Mengenal Janpatar Simamora Lebih Jauh

Janpatar Simamora (dok pribadi)

Profil dan jalan panjang Janpatar Simamora menjadi seorang kolumnis

Harian Analisa, Minggu 30 Oktober 2010

Oleh: Januari Sihotang*)

Bagi sobat TRP yang rajin membaca rubrik Opini Harian Analisa maupun surat kabar lokal (Sumatera Utara) dan nasional, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama yang satu ini: Janpatar Simamora atau Janpatar Simamora, SH. Hal ini sangat wajar karena memang namanya selalu menghiasi rubrik-rubrik opini berbagai media cetak. Tulisannya selalu diarahkan untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Namun yang paling sering dibahasnya adalah yang berkaitan dengan masalah hukum, khususnya hukum tata negara, hal ini bisa dipahami mengingat backgroundnya yang berlatar belakang Sarjana Hukum dengan konsentrasi dibidang tata negara.

Tulisan Janpatar Simamora sangat bernas, mudah dicerna (tidak berbelit-belit), sederhana tetapi sangat menarik terutama dalam hal analisis dan pemilihan judul. Bukan hanya itu, keproduktifannya dalam menulis juga patut diacungi jempol. Bayangkan saja, hingga saat ini tulisan Dosen Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen ini yang sudah dipublikasikan di media cetak sudah mendekati angka 600 buah tulisan. Hal itu jugalah yang menggerakkan hati penulis untuk berusaha berkenalan dengan pria ramah ini. Tujuannya ingin belajar dan berguru bagaimana kiat menjadi penulis produktif. Dan tahun 2006, keinginan besar penulis itu terkabul. Pertemuan yang sangat sederhana namun bermakna pun terjadi, yang berlanjut pada persahabatan yang terjalin hingga saat ini.

Mengenai Janpatar Simamora, beliau lahir di desa Jumaramba-Sidikalang Dairi pada 14 Januari 1981. Lahir di pedesaan tak membuat semangatnya surut menuju gerbang kesuksesan. Dia lahir sebagai anak desa yang pintar, baik hati dan seorang yang punya tekad untuk maju.

Setelah menamatkan pendidikannya dari SMA Negeri 1 Sumbul, Janpatar tidak langsung melanjut ke bangku kuliah. Alasannya sangat klasik kala itu, masalah keuangan. Akhirnya, setelah dua tahun ‘menganggur’, beliau melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen (FH UHN) dan menamatkannya pada akhir tahun 2005.

Dari kisah perjalanan hidupnya, penulis sendiri banyak memperoleh inspirasi dan motivasi. Bayangkan saja, selama kuliah beliau harus luntang-lantung ganti profesi karena harus membiayai perkuliahan. Kalau umumnya mahasiswa selalu dihinggapi biaya bulanan dari orang tua, beliau justru lain, harus membiayai sendiri kuliahnya karena ketidakmampuan orang tua. Hebatnya lagi, aktivitas kuliah sambil bekerja tidak cukup membuatnya untuk berkata letih, pengalaman organisasinya juga diasah melalui organisasi senat mahasiswa. Semasa kuliah, selain pernah menjabat sebagai Wakil Ketua BEM Fakultas di kampusnya, juga pernah tercatat sebagai salah satu pengurus DPP ISMAHI (Ikatan Senat Masiswa Hukum se Indonesia). Mungkin, jiwa aktivis inilah yang membentuknya menjadi pribadi dengan pemikiran kritis, termasuk dalam tulisan-tulisannya.

Awal Karir Menulis

Walau Janpatar sangat meyakini tidak ada hal yang kebetulan, namun ketika ditanya tentang awal ketertarikannya dalam dunia tulis-menulis, beliau mengatakan seperti sebuah ‘kebetulan;. Kenapa? Ketika hendak menyelesaikan skripsinya di Universitas HKBP Nommensen, beliau banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan. Disanalah awal kedekatannya dengan surat kabar. Sembari memperkaya daftar referensi melalui buku, beliau juga berusaha menggali referensi lain melalui tulisan-tulisan aktual di media cetak. Maklum, topik skripsinya ketika itu menyangkut kewenangan Mahkamah Konstitusi yang kala itu masih baru terbentuk sekitar kurang lebih 1 tahun, sehingga referensi dalam bentuk buku masih tergolong langka.

Saking seringnya membaca artikel opini berbagai media cetak, akhirnya tanpa disadari telah menggiring naluri Janpatar untuk menorehkan tinta penanya belajar membuat artikel opini. Akhirnya, setiap waktu luangnya dimanfaatkan untuk membaca dan menulis artikel. Kendati awal-awalnya memang agak susah, apalagi belum ada media yang bersedia menerbitkan tulisannya, namun semangat pemilik horoscope Capricorn ini tidak pernah surut. Tidak berapa lama setelah diwisuda sebagai Sarjana Hukum, akhirnya usahanya untuk menulis artikel di media terkabul juga. Awalnya Janpatar menulis tentang apa saja yang dia ketahui walau sekarang, seiring waktu, sudah mulai menulis spesifik hanya bidang hukum dan politik saja.

Setelah tulisan-tulisannya berhasil merajai berbagai media cetak kota Medan, akhirnya goresan tinta penanya mulai merambah ke tingkat nasional. Dan hingga kini, namanya sudah sering menghiasi rubrik opini berbagai media baik lokal maupun nasional. Beberapa media yang pernah memuat tulisannya di antaranya  seperti Harian Analisa, Bisnis Indonesia, Medan Bisnis, Jawa Pos, Global, Jurnal Nasional, Sumut Pos, Lampung Pos, Batam Pos, Jambi Independent, Padang Today, Koran Jakarta, Sinar Harapan, Kendari Ekspres, Radar Jogja, Equator News, Suara Merdeka, Solo Pos, Radar Banten, Kedaulatan Rakyat, Radar Tegal, Bali Pos, Kendari Pos, Lombok Pos, Radar Sulawesi Tengah, Batak Pos, Ambon Ekspres, Fajar Makassar dan masih banyak lagi. Selain itu, beliau juga menulis di berbagai Jurnal Ilmiah.

Selain menjadi kolumnis atau penulis freelence di berbagai media tersebut, Janpatar juga mengabdi di almamaternya sebagai dosen hukum tata negara. Profesi sebagai dosen  pun sangat menunjang karir menulisnya karena saling melengkapi. Artinya ketika Janpatar  ingin mengajarkan suatu topik, otomatis beliau akan belajar dan mempersiapkan bahan dulu yang juga bisa dimanfaatkan sebagai rujukan teori dalam tulisan.

Janpatar berpendapat bahwa menulis itu adalah  investasi. Dengan menulis, banyak manfaat yang bisa didapatkan. Ketenaran, uang (honor), kenalan/relasi dan terutama ilmu pengetahuan. Bahkan menurut pengakuan beliau, honor menulis yang dia peroleh jauh lebih besar dibanding penghasilannya sebagai Dosen. Luar biasa bukan….!! “Menulis dan menulislah. Akan banyak manfaat yang bisa kamu dapatkan dengan menulis. Untuk mencatatkan namanya saja di koran, orang-orang harus membayar sekian. Padahal dengan menulis, bukan hanya nama, ide dan gagasan kita juga dimuat bahkan kita dibayar untuk itu,” begitulah selalu motivasi yang diberikan mahasiswa Hukum Kenegaraan Program Pascasarjana Fakultas Hukum UGM Yogyakarta ini kepada penulis setiap berdiskusi dengannya di berbagai kesempatan.

Tentu motivasi tersebut juga  tidak hanya kepada penulis, tetapi juga kepada seluruh pembaca rubrik Taman Remaja dan Pelajar (TRP) Harian Analisa. Suasana dapur produksi tulisan-tulisan Janpatar Simamora pun semakin penulis pahami ketika beberapa bulan terakhir berada satu rumah di Yogyakarta. Tak ada waktu luang baginya. Semua kesempatan dipergunakan untuk membaca buku, internetan dan menulis. Bahkan terkadang harus begadang. Memang untuk cita-cita besar, pengorbanan juga harus besar.

Atas keproduktifannya menulis, penulis sering menjuluki Janpatar Simamora sebagai The New Saldi Isra. Seperti kita tahu, Saldi Isra juga adalah sosok aktivis dan akademis yang besar berkat tulisan-tulisan opininya di media massa. Namun Janpatar hanya tersenyum ketika penulis suguhi julukan tersebut. “Kita ikuti saja alur waktu kawan”. Yang penting adalah berusaha dan berusaha. Kunci sukses adalah kerja keras dan jadilah dirimu sendiri,” kata-kata bijaksana yang selalu diungkapkannya.

Kepada sobat TRP yang ingin berkomunikasi atau ‘berguru’ kepada Janpatar Simamora, bisa melayangkan surat ke: Jl. Kaliurang KM. 7. Sengkan Raya No. 5CC Depok Sleman, Yogyakarta. Atau bisa juga meng-add di situs jejaring sosial facebook dengan nama akun: Janpatar Simamora. ***

*)Penulis Alumni Fakultas Hukum USU. Saat ini sedang menjajaki studi di Program Pascasarjana Fakultas Hukum UGM Yogyakarta).

Menggugah Kesadaran akan Keberadaan Allah

Oleh Slamat P. Sinambela*)

Judul buku: You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
Kategori: Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
ISBN: 978-979-27-7918-9
Harga: Rp.52.800,-

The essence of religion did not lie in knowing or doing, but in the consciousness of being absolutely dependent or, which is the same thing, of being in relation with God. — Frederick Schleiermacher, filsuf (1768-1834)

Buku You Are Not Alone adalah karya Arvan Pradiansyah yang kelima setelah You Are A Leader (2003), Life is Beautiful (2004), Cherish Every Moment (2007), dan The 7 Laws of Happiness (2008).

Kreativitas desainer cover buku ini membuat kata “Not” tidak begitu kelihatan, sehingga bila dibaca dari jauh, selintas berjudul “You Are Alone” (kamu sendirian). Faktanya, kita memang seperti itu, sendirian; atau merasa sendirian, padahal sesungguhnya tidak, sebab Tuhan menemani kita melintasi ruang dan waktu.

Arvan, narasumber tetap untuk talkshow “Smart Happiness” di Smart FM Network yang disiarkan di 22 kota di Indonesia ini, mencoba menggugah kesadaran kita akan keberadaan Allah. Senada dengan apa yang dikatakan Schleiermacher di awal tulisan ini, Arvan berpendapat bahwa alasan mengapa agama tak berkaitan dengan perilaku manusia karena agama hanya diajarkan dalam bentuk pengetahuan dan bukan spiritualitas.

Ia menyoroti perilaku masyarakat kita yang dikenal sebagai masyarakat religius tetapi sayangnya bukan masyarakat yang spiritual. Kita rajin pergi ke tempat ibadat tetapi begitu keluar dari tempat ibadah kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Kita percaya kepada Tuhan tetapi tidak “beriman” kepada Tuhan. Ketika melakukan hal-hal tercela, kita melakukannya tanpa beban, seolah-olah Tuhan tidak melihat kita, bahkan seakan-akan Tuhan tidak pernah ada.

Kehadiran buku ini seakan tepat waktunya dengan kondisi yang terjadi pada bangsa kita: bencana alam seperti banjir Wasior, tsunami di Padang dan Kepulauan Mentawai, meletusnya Gunung Merapi, juga bencana politik kasus Bank Century, pola tingkah para wakil rakyat yang menodai akal sehat, kasus mafia hukum dan perpajakan Gayus, dan masih banyak lagi karut marut di bangsa ini. Buku ini, dari sudut pandang spiritual, membongkar pelbagai hal yang hakiki perihal persoalan yang kita hadapi sehari-hari.

Bagi Arvan, banyak persoalan yang muncul di tengah kehidupan kita terjadi karena lemahnya kesadaran kita akan keberadaan Allah. Sebutlah misalnya, bagaimanakah seharusnya memaknai bencana? Apakah bencana berarti Tuhan sedang marah seperti penafsiran beberapa tokoh agama yang tersiar di media massa?

Arvan mematahkan tafsiran itu. Pertama, menurut Arvan, pernyataan itu batal dengan sendirinya karena kenyataan di lapangan. Menurutnya, Tuhan seharusnya marah dengan orang-orang berdosa, para koruptor penghisap darah rakyat serta orang yang menyalahgunakan kekuasaannya. Sebab jika kita percaya Tuhan sedang marah, kita tak bisa menjelaskan mengapa Tuhan  selalu marah dengan orang-orang baik.

Kedua, pernyataan Tuhan marah sangatlah tidak sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Cinta Tuhan bersifat unconditional.

Ketiga, pernyataan bahwa Tuhan marah sangat tidak bertanggung jawab. Pernyataan tersebut sangat memojokkan dan menuduh Tuhan sebagai biang keladi dari segala bencana. Pernyataan tersebut menunjukkan ketidakmauan kita bertanggung jawab.

Buku ini tidaklah diperuntukkan khusus bagi pemeluk agama tertentu. Arvan mengapresiasi berbagai ajaran yang mulia dan indah dari pelbagai agama. Oleh karena itu, Tuhan yang dibicarakan di dalam buku ini adalah Tuhan yang bersifat universal. Inilah salah satu keunggulan buku ini.

Dalam renungan-renungannya ini, Arvan menyuguhkan ilustrasi yang ciamik untuk melontarkan argumennya atas topik yang sedang dibahas. Di dalam halaman-halaman tertentu disisipkan khusus kata-kata mutiara dari para ahli agama.

Beberapa renungannya menyulut kontroversi, bahkan ulasannya pernah dikecam ketika diangkat secara “live” pada program radionya. Bacalah, misalnya, bab yang diberi judul Orang Beragama Belum Tentu Baik. Bab ini mencoba mengurai fenomena mengapa banyak orang beragama ternyata tidak baik dan sebaliknya, orang tidak beragama, atau tidak menjalankan agamanya dengan baik, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya adalah orang baik.

Setelah perenungannya yang mendalam, Arvan mengajukan tiga kesalahan pokok dalam memaknai agama. Pertama, agama sering disosialisasikan dalam bentuk ritual semata. Sejak kecil kita belajar shalat namun kita lupa tidak pernah diajarkan” mengapa kita harus shalat?”

Kedua, agama sering diartikan sebagai sebuah kewajiban yang bila melakukannya akan diganjar pahala dan surga sedangkan mengabaikannya akan diganjar dosa dan neraka. Padahal kata-kata kewajiban seringkali bernuansa buruk. Kewajiban memberikan konotasi paksaan bagi orang yang melakukannya.

Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan. Padahal esensi agama adalah kasih. Dalam argumen Arvan, tanpa kasih tidak ada gunanya kita beragama. Orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama manusia.

Lewat renungan-renungannya Arvan seringkali dengan lugas mengoreksi pemahaman keberagamaan kita yang kadang picik, tertutup dan ekskusif. Ibarat sebuah sekolah rohani, buku ini menyibakkan berbagai wawasan kesadaran spiritual kita atas keberadaan Allah.

Seperti tujuan awalnya, ketiga puluh renungan ini berusaha memprovokasi para pembacanya untuk berubah secara spiritual menuju keadaan yang lebih baik dan memetik kebahagiaan hidup.

*)Slamat P. Sinambela, penerjemah dan editor lepas, tinggal di Semarang

sumber: Analisis News, 2 Maret 2011,

tautan:  http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/447-you-are-not-alone