Pendidikan Klasik cerpen Saša Stanišiç

Cerpen ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Slamat P. Sinambela

Dalam cerita pendek ini, Johann Sebastian Bach memperdaya Wolfgang Amadeus Mozart atas sebuah pencurian di pesawat terbang.

Pada penerbangan menuju Budapest, aku duduk di sebelah bocah perempuan kecil yang memukau hatiku dengan mata hijau dan kunciran rambut pirangnya. Ibunya juga pirang dan bermata hijau dan sedang fokus membaca Brigitte, sebuah majalah Jerman campuran antara Martha Stewart Living dan Cosmopolitan. Aku memakluminya karena putrinya sangat cantik, yang serius, patuh, campuran miniatur dari Susan Sontag, Jessica Valenti, dan Tinkerbell, anjing Chihuahua-nya Paris Hilton.

“Siapa namamu?” tanyaku kepadanya setelah lepas landas, memancing obrolan ringan ala anak kecil.

“Johann Sebastian Bach,” jawab bocah itu dan mencuri sebungkus permen karet dari tas Gucci ibunya.

Aku tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan seringai konspiratorialku yang terkenal, “Dan aku Wolfgang Amadeus Mozart!”

Johann Sebastian mengacungkan jari tengahnya kepadaku.

Aku sangat terkejut. Kog bisa seorang anak kecil melakukan itu? Aku bertanya kepada diri sendiri dan menggelengkan kepala. Pada saat itu, gadis itu memasukkan lima batang permen karet ke mulutnya sekaligus, melemparkan bungkus kosongnya ke pangkuanku, dan menjerit memilukan. Sang ibu menutup majalahnya dan memandang putrinya yang kemudian mengarahkan telunjuknya kepadaku.

Ibu: “Apa yang dilakukan orang jahat itu kepadamu?”

Anak (dengan mulut penuh permen karet): “Waaaaaah!”

Ibu: “Jo, dari mana kau dapatkan permen karet itu?”

Anak: “Orang jahat itu memberikannya kepadaku. Dia menyuruhku mengunyah semuanya. Dan, dia bilang namanya Mozart, dan dia ingin menggubah musik bersamaku, waaaaah!”

Ibu: “Apa!” (Mata hijaunya menhunjamku ketika si kecil meludahkan gumpalan besar permen karet ke tangan ibunya.)

Sekarang, apa yang bisa kau lakukan dalam situasi seperti ini? Sang ibu yakin bahwa malaikatnya yang pirang bahkan tidak tahu apa itu dusta, dan yang lebih mengenaskan lagi, aku memegang bungkusan permen karet yang kosong di tanganku. Ditambah pula, “menggubah musik bersamaku” terdengar sangat meresahkan. Tidak akan ada yang memercayaiku jika kukatakan bahwa gadis kecil itu sedang melakukan permainan yang tidak logis denganku, dengan tampang yang sama polosnya dengan wajahku yang tidak bercukur. Dan ketika sang ibu mengenali permen karet itu sebagai miliknya — “Tunggu sebentar! Apakah Anda merogoh tas saya?”—semua orang di pesawat itu berbalik dan menatap sang pencopet pedofil.

Dengan berlinang air mata, gadis itu diam-diam mengacungkan jari tengahnya lagi kepadaku.

“Dengarkan!” kataku, berusaha membela diri, “Johann Sebastian Bach-lah yang bersalah di sini!”

“Bach?” ibunya yang marah itu berteriak bersamaan dengan pramugari yang datang dengan misi diplomatiknya untuk menyelesaikan perdebatan kami. Dengan itu, aku dianggap sebagai orang gila selama penerbangan.

“Dan, Tuan Mozart juga tidak mengenakan sabuk pengamannya,” adu monster kecil itu, dengan wajah simfoninya yang polos. Terbang tanpa menggunakan sabuk pengaman — itu bukan kesalahan yang ringan, itu pelanggaran serius seperti perampokan bersenjata.

“Apakah Anda melanggar peraturan keamanan kami, Tuan?” teriak pramugari yang sopan itu kepadaku. Sebelum aku bisa menjawab, teleponku berdering. Sang ibu mendeham sekuat mungkin yang diizinkan pita suaranya, dan semakin keras aku mencari-cari benda sialan yang memainkan “A Little Night Music.”

“Tuan, matikan ponsel Anda sekarang juga!” perintah pramugari dengan sangat mendesak dan beberapa penumpang dengan panik mengenakan jaket keselamatan mereka.

“Dia seharusnya sudah mematikannya sebelum kita terbang,” kata si anak yang menyebalkan itu dan kemudian menambahkan sebuah kalimat dalam bahasa Hungaria, yang menyebabkan ibunya dan pramugari itu tertawa terbahak-bahak. Akhirnya, suara dering berhenti, dan pramugari pergi, mengayunkan pinggulnya dengan meremehkan (kemudian: tidak ada bir untukku, hanya teh).

Sudah waktunya untuk mengambil tanggung jawab atas pendidikan gadis itu: “Kau tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini, gadis kecil! Kau jangan berbohong, kau jangan mencuri, dan kau hanya boleh menunjukkan jari tengah di lalu lintas!” Aku ingin sekali mengatakan semua itu, tetapi sang ibu dan putrinya telah bertukar tempat duduk dan sungguh tidak ada gunanya mencoba mendidik perempuan yang membaca Brigitte. Gadis itu duduk di kursi dekat jendela, wajahnya bermandikan sinar matahari, sambil menyiulkan salah satu musik gubahan Bach. ***

Saša Stanišić adalah penulis Bosnia-Jerman. Ia lahir di Višegrad, Bosnia dan Herzegovina, dan pindah ke Jerman sebagai pengungsi Perang Bosnia ketika ia berusia 14 tahun. Dia telah menulis sebuah novel terkenal di Jerman yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul How the Soldier Repairs the Gramophone. Sumber terjemahan cerpen ini berjudul A Classic Eduation yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Saša Stanišić dan Janet Hendrickson dari Bahasa Jerman.
Slamat P. Sinambela telah menerjemahkan 60-an buku untuk berbagai penerbit. Ia baru saja merampungkan terjemahan kumpulan cerpen Danilo Kis untuk penerbit Circa, Yogyakarta.

Advertisements

A Bend in the River – V.S. Naipaul

Judul: A Bend in The River
Novel karya: V. S. Naipaul
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Harga : Rp85.000,-
Tebal : 376 hlm.
Penerbit Basabasi Yogyakarta: 2019
Mau pesan? Sila WA 081316320671

A Bend in the River diterbitkan ketika Naipaul berusia hampir 50 tahun. lni adalah salah satu novel terbesar tentang proses“menjadi” suatu bangsa, terutama setelah kekuatan penjajah pergi. Buku ini dipadati oleh bentangan hiperkognisi dan pengetahuan atas nuansa, subteks, konteks dan sejarah dari berbagai campuran orang di negara Afrika Tengah. Dia menunjukkan kepada kita kebenaran yang keras dan tidak dapat dipecahkan; kebenaran yang tidak bersetuju kepada Ideologi kaum relativis liberal dan kekuataan polisi yang benar secara politis dalam industri pasca-kolonial. Sejarah telah membuktikan Naipaul sejauh ini. Dia mengajari dua generasi penulis tidak hanya tentang bagaimana menulis, tetapi juga yang Iebuh krusial dan Iangka, tentang bagaimana menatap segala sesuatu tanpa ketakutan dan tidak membuang pandangan. (Neel Mukherjee, The Independent)

Selalu merupakan ahli dalam lanskap fiksi. Naipaul di sini menunjukkan dalam berbagai rupa manusia dan pencariannya terhadap sebab-sebab sosial yang mendasar, suatu semangat Tolstoyan. (John Updike, The Guardian)

The Button Undone

The Button Undone

Terjemahan saya atas novel “Kancing yang Terlepas” karya Handry Tm​ akhirnya terbit juga Februari 2019. Naskah dinyatakan lolos review akhir pada 31 Juli 2017 lalu. Terima kasih kepada Panitia Program Penerjemahan Buku dan Dokumen Strategis PPSDK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah menanggung pembiayaan penerjemahan novel (versi Indonesia) setebal 456 halaman ini. Terima kasih pula kepada teman-teman yang membantu saya selama proses pengerjaan naskah ini. Semoga novel ini menemukan nasib baiknya: laris!

The Button Undone, detailnya:

penerjemah: Slamat Parsaoran Sinambela​
penyunting: Rosemary Kesauly
Ukuran : 13.5 x 20 cm, 355 pages

Diterjemahkan dari Kancing yang Terlepas, detailnya:

Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 456 halaman
Terbit : Desember 2013
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-0101-3

Bocah Laki-laki dan Para Perampok

diterjemahkan dari cerita The Boy and the Robbers dari Fifty Famous Stories oleh James Baldwin

Di Persia, pada masa pemerintahan Raja Koresh yang Agung, anak-anak laki-laki diajarkan untuk mengatakan yang sebenarnya. Inilah salah satu pelajaran pertama mereka di rumah dan di sekolah.

“Tidak seorang pun kecuali seorang pengecut yang akan mengatakan kebohongan,” kata ayah Otanes muda. “Kebenaran itu indah. Aku selalu menyukainya,” kata ibunya.

Ketika Otanes berusia dua belas tahun, orangtuanya ingin mengirimnya ke kota yang jauh untuk belajar di sebuah sekolah terkenal di sana. Itu akan menjadi perjalanan yang panjang dan berbahaya. Jadi sudah diatur bahwa bocah itu harus bepergian dengan sekelompok kecil pedagang yang akan pergi ke tempat yang sama. “Selamat jalan, Otanes! Selalu berani dan jujur,” kata ayahnya. “Sampai jumpa, anakku! Cintailah yang indah. Bencilah yang buruk,” kata ibunya.

Rombongan kecil itu memulai perjalanan panjangmereka. Beberapa pria menunggang unta, beberapa lainnya menunggang kuda. Mereka berjalan dengan perlahan, karena matahari panas dan jalannya kasar.

Tiba-tiba, menjelang malam, sekelompok perampok menyerbu mereka. Para pedagang itu tidak melawan para perampok itu. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menyerahkan semua barang dan uang mereka.

“Nak, apa yang kau punya?” Tanya salah satu perampok, ketika dia menarik Otanes turun dari kudanya.

“Empat puluh keping emas,” jawab pemuda itu.

Perampok itu tertawa. Dia belum pernah mendengar tentang anak laki-laki membawa uang sebanyak itu. “Itu adalah cerita yang bagus,” katanya. “Di mana kau menyimpan emasmu?”

“Ada di topiku, di dalam lapisannya,” jawab Otanes.

“Baiklah! Kau tidak bisa membuatku percaya soal itu,” kata perampok itu kemudian dia bergegas pergi untuk merampok salah satu pedagang kaya.

Tidak lama perampok yang lain datang dan berkata, “Nak, apakah kau bawa emas bersamamu?”

“Ya! Empat puluh keping, di topiku,” jawab Otanes.

“Kau anak yang berani bercanda dengan perampok,” kata pria itu; dan dia juga bergegas menuju pedagang yang lebih menjanjikan.

Akhirnya kepala perampok memanggil Otanes dan berkata, “Anak muda, apakah kau punya sesuatu yang layak untuk diambil?”

Otanes menjawab, “Aku sudah memberi tahu dua orang temanmu bahwa aku membawa empat puluh keping emas di topiku. Tapi mereka tidak percaya kepadaku.”

“Buka topimu,” kata kepala perampok.

Bocah itu menurut. Kepala perampok itu merobek lapisannya dan menemukan emas yang tersembunyi di bawahnya. “Mengapa kau memberi tahu kami di mana letaknya?” tanyanya. “Tidak ada yang akan berpikir seorang anak sepertimu membawa emas bersamanya.”

“Jika aku memberimu jawaban yang berbeda, aku harus berbohong,” kata Otanes; “Dan tidak ada selain pengecut berbohong.”

Kepala perampok dikejutkan oleh jawaban ini. Dia mengingat berapa kali dia sendiri menjadi pengecut. Kemudian dia berkata, “Kau adalah anak laki-laki pemberani, dan kau dapat menyimpan emasmu. Ini dia. Naiklah ke kudamu, dan anak buahku akan berjalan bersamamu dan memastikan bahwa kau mencapai akhir perjalananmu dengan aman.”

Otanes kelak menjadi salah satu pria terkenal di negaranya. Dia adalah penasihat dan teman dua raja yang menggantikan Koresh yang Agung.

***

Ketika Mendaras Sahabat Terakhir

Ulasan Sahabat Terakhir

(( Catatan Kafha )))

IMG_20181019_053408

SLAMAT P. Sinambela adalah penerjemah novel itu, Sahabat Terakhir. Diterjemahkan dari Last Friend, terbitan Penguin Books, 2007. Sahabat Terakhir, karya Tahar Ben Jelloun, yang lantas diterbitkan oleh Penerbit  BASABASI, 2018, merupakan penyelusuran persahabatan Ali dan Mamed, juga Ramon, para remaja Maroko, akhir 1950-an.

View original post 843 more words

Sahabat Terakhir – Novel Tahar Ben Jelloun

 

Mamed sering berujar, “Kata-kata tidak berbohong. Manusialah yang berbohong. Dan aku seperti halnya kata-kata.” Dia terbahak atas gurauannya sendiri, lalu mengambil sebatang rokok dari sakunya, dan pergi ke kamar mandi pria untuk merokok diam-diam. Itu adalah rokok pertamanya hari itu, dan dia menikmatinya. 

Ali dan Mamed adalah remaja yang modern, sekuler, dan terobsesi pada seks di Tangier pada akhir 1950-an. Mereka berdebat tentang budaya dan politik, dan membanding-bandingkan metode bercinta dengan pacar yang akan melakukan apa pun, kecuali menyerahkan keperawanannya. Mereka bersatu seperti sepasang kekasih.

Persahabatan, tulis Oscar Wilde, jauh lebih tragis daripada cinta. Ia berlangsung lebih lama. Sahabat Terakhir, karya novelis Maroko, Tahar Ben Jelloun, menelusuri persahabatan mulai dari pencarian bersama dalam masa remaja, melalui jalan yang berbeda dalam menempuh kedewasaan, hingga kecemburuan pada usia paruh baya. (Oscar Turner, The Guardian)

Judul Buku: Sahabat Terakhir
Judul Asli: The Last Friend
Penulis: Tahar Ben Jelloun
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Penyunting: Tia Setiadi
Penerbit: Basabasi, Yogyakarta, 2018
Tebal 196 halaman.
Harga Rp55.000,-

Mengenal Tahar Ben Jelloun

Tahar Ben Jelloun, lahir 1 Desember 1944, di kota Fès, Maroko, adalah novelis, penyair, dan penulis Maroko berbahasa Prancis  yang menulis secara ekspresif tentang budaya Maroko, pengalaman imigran, hak asasi manusia, dan identitas seksual.

thelastfriend

The Last Friend

 

Saat belajar filsafat di Universitas Muḥammad V di Rabat, Ben Jelloun mulai menulis puisi untuk jurnal Soufflés yang bermuatan politis. Setelah menerbitkan koleksi puisi pertamanya, Hommes sous linceul de silence (Men Under the Shroud of Silence, 1971), ia pindah ke Prancis. Di sana ia terus menulis puisi, yang dikumpulkan dalam Cicatrices du soleil (Scars of the Sun, 1972), Le Discours du chameau (The Discourse of the Camel, 1974), dan Grains de peau (Particles of Skin, 1974). Ia juga mulai fokus pada bentuk tulisan lainnya. Novel pertamanya adalah Harrouda (1973), pembangkitan puitis erotis sejak masa bayi, remaja, dan menuju masa dewasa di Fès dan Tangier.

Pada 1975, Ben Jelloun menerima gelar doktor dalam bidang psikologi sosial dari Universitas Paris. Disertasinya diterbitkan dengan judul La Plus Haute des solitudes (The Highest of Solitudes, 1977). Pada tahun 1976,  ia menulis sebuah novel berdasarkan penelitiannya, La Réclusion solitaire (Solitaire), yang mengisahkan kesengsaraan pekerja imigran Afrika Utara. Novel itu juga dipentaskan sebagai drama, Chronique d’une solitude (Chronicle of Loneliness). Pada tahun yang sama, ia menerbitkan buku Les Amandiers sont morts de leurs blessures (The Almond Trees Are Dead from Their Wounds) yang memuat puisi dan cerita tentang kematian neneknya, imigrasi warga Afrika Utara ke Prancis, cinta, dan erotisme. Novel ketiga, Moha le fou, Moha le sage (Moha the Fool, Moha the Wise, 1978), adalah kisah satir dari negara Afrika Utara modern.

Sebagian besar karya Ben Jelloun pada awal 1980-an, khususnya koleksi puisi À l’insu du souvenir (Unknown to Memory, 1980) dan novel semiotobiografi  L’Écrivain public (The Public Writer, 1983) dikagumi karena kemampuannya untuk membangkitkan realitas melalui fantasi, lirik,  metafora dan keyakinan penulisnya bahwa seniman harus mengekspresikan perjuangan untuk kebebasan manusia. Namun, tidak hanya itu, lewat L’Enfant de sable (The Sand Child, 1985), sebuah novel imajinatif dan menarik yang mengkritisi peran gender di masyarakat Arab melalui kisah seorang gadis yang dibesarkan sebagai anak laki-laki, Ben Jelloun mendapat pujian dan pengakuan lebih luas. Sekuel novel itu, La Nuit sacrée (The Sacred Night, 1987), memenangkan penghargaan bergengsi Prancis Prix Goncourt, yang pertama kali diterima seorang penulis kelahiran Afrika, dan mengilhami sebuah adaptasi film (1993). Kedua buku itu telah  diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa.

Novel-novel selanjutnya terdiri atas Jour de silence a Tanger (Silent Day in Tangier, 1990), sebuah perenungan di usia tua, Les Yeux baissés (With Downcast Eyes, 1991), tentang perjuangan imigran Amazigh (Berber) untuk merekonsiliasi identitas bifurkasinya; dan L’Homme rompu (Corruption, 1994, sudah pernah terbit di Indonesia dengan judul Korupsi), penggambaran yang mencekam tentang kebingungan moral yang dihadapi oleh pegawai pemerintah. Novel Cette aveuglante absen de lumière (This Blinding Absence of Light, 2001), adalah catatan mengerikan tentang kehidupan seorang tahanan politik Maroko yang sebagian terinspirasi dari penahanan Ben Jelloun sendiri selama 18 bulan di sebuah kamp militer pada akhir 1960-an, yang memenangkan International IMPAC Dublin Literary Award pada tahun 2004.

Ben Jelloun juga menerima perhatian untuk tulisan-tulisan nonfiksinya, terutama Hospitalité francaise: racisme et immigration maghrebine (French Hospitality: Racism and North African Immigrants, 1984) dan Le Racisme expliqué à ma fille (Racism Explained to My Daughter , 1998), dua traktat provokatif yang mengatasi masalah xenophobia di Perancis. L’Islam expliqué aux enfants (Islam Explained, 2002), buku berformat tanya-jawab ditulis Ben Jelloun  untuk menanggapi sentimen anti-Muslim setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

La Belle au bois dormant  (The Sleeping Beauty in the Wood, 2004) adalah fiksi yang mengisahkan ulang dongeng klasik tentang seorang putri terpesona yang hanya bisa terbangun dengan ciuman. Nah, dalam Le Dernier Ami (The Last Friend, 2004, Sahabat Terakhir, novel yang ada di tangan Anda ini), Ben Jelloun menelusuri perubahan-perubahan persahabatan yang panjang antara dua pria Maroko. Dalam Partir (Leaving Tangier, 2005), dia memusatkan perhatian pada dua saudara Maroko yang harus melewati berbagai macam tantangan sosial dan pribadi setelah berimigrasi ke Spanyol. Au pays (A Palace in the Old Village, 2009) mengeksplorasi identitas Muslim melalui perjuangan seorang pensiunan Prancis Maroko yang kembali ke tanah airnya dan mulai membangun rumah besar untuk menarik keluarganya untuk bergabung dengannya.  Le Bonheur conjugal(The Happy Marriage, 2012) yang berstruktur tidak konvensional memuat catatan rahasia seorang seniman tentang keluhan istrinya dan tanggapan istrinya ketika perempuan itu menemukan rahasia-rahasia itu.

Selain itu, Ben Jelloun adalah kontributor reguler untuk Le Monde dan majalah lainnya. Pada tahun 2008 dia diangkat menjadi petugas di Legion of Honour.

AGAR MENEMBUS JURNAL INTERNASIONAL LEBIH MUDAH

Para akademisi yang kami hormati,

Menembus jurnal Internasional tidaklah mudah, tapi selalu ada cara untuk mengatasi setiap persoalan. Kami Telitikata Translocalize berpengalaman bertahun-tahun dalam membantu para akademisi menyiapkan manuskrip-manuskrip mereka sebelum dikirimkan ke jurnal internasional. Ada banyak klien kami yang manuskripnya lolos di jurnal berindeks Scopus!

1. PENERJEMAHAN

Siapkan naskah Anda sebaik mungkin (baik dari sisi konten, kebaruan ide, dan pastikan sesuai topiknya dengan jurnal yang Anda sasar) dalam Bahasa Indonesia, kami akan menerjemahkannya sebaik mungkin ke dalam Bahasa Inggris.

2. PROOFREADING

Anda mungkin punya kemampuan menulis dalam bahasa Inggris, namun ragu dengan kefasihan Anda, mari kami bantu. Meski kami sebut layanan ini Proofreading, namun pada praktiknya, kami melakukan lebih dari itu. Kami melakukan minor editing sampai proofreading. Ini layanan pemolesan bahasa manuskrip agar terbaca dengan baik oleh pembaca bahasa Inggris di seluruh dunia. Kami poles mulai dari gramatika, diksi, sampai ejaan.

BERGARANSI

Bila editor jurnal yang bersangkutan menginginkan pemolesan kembali dari segi Bahasa, maka kami tidak akan menagih serupiah pun kepada Anda. Kami akan mengeditnya Gratis! [Dengan syarat, konten tidak berubah]

Kami melayani konsultasi jika Anda ingin bertanya apa pun tentang layanan ini

Tunggu apa lagi, CATATKAN nama Anda di jurnal-jurnal Internasional!

Hubungi kami:

HP/SMS/WA: 0878 3101 8876 atau email kami di: telitikata@telitikata.com

Info lebih lengkap, silakan klik http://telitikata.com

The Button Undone (Kancing yang Terlepas)

Puji syukur kepada Tuhan!

Penerjemahan novel Kancing yang Terlepas karya Handry Tm ke Bahasa Inggris akhirnya tuntas saya lakukan. Naskah dinyatakan lolos review akhir pada 31 Juli 2017 lalu. Terima kasih kepada Panitia Program Penerjemahan Buku dan Dokumen Strategis PPSDK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah menanggung pembiayaan penerjemahan novel setebal 456 halaman ini. Terima kasih pula kepada teman-teman yang membantu saya selama proses pengerjaan naskah ini. Semoga novel ini menemukan nasib baiknya: segera terbit!

[Kabar burung, naskah versi Inggris novel ini sedang disunting Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) untuk mereka terbit. Mari kita tunggu!]

Kancing yang Terlepas, detailnya:

  • Ukuran : 13.5 x 20 cm
  • Tebal : 456 halaman
  • Terbit : Desember 2013
  • Cover : Softcover
  • ISBN : 978-602-03-0101-3

kancing yang terlepas photo

Pemateri di Translation Workshop Unisbank Semarang

Unisbank Semarang bekerja sama dengan HPI Komda DIY-Jateng mengadakan Translation Worshop di Kampus Unisbank Mugas pada hari Selasa tanggal 14 November 2017.

Pembicara:
1. Ibu Elisabeth Titik Murtisari (Penerjemahan Dokumen Umum/Anggota HPI)
2. Bpk. Slamat P. Sinambela (Penerjemahan Novel/Anggota HPI)

Workshop ini atas diikuti sekitar 80 mahasiswa Unisbank.

Terima kasih atas budi baik Dekan FBIB Unisbank, Ibu Endang Yuliani Rahayu, S.S., M.Pd. dan panitia yang sangat kooperatif dan menyenangkan!

This slideshow requires JavaScript.

Arabica! Arabica!

     “Arabica! Arabica!” seru pegawai imigrasi itu.
     Saya melongo. Saya coba pastikan perempuan berwajah tegang itu sedang berbicara ke arah saya. Wajah perempuan setengah baya itu membuat suasana amat kaku seperti rata-rata pegawai imigrasi di pelbagai bandara. Saya mematung sejenak. Tapi mata perempuan itu malah menghunjam saya.
     “Arabica! Arabica!” Dia bicara lagi lebih keras.
     “I am from Indonesia,” kata saya sambil bingung.
     Telinga saya mungkin lelah. Belasan jam lalu kami masih berkereta api dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur. Meski dengan kereta sleeper, tidur saya tidak lelap. Saya berulang kali terbangun untuk memastikan paspor kami tetap di belakang t-shirt saya, di balik jaket yang menggigil dihantam AC gerbong.
     Kami tiba tengah malam di KL Sentral dan terpaksa harus naik taksi dari stasiun kereta api di jantung Kuala Lumpur itu ke KLIA2 di Sepang. Kereta api ekspress, yang tiketnya lebih murah, dengan tujuan KLIA2 sudah habis jam segitu.
     Sehari sebelumnya, Encik sopir taksi yang kami tumpangi di Johor Bahru sudah cerita kalau pukul 23.59 s.d. 06.00 pengendara taksi akan membebankan surcharge 50 persen ke penumpang. Dan itu berlaku di 9 negeri di Malaysia. Apa boleh buat. Saat menyerahkan kupon taksi yang saya beli dari loket resmi di stasiun KL Sentral, si Encik sopir berwajah gelap itu senang luar biasa. KLIA2 jauh soalnya. Saya merogoh kocek setara Rp600.000 untuk perjalanan taksi kurang lebih 1 jam. Encik sopir menelepon temannya. Tafsiran saya, encik ini bilang, “Aku dapat ikan besar!” ke temannya. Lalu berkali-kali mereka tertawa.
     “Rezekimu!” batin saya.
     Apa boleh buat. Daripada tiket pesawat kami berempat pukul enam pagi ke Yangon, Myanmar hangus. Ya sudahlah.
     Dan, di Yangon-lah teriakan “arabica” itu. Saya pandangi istri saya di konter imigrasi sebelah. Teman tidur saya itu menggeleng.
     “Yo paspo, yo paspo”. Segera saya berikan paspor saya. Sebuah kertas kecil terselip bertuliskan “Arrival Card” menyembul. Kertas yang langsung saya isi setelah dibagikan pramugari cantik di pesawat tadi.
     Oalah, maksudnya ini toh. []
DSCN7267

Di depan kediaman Aung San Suu Kyi, Yangoon, Myanmar

« Older entries