The Power of Creativity

Judul buku: The Power of Creativity: Mengubah yang Terbatas menjadi Tak Terbatas
Penulis: Peng Kheng Sun
Penerbit: Yogyakarta: Andi, Maret 2010

Tuhan menganugerahkan kepada manusia kreativitas untuk menjadikan hidup manusia lebih bermanfaat daripada ciptaan yang lainnya. Tuhan memberikan kemampuan ini di dalam diri manusia untuk mengolah, memanfaatkan, dan menciptakan sesuatu yang baru dari bahan-bahan yang sudah Tuhan sediakan.

Dengan demikian, bahan-bahan atau materi yang sudah ada menjadi sesuatu yang memiliki manfaat lebih atau nilai lebih dari sebelumnya. Tuhan mengaruniakan kemampuan ini kepada semua orang. Namun hal yang membedakan satu orang dengan yang lainnya adalah ada orang yang mau mengembangkan kreativitasnya dan ada orang yang enggan atau tidak mau.

Buku The Power of Creativity merupakan buku yang akan mendorong dan memotivasi Anda untuk mengembangkan kreativitas Anda. Pikiran dan wawasan diri Anda yang sempit akan diubahkan. Buku ini akan menunjukkan kepada Anda bahwa ada sesuatu yang luar biasa di dalam diri Anda, tetapi belum Anda manfaatkan. Anda akan ditolong untuk memahami apa itu kreatifitas, bagaimana memelihara dan mengembangkan kreatifitas di dalam diri Anda. Anda akan diubahkan menjadi pribadi yang kreatif.

Berikut adalah endorsement saya di buku ini:

Tak hanya berbekal teori yang mudah kita peroleh di buku-buku lainnya tentang kreativitas, pengalaman penulis yang juga didedahkan dalam buku ini membantu pembaca memahami arti kreatifitas sebenarnya, peranannya, cara mengembangkannya, Selain itu penulis juga membahas banyak hal yang sangat berguna untuk menyiasati hidup yang penuh perubahan. Kreatifitas saya banyak dikembangkan lewat buku ini. Bacalah!
Slamat P. Sinambela, cerpenis dan penerjemah lepas

Prinsip dan Manfaat dari Perubahan

Judul Buku: Prinsip dan Manfaat dari Perubahan
Pengarang: Myles Munroe
Penerjemah: Slamat P Sinambela
Penerbit: Light Publishing, Jakarta, 2010
ISBN: 9786028431736

Bertumbuh Subur di dalam Dunia yang Berubah

PERUBAHAN MENGHAMPIRI SETIAP KITA—ENTAH KITA SIAP UNTUK ITU ATAU TIDAK.

Bagaimana kita berurusan dengan perubahan-pe…rubahan yang tak terelakkan itu—tidak peduli apa sumbernya—menentukan apakah mereka pada akhirnya akan menjadi suatu kekuatan yang positif atau negatif dalam hidup kita. Penulis buku laris Dr. Myles Munroe menyingkapkan bagaimana mengalami keamanan, kepercayaan, dan kemerdekaan di dalam ketidakpastian dunia kita yang berubah. Melalui buku ini, Anda dapat menemukan bagaimana:

# Menjadi suatu bagian yang aktif dari perubahan—bukan korban perubahan.
# Bebas dari rasa takut selama masa-masa yang tidak pasti.
# Menggenapi tujuan yang diberikan Tuhan bagi Anda.
# Memaksimalkan manfaat-manfaat dari perubahan.
# Menarik kekuatan positif dari perubahan.
# Menjadi proaktif dalam mengejar tujuan yang diberikan Tuhan bagi Anda.

ANDA BISA MENJADI SIAP UNTUK MUSIM-MUSIM PERUBAHAN YANG TERBENTANG DI DEPAN.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

–Roma 8:28

Strategies for Financial Breakthrough

Judul Buku: Strategies for Financial Breakthrough:
Wawasan Baru untuk memenangi Problem Keuangan

Penulis: Eugene Strite
Penerjemah: Slamat P. Sinambela, Okta Wiguna, Camelia Pasandaran, Martha Pratana, Ita Siregar
Editor: Sansulung Johanes El Darsum
Penerbit: Jakarta: GOlite resources

Apakah Anda mengalami persoalan finansial? Tagihan yang jatuh tempo, pengeluaran saat ini yang berlipat kali dari bulan lalu, atau kewajiban keuangan yang tiba-tiba harus ditimpakan kepada Anda?
Lewat buku ini, Eugene Strite membantu Anda mengatasi jerat-jerat keuangan yang sering melanda kita. Ia juga dengan gamblang menggambarkan bagaimana mengatur keuangan kita bagi tujuan yang kekal. Strite menawarkan cara-cara Alkitabiah menuju kebebasan finansial yang Tuhan perkenan.

Pencerahannya tentang perbedaan antara kekayaan duniawi dan kekayaan surgawi tidak sebanding dengan harga buku ini.

Tuhan Agamanya Apa?

Judul Indonesia : Miracle Man (sebuah NOVEL)
Judul asli : River Rising
Penulis : Athol Dickson
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Editor: G. D. Paramita
Penerbit: Gloria Graffa
Ukuran : 15X22 cm, 280 halaman
Kertas : HVS 70 gr (isi), AC 210 gr (cover)
Harga : Rp55.000,00
Kategori : Fiksi (suspense)
Sasaran : Umum
ISBN : 602-8139-22-X
EAN : 978-6028-13922-9

Tuhan Agamanya Apa?
oleh Ita Siregar

HALE Poser, seorang pendeta kulit hitam dari kota modern New Orleans, memutuskan pindah ke tempat sepi, Pilotville, daerah rerawa sepanjang sisi sungai Mississipi, negara bagian Louisiana, untuk suatu misi pribadi. Dia tidak keberatan bekerja menjadi pegawai rendahan dari satu rumah sakit khusus orang Negro. Pada waktu itu di rumah sakit, seorang ibu muda hamil tua tengah berjuang untuk melahirkan, begitu kesakitan hingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi Caesar. Dorothy, orang yang menerima bekerja di rumah sakit itu, mengajak Hale menengok. Entah apa yang terjadi tapi ketika Hale menyentuh perut si ibu, ibu itu bisa melahirkan secara normal.

Dorothy bertanya-tanya apa yang dilakukan Hale. Hale merasa tidak melakukan apa-apa, hanya berdoa. Di usia dua hari, bayi itu hilang. Seluruh warga –baik kulit hitam dan kulit putih- mencari bayi itu ke kolong tempat tidur rumah sakit sampai ke rawa-rawa. Pencarian yang aneh memang. Tak sengaja Dorothy mengeluh bahwa peristiwa seperti itu pernah terjadi 19 tahun lalu di daerah itu. Di kantor sheriff, Hale menemukan banyak catatan tentang kasus kehilangan tapi tidak pernah diusut tuntas. Karena penasaran, Hale bertekad mencari tahu.

Dengan rakit sederhana ia menyusuri sungai Missisipi hingga telat Meksiko. Selama empat hari ia malah sampai di satu ladang yang luas. Sekelompok orang Negro bekerja di sana sebagai kuli petik pohon kapas. Kondisi para pekerja sangat mengenaskan. Mereka sepertinya sudah tinggal selamanya di sana, tertindas dengan amat sangat sampai-sampai hilang percaya diri, merasa sebagai manusia warga kelas dua yang tidak layak menerima kebaikan apa pun dari hidup ini. Melihat pemandangan itu Hale sungguh prihatin, berusaha menghibur, berkata kepada mereka tentang Tuhan yang sanggup melepaskan manusia dari belenggu apa pun.

“Tapi Dia (Tuhan) kulit putih, kan?” tanya Marah, salah satu pekerja perempuan Negro di tempat itu, bertanya tentang fisik Tuhan (hal 132). Pada masa itu perbedaan status kulit putih dan hitam sangat lebar. Di ladang ini orang kulit putih akan dipanggil bos dan di dalam benak mereka orang kulit putih identik dengan bengis dan pembohong. Hale berkata, “Tidak. Dia bukan kulit putih. Paling tidak bukan hanya kulit putih. Kupikir, Dia berkulit seperti semua warna kulit yang ada.” Marah tidak puas dengan jawaban itu, juga para pekerja. Kalau Tuhan berkulit putih, bagaimana Dia bisa dipercaya? Tapi, bagaimana kalau Tuhan itu berkulit hitam?

Pertanyaan semodel itu mulai dipertanyakan lagi di masa perbudakan tahun 1600-an di daratan Amerika. Pertanyaan dasar yang mempertanyakan keberadaan Tuhan ini, seakan terus berkembang dari masa-ke-masa, dan di masa sekarang, mungkin pertanyaan itu telah menjadi, Tuhan itu agamanya apa? Sejarah umat manusia di muka bumi ini menunjukkan sulit untuk “berbagi Tuhan yang sama” dengan orang-orang yang tidak disukai atau dianggap sebagai musuh.

Kebebasan Sejati
Mengambil setting tahun 1927, Athol mengungkapkan interaksi orang kulit putih, kaum imigran, dan budak-budak Negro yang didatangkan dari Afrika, diperjualbelikan di Amerika, termasuk di Louisiana. Ia membeberkan ambisi orang kulit putih mencari lahan luas untuk menetap, membangun kerajaan kecil mereka, membeli budak-budak untuk dipekerjakan di tanah mereka.

Novel berjudul asli River Rising ini pernah memenangi Christy Award 2006 untuk novel jenis suspense. Buku ini sarat dengan nilai-nilai kekristenan. Dalam ceritanya Athol memanfaatkan keadaan para budak untuk mewakili kerinduan seluruh umat manusia untuk mendapatkan kebebasan sejati. Dalam satu dialog, Athol berhasil memunculkan masalah sederhana umat manusia, yaitu soal kebebasan jiwa manusia yang seringkali dilihat hanya secara kasat mata.

“Kau bilang Yesus ini akan memerdekakan kita di luar sana! Apakah Negro di luar sana benar-benar merdeka?” Pertanyaan yang bersifat fisik. Sementara tokoh dalam buku ini, Hale, menawarkan kebebasan yang jauh lebih bernilai. “Dalam dunia Yesus, kau dapat merdeka dari dalam dirimu sendiri, tak peduli apa pun yang mereka lakukan terhadapmu.” (hal 157). Sungguh menyedihkan bila hidup serba menderita (secara fisik) di dunia fana ini dan tidak paham bahwa kebebasan manusia sejati dimulai dari pikirannya. Bukan dari apa yang tampak. Bukankah di zaman modern ini manusia lebih tertarik memandang kebebasan semu sebagai yang kekal?

Manusia Ajaib
Plot dalam novel ini lurus tak berliku. Jika diibaratkan lagu, maka pada awal bernada rendah, naik sedikit ke tengah, terus meninggi di puncak, kemudian turun perlahan lalu menghilang. Seperti seorang yang ingin memberi petunjuk kepada pencari jejak di hutan lebat, Athol bermurah hati memberi rambu-rambu di setiap sudut hutan, menandai pohon-pohon, memberi fasilitas sehingga si pencari jejak tak mungkin kesasar.

Ada beberapa penjelasan kenapa buku ini diberi judul lain oleh penerbit menjadi Miracle Man. Mungkin karena Hale, yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, tiba-tiba menemukan buah persimmon padahal tidak sedang musim, membuat si ibu hamil tua melahirkan normal, meredakan badai di suatu malam, membuat isi panci selalu penuh sayuran dan daging sehingga para pekerja di ladang kapas itu tak kekurangan makanan saat banjir melanda, meramal akan turun hujan tak berhenti hingga menaikkan air rawa. Judul aslinya, River Rising, menurut saya kurang pas menggambarkan keseluruhan cerita, meski peristiwa hujan tak berhenti yang menyebabkan air pasang dan membubarkan pekerjaan di ladang kapas, seolah menyimbolkan putusnya penindasan di tempat itu.

Seandainya ini adalah cerita wayang, Athol adalah dalang yang baik. Ia mengatur para tokoh dalam ceritanya sesuai dengan kebutuhan, tidak membebaskan mereka sesuai karakternya masing-masing. Tokoh Hale dibuat seperti nabi yang tidak berbuat kesalahan. Tokoh Marah yang selama bertahun-tahun tertindas di ladang kapas, tiba-tiba pintar berbicara tanpa canggung ketika membeberkan rahasia hidupnya.

Buku ini juga menghibur. Dengan jenaka Athol melukiskan ‘persaingan’ dua gereja kulit putih dan khusus Negro, yang jaraknya berdekatan, saling bersaing untuk menyanyi lebih baik, berkotbah lebih baik. Anda akan dibawa pada suasana perkebunan kapas yang luas, berkenalan dengan pepohonan rawa, ‘mendengarkan’ orang-orang Negro bernyanyi merdu. Uniknya, Rokok Lucky Strike juga disebut di buku ini. Saya jadi penasaran, tahun berapa brand itu lahir. Anda akan menemukan kejutan manis gaya Holywood di akhir cerita alasan kenapa Poser pindah ke tempat ini. Atau mungkin Anda takkan lagi terkejut karena telah menangkap rambu-rambu sebelumnya. Selamat menyusur ke masa lalu.***

Kekhawatiran

Perikop: Mazmur 91:1-16
Nas: Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. – 1Petrus 5: 7

Setiap kali terbersit kekhawatiran akan masa depan—kesehatan, pendidikan—anak saya (maklum saja, saya baru menjadi ayah lima bulan lalu), saya selalu dikuatkan oleh sebuah kesaksian seorang pelayan di kota asal saya:

”Ketika saya mulai kuliah, ladang-ladang kopi kami berbuah lebat, harga kopi bagus, ayam-ayam ibu saya semua bertelur. Semua biaya kuliah, biaya kos dan biaya makan saya terpenuhi. Setelah saya menjadi sarjana, ayam semuanya kena tetelo, kopi pun bahkan tidak berbunga,” kata bapak itu.

”Tuhan mengatur semua keperluan hidup saya. Saya dapat mengandalkan-Nya. Semuanya tepat pada waktunya.”

Kekhawatiran memang seringkali muncul di saat kita membandingkan kerasnya kehidupan saat ini dan belum diketahuinya masa yang akan datang. Tetapi firman Tuhan, ”Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu,” berimplikasi bahwa tak setitikpun kuasa ada di tangan saya untuk mengubah masa depan anak saya. Dan, tentu saja, sebenarnya Tuhanlah yang memeliharanya.

Apa pun yang akan terjadi dalam kehidupan anak saya kelak, ia dapat bergantung total pada pemeliharaan Allah, yang akan menaunginya sampai akhir hidupnya.

Inilah satu keunikan iman Kristen. Sebuah iman yang dimulai dengan persetujuan atas berdaulatnya Allah atas segala kehidupan saya dan Anda. Dan, mengandalkan semua janji-janji-Nya atas masa depan kita. []

Kita mungkin khawatir akan masa depan, namun kita harus yakin bahwa Dia akan terus memelihara.

Penderitaan

oleh Slamat P. Sinambela

Perikop: Ayub 1: 1-22
Nas: O, alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusannya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! – Roma 11:33

Hari itu 15 Februari 1947. Sebuah pesawat Avianca Airline menuju Equito, Ekuador, menabrak puncak Gunung El Tablazo yang tingginya 14.000 kaki tidak jauh dari Bogota, kemudian jatuh, sebagai gumpalan logam yang menyala, ke jurang di bawahnya. Seorang warga New York yang masih muda, Glenn Chambers, adalah seorang korban. Dia merencanakan untuk memulai pelayanan dengan Voice of the Andes, impian seumur hidup yang tiba-tiba gagal dan menjadi mimpi buruk.

Sebelum meninggalkan Bandar Udara Miami pada pagi hari itu, Chambers cepat-cepat mengirimkan surat kepada ibunya di atas secarik kertas yang ditemukannya di lantai terminal. Kertas itu dulunya adalah sebuah iklan yang tercetak dengan satu kata WHY (mengapa) di tengah-tengahnya. Tetapi pada waktu antara pengiriman dan penerimaan surat itu, Chambers tewas. Setelah akhirnya surat itu datang, ibunya melihat pertanyaan menantang yang menghantuinya seumur hidupnya—MENGAPA?

Penderitaan selalu mendapat peran ganjil dalam perjalanan iman seseorang. Semakin baik kondisi iman seseorang, maka semakin positif efek penderitaan bagi kehidupan rohani-nya. Charles R. Swindoll melukiskan Allah pada saat kita masuk di dalam penderitaan sebagai berikut:
TUHAN TERLALU ADIL SEHINGGA TIDAK MELAKUKAN APAPUN YANG KEJAM …
TERLALU BIJAKSANA SEHINGGA TIDAK MEMBUAT KESALAHAN …
TERLALU MENDALAM SEHINGGA TIDAK MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI.

Kiranya kita dapat lebih arif memahami penderitaan, dan memaknai Allah di saat-saat Dia terlihat berbeda.[]

Seseorang yang beriman sejati seharusnya menanggapi penderitaan sama dengan suka cita. Semuanya merupakan anugerah Tuhan.

(dimuat di renungan harian Blessing, Januari 2008)

Menjadi Pendorong

oleh Slamat P. Sinambela

Perikop: Kolose 4:2-6
Nas: Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana harus memberi jawab kepada setiap orang. –  Kolose 4:6

Suatu kali seorang gubernur negara bagian di Amerika berkunjung ke sebuah daerah yang kumuh di bawah kekuasaannya. Sang gubernur datang bersama istrinya, seorang kulit putih yang cantik. Istrinya memakai topi lebar dengan senyum menawan. Di antara kerumunan orang-orang kulit hitam di kawasan itu, terdapat seorang gadis miskin berkulit hitam yang mengagumi sang istri gubernur. Tiba-tiba sang istri gubernur datang kepada gadis kecil itu, menyalaminya dengan hangat dan berkata, ”Hai, kamu cantik sekali, matamu indah seperti bintang.”

Saat kembali ke rumah, si gadis cilik itu bertanya-tanya dalam hati, ”Benarkah yang dikatakan istri gubernur tadi? Apakah aku cantik dan mataku seperti bintang?”

Sejak saat itu kehidupannya berubah. Ia berjuang sekuat tenaganya mengejar impiannya dan bertahun-tahun kemudian menjadi orang yang sangat berhasil, selebriti, pengusaha, dan pembawa acara yang sangat terkenal di seluruh dunia. Bahkan, beberapa orang biasa bisa jadi selebriti bila terpilih diwawancarainya. Gadis kecil berkulit hitam itu adalah Oprah Winfrey.
Dalam Alkitab, Barnabas (seorang yang seperti nyala api yang berkedip-kedip) menjadi pendorong Paulus (yang seperti lampu sorot) yang luar biasa melayani Tuhan. Seringkali seseorang yang dimotivasi menjadi jauh lebih hebat dari motivatornya. Perintah untuk menjadi pendorong banyak kita temukan di dalam Alkitab. Kita seharusnya memulainya dari keluarga kita, sahabat-sahabat kita, lalu orang-orang lain di sekitar kita. []

Satu kalimat yang membangun bisa mempengaruhi seluruh dunia. Maka ucapkanlah!

(pernah dimuat  renungan harian Blessing, Januari 2008)

Empat Jari Anugerah

oleh Slamat P. Sinambela

Anda bisa memainkan Ode to Joy karya Beethoven sampai dengan Fantasie Impromptu karya Chopin pada piano? Mungkin mudah bila Anda telah bertahun-tahun belajar piano dengan kondisi sepuluh jari tangan yang lengkap. Tapi, pianis satu ini bisa melakukannya hanya dengan empat jari yang ia miliki. Di samping itu, ia juga mengalami kecacatan mental.

Hee Ah Lee

Hee Ah Lee nama gadis pianis itu. Ia menderita lobster claw syndrome. Pada masing-masing ujung tangan Hee terdapat dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting.  Tingginya hanya 104 Cm, yang menyulitkannya untuk menginjak pedal piano. Gadis luar biasa itu dilahirkan oleh Woo Kap Sun pada tanggal 9 Juli 1985.

Woo sebelumnya telah mengetahui kalau anaknya itu akan dilahirkan cacat. Ayah Hee sendiri seorang bekas tentara Korea. ”Ada sanak keluarga kami menganggap itu sebagai aib. Mereka bahkan menyarankan agar jika kelak lahir, bayi itu dikirim ke panti asuhan,” kata Woo.

Sang ibu menolak saran itu. Ia menerima Hee sebagai kenyataan dan anugerah. Nama yang ia berikan cukup indah. Hee berarti suka cita dalam bahasa Korea. Dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh, sedangkan Lee adalah nama marga. Nama Hee Ah Lee berarti suka cita yang terus tumbuh.

Saran Fisioterapis
Saat Hee berumur enam tahun, mengangkat pensil pun ia tak sanggup. Atas saran para ahli, ia dianjurkan untuk belajar piano untuk menguatkan otot-ototnya. Cho Mi Kyong, guru piano pertamanya, memperlakukan Hee layaknya murid sepuluh jari. Ia tidak melatih Hee dengan rasa kasihan karena kondisi fisik. ”Guru saya bilang, jangan bersikap sebagai orang cacat. Tetapi bermainlah sebagai orang normal,” kenang Hee.

”Aku berlatih terus hingga lelah dan menangis. Betapa sulit bermain dengan empat jari. Susah sekali bagiku memainkan notasi yang bersambungan,” kata Hee. Setiap kali Hee memainkan arpeggio atau chord secara melodik dan runut, memang terdengar ada not yang terlompati. Tapi itu tidak merusak melodi apapun atau mengubah bangun komposisi. Ia mengaku 70 persen bermain dengan hati dan sisanya dengan teknik yang ia kondisikan untuk empat jari.

Woo berperan banyak dalam pembentukan Hee. Ia memperlakukan Hee sebagaimana anak-anak lain. ”Ibu menanamkan rasa percaya diri padaku. Bahwa aku harus bisa melakukan segalanya sendiri. Bahwa kalau aku bisa main piano, aku bisa melakukan apa saja, meski aku tahu itu makan waktu,” ungkap Hee. Bayangkan, untuk memainkan karya Chopin, Fantasia Impromptu, Hee berlatih lima sampai sepuluh jam sehari selama lima tahun. Hasilnya memang luar biasa. Umur 12 tahun, Hee telah menggelar resital piano tunggal.

Hee Ah Lee

Sederet penghargaan ia peroleh. Ia juga telah konser keliling dunia, termasuk bermain bersama Richard Clayderman di Gedung Putih. Di dunia, ia dikenal sebagai The Four Fingered Pianist (Pianis Berjari Empat).

Untuk apa yang dimiliki oleh tubuhnya, yang kita katakan golongkan sebagai kekurangan, Hee menyebutnya sebagai, ”Special gift, anugerah spesial dari Tuhan.”

Begitulah, Hee Ah Lee telah menjadi inspirasi yang hidup bagi mereka yang sempurna.[]

Artikel ini pernah dimuat di renungan harian Blessing, Januari 2008

Orang-orang Bisu

Cerpen Slamat P.  Sinambela
Dimuat di Suara Pembaruan 09/18/2005
Cerpen ini dimuat juga dalam buku “Di Bawah Sinar Lampu Merkuri” yang diterbitkan Papyrus, Yogyakarta, 2006. Silakan beli bukunya yah 🙂

Matahari membakar kampung. Kulitku masih terasa digigiti ribuan jarum walau sudah terbalut jaket. Dari atas motorku yang uzur, aku menikmati gurauan anak-anak yang saling berkejaran di gang kecil yang aku lewati. Muatan motorku menagih kehati-hatian tambahan menghindari seliweran mereka.

Memasuki halaman rumah, aku meraungraungkan gas motor untuk memastikannya gampang dinyalakan lagi. Dengan tergopoh-gopoh, Juminten menyambutku. Dia langsung membantuku menurunkan beberapa barang belanjaan pesanannya.

“Bapak ndak lupa beli odol dan sabun cucinya kan?”

“Tidak, Bu. Ada di karton merah,” ujarku langsung menuju sebuah kursi di balai-balai rumah.

“Lho, rokok yang Ibu pesan?” tanyanya menyelidik.

“Ada, di plastik hitam. Semuanya lengkap. Ko Acuan bilang harga minyak goreng naik, harga sabun naik, rokok juga. Yang lain, mungkin akan naik juga bulan depan, Bu.”

“Lha piye iki Pak, besok-besok bisa ndak cukup buat modal dagang ini, huh….”

Istriku mulai mengomel-ngomel kecil. Setiap ada kenaikan harga dari toko Ko Acuan-agen termurah di kota kecamatan-dia akan bertingkah seperti itu.

Aku bersyukur, Juminten seorang yang setia dan ulet. Untuk seorang buruh di pabrik gula, mana mungkin aku bisa menyekolahkan anakku sampai SLTA. Dan, Juminten, dengan ketelatenannya telah membesarkan warung kelontong yang kami usahakan sejak enam tahun lalu. Jarang tak ada lauk di meja dapur. Paling tidak, ada telur ceplok atau tempe garing teman bersantap setiap hari. Sayur-asem berkuah banjir bisa dipastikan melengkapinya. Cukup memenuhi empat sehat-lah. Sempurna hanya bagi si bungsu Tono-putraku berumur lima tahun. Setiap hari, harus ada tambahan susu buatnya.

“Bu, tadi warungnya rame, ndak?” tanyaku sambil mengipas-ngipas sepotong koran bekas

“Lumayan Pak. Tapi, kelihatannya Bu Marman juga akan buka warung di ujung jalan. Aku dengar dari ‘Jeng Tuti, waktu dia belanja di sini. Kalau jadi begitu, piye yo, Pak? Rejeki kita bisa berkurang toh yo?” Tangan-tangan istriku itu terus bergerak. Barang-barang belanjaan dikeluarkan satu-persatu, disusunnya dengan kecepatan yang selalu mengagumkan.

“Welah, Bu, Bu. Rejeki kan Tuhan yang atur. Susah payah juga ndak menambahnya. Mbok ya jangan terlalu dipikirkan. Lagipula kan belum pasti toh ya, Bu Marman ngewarung di sana. Tapi, ngomong-ngomong, mana nih kopinya, Bu?”

“Maaf Pak, sampai lupa. ‘Ti, Wati, ambilkan kopi Bapakmu, Nduk!” Dia berteriak, sambil tangannya terus merapikan beberapa dagangan yang bergeser dari tempatnya. Tutup-tutup stoples yang terlihat kendor dikencangkan

“Lha, Wati sudah pulang, Bu?” tanyaku penasaran.

“Sudah Pak, di sekolahnya hari ini ada penyuluhan tentang Pilkada. Jadi anak-anak lebih cepat pulang.”

“Ooh…”

Tak lama, Wati, putri sulungku muncul dengan nampan berisi kopi yang masih panas. Tubuhnya terlihat melampaui umurnya. Beberapa kali aku diam-diam mendapatinya berlama-lama berdandan di cermin besar di ruang tamu-yang hanya ada satu di rumah ini. Aku geli sendiri jika mengingatnya.

“Kopinya, Pak,” ujarnya, kemudian duduk di sebelahku.

“Makasih ya, Nduk. Gimana sekolahmu?”

“Baik, Pak,” ujarnya tersenyum manis.

Aku sudah tahu, paling dia akan bilang baik. Dia selalu dapat rangking. Salah satu yang aku bisa banggakan. Putriku bisa masuk di SMU negeri dengan prestasi yang baik. Walaupun kadang aku kerap merasakan sebuah kekalahan tatkala perlengkapan belajarnya tidak dapat terpenuhi. Kebutuhan sekolahnya menyita bagian yang cukup besar dari penghasilan kami.

“Pak, mbok Wati dibelikan Majalah, Pak. Wati kan harus tahu perkembangan dunia perempuan. Sudah tak bilangin ibu, tapi ndak pernah dikasih,” rengeknya.

“Sabar ya, Nduk. Kalau Bapak ada duit, ntar tak belikan. Yang penting uang sekolahmu lunas dan bisa makan setiap hari kan sudah syukur toh, Nduk?” ujarku sambil merasakan campur-aduk, antara geli dan nelangsa.

“Bener lho, Pak! Matur nuwun ya, Pak!” segaris senyum terpatri di wajahnya. Wati beranjak dari kursinya ke dalam rumah. Wajah sumringah-nya itu menekan senut-senut yang mulai terasa di kepalaku. Entah bagaimana memenuhi keinginannya itu.

“Pak, mbok ya jangan selalu dituruti putrimu itu. Masih banyak yang harus kita pikirkan. Hutang pada bu Sastro-uang pengobatan si Tono yang dulu-masih seratus delapan puluh ribu lagi lho, Pak,” istriku mengangkat suara.

“Iya, iya Bu. Bapak ingat. Nanti gajian Bapak ngutang dulu ke pabrik. Bapak mau istirahat dulu,” ujarku.

Kulangkahkan kakiku menggapai kamar. Sambil lalu, kuperhatikan Wati yang sedang serius memelototi TV ukuran paling kecil itu. Di kamar, aku langsung menghempaskan badanku.

*

“KANG Pri, Kang…!” Suara itu memaksaku menoleh. Kulihat Budiyono setengah berlari ke arahku.

“Ono opo, Bud?” Kuhentikan motor bututku.

“Aku cuma mau bilang kalau Suharto ndak bisa masuk, Kang. Istrinya bilang kalau dia tiba-tiba bisu. Ndak tahu kenapa. Sudah dibawa ke dokter puskesmas, tapi belum ketahuan sakit apa. Dokter di kota kecamatan saja geleng-geleng kepala, ndak ngerti. Kasihan betul dia, Kang.”

“Jadi dia ndak kerja hari ini?” tanyaku

“Iya Kang, tolong Kang Pri bilang ke mandor pabrik juga. Aku ndak enak langsung ke pak mandor.”

“Iya, nanti aku bilang ke pak mandor,” kataku. “Mau pulang?”

“Iya, Kang. Tadi aku shift malam. Matur nuwun ya, Kang.” Dia meninggalkanku. Motorku kudorong masuk ke parkiran. “Kasihan Suharto,” batinku.

Keesokannya, tambah lagi buruh jadi bisu. Sebagai senior, aku segera mendapatkan kabar tentang teman-teman kerja itu. Ini membuat bagian produksi harus bekerja keras. Sejak krisis, satu regu diciutkan hanya beberapa orang. Ini membuat setiap regu akan kesulitan jika ada yang tidak masuk kerja.

Setiap hari, selalu bertambah yang jadi bisu. Seperti sambaran geledek. Pembicaraan di setiap sudut kampung hanya cerita tentang orang-orang bisu. Belum ada dokter yang mengetahui penyebabnya. Dukun-dukun kampung juga mulai kebingungan.

“Si Sapto juga sudah bisu,” ujar yang satu.

“Mbak Sri, bagian kontrol kena juga.”

“RT-ku juga jadi bisu,” suara yang lain

“Kang Pri, kenal dengan Plimin, tetangga RT-mu? Dia juga jadi bisu.”

“Sutikno, kakak Marni, juga bisu, Kang….”

*

SHIFT malam cukup melelahkanku. Hari ini, Minggu pagi, aku ingin istirahat tidur di rumah. Untung saja tidak ada mesin yang rewel malam tadi. Target produksi terlewati sedikit. Lebih dua ton.

“Wati, Wati, kemari Nduk!” seruku begitu memasuki pintu depan rumah. Aku tidak mendengar satupun sahutan.

“Wati…!” Aku mulai mendekati kamarnya yang tidak tertutup. Kusibakkan tirai pintunya. Aku mendapati wajah putriku yang memucat. Dia memandangku seperti melihat sesuatu yang mengerikan. “Kamu kenapa, Nduk?”

Dia menjauhkan tubuhnya dariku, kemudian dengan telunjuknya dia menunjuk bibirnya, dan mengisyaratkan kata “tidak”. Tapi, aku belum mengerti.

“Bicara Nduk, bicaralah!”

Dia terlihat ketakutan, air matanya tidak terbendung lagi. Aku memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya.

“Nduk, apa yang terjadi?”

“Nyanyanya…nyanya..nya..nya…nyanya…” itu saja yang terlintas di telingaku.

Seperti ada kala yang menyengatku tiba-tiba. Emosiku memuncak. Tubuhku bergetar. Berulangkali aku mengepalkan tangan, geram.

“Coba ulangi, Nduk. Coba ulangi!”

Lamat-lamat dia mengulanginya, tapi aku masih belum bisa mengerti maksudnya. Bunyinya masih “nyanyanya….”

Aku sambar pena dan selembar kertas di atas mejanya. Kusodorkan ke tangannya. “Sejak kapan kamu tidak bersuara lagi, Nduk?” Suaraku agak memaksa.

Mataku mengikuti tulisan tangannya:

Wati ndak tahu, Pak. Tadi malam, Wati masih bisa bicara sepulang dari rumah Pak Sastro. Tapi setelah pagi, Wati sudah ndak bisa bersuara lagi. “Ada apa di rumah Pak Sastro, Nduk? Tumben ke sana?” selidikku

Wati dikasih empat puluh ribu agar pilkada nanti Wati milih Pak Sastro. Uangnya buat beli Majalah. Aku tak dapat menahan diri lagi untuk memberitahu istriku, “Bu, Ibu…!” Aku setengah berlari mencarinya ke warung, tapi tetap tidak ada sahutan. Di sana, kutemukan istriku memandangku dengan tatapan yang sangat aneh.

“Lho, kog ndak dijawab, Bu?”

Dari bibirnya kudengar, “Nyanya…nya..nya..nyanya..nya….” Hampir seperti bisikan.

Duh, Gusti!!! *

Palmerah-Semarang, 3 Mei 2004 – 29 Juni 2005

A gift to Christina Margaretha Sinambela