SI KELINCI

Karya Beatrix Potter

Naskah sumber ada di sini

(digunakan pertama kali sebagai bahan kencan-baca dengan Komunitas Belajar Homeschooler Semarang, Kabeh Mesem)

1Dahulu kala, ada empat Kelinci kecil dengan nama Flopsy, Mopsy, Cotton-tail, dan Peter.

Mereka hidup bersama Ibu mereka di lubang kelinci dalam pasir, di bawah akar pohon cemara yang sangat besar.

“Sekarang, anak-anakku sayang,” kata Bu Kelinci suatu pagi, “Kalian boleh  pergi ke ladang atau ke jalan, tetapi tidak pergi ke kebun Pak  McGregor: Ayah kalian mengalami kecelakaan di sana; ia dimasukkan ke dalam kue pie oleh Bu McGregor.”
“Sekarang pergilah bersama-sama, jangan nakal. Mama pergi ke luar.”

Kemudian Bu Kelinci mengambil keranjang dan payungnya. Dia pergi ke tukang roti melalui hutan ke tukang roti. Dia membeli sepotong roti cokelat dan lima roti kismis.

Flopsy, Mopsy, dan Cotton-tail, kelinci-kelinci kecil yang baik, pergi menyusuri jalan untuk mengumpulkan blackberry:

Tapi Peter, yang sangat nakal, berlari langsung ke kebun Pak McGregor, dan memaksa menyusup masuk dari bawah gerbang!

5Pertama, dia makan beberapa selada dan beberapa kacang Perancis; dan kemudian dia makan beberapa lobak;

Dan kemudian, merasa agak sakit, ia pergi untuk mencari beberapa peterseli.

Tapi, di tikungan akhir kebun mentimun, dia bertemu Pak McGregor!

Pak McGregor sedang merangkak menanam kubis muda , tapi dia segera melompat dan berlari mengejar Peter, mengayunkan sapu dan berteriak, “Berhenti pencuri!”

Peter sangat ketakut8an. Ia berlari kencang menginjak seluruh kebun, karena ia sudah lupa jalan kembali ke pintu gerbang.

Dia kehilangan salah satu sepatunya antara tanaman kubis, dan sepatu lainnya antara kentang.

Setelah kehilangan sepatunya, ia berlari dengan empat kaki dan melesat lebih cepat, sehingga  mungkin saja dia bisa lolos, tapi sayangnya dia tersangkut di jaring gooseberry. Kancing besar di jaketnya terlilit jaring itu. Jaketnya cukup baru, berwarna biru dengan  kancing kuningannya.

Peter menyerah karena tersesat, dan menangis. Isaknya terdengar oleh beberapa burung pipit yang ramah. Mereka terbang ke arahnya dengan gembira, dan menasihatinya untuk mengerahkan sekuat tenaganya.

Pak McGregor datang dengan jaring untuk menangkap kepala Peter. Tapi Peter menggeliat keluar tepat pada waktunya, meninggalkan jaketnya di belakang.

12Peter berlari ke gudang peralatan, dan melompat ke kaleng penyiram tanaman. Ini tempat yang aman untuk bersembunyi jika tak berisi banyak air.

Pak McGregor cukup yakin bahwa Peter ada di gudang peralatan, mungkin tersembunyi di bawah pot bunga. Dia mulai memeriksa pot-pot bunga dengan hati-hati, mencari Peter di bawah masing-masing pot itu.

Tiba-tiba, Peter bersin-‘Hatsi! ‘ Dengan cepat, Pak McGregor mendekatinya.

Laki-laki itu mencoba untuk menginjak Peter yang melompat keluar dari jendela, menubruk tiga batang tanamam. Jendela itu terlalu kecil untuk Pak McGregor. Dia kelelahan mengejar Peter. Akhirnya, Pak McGregor melanjutkan pekerjaannya kembali.

Peter duduk untuk beristirahat.  Ia kehabisan napas dan gemetar ketakutan, dan ia sama sekali tidak tahu akan pergi ke mana. Tubuhnya juga sangat basah berada di kaleng tadi.

Setelah beberapa saat, ia mulai berjalan, pelan-pelan, dan melihat semua di sekelilingnya.

Peter menemukan sebuah pintu di dinding. Tapi terkunci, dan tidak ada lubang untuk kelinci kecil gendut untuk menyusup di bawahnya.

Seekor tikus tua berlari keluar masuk pintu batu, membawa kacang polong dan kacang-kacangan untuk keluarganya di hutan. Peter bertanya padanya jalan mana menuju ke gerbang. Tapi mulut tikus itu mengulum kacang yang besar sehingga dia tidak bisa menjawab. Si tikus tua hanya menggeleng. Peter mulai menangis.

Kemudian Peter  mencoba berjalan lurus menerobos kebun tapi ia menjadi lebih bingung. Saat ini, ia menuju kolam tempat Pak McGregor mengisi kaleng penyiramnya.  Seekor kucing putih menatap beberapa ekor ikan emas. Kucing itu duduk dengan tetap diam, tapi kemudian ujung ekornya bergerak-gerak seolah-olah ekor itu hidup. Peter pikir lebih baik pergi tanpa berbicara kepada kucing itu. Peter telah mendengar tentang para kucing dari sepupunya, si kecil Benjamin Bunny.

Peter kembali ke gudang peralatan. Tiba-tiba, cukup dekat, Peter mendengar suara cangkul, sret, sret sret. Peter melompat cepat di bawah semak-semak. Tapi kali ini, seakan tidak terjadi apa-apa, ia keluar, dan naik di sebuah gerobak dan mencoba mengintip. Hal pertama yang ia lihat adalah Pak McGregor mencangkul bawang. Pak McGregor membelakangi Peter, dan pintu gerbang ada di depan laki-laki itu!

Peter turun sangat pelan dari gerobak; dan mulai berlari secepat ia bisa, sepanjang jalan lurus di belakang semak-semak blackcurrant.

Pak  McGregor menangkap bayangan Peter  di sudut, tetapi Peter tidak peduli. Dia menyelinap di bawah pintu gerbang, dan akhirnya aman di hutan di luar kebun.

Pak McGregor menggantung jaket kecil dan sepatu Peter jadi alat  untuk menakut-nakuti burung-burung hitam.

Peter tidak berhenti berlari atau melihat ke belakang sampai ia tiba di rumah dengan pohon cemara besar.

Dia begitu lelah sehingga ia menjatuhkan diri di lantai pasir yang lembut di lubang kelinci dan menutup matanya. Ibunya sedang sibuk memasak; ia bertanya-tanya apa yang telah dilakukan Peter dengan pakaiannya. Itu jaket kecil kedua dan sepasang sepatu yang Peter hilangkan dalam dua minggu ini!

Peter tidak begitu sehat sepanjang malam hari.

Ibunya menidurkannya, dan menyeduh teh camomile; dan dia memberi obat  untuk Peter! “Satu sendok makan sebelum tidur.”

Tapi Flopsy, Mopsy, dan Cotton-tail punya roti, susu dan blackberry untuk dinikmati tengah malam.

TAMAT

 

Cerita Pernikahan

CERITA PERNIKAHAN

Judul: Cerita Pernikahan (Story of Marriage)

Penulis: John & Lisa Bevere

Penerjemah: Slamat P. Sinambela & Hembang Tambun

Penerbit: Messenger International, USA,  Juni 2016

Pada suatu waktu… Pernikahan adalah selamanya. Itu merupakan suatu perjanjian yang menyatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan bersama-sama. Penyatuan ini menjadikan keduanya lebih kuat, lebih mulia, dan merupakan penyataan yang lebih bersemangat tentang menjadi siapakah mereka diciptakan. Mereka lebih baik bersama-sama dibandingkan jika mereka sendirian saja. Upacara pernikahan hanyalah suatu permulaan. Itu merupakan pintu gerbang untuk membangun kebahagiaan mereka yang selama-lamanya. Setiap pilihan dan tindakan dirancang untuk membangun kehidupan yang ditunjukkan oleh penyatuan mereka. Suami dan istri melangkah ke dalam ketidaktahuan besar dengan hati, tangan dan suara yang saling berjalin untuk menyatakan kasih Pencipta mereka.

Bagaimana kita telah kehilangan sentuhan kisah cinta yang sangat dalam ini? Dalam Cerita Pernikahan, John dan Lisa Bevere mengundang Anda untuk menemukan kembali rencana Allah yang semula. Apakah Anda menikah, lajang, atau bertunangan, cerita Anda adalah satu bagian dari cerita-Nya.

Silakan download ebooknya di sini

pluk, pluk, pluk

saya kesulitan mengejar langkah sepupu saya itu di tengah gerumbulan pohon kopi di belakang rumahnya. saya hanya berputar-putar saja sambil berulang kali meneriakkan namanya.

tapi tidak ada sahutan. hanya suara cerewet burung-burung kecil yang berlompatan di pepohonan petai, jengkol dan nangka yang tumbuh liar di sela-lela ladang kopi. lalu saya mulai mendengar bunyi, pluk, pluk, pluk tidak jauh di depan.

tiba-tiba, sepupu saya tertawa keras-keras. saya lihat dia tanpa celana berjongkok menginjak cabang pohon nangka terbesar. tangan kirinya memeluk batang pohon yang vertikal.

sialan, itu tadi bunyi tahinya yang berjatuhan.

‪#‎ceritaliburpanjangmasakecil

Bagaimanakah Cara Menjadi Penerjemah?

« Older entries