Pendidikan Klasik cerpen karya Saša Stanišiç

Sumber: Suara Merdeka, Minggu, 28 Juni 2020. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Slamat P. Sinambela.

Dalam cerita pendek ini, Johann Sebastian Bach memperdaya Wolfgang Amadeus Mozart atas sebuah pencurian di pesawat terbang.

Pada penerbangan menuju Budapest, aku duduk di sebelah bocah perempuan yang memukau hatiku dengan mata hijau dan kunciran rambut pirangnya. Ibunya juga pirang dan bermata hijau dan sedang fokus membaca Brigitte, sebuah majalah Jerman campuran antara Martha Stewart Living dan Cosmopolitan. Aku memakluminya karena putrinya juga sangat cantik, serius, patuh, campuran miniatur dari Susan Sontag, Jessica Valenti, dan Tinkerbell, anjing Chihuahua-nya Paris Hilton.

“Siapa namamu?” tanyaku kepadanya setelah pesawat lepas landas, memancing obrolan ringan ala anak kecil.

“Johann Sebastian Bach,” jawab bocah itu dan mencuri sebungkus permen karet dari tas Gucci ibunya.

Aku tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan seringai konspiratorialku yang terkenal, “Dan aku Wolfgang Amadeus Mozart!”

Johann Sebastian mengacungkan jari tengahnya kepadaku.

Aku sangat terkejut. Kog bisa seorang anak kecil melakukan itu? Aku bertanya kepada diri sendiri dan menggelengkan kepala. Pada saat itu, gadis itu memasukkan lima batang permen karet ke mulutnya sekaligus, melemparkan bungkus kosongnya ke pangkuanku, dan menjerit memilukan. Sang ibu menutup majalahnya dan memandang putrinya yang kemudian mengarahkan telunjuknya kepadaku.

Ibu: “Apa yang dilakukan orang jahat itu kepadamu?”

Anak (dengan mulut penuh permen karet): “Waaaaaah!”

Ibu: “Jo, dari mana kau dapatkan permen karet itu?”

Anak: “Orang jahat itu memberikannya kepadaku. Dia menyuruhku mengunyah semuanya. Dan, dia bilang namanya Mozart, dan dia ingin menggubah musik bersamaku, waaaaah!”

Ibu: “Apa!” (Mata hijaunya menhunjamku ketika si kecil meludahkan gumpalan besar permen karet ke tangan ibunya.)

Sekarang, apa yang bisa kau lakukan dalam situasi seperti ini? Sang ibu yakin bahwa malaikatnya yang pirang bahkan tidak tahu apa itu dusta, dan yang lebih mengenaskan lagi, aku memegang bungkusan permen karet yang kosong di tanganku. Ditambah pula, “menggubah musik bersamaku” terdengar sangat meresahkan. Tidak akan ada yang memercayaiku jika kukatakan bahwa gadis kecil itu sedang melakukan permainan yang tidak logis denganku, dengan tampang yang sama polosnya dengan wajahku yang tidak bercukur. Dan ketika sang ibu mengenali permen karet itu sebagai miliknya — “Tunggu sebentar! Apakah Anda merogoh tas saya?”—semua orang di pesawat itu berbalik dan menatap sang pencopet pedofil.

Dengan berlinang air mata, gadis itu diam-diam mengacungkan jari tengahnya lagi kepadaku.

“Dengarkan!” kataku, berusaha membela diri, “Johann Sebastian Bach-lah yang bersalah di sini!”

“Bach?” ibunya yang marah itu berteriak bersamaan dengan pramugari yang datang dengan misi diplomatiknya untuk menyelesaikan perdebatan kami. Dengan itu, aku dianggap sebagai orang gila selama penerbangan.

“Dan, Tuan Mozart juga tidak mengenakan sabuk pengamannya,” adu monster kecil itu, dengan wajah simfoninya yang polos. Terbang tanpa menggunakan sabuk pengaman — itu bukan kesalahan yang ringan, itu pelanggaran serius seperti perampokan bersenjata.

“Apakah Anda melanggar peraturan keamanan kami, Tuan?” teriak pramugari yang sopan itu kepadaku. Sebelum aku bisa menjawab, handphoneku berdering. Sang ibu mendeham sekuat mungkin yang diizinkan pita suaranya, dan semakin keras aku mencari-cari benda sialan yang memainkan “A Little Night Music.”

“Tuan, matikan ponsel Anda sekarang juga!” perintah pramugari dengan sangat mendesak dan beberapa penumpang dengan panik mengenakan jaket keselamatan mereka.

“Dia seharusnya sudah mematikannya sebelum kita terbang,” kata si anak yang menyebalkan itu dan kemudian menambahkan sebuah kalimat dalam bahasa Hungaria, yang menyebabkan ibunya dan pramugari itu tertawa terbahak-bahak. Akhirnya, suara dering berhenti, dan pramugari pergi, mengayunkan pinggulnya dengan meremehkan (kemudian: tidak ada bir untukku, hanya teh).

Sudah waktunya untuk mengambil tanggung jawab atas pendidikan gadis itu: “Kau tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini, gadis kecil! Jangan berbohong, jangan mencuri, dan kau hanya boleh mengacungkan jari tengah di jalan raya!” Aku ingin sekali mengatakan semua itu, tetapi sang ibu dan putrinya telah bertukar tempat duduk dan sungguh tak ada gunanya mencoba mendidik perempuan yang membaca Brigitte. Gadis itu duduk di kursi dekat jendela, wajahnya bermandikan sinar matahari, sambil menyiulkan satu musik gubahan Bach. ***

Saša Stanišić adalah penulis Bosnia-Jerman. Ia lahir di Višegrad, Bosnia dan Herzegovina, dan pindah ke Jerman sebagai pengungsi Perang Bosnia ketika ia berusia 14 tahun. Dia telah menulis sebuah novel terkenal di Jerman yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul How the Soldier Repairs the Gramophone. Sumber terjemahan cerpen ini berjudul A Classic Eduation yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Saša Stanišić dan Janet Hendrickson dari Bahasa Jerman.

Slamat P. Sinambela telah menerjemahkan 70-an buku untuk berbagai penerbit. Terjemahannya yang baru terbit, Ensiklopedia Orang-Orang Mati, kumpulan cerpen Danilo Kis, Penerbit Basabasi, Yogyakarta.

The Death of the Black Crow

blackcrow“Author Found Dead Hanging in His Room”, that was the headline of Black Crow’s mysterious death which made Elang Bayu Angkasa curious. He decided to go to Singkawang to investigate, together with Agung, a Singkawang policeman.

It wasn’t easy, but they began to find clues, which lead to another murder. A doctor in Jakarta. Nina Soekarwati, was also found dead with the same M.O. This time there was a terrifying message on her bedroom’s wall. A writer and a doctor — two cities, two deaths, two mysteries…
Inilah terjemahan novel pertama saya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris yang terbit di Indonesia sebelum disusul The Button Undone yang jutru saya posting jauh sebelum post ini. Saya memang kurang disiplin update blog ini 😛

The Death of the Black Crow

Judul Asli: Tewasnya Gagak Hitam

Penulis: Sidik Nugroho

Penerjemah: Slamat P. Sinambela

Penyunting: Rosemary Kesauly & Dwi Ratih Ramadhany

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016

Penyandang dana terjemahan: Panitia Program Penerjemahan Buku dan Dokumen Strategis PPSDK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

 

Meeting in the Time of Corona

bevere zoom

Rabu, 8 April lalu, pukul 9.30 pagi waktu New York, saya harus ikut rapat via zoom dengan John Bevere dan 60-an anggota tim Messenger International dari seluruh dunia.

Tim saat ini menggarap terjemahan buku, tv shows, video dan audio kurikulum ke dalam sekitar 80-an bahasa. Terdapat kurang lebih 200-an proyek non-profit (transaksi, produk kurikulum, percetakan dan distribusi).

Proses cetak buku di 40-an negara sebagian berjalan dan sebagian lagi tertunda akibat virus.

Menyenangkan menikmati rapat dengan pelbagai kolega yang rentang zona waktunya hampir belasan jam. Semua saling menyemangati, saling mendoakan.

Yang mengenaskan, kesaksian penerjemah dari Italia, yang menyebutkan angka tujuh ratusan orang terinfeksi virus corona bertambah setiap harinya di sana.

Semoga dunia segera kembali pulih.

ALLAH, DI MANAKAH ENGKAU?!

bevere Allah di manakah engkauJudul asli: God, Where Are You?!

Penulis: John Bevere

Penerjemah: Hembang Tambun & Slamat P. Sinambela

Penyunting: S. P. Sinambela

Proofreader: Tiurnida Silvia Pohan Siahaan

Layouter: Yosua Agustinus Sirait

Penerbit: Messenger International (MessengerInternational.org)

Tahun terbit: 2019

Menemukan Kekuatan dan Tujuan di Padang Gurun Anda

Apakah Anda merasa tersesat dalam satu situasi yang sulit, bertanya-tanya, “ALLAH, DI MANAKAH ENGKAU?!”

Barangkali Anda telah mendengar Allah berfirman, tetapi sekarang tampaknya Dia bungkam. Mungkin Anda telah bergerak maju dalam iman, tetapi saat ini hadirat-Nya tak dapat ditemukan di mana pun. Selamat datang ke padang gurun – tempat antara menerima suatu janji dari Allah dan melihatnya terwujud.

Tetapi inilah kabar baiknya – ini bukanlah padang gersang tanpa tujuan. Allah memakai padang gurun untuk mempersiapkan dan memperlengkapi Anda demi takdir Anda – yakni, jika Anda menjalaninya dengan benar. Bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan banyak orang, melintasi musim ini bukan hanya persoalan menantikan Allah. Anda memiliki satu peran untuk dimainkan dalam menjalaninya. Satu peran besar. Dan jika Anda tak ingin membuang-buang waktu berputar-putar di situ saja, adalah penting untuk mempelajarinya.

Dalam buku yang membukakan mata ini, pengarang buku laris John Bevere memperlengkapi Anda dengan pemahaman-pemahaman kunci yang Alkitabiah dan cerita-cerita yang sangat bermakna yang akan menolong Anda menjalani musim kering atau masa-masa sulit Anda dan melangkah ke dalam apa yang Allah punya bagi Anda.

Anda dapat mengunduh versi PDF buku ini di sini:

https://cloudlibrary.org/id/id-buku/god-where-are-you-book/

GADIS-GADIS PATAH HATI

bevere gadis gadis patah hatiPenulis: Lisa Bevere

Penerjemah: Aline Tobing & Slamat P. Sinambela

Penyunting: S. P. Sinambela

Proofreader: Tiurnida Silvia Pohan Siahaan

Layouter: Yosua Agustinus Sirait

Penerbit: Messenger International (MessengerInternational.org)

Tahun terbit: 2019

Wanita selalu menghadapi risiko kalah lebih besar daripada yang sanggup mereka ambil ketika mereka menyerah. Pria menyukai petualangan dan intrik, sementara wanita diciptakan untuk keintiman, percintaan, dan hasrat. Kita diciptakan untuk menjadi lebih dari sekadar saluran pelepasan seksual bagi pria, dan sebagai wanita, kita menginginkan dan layak memperoleh lebih dari sekadar pelepasan seksual bagi diri kita.

Dalam Gadis-Gadis Patah Hati, Lisa Bevere menyampaikan jawaban-jawaban yang dimampukan Allah untuk berbagai pertanyaan blakblakan. Ini suatu pesan harga diri dan harapan bagi wanita segala usia yang tak lagi bersedia kalah. Semua yang dibangkitkan terlalu dini dalam diri kalian bisa ditidurkan kembali. Kalian bisa melangkah dalam kebebasan, kekuasaan, dan kesucian tanpa memedulikan masa lalu.

Sementara kalian membuka diri terhadap pengampunan Allah yang tiada batas, kalian akan menemukan kehidupan penuh kebebasan tak seperti apa pun yang kalian kenal. Inilah saatnya mengembalikan kehormatan, kekuatan–dan ya, bahkan kekuasaan–pada putri-putri berharga Allah di bumi.

Anda dapat mengunduh versi PDF buku ini di sini:

https://cloudlibrary.org/id/id-buku/kissed-the-girls-and-made-them-cry/

MEMBUNUH KRYPTONITE

bevere kryptoniteJudul asli: Killing Kryptonite

Penulis: John Bevere

Penerjemah: Slamat P. Sinambela & Hembang Tambun

Penyunting: Slamat P. Sinambela

Layout: Yosua A. Sirait

Penerbit: Messenger International (MessengerInternational.org)

Tahun terbit: 2019

 

Anda dapat Membunuh Apa yang Mencuri Kekuatan Anda

Sama seperti Superman, yang dapat melompati rintangan apa pun dan mengalahkan setiap musuh, para pengikut Kristus memiliki kemampuan supernatural untuk menaklukkan tantangan-tantangan yang kita hadapi. Tetapi masalah bagi Superman dan kita adalah adanya satu kryptonite yang mencuri kekuatan kita.

Tentu saja, Superman dan kryptonite adalah fiksi. Tetapi kryptonite rohani bukan fiksi.

Buku ini menawarkan jawaban-jawaban pada mengapa begitu banyak dari kita yang tidak dapat mengalami kekuatan ilahi yang merupakan bukti di antara orang-orang Kristen abad pertama?

Dalam Membunuh Kryptonite, John Bevere menyingkapkan apa itu kryptonite, mengapa ia sedang mengkompromikan komunitas-komunitas kita, dan bagaimana terbebas dari belenggunya.

Membunuh Kryptonite bukanlah untuk melemahkan hati, namun gula spiritual yang tinggi untuk memberi kekuatan. Ini adalah kebenaran serius bagi para pengikut Kristus yang ingin merengkuh jalan transformasi yang menantang namun bermanfaat.

Anda dapat mengunduh versi PDF buku ini di sini:

Membunuh Kryptonite

TANGGUH

bevere tangguhJudul asli: Adamant

Penulis: Lisa Bevere

Penerjemah: Slamat P. Sinambela

Penyunting: Arie Saptaji

Proofreader: S. P. Sinambela

Layouter: Yosua Agustinus Sirait

Penerbit: Messenger International (MessengerInternational.org)

Tahun terbit: 2019

 

Berdasarkan definisi kuno, adamant mengacu pada batu permata dan batu mistis yang tak dapat dihancurkan. Dalam pengertian modern, adamant mengacu pada ketangguhan, sikap dan kebulatan tekad yang gigih dan tak tergoyahkan. Saat inilah waktu yang tepat untuk mengembangkan ketangguhan dalam kasih dan kebenaran. Allah itu Kasih. Allah itu Kebenaran. Baik kasih maupun kebenaran itu tidak lekang oleh waktu, melampaui tren dan opini yang berkembang saat ini. Kadang-kadang ungkapan kasih yang paling hakiki adalah dengan menyampaikan
kebenaran, tetapi untuk dapat menyampaikan kebenaran kita perlu memulainya dengan hidup berdasarkan kebenaran.

Dengan menggunakan ayat-ayat Kitab Suci dan cerita, penulis buku laris Lisa Bevere mengajak Anda berjalan menuju Gunung Allah, satu-satunya tempat bagi Anda bukan hanya untuk belajar tinggal di dalam kebenaran dan kasih Allah yang tak tergoyahkan, melainkan juga belajar membulatkan hati untuk menjadi orang-orang tangguh yang tak tergoyahkan, gigih, dan tabah. Dengan penuh keyakinan dan kerinduan
yang besar, Lisa memaparkan konsep ketangguhan bagi Anda, menautkan kisah agung dalam Kitab Suci dan tujuan Allah di dalam kehidupan kita. Anda akan menyaksikan bahwa rencana Allah akan terungkap ketika kita berdiam di dalam Dia, bahwa di sanalah kita ditempa dan dibentuk. Ketika kita tinggal di dalam Kristus Sang Batu Penjuru, kita pun dibentuk sebagai umat yang tangguh.

 

Anda dapat mengunduh versi PDF buku ini di sini: https://cloudlibrary.org/id/id-buku/adamant-book/

Ensiklopedia Orang-Orang Mati karya Danilo Kiš

Ensiklopedia Orang Orang Mati Shopee Indonesia

Menghadirkan Danilo Kiš di Indonesia
oleh Slamat P. Sinambela

Jika bukan karena diminta memilih dan menerjemahkan cerpen-cerpen Danilo Kiš oleh Tia Setiadi, saya mungkin tidak akan tahu banyak penulis Serbia-Yugoslavia ini. Namanya sayup-sayup sampai di telinga pembaca sastra kita. Dengan merujuk pencarian yang saya lakukan di google, saya tidak menemukan satu pun jejak karya Kiš yang pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Semoga saya tidak keliru soal data ini.

Karya-karya Kiš diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sedikit demi sedikit, dan banyak dari buku-bukunya yang terbilang penting tidak tersedia dalam bahasa Inggris sampai tahun 2010-an sampai Arsip Dalkey mulai merilis pilihan judul, termasuk A Tomb for Boris Davidovich dan Garden, Ashes pada 2012, Dalkey merilis The Attic, Psalm 44, dan kumpulan cerita anumerta The Lute and the Scars (Lute dan Luka, juga kami sajikan di buku ini), yang diterjemahkan oleh John K. Cox ke dalam Bahasa Inggris. Publikasi terakhir ini memungkasi proses “Penginggrisan karya fiksi Kiš” yang ditengarai oleh Pete Mitchell, dari Booktrust, sebagai kebangkitan Kiš.

Danilo Kiš dipengaruhi terutama oleh Jorge Luis Borges: ia dituduh menjiplak Borges (dan James Joyce ) dalam novel Makam untuk Boris Davidovich. (Para editor asing selalu menyebut karya ini sebuah novel meski Kiš sendiri menyebutnya kumpulan cerpen tematik). Para kritikus juga menyerang kumpulan cerpen itu karena tema-tema yang diduga Marxis . Ini yang mendorong Kiš untuk menuliskan “respons pedas”-nya lewat The Anatomy Lesson (1978). Dalam buku itu, ia menuduh pengkritiknya membungkam pendapat nasionalis dan anti-sastra.

Beberapa orang yang dikritik Kiš dalam The Anatomy Lesson membalasnya setelah buku itu terbit. Pada 1981, Dragan Jeremić, seorang profesor sastra di Universitas Beograd dan seteru Kiš, menerbitkan Narcissus without a Face di mana ia menegaskan kembali klaimnya bahwa Kiš telah melakukan plagiasi dalam Makam untuk Boris Davidovich. Dragoljub Golubović, jurnalis yang menerbitkan ulasan pertama yang menuduh Kiš melakukan plagiarisme, dan menuntut Kiš atas fitnah. Kasus ini akhirnya dihentikan pada bulan Maret 1979.

Kis mengakui pengaruh dari Borges dalam cerpen Ensiklopedia Orang-Orang Mati. Dari Bruno Schulz, penulis dan prosais asal Polandia, Kiš mengambil “elemen mitis” untuk cerpen ini. Suatu kali, bahkan sempat diberitakan bahwa Kiš mengaku kepada John Updike: “Schulz adalah tuhanku”.

Branko Gorjup, seorang profesor dan editor asal Kanada, melihat dua periode berbeda dalam karier Kiš sebagai seorang novelis. Yang pertama, yang meliputi Psalm 44, Garden, Ash, dan Early Sorrows, ditandai oleh realisme: “Kiš menciptakan karakter-karakter yang psikologinya “mencerminkan dunia luar dari ingatan, mimpi, dan mimpi buruk penulis, atau pengalamannya saat itu. dan ruang di mana dia tinggal “. Dunia yang ia bangun dalam narasinya, sementara ia menjauhkan diri dari mimesis murni, dibangun untuk dapat dipercaya. Pemisahan dari mimesis yang ia coba capai dengan semacam penipuan melalui bahasa, suatu proses yang dimaksudkan untuk menanamkan “‘keraguan’ dan ‘kegelisahan’ yang terkait dengan rasa sakit yang tumbuh pada anak-anak dan kesedihan awal. Keberhasilan ‘penipuan’ ini bergantung pada efeknya, ‘pengakuan’ di pihak pembaca”. Intinya, bagi Kiš, adalah untuk membuat pembaca menerima “ilusi realitas yang diciptakan”.

Menurut Branko Gorjup pula, fokus pada manipulasi dan pemilihan bukti dokumenter yang diduga ini adalah ciri khas periode Kiš di kemudian hari, dan mendasari metode penulisan Makam untuk Boris Davidovich:

Pertama, sebagian besar plot dalam karya ini berasal atau dipinjam dari sumber yang sudah ada yang memiliki signifikansi sastra yang berbeda, beberapa mudah dikenali — misalnya, yang diekstrak dari Roy Medvedev dan Karl Steiner — sementara yang lain lebih tidak jelas.

Kedua, Kiš menggunakan teknik transposisi teks, di mana seluruh bagian atau rangkaian fragmen, seringkali dalam keadaan tidak berubah, diambil dari teks lain dan dimasukkan secara bebas ke dalam jalinan karyanya.

Gaya dokumenter ini menempatkan karya Kiš di kemudian hari dalam apa yang dia sendiri sebut sebagai “periode pasca-Borges”, tetapi tidak seperti Borges, dokumentasi berasal dari “materi yang relevan secara historis dan politis” dalam cerpen Makam untuk Boris Davidovich digunakan untuk mengecam Stalinisme.

Berbeda dengan Borges, Kiš tidak tertarik pada metafisika, tetapi pada “fenomena yang lebih biasa”. Dalam Ensiklopedia Orang-Orang Mati ini berarti membangun sebuah ensiklopedia “berisi biografi setiap kehidupan orang biasa yang dijalani sejak 1789”.

Danilo Kiš lahir 22 Februari 1935 di Subotica, Danube Banovina, Kerajaan Yugoslavia (kini Serbia), putra Eduard Kiš (Kis Ede), seorang inspektur kereta api Yahudi Hungaria, dan Milica Kiš (lahir Dragićević) dari Cetinje, Montenegro.

Pada akhir akhir 1930-an orangtua Kiš amat prihatin dengan gelombang anti-Semitisme di Eropa. Kiš diserahkan untuk dibaptis ketika berusia tiga tahun ke dalam Gereja Ortodoks Timur di Novi Sad, tempat mereka bermukim saat itu.

Pada April 1941, pasukan Hungaria, yang bersekutu dengan Nazi Jerman, menyerbu provinsi utara Yugoslavia Vojvodina. Setelah Hungaria menyatakan perang terhadap kekuatan Sekutu pada tahun 1941, wilayah tersebut dianeksasi dan para pejabat mulai menganiaya orang-orang Yahudi di wilayah tersebut. Pada 20 Januari 1942, pasukan bersenjata dan pasukan menyerbu Novi Sad, dan dua hari kemudian, pasukan militer membantai ribuan orang Yahudi di rumah-rumah mereka dan di sekitar kota. Eduard Kiš (ayah Danilo) termasuk di antara sekelompok besar orang Yahudi yang ditangkap dan dibawa oleh polisi ke tepi Sungai Donau yang beku untuk ditembak. Eduard berhasil selamat, hanya karena lubang di es tempat pasukan militer membuang mayat-mayat menjadi tersumbat oleh mayat-mayat sehingga para komandan meminta regu tembak untuk menghentikan pembunuhan.

Setelah pembantaian itu, Eduard memindahkan keluarganya ke Kerkabarabás, sebuah kota di barat daya Hungaria. Danilo bersekolah di sekolah dasar di Kerkabarabás. Melalui 1944, orang-orang Yahudi Hungaria sebagian besar aman, dibandingkan dengan orang-orang Yahudi di negara-negara yang diduduki Poros lainnya karena para pejabat Hungaria enggan menyerahkan orang-orang Yahudi kepada Nazi. Namun, pada pertengahan 1944 pihak berwenang mulai mendeportasi orang-orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Eduard Kiš dikirim ke ghetto di Zalaegerszeg pada bulan April atau Mei 1944, kemudian dideportasi ke Auschwitz pada 5 Juli. Eduard, bersama dengan banyak kerabatnya, meninggal di Auschwitz. Danilo, Danica, dan Milica, mungkin karena Surat Baptis dari Gereja Ortodoks, diselamatkan dari deportasi pemerintah Hungaria ke kamp-kamp konsentrasi.

Ayah Kiš adalah sosok yang tidak stabil dan sering absen di masa kecil Danilo. Eduard Kiš menghabiskan waktu di rumah sakit jiwa di Beograd pada tahun 1934 dan kembali pada tahun 1939. Kiš mengunjungi ayahnya di rumah sakit selama salah satu masa inapnya. Dalam kunjungan ini, dimana Kiš mengingat ayahnya meminta gunting kepada ibunya untuk bunuh diri, membekaskan kesan yang kuat pada Danilo muda. Selama bertahun-tahun, Kiš percaya bahwa masalah psikologis ayahnya berasal dari alkoholisme. Baru pada 1970-an Kiš mengetahui bahwa ayahnya menderita kecemasan neurosis. Pada masa tinggal di rumah sakit, Eduard Kiš mengedit edisi 1938 dari Panduan Perjalanan Nasional dan Internasional Yugoslavia. Danilo muda melihat ayahnya sebagai seorang musafir dan penulis.

Eduard Scham, tokoh ayah eksentrik protagonis dalam karyanya Early Sorrows, Garden, Ash, dan Hourglass sebagian besar didasarkan pada sosok ayah Kiš sendiri. Kiš menggambarkan ayahnya sebagai “figur mitos,” dan akan terus mengklaim bahwa ayahnya tidak mati di Auschwitz tetapi telah “menghilang.”

Kiš belajar sastra di Universitas Belgrade, dan lulus pada tahun 1958 sebagai mahasiswa pertama yang menyelesaikan kuliah dalam sastra komparatif. Dia adalah anggota terkemuka dari majalah Vidici, tempat dia bekerja sampai 1960. Pada 1962 dia menerbitkan dua novel pertamanya, Mansarda dan Psalm 44. Kiš menerima Penghargaan NIN bergengsi untuk novel Peščanik (“Hourglass”) pada 1973, yang dia kembalikan beberapa tahun kemudian, karena perselisihan politik.

Selama tahun-tahun berikutnya, Kiš menerima sejumlah besar penghargaan nasional dan internasional untuk prosa dan puisinya.

Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Paris dan bekerja sebagai dosen di tempat lain di Prancis.

Kiš menikah dengan Mirjana Miočinović dari tahun 1962 hingga 1981. Setelah berpisah, dia tinggal bersama Pascale Delpech hingga kematian dini akibat kanker paru-paru di Paris.

Sebuah film berdasarkan novelnya Peščanik (Hourglass) dibesut oleh Szabolcs Tolnai seorang sutradara asal Hungaria pada tahun 2007.

Kiš pernah dinominasikan untuk Hadiah Nobel dan berpeluang menang seandainya kematian tidak menjemputnya pada 15 Oktober 1989.

Kami juga menyertakan cerpen-cerpen lainnya yang seluruhnya bersumber dari tiga buah kumpulan edisi terjemahan Inggrisnya, yang menurut kami cukup merepresentasikan keunikan gaya penceritaan Kiš dibandingkan dengan para penulis dunia lainnya. Kami berharap kumpulan cerita ini mendapat sambutan yang baik di mata pembaca.

Selamat membaca!

Kiš adalah salah satu penulis besar Eropa periode pasca perang.
—Guardian

Fantasi mengejar realitas dan realitas mengejar fantasi. Kurang lebih mengingatkan kepada Pirandello dan Borges. Tetapi nama-nama ini dimaksudkan sebagai referensi saja. Kiš adalah penulis baru yang orisinil.
—Times Literary Supplement

Danilo Kiš lahir di Kerajaan Yugoslavia pada 1935. Setelah masa kecil yang gelisah selama Perang Dunia Kedua ketika beberapa anggota keluarganya terbunuh, Kiš belajar sastra di Universitas Belgrade tempat ia tinggal selama sebagian besar masa dewasanya. Dia menulis novel, cerita pendek, dan puisi, lantas menerima NIN Award yang bergengsi untuk novelnya Pešcanik. Dia meninggal di Paris pada tahun 1989.

Keindahan dan ketepatan prosanya dalam mengangkat kisah-kisah nyata menjadi karya sastra yang melampaui politik zamannya.

Judul Buku: Ensiklopedia Orang-Orang Mati
Penulis: Danilo Kiš

Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Penerbit: Basa Basi, 2019
Kategori: Cerpen
ISBN: 9786237290469
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 14×20 cm | Softcover
Tebal: 200 hlm | Bookpaper
Harga Normal: 65.000
Bila teman-teman ingin memesan buku ini, sila kontak: WhatsApp: +6281316320671

A Bend in the River – V.S. Naipaul

Judul: A Bend in The River
Novel karya: V. S. Naipaul
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Harga : Rp85.000,-
Tebal : 376 hlm.
Penerbit Basabasi Yogyakarta: 2019
Mau pesan? Sila WA 081316320671

A Bend in the River diterbitkan ketika Naipaul berusia hampir 50 tahun. lni adalah salah satu novel terbesar tentang proses“menjadi” suatu bangsa, terutama setelah kekuatan penjajah pergi. Buku ini dipadati oleh bentangan hiperkognisi dan pengetahuan atas nuansa, subteks, konteks dan sejarah dari berbagai campuran orang di negara Afrika Tengah. Dia menunjukkan kepada kita kebenaran yang keras dan tidak dapat dipecahkan; kebenaran yang tidak bersetuju kepada Ideologi kaum relativis liberal dan kekuataan polisi yang benar secara politis dalam industri pasca-kolonial. Sejarah telah membuktikan Naipaul sejauh ini. Dia mengajari dua generasi penulis tidak hanya tentang bagaimana menulis, tetapi juga yang Iebuh krusial dan Iangka, tentang bagaimana menatap segala sesuatu tanpa ketakutan dan tidak membuang pandangan. (Neel Mukherjee, The Independent)

Selalu merupakan ahli dalam lanskap fiksi. Naipaul di sini menunjukkan dalam berbagai rupa manusia dan pencariannya terhadap sebab-sebab sosial yang mendasar, suatu semangat Tolstoyan. (John Updike, The Guardian)

The Button Undone

The Button Undone

Terjemahan saya atas novel “Kancing yang Terlepas” karya Handry Tm​ akhirnya terbit juga Februari 2019. Naskah dinyatakan lolos review akhir pada 31 Juli 2017 lalu. Terima kasih kepada Panitia Program Penerjemahan Buku dan Dokumen Strategis PPSDK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah menanggung pembiayaan penerjemahan novel (versi Indonesia) setebal 456 halaman ini. Terima kasih pula kepada teman-teman yang membantu saya selama proses pengerjaan naskah ini. Semoga novel ini menemukan nasib baiknya: laris!

The Button Undone, detailnya:

penerjemah: Slamat Parsaoran Sinambela​
penyunting: Rosemary Kesauly
Ukuran : 13.5 x 20 cm, 355 pages

Diterjemahkan dari Kancing yang Terlepas, detailnya:

Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 456 halaman
Terbit : Desember 2013
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-0101-3

« Older entries