Anton Kurnia: Menerjemahkan Itu Pekerjaan Serius

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/08/kampus/obrolan.htm

BERKAT kerja penerjemah, boleh dibilang banyak orang jadi bisa mengenal dan membaca karya-karya para penulis besar dunia. Nama dan karya dari Karl Marx sampai J.K. Rowling mungkin sudah tak asing lagi bagi publik Indonesia, termasuk juga kawan Kampus. Anton Kurnia (32), seorang penerjemah asal Bandung yang sudah pernah menerjemahkan 50-an buku, kali ini akan menuturkan berbagai pendapat dan pengalamannya.

Semua berawal dari hobi Anton membaca karya-karya penulis dunia dalam bahasa Inggris. Dari membaca, lulusan Teknik Geologi ITB angkatan 1995 ini tergerak untuk menerjemahkan. Itu dilakukan oleh Anton, yang dulu juga aktif di media kampus, sebagai ajang belajar menulis.

Semenjak 1998, ketika cerpen terjemahannya dimuat di koran pertama kali, ia mulai yakin kalau dunianya adalah sastra. Seiring makin aktifnya ia membuat terjemahan karya berbagai penulis dunia, order pun mulai datang, dari mulai temannya sampai penerbit. Anton pun banting setir dari disiplin ilmu yang dipelajarinya semasa kuliah. Kemampuan bahasa Inggris sendiri diakuinya diperoleh secara otodidak. “Saya meng-improve dengan banyak membaca, belajar dari kamus, dan referensi lainnya,” ujar lelaki yang juga kerap duet dalam kerja penerjemahan, bersama istrinya, Atta Verin.

Kini, selain dikenal sebagai penerjemah, ia juga melakoni pekerjaan menulis dan menyunting beberapa buku. Ada 4 bukunya yang telah terbit, terakhir Ensiklopedia Sastra Dunia pada Oktober 2006, dan 30-an buku terjemahan yang telah ia sunting, di antaranya karya-karya Milan Kundera, Leo Tolstoy, Gabriel Garcia Marquez, Orhan Pamuk, dsb. Berikut petikan perbincangan Kampus dengannya.

Apa kesulitan dan kesenangan menjadi penerjemah?

Pada dasarnya karena saya suka sastra, jadi ini sebetulnya pekerjaan yang menyenangkan untuk saya. Saya dikasih buku, disuruh baca, dan saya dapat uang dari situ, hehehe. Kalau sulitnya, menerjemahkan itu susah karena bukan sekadar menerjemahkan kalimat per kalimat, tapi ada juga rasa dan nuansa yang harus kita tangkap. Kadang saya ikut membayangkan suasananya seperti apa, dsb. Pekerjaan ini juga butuh konsentrasi penuh, kalau perlu mengasingkan diri. Bekerja dengan naskah, komputer, buku, bisa berjam-jam per hari, dan itu bisa berbulan-bulan.

Paling lama, satu naskah saya pernah 4-5 bulan. Naskah tersebut adalah Les Miserables-nya Victor Hugo, karena bahasanya sulit sekali. Saya lupa pada abad ke berapa naskah itu ditulis, sudah kuno sekali, dan diterjemahkan pada abad itu juga, jadi bahasa Inggrisnya kuno. Saya hampir selalu menggunakan kamus
Inggris-Inggris. Tapi kalau cerpen, saya bisa lebih cepat.

Kadang terjadi kesulitan penerjemahan, misalnya, ada candaan dalam bahasa asing yang lucu, tapi ketika diterjemahkan ke Indonesia jadi tidak lucu. Bagaimana caranya menerjemahkan agar mungkin lebih bercita rasa Indonesia?

Ya betul, memang kadang ada yang istilahnya hambatan budaya. Ada satu problem dalam penerjemahan. Mau setia pada kata per kata, atau setia pada makna? Saya cenderung termasuk pada yang kedua. Ada beberapa aspek bahasa, yaitu bahasa asli dan bahasa sasaran. Menurut saya, yang penting itu bahasa sasaran. Misalnya, ada ungkapan, kalau dalam bahasa Inggris Bagai apel dibelah dua. Tapi saya akan menerjemahkan Bagai pinang dibelah dua, walaupun aslinya adalah apple. Karena
dalam konteks budaya jadinya lebih tepat itu.

Untuk hal-hal seperti itu, ada dua cara. Pertama, tetap biarkan tapi diberi catatan kaki. Kedua, cari konteks yang lebih tepat dalam bahasa Indonesia. Penerjemah harus pandai memilah mana yang lebih tepat dan bagaimana konteksnya.

Salah satu kritik pada hasil penerjemahan yaitu ada kesalahan interpretasi sehingga konteksnya beda dengan yang asli. Bahkan ada juga kesalahan huruf sehingga mengurangi kenyamanan membaca. Pernah punya pengalaman begitu?

Ketika sudah jadi buku, kadang tuh saya suka salah cetak. Tapi sebenarnya itu bisa diatasi dengan proof-reader, jadi tidak ada huruf salah naro. Yang fatal tuh kalau sampai salah konteks. Nah, kalau sejauh itu saya belum pernah.

Akan tetapi, saya pernah menemui dalam buku yang saya baca, mungkin itu karena kekurangan referensi ya. Misalnya, dalam satu novel, ada satu istilah di Amerika yaitu Ivyleague, lalu itu dibilang liga Ivy. Ternyata pas saya cek di referensi, itu maksudnya sebutan untuk 10 besar kampus terbaik di Amerika. Nah, penerjemah itu gagal menangkap konteksnya. Sebenarnya itu bisa diatasi dengan banyak baca, jangan malas buka kamus, dan tanya orang juga, karena kalau salah akan menyesatkan banyak orang.

Belum lagi dari segi keenakan dan halus bacanya. Misalnya novel, kalau bisa itu diterjemahkan seperti jadi novel lagi. Sebetulnya menerjemahkan itu mereproduksi karya. Ketika menerjemahkan novel, kita juga telah melahirkan novel lain, walau bukan berarti baru. Makanya, idealnya penerjemah itu penulis juga. Mungkin sulit menerjemahkan persis seperti maunya pengarang, tapi paling tidak kita bisa
menerjemahkan keindahannya, maknanya, pilihan katanya, dsb. Sehingga seorang pengarang yang luar biasa dalam pandangan dunia, tidak tercederai oleh penerjemahnya.

Januari lalu, ada seminar yang dibuat Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Katanya, masih ada kelemahan dalam hasil penerjemahan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Itu kurang lebih karena banyak penerjemah belajar secara otodidak. Menurut Anda, yang juga belajar otodidak, bagaimana?

Buat saya, otodidak itu bukan kelemahan. Perlu dikoreksi pernyataan Pak Benny Hoed (Ketua HPI-red.) itu. Kelemahan penerjemah adalah, mau dia belajar formal atau otodidak, kalau tidak mau belajar lagi. Belajar dan sekolah itu kan berbeda. Ada yang sekolah, tapi belum tentu benar-benar belajar. Kadang saya menemukan, penerjemah bergelar sarjana sastra Inggris dsb., tapi kemampuannya juga tidak lebih baik dari saya, yang otodidak. Masalahnya apa, dia tidak mau belajar lagi.

Sebetulnya saya sempat berpikir, karena suka sastra, untuk membentuk semacam forum penerjemah sastra. Tujuannya meningkatkan kemampuan para penerjemah, sharing, dan meningkatkan posisi tawar juga. Karena beberapa penerjemah pemula itu punya posisi yang lemah di depan penerbit. Sudah dibayar murah, kadang susah dilunasi pula.

Lembaga semacam itu di sini nggak ada, tapi di luar negeri ada, yaitu di Jerman. Itu lembaga independen, mengundang para penerjemah Eropa, lalu bekerja di sana.
Bagaimana riilnya lembaga itu jika diterapkan?

Saya sih mengusulkan pemerintah punya kepedulian untuk membentuk lembaga itu di sini. Kita bisa bekerja sama dengan pusat kebudayaan asing, misalnya Goethe, The British Council, dsb. Untuk awalan saja, kita bisa mengundang beberapa penerjemah, yang sudah berklasifikasi tertentu, misalnya sudah menerjemahkan berapa kali. Forum ini berkesinambungan, bukan pertemuan sehari-dua hari. Ini
untuk meningkatkan kemampuan para penerjemah kita. Karena menurut saya, penerjemahan itu kerja kolektif. Itu berguna bagi seluruh bangsa.

HPI sebenarnya ke arah sana, bikin seminar, dsb., tapi lembaga ini lebih live-in, seperti di Jerman. Di sana berjalan karena disubsidi oleh pemerintahnya, dan lembaga donor. Ya mungkin ini tinggal political will, katakanlah pemerintah lewat Departemen Pendidikan, misalnya. Karena kerja penerjemahan itu berkaitan erat dengan edukasi secara umum. Bagaimana rakyat kita bisa membaca buku-buku yang bagus. Ketika terkendala oleh kualitas kurang baik, itu kan sayang.

Bagaimana prospek profesi penerjemah sekarang?

Sangat bagus sebetulnya. Saya coba kasih ilustrasi. Untuk satu halaman, terjemahan dua spasi, saya bisa dibayar sekira Rp 25 ribu. Karena freelance, saya bisa mengatur kerja semau saya, tinggal mengikuti deadline. Dalam 1 jam saya bisa 2 halaman, 8 jam bisa 16 halaman, jadi bisa dapat Rp 400 ribu-an.
Karena saya juga butuh libur, dalam seminggu 5 hari kerja, saya bisa dapat Rp 2 juta, dan sebulan bisa Rp 8 juta. Saya kira uang itu cukup lumayan.

Apalagi dengan perkembangan media massa, dari mulai televisi, radio, penerbit, dsb. Stasiun televisi biasanya butuh subjudul, dsb. Di perusahaan juga, butuh penerjemahan kontrak kerja dan dokumen.

Saya kutip pernyataan Goenawan Mohammad. Sering orang menganggap, profesi penerjemah sebagai profesi sementara. Sebenarnya profesi itu kalau mau diseriusi, selain hasilnya bagus, uangnya juga bisa bagus, kok. ***
ngnya juga bisa bagus, kok. ***

Advertisements

pulang

aku: aku mau pulang. boleh kita ketemu?

kamu: pulang? pulang kantor?

aku: pulang. ke kotamu. oh, kota kita maksudku.

kamu: kapan?

aku: januari.

kamu: sendiri?

aku: dengan istri dan anakku.

kamu: hmm…

aku: kog, hmm?

kamu: aku senang kalau kita bisa ketemu.

aku: gitu dong.

kamu: aku nggak janji.

aku: kenapa?

kamu: aku harus izin suamiku dulu.

aku: apa? suami?

kamu: iya.

aku: kapan?

kamu: apanya?

aku: oh, kapan kamu married?

kamu: tahun lalu.

aku: kog aku nggak tahu?

kamu: buat apa?

aku: loh…

kamu: aku tak ingin mengganggumu

aku: …..

kamu: halo, masih di sana?

aku: …..

kamu: sudah kuduga, kamu akan marah.

aku: oh, nggak….

kamu: lalu kenapa diam?

aku: maaf, ada telepon tadi (dadaku sesak)

kamu: bukan, kamu pasti sedang marah?

aku: nggak, aku nggak marah

kamu:…………

aku: hai, masih di sana?

kamu:………..

aku: halo?????

(tut tut tut…………………….)

Bapak Rumah Tangga, Kenapa Tidak?

Berikut adalah Artikel menarik yang ditulis Pramana Sukmajati di  Intisari No. 586 edisi Desember 2011. Tulisan tersebut dapat diunduh di sini.

Dunia Menulis dan Menulis Dunia: Membangun Budaya Literasi

by Yasraf Amir Piliang

Dunia akademik tidak dapat dipisahkan dari dunia literasi, khususnya dunia tulis menulis. Meskipun demikian, ada yang mengatakan menulis itu susah, meskipun ada juga yang tidak mengalami kesulitan. Ada yang mengatakan menulis itu perlu bakat, tetapi ada pula yang mengatakan bisa dipelajari. Ada yang menghindarkan diri dari tugas menulis, tetapi ada pula yang mencari kesempatan menulis. Menulis memang merupakan business yang kompleks, khususnya di dalam dunia akademik. Menulis tidak saja merangkai kata-kata, tetapi menciptakan sebuah dunia.

Sebagai sebuah dunia, menulis bukanlah aktivitas tunggal. Ada berbagai cara menulis dan ada berbagai genre tulisan: ayat suci, tulisan ilmiah, tulisan jurnal, makalah seminar, tulisan propaganda, artikel surat kabar, tulisan majalah, novel atau cerita pendek. Masing-masing genre tulisan mempunyai prinsip, karakteristik, dan metodenya sendiri. Tulisan ilmiah tentu berbeda dari tulisan propaganda, baik dalam metode, sistematika dan gaya bahasanya. Tulisan jurnal berbeda dengan tulisan surat kabar dalam hal kedalaman dan gaya penyampaiannya.

Meskipun demikian, ada ciri-ciri umum aktivitas menulis dan produk tulisannya. Di satu pihak, seperti aktivitas riset, menulis (untuk semua genre) melibatkan kapasitas intelektual atau nalar, yaitu kapasitas dalam mengolah pikiran dan akal budi dalam rangka menghasilkan konsep lewat medium tulisan. Di pihak lain, seperti aktivitas seni pada umumnya (misalnya, melukis), menulis melibatkan kapasitas intuisi, yaitu kapasitas pengolahan rasa dan hati dalam rangka menghasilkan tulisan yang estetis atau komunikatif. Oleh karena itu, tulisan tidak saja harus mengandung nilai kebenaran, tetapi juga komunikatif dan estetik.

Menulis berarti mengembangkan horizon, yaitu cakrawala tentang kemungkinan dunia, yang hendak dibangun di dalam penulisan, serta mengembangkan perangkat dan cara-cara dalam pengembangan horizon tersebut. Menulis adalah mencoba mencari kemungkinan dunia tersebut dengan mengembangkan kemungkinan horizon di dalamnya. Setiap penulis pasti mempunyai sebuah (atau beberapa) horizon, atau dengan perkataan lain harus mengembangkan horizon tersebut, dan mempunyai cara, metode, dan gayanya sendiri dalam penciptaan horizonnya itu.

Tulisan ini tidak hendak membicarakan metode atau model-model penulisan secara teoretis, melainkan upaya untuk bercerita ulang tentang pengalaman personal dalam dunia tulis-menulis. Menceritakan kembali pengalaman menulis itu dapat dianggap sebagai sebentuk refleksi personal, yang meskipun demikian diharapkan dapat diambil hikmahnya secara umum. Berbagai konsep berikut adalah hasil refleksi dari pengalaman tulis-menulis tersebut.

Menulis itu Mendesain

Di dalam sebuah kesempatan penulis pernah mengatakan, bahwa menulis itu melukis, bahwa ada persamaan antara hakikat menulis dan melukis, disebabkan menulis tidak saja memerlukan kapasitas, kompetensi atau keterampilan merangkai kata-kata, bahasa, intelektualitas dan nalar, akan tetapi juga membutuhkan kemampuan kreativitas, perasaan, intuisi dan kepekaan estetis tertentu. Menulis yang tanpa nilai-nilai melukis tersebut layaknya mesin bahasa, yang hanya memproduksi teks tak berjiwa atau bahasa tanpa aura. Oleh karena itu, menulis juga memerlukan suasana jiwa (mood), emosi, rasa dan spirit.

Akan tetapi, berkaitan dengan dan mendukung konsep menulis itu melukis, dapat dikatakan pula bahwa menulis itu mendesain. Oleh karena melukis bukanlah proses murni chaotic, kacau dan disorder, akan tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Ahmad Sadali, memerlukan perencanaan. Melukis adalah proses desain, yaitu mengubah disorder menjadi order, ketidakberaturan menjadi keteraturan. Menulis itu memerlukan proses desain seperti itu, yang di dalamnya melibatkan antara lain proses: 1) menetapkan tujuan, 2) identifikasi masalah, 3) penyusunan metode, 4) pengumpulan data, 5) penyusunan konsep, dan 5) mencari alternatif solusi.

Meskipun demikian, proses desain yang dimaksud bukanlah proses linier, yang mengikuti alur atau urutan-urutan yang kaku dan tertutup. Menulis, sebaliknya, memerlukan proses maju-mundur, bolak-balik atau persilangan yang kompleks dan terbuka, yang di dalamnya terdapat proses isi mengisi atau tumpang tindih antara metode, inspirasi dan ide-ide, di dalam proses yang disebut abduksi. Keterbukaan dan sifat kelenturan merupakan inti dari menulis. Pada satu kasus, ide solusi itu muncul secara tiba-tiba (eureka), meskipun tujuan masih samar-samar. Pada kasus yang lain, ide solusi itu baru muncul setelah tujuan disusun secara jelas.

Untuk tulisan-tulisan yang lebih ilmiah, penulis biasanya memulai dari identifikasi masalah, yaitu melihat masalah-masalah kongkrit di dalam masyarakat, baik dalam konteks sosial, politik, hukum, kebudayaan atau seni, dan mengembangkan opini sementara tentang masalah tersebut. Untuk mengembangkan opini sementara (doxa) itu ke dalam argumen-argumen yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (logos), diperlukan data-data yang mendukung, teori-teori yang relevan (yang memerlukan studi kepustakaan yang memakan waktu), dan diperlukan pula gaya bahasa (bahasa ilmiah) yang mendukung penulisannya.

Disebabkan menulis adalah proses desain, maka ia memerlukan cara berpikir desain yang tidak linier, akan tetapi cara berpikir horizontal, yang disebut Edward de Bono, sebagai cara berpikir lateral, yaitu cara berpikir yang membuka selebar-lebarnya berbagai kemungkinan atau alternatif bagi suatu masalah yang ingin dipecahkan, tidak justru berhenti dan puas dengan sebuah solusi. Kata, judul, kalimat, paragraf, istilah, atau konsep yang ditawarkan di dalam sebuah tulisan memerlukan cara berpikir lateral ini, yang membiarkan berkembangnya berbagai alternatif, dan pada akhirnya memilih ekspresi yang dianggap optimal dalam relevansinya dengan tema yang dikerjakan.

Membaca Itu Memproduksi Ide

Sebuah tulisan memerlukan gizi, agar ia sehat dan tumbuh, apalagi tulisan ilmiah. Tanpa gizi, tulisan akan kering, dangkal, permukaan dan penuh pengulangan (tautology). Gizi bagi seorang penulis adalah pengetahuan, teori atau konsep-konsep baru, yang bisa diperoleh dengan membaca buku. Pengetahuan, teori atau konsep-konsep baru tersebut dapat menjadi inspirasi bagi penulisan, yang dengan kekayaannya, dapat meningkatkan produktivitas ide, gagasan atau tema-tema tulisan.

Membaca buku (sebagai sumber inspirasi ide) adalah seperti orang mengembangbiakkan atau beternak ide. Artinya, buku yang dibaca menawarkan sebuah (atau beberapa) ide yang diproduksi oleh seorang penulis terinspirasi oleh penulis (atau beberapa penulis) sebelumnya. Ketika seorang penulis membaca buku, maka ide yang ada di dalam buku itu dikembangbiakkannya di dalam pikirannya, sehingga ide tersebut dapat menghasilkan satu, belasan, puluhan, ratusan bahkan jutaan ide-ide lain, yang siap menjadi bahan penulisan. Dengan demikian, membaca buku bagi seorang penulis bukanlah mereproduksi ide (yaitu, memindahkan ide-ide penulis ke dalam pikiran pembaca), melainkan proses produksi, yaitu menghasilkan ide-ide dipicu oleh sebuah ide. Inilah mungkin yang disebut di dalam teori kreativitas sebagai produksi meme (informasi budaya). Meme adalah informasi yang mampu berkembang biak lewat proses diseminasi dan penyebaran di dalam pikiran banyak orang.

Sebagaimana orang memilih-milih makanan dalam hal jenis dan tingkat gizinya, maka membaca juga memerlukan proses memilih-milih bahan yang hendak dibaca, baik dari segi jenis bacaan dan tingkat gizinya: bacaan yang lunak, lembek, keras; bergizi tinggi, berkolesterol tinggi, dan selanjutnya, untuk kemudian mengembangkan perlakuan tertentu terhadap bahan bacaan tersebut. Untuk bahan bacaan yang berbeda jenis maupun gizinya diperlukan perlakuan membaca yang berbeda. Untuk bahan bacaan tertentu yang bersifat teoretis sangat diperlukan sikap kritis, sementara untuk bahan bacaan yang lebih populer lebih dituntut sikap menikmati.

Membaca bukanlah proses pasif memindahkan ide, melainkan proses aktif dan kritis, yang tidak saja memahami apa dari sebuah teks, akan tetapi menemukan logika di balik teks tersebut, dalam rangka menemukan titik-titik kritis, horizon-horizon yang terbuka, atau ruang kosong di dalamnya, yang mungkin dapat diisi secara kreatif oleh pembaca berdasarkan logika dan horizonnya sendiri. Dengan demikian, membaca adalah proses inovatif, yaitu membuka horizon bagi sesuatu yang baru (ide, gagasan, struktur, strategi, konsep, bentuk, relasi, klasifikasi), dengan menjadikan ide yang ditawarkan sebuah teks sebagai titik berangkat untuk memproduksi ide-ide yang lebih kaya atau berbeda.

Membaca adalah membuka horizon seluas-luasnya, melampaui ide atau gagasan yang dimaksud oleh seorang pengarang. Artinya, ketika membaca, pembaca harus membiarkan imajinasinya bergerak secara liar mengikuti energi dan hasratnya—memikirkan, membayangkan, mengkonstruksi, mengkhayalkan, mengangankan—segala kemungkinan dunia yang dimungkinkan oleh daya imajinasi tersebut. Pembaca seharusnya tidak bersikap menunggu di hadapan sebuah teks, melainkan secara aktif mengembangkan horizonnya, agar mampu memproduksi teks (ide, gagasan, struktur) baru, dengan segala kekhasan bentuk, nilai dan keyakinan di baliknya. Oleh sebab itu, pembaca harus menempatkan dirinya sebagai subjek, yang mempunyai kapasitas pemahaman sendiri, dan mampu memproduksi maknanya sendiri.

Disebabkan menulis itu seperti orang merawat tubuh, dan membaca adalah gizi dari tulisan, maka membaca itu harus dibuatkan rumah yang nyaman. Artinya, harus diciptakan ruang-waktu untuk aktivitas membaca. Bila ruang-waktu untuk membaca itu sangat terbatas, disebabkan berbagai kesibukan (struktural akademis) maka harus diciptakan ruang-waktu tersebut. Diperlukan ruang (rumah, lapangan, kantor) untuk membaca, dan diperlukan waktu (istirahat, pagi, malam) untuk melakukannya. Dengan perkataan lain, perlu ditumbuhkan habit membaca. Membaca tidak lagi dianggap sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan, dengan memberinya ruang-waktu yang memadai, yang kalau tidak diadakan akan mengakibatkan kondisi lapar pengetahuan.

 

Praduga Bersalah Terhadap Teori

Membaca memerlukan sikap mempertanyakan, meragukan, menanamkan praduga bersalah terhadap pikiran atau teori yang ada, termasuk pikiran sendiri, dalam upaya mencari berbagai kemungkinan dunia dan kebenaran lain, khususnya untuk pembacaan yang bersifat teoretis. Artinya, membaca memerlukan proses berpikir, olah nalar dan olah kognisi, tidak sekadar proses linguistik penerjemahan makna sebuah teks, tetapi secara aktif mencari berbagai kemungkinan makna lain secara kritis.

Khusus untuk bacaan teroritis, membaca bukanlah proses pasif memindahkan isi buku ke dalam otak, seperti camera obscura, melainkan proses membangun ruang kritik, yang memungkinkan seorang pembaca menempatkan dirinya sebagai seorang reserse yang menginterogasi sebuah buku. Pembaca selalu memahami ide-ide sebuah buku dengan pikiran kritis, yaitu melihat berbagai aspek kritis pada ide atau teori-teori yang ditawarkan sebuah teks, dalam rangka menemukan celah-celah untuk mengembangkan koreksi teoritis atau pengetahuan baru.

Membaca adalah mencari makna yang ditawarkan oleh sebuah buku. Akan tetapi, makna itu tidak selalu dapat ditemukan di dalam teks itu sendiri. Boleh jadi makna itu berkembang di luar teks, ketika pembaca mencoba menempatkan ide-ide sebuah teks di dunia lain di luar teks tersebut: dunia pengalaman personal, dunia imajinasi, dunia realitas sosial, dunia spiritual. Di depan atau di luar teks, ada berbagai dunia yang tersedia, dan tugas pembaca adalah menemukan dunia di depan teks tersebut. Adalah kreativitas pembacaan yang memungkinkan terbentangnya dunia kemungkinan baru tersebut. Misalnya, ketika seorang fisikawan seperti Einstein membaca kumpulan puisi, muncul ide-ide tentang teori fisika; ketika Dewi Lestari membaca teori-teori kuantum, muncul ide-ide tentang cerita novel, dan seterusnya. Inilah kreativitas membaca.

Pembaca yang terjebak di dunia di dalam teks, tidak mempunyai kekuatan untuk menemukan dunia di depan teks, dengan demikian tidak mampu menciptakan dunia baru dari pembacaannya. Oleh karena itu, pembaca harus menciptakan sendiri dunia di depan teks tersebut, memperluas sendiri horizon pembacaannya. Pembacaan penulis terhadap teori-teori semiotika, dengan berupaya memperluas horizon pembacaan, misalnya dengan mengkaitkan semiotika dengan dunia kriminalitas, membuka cakrawala teoritis baru. Di dalam buku Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna (Jalasutra, 2003), penulis mengembangkan kategori-kategori baru tanda, yang tidak ditemukan di dalam teks-teks semiotik, dengan mencoba menghadapkan teori-teori semiotik yang ada (interior teks) dengan realitas yang ada (eksterior teks), dan menemukan kenyataaan, bahwa ada realitas penggunaan tanda yang tidak tersentuh oleh kategorisasi teori semiotik, sehingga memunculkan ide tentang kategori-kategori baru tanda.

Ada masa ketika pembaca teks dituntut untuk meragukan atau menanamkan praduga bersalah (melihat kesalahan, kekurangan, kekosongan, ketidaktepatan, irelevansi, kemandulan) sebuah teori, dan berupaya bagaikan reserse mengiterogasi teori-terori tersebut, dengan menghadapkannya dengan realitas yang ada, sehingga dari proses interogasi ini dapat dibentangkan berbagai kemungkinan kebenaran lain yang tidak ada di dalam teks, tetapi ditemukan di luar teks tersebut (di dalam kehidupan sehari-hari).

Tampil Beda dengan Neologi

Banyak perkembangan di dunia keseharian, dunia akademik, dunia seniman, yang tidak dapat dijelaskan melalui perbendaharaan kata atau gramar yang ada. Artinya, perbendaharaan kata atau kamus, tidak mampu mengantisipasi berbagai realitas baru yang tengah berkembang dan hidup di dalam masyarakat (oleh karena itulah, kamus itu perlu selalu direvisi dan diaktualisasikan). Sebuah kamus hanya mampu menjelaskan dunia di belakangnya, tetapi tidak kuasa menjelaskan dunia di depannya, oleh karena dunia itu belum ada atau belum didefinisikan.

Disebabkan keterbatasan kamus inilah, banyak pemikir, penyair atau novelis yang menciptakan kata, istilah atau frase-frase baru (neology), dengan berbagai alasannya masing-masing. Penggunaan kata atau frase baru itu tentunya tidak karena alasan gaya semata, tetapi alasan dan kebutuhan penulisan yang jauh lebih kompleks, dengan berbagai bentuk dan kemungkinan kombinasi neologi di dalamnya.

Bagi pemikir atau filsuf, neologi digunakan disebabkan ada situasi, realitas, konsep, struktur atau teori khusus yang tidak dapat diekspresikan melalui perbendaharaan kata yang ada. Penggunaan kata atau istilah yang ada dikawatirkan akan menjebak di dalam proses generalisasi, reduksionisme dan penyederhanaan masalah, sehingga diperlukan perbendaharaan kata baru untuk menghindarkan situasi tersebut, agar semuanya lebih kontekstual dan lebih benar. Bagaimana Jacques Derrida, menggunakan kata differance, Deleuze menggunakan kata deteritorialisation, Guattari menggunakan desiring machine, Lyotard menggunakan libidinal economy, dan sebagainya, dalam rangka mewadahi perkembangan dunia realitas dan ide yang tidak ada definisinya di dalam kamus.

Bagi para penulis novel atau penyair, neologi diperlukan disebabkan kamus atau perbendaharaan kata yang ada tidak mampu menampung emosi, suasana hati, gejolak jiwa dan perasaan yang ingin diungkapkan, sehingga diperlukan kata atau ungkapan baru. Bagaimana James Joyce, di dalam Ullyses, menggunakan kata-kata yang tidak ada di dalam kamus Bahasa Inggris, seperti rhododendrons, plumpeddered, megeggagget, treestems, cooeing, hobbledehoy, whorusalaminyourhoghhohhh. Hanya lewat kata-kata aneh itulah Joyce secara akurat dapat melukiskan dunia yang diimajinasikannya.

Penulis sendiri sangat mengandalkan diri pada kekuatan neologi ini, dengan berbagai alasan. Pada sebuah kasus karena alasan filosofis, pada kasus lain karena alasan style. Di dalam berbagai buku, makalah seminar, tulisan jurnal atau artikel surat kabar, banyak sekali neologi yang penulis kembangkan, dengan alasannya masing-masing, antara lain: horosofi, horografi, horrocracy, libidonomi, libidocracy, libidografi, pseudosophy, pseudocracy, pseudonomics, hipersemiotika, hipermoralitas, hiperpornografi, poshorosofi, symbolicum horrobilis, semiotic violence, dan sebagainya. Berbagai neologi tersebut perlu diciptakan, agar realitas sosial, politik dan kultural yang ingin diungkapkan tidak dapat dilukiskan secara tepat oleh kata-kata yang ada di dalam kamus.

Penulis berpendapat, bahwa neologi merupakan kekuatan tulisan, tidak saja kekuatan eye catching yang dimilikinya, yaitu kemampuannya menangkap perhatian pembaca, akan tetapi lebih jauh lagi kekuatan untuk mengajak pembaca membayangkan atau mengimajinasikan dunia baru, yang hanya bisa direpresentasikan oleh sebuah neologi. Kadang-kadang ada berbagai fenomena realitas yang sudah lama atau usang, akan tetapi ketika ia dikemas dengan kata baru (neologi) ia mampu menghadirkan spirit baru pada realitas yang sudah usang tersebut.

Akan tetapi, neologi tidak hanya sekadar kosmetik atau make-up sebuah tulisan yang bersifat artifisial. Kadang-kadang situasi atau kondisi yang lama itu mengalami perubahan, pergeseran atau transformasi di dalam konteksnya yang baru, sehingga untuk menjelaskannya tidak dapat lagi digunakan istilah lama. Penggunaan istilah-istilah seperti horrosophy, bukan untuk mengemas realitas lama (realitas kekerasan) dengan kosmetik baru, akan tetapi realitas kekerasan itu sendiri yang berkembang sedemikian rupa, sampai pada satu titik, di mana kekerasan (horror) itu bersimbiosis dan melebur menjadi satu dengan kebijaksanaan (sophos) dan estetis (aisthetikos), sehingga kekerasan itu dianggap menjadi bijak (kasus terorisme) atau menjadi indah (kasus film aksi), sehingga hanya neologi horrosophy yang dapat mewadahi kecenderungan baru ini.

Menulis itu Merayu

Menulis tidak saja menyampaikan ide, gagasan atau pesan tertentu, dan bagaimana orang dapat memahami ide, gagasan atau pesan tersebut, akan tetapi lebih jauh lagi, bagaimana orang dibuat tertarik, terpesona, bahkan terpengaruh pikirannya (dan melakukan tindakan tertentu) oleh sebuah tulisan. Seorang penulis tidak hanya ingin dimengerti ide atau gagasannya oleh para pembacanya, akan tetapi lebih jauh lagi, ingin diperhatikan, didengarkan, dicintai, disukai, dipatuhi atau bahkan dipuja. Menulis, dengan demikian adalah sebentuk rayuan.

Dalam pengertiannya yang umum, rayuan adalah cara seseorang menampilkan penampakan dirinya melalui tanda-tanda artifisial (make-up, lipstik, eye-shadow, eyebrow, mascara, wig, atau bedah plastik) agar orang yang melihat tertarik dan terpesona akan penampakan itu. Akan tetapi, ciri dari rayuan semacam itu adalah sifat artifisialnya, yaitu trik-trik manipulasi yang menyembunyikan realitas dirinya yang sebenarnya. Rayuan adalah penampilan diri secara palsu, dan orang terpesona akan kepalsuan itu.

Akan tetapi, konsep merayu di dalam menulis adalah dalam pengertiannya yang sangat khusus, yaitu membuat para pembaca sebuah tulisan tertarik, terpesona, terhipnotis, atau jatuh cinta pada penampilan sebuah tulisan (elemen tulisan), bukan karena sifat artifisialitas, fetishism atau kepalsuannya, melainkan oleh kekuatan karisma yang ada di dalam tulisan itu sendiri. Karisma sebuah tulisan bisa muncul dari kandungan isinya yang mendalam, dari gaya bahasa yang mempesona, dari pemilihan kata-kata atau judul yang menarik, dari metode yang digunakan, atau dari realitas yang diangkat.

Rayuan dalam tulisan adalah dalam pengertian, bahwa seorang penulis membangun semacam daya tarik atau eye catching di dalam teksnya, dengan cara tertentu, sehingga menimbulkan daya pikat, rasa keingintahuan, atau daya pesona tertentu pada orang yang membacanya. Sebuah tulisan—terutama tulisan populer atau tulisan untuk media massa—harus menampilkan dirinya dengan wajah yang menarik. Sebagus apa pun sebuah tulisan, bila ia tidak dapat ditampilkan dengan penampilan yang menarik, tidak akan mengundang orang membacanya.

Ada berbagai cara dalam merayu atau mengemas penampakan sebuah tulisan. Pertama, judul yang menarik, kreatif dan menimbulkan rasa ingin tahu. Judul sebuah tulisan membutuhkan kreativitas sendiri, yaitu kemampuan untuk mengemas kata-kata yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu atau daya tarik. Dalam kasus tertentu diperlukan neologi atau bahasa asing (Inggris, Latin, Yunani atau kombinasi beberapa bahasa) untuk memberikan daya tarik, khususnya untuk konsep-konsep yang susah dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Kedua, paragraf pertama (pembuka) yang menarik, baik dan stylist. Kalimat dan paragraf pertama adalah pintu gerbang ke dalam sebuah tulisan. Bila pintu gerbang itu buruk, kumuh, dan kumal, tidak ada orang yang tertarik memasuki ruang-ruang tulisan. Menulis, dengan demikian, tidak sekadar menyampaikan ide, gagasan atau pesan tertentu dengan benar, tetapi juga dengan daya tarik tertentu; tidak saja sistematik, tetapi juga komunikatif; tidak saja logis, tetapi juga estetis.

Menulis Bagaikan Menunggang Angin

Seorang penulis bukan manusia soliter, yang dalam memproduksi tulisan, terisolir dari konteks masyarakatnya, atau tercabut dari jagat budayanya, khususnya untuk tulisan-tulisan tertentu yang membutuhkan aktualitas, seperti artikel surat kabar. Untuk tulisan-tulisan surat kabar, majalah atau jurnal, penulis harus jeli melihat isu aktual, pemikiran yang tengah ramai, berita yang hangat, kejadian yang kongkrit, masalah yang nyata, dan melihat semuanya sebagai peluang untuk memproduksi tulisan aktual. Khusus untuk tulisan surat kabar atau majalah, sifat aktualitas tulisan tersebut menjadi syarat mutlak. Sebagus apa pun sebuah tulisan, sedalam apa pun isinya, sekreatif apa pun metodanya, atau sebagus apa pun gaya penulisannya, bila ia tidak membicarakan kondisi yang aktual, tulisan itu tidak akan dimuat di dalam media. Tentunya ini tidak berlaku untuk tulisan ilmiah.

Dengan perkataan lain, seorang penulis itu seperti seorang pengendara angin, yaitu ia harus tahu persis arah angin, yaitu arah perkembangan opini, isu, pendapat, pengetahuan, dan mencoba untuk menunggangi arah angin tersebut. Oleh sebab itu, seorang penulis harus selalu awas terhadap perubahan cuaca atau arah angin pengetahuan, yang selalu berubah-ubah setiap saat, dengan cara selalu mengikuti perkembangan isu atau pengetahuan yang ada melalui buku, media cetak, televisi atau internet, agar pengetahuannya tetap up-to-date, sebagai prasyarat bagi tulisan yang kreatif. Inilah penulis reaktif.

Akan tetapi, seorang penulis tidak selalu harus bersikap pasif menunggu datangnya angin perubahan (isu, trend, pengetahuan, kecenderungan) tersebut. Pada satu situasi tertentu, seorang penulis harus dapat meramalkan arah angin tersebut, yaitu mengantisipasi perkembangan isu, pengetahuan, tren pemikiran yang mungkin akan muncul, dan secara proaktif membangun opini baru, dengan menggiring publik ke arah isu baru tersebut. Inilah penulis proaktif.

Untuk tulisan surat kabar seorang penulis bisa bersifat reaktif, disebabkan tuntutan sifat aktualitas sebuah tulisan. Untuk tulisan yang lebih hidup lama (durable), seperti buku, penulis dapat bersifat proaktif dengan cara mendahului zaman (beyond zeitgeist). Banyak ide-ide yang dikembangkan di beberapa buku penulis merupakan upaya proaktif untuk membuat asumsi, perkiraan, atau bahkan prediksi tentang masa depan, meskipun di antaranya bersifat spekulatif. Akan tetapi, setidak-tidaknya secara teoritis berbagai kecenderungan masa depan sudah dapat diantisipasi. Untuk itu, kesadaran tentang masa depan (futuristic) sangat diperlukan dalam penulisan. Seorang penulis yang ingin melampaui zamannya harus mempunyai kapasitas membaca masa depan (futurolog).

Siapkan Jaring Pengaman Ide (JPI)

Ide itu muncul secepat kilat (eureka), tetapi juga menghilang secepat kilat. Ide tidak menunggu kita untuk merealisasikannya. Ia bahkan tidak memberi kabar kapan akan datang, dan kapan akan pergi. Jangan mengharapkan ide itu akan berbaik hati, seperti pegawai asuransi yang dengan muka ramah datang kepada kita setiap pagi, yang secara gigih merayu calon nasabahnya. Ide itu jangan ditunggu, akan tetapi harus dijemput, dan bila ia datang, ia harus segera diberikan rumah tempat tinggalnya sementara, bila tidak ingin ia kabur selamanya.

Rumah ide itu adalah bahasa. Seorang penulis harus membangun rumah ide tersebut, dengan caranya masing-masing, yaitu dengan membangun mekanisme bahasa untuk menampung ide tersebut. Sebuah ide dirumahkan dengan cara membahasakan, merekam dan mendokumentasikannya, agar menjadi tahan lama, dan dapat diputar ulang, dipakai, dikembangkan di satu ketika. Untuk dapat menangkap ide tersebut, seorang penulis harus menyiapkan diri dengan perangkat yang disebut Jaring Pengaman Ide (JPI).

JPI itu merupakan totalitas pikiran, mental, situasi, alat-alat, bahasa dan ruang, yang melaluinya ide-ide dicari, ditangkap, direkam, dan didokumentasikan, agar ia tidak menghilang. Ide-ide (atau inspirasi) itu bisa datang di mana saja dan kapan saja (di ruang belajar, kamar makan, kamar mandi, WC, di dalam mobil, di dalam bioskop). Momentum ide itu harus ditangkap, dimasukkan ke dalam JPI, sebab bila tidak momen tersebut bisa segera hilang, dan tidak ada slow motion replay untuk sebuah ide, tidak ada siaran ulang untuk sebuah gagasan.

Ada berbagai cara seorang penulis dapat mengembangkan JPI ini dengan metode dan pendekatannya masing-masing. Penulis sendiri mengembangkan model JPI yang bertingkat, tergantung moment of ideas itu sendiri. Tingkat pertama, adalah tingkat actual moment of ideas, yaitu momen ketika ide itu muncul secara tiba-tiba di sembarang tempat dan peristiwa (di WC, di dalam angkot, sedang menyetir mobil, di dalam bioskop, sedang menonton televisi, sedang memasak, makan, naik sepeda) dan sembarang waktu (pagi, siang, sore, malam). Untuk menangkap ide yang datang tiba-tiba itu yang diperlukan adalah alat tulis (pensil, pulpen, spidol) dan media tulis apa pun yang ditemukan (bungkus korek api, kertas tissue, kartu nama, bon belanja, telapak tangan), yang penting adalah, bahwa ide itu telah dirumahkan untuk sementara sebelum ia pergi.

Tingkat kedua, adalah moment of idea’s development, yaitu ketika ide-ide awal tersebut berkembang lebih jauh, lebih luas, lebih kompleks, khususnya dengan adanya peluang mengkaitkan satu ide awal dengan ide-ide lainnya, sehingga lebih lengkap, lebih komprehensif dan lebih jelas sosoknya. Untuk itu, diperlukan mekanisme perekaman yang lebih permanen. Penulis, dalam hal ini, selalu mempersiapkan diri dengan seperangkat note book, buku tulis, atau buku agenda, yang di dalamnya catatan-catatan ide awal tersebut dibuat ke dalam bentuk skema-skema yang lebih komprehensif dan sistematis.

Tingkat ketiga, adalah moment of reflection, yaitu momen ketika akumulasi ide-ide yang bersifat skematis itu direnungkan, dipikirkan atau dianalisis secara lebih mendalam (mungkin juga lebih filosofis), dalam rangka untuk menghasilkan pemikiran–pemikiran yang lebih dalam, matang dan reflektif. Untuk itu, penulis menyediakan format catatan ide yang lebih besar, berupa buku tulis yang lebih besar dan tebal, yang di dalamnya dikembangkan berbagai bentuk perenungan dan refleksi, yang bersifat lebih durable, yang pada suatu ketika nanti dapat dikembangkan menjadi pemikiran, konsep atau bahkan teori baru, baik dalam format artikel jurnal atau buku.

Hidup di dalam Dunia Metafora

Jangan abaikan kekuatan metafora di dalam menulis dan dunia literasi pada umumnya, karena metafora dapat menjadi pintu gerbang kreativitas menulis. Ada suatu masa ketika bahasa lateral tidak mampu melukiskan sebuah dunia secara elegan dan menarik, disebabkan keterbatasan bahasa formal itu sendiri. Dalam hal ini, metafora dapat mengambil alih peran bahasa lateral tersebut. Kekuatan metafora harus dimanfaatkan untuk melukiskan dunia dengan cara yang baru, unik dan menyegarkan.

Metafora adalah prinsip penggunaan bahasa secara khusus melalui proses peminjaman, yaitu proses menjelaskan sebuah sistem tanda melalui sistem tanda yang lainnya. Metafora adalah semacam peralihan (transference) dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya, yang di dalamnya sebuah tanda dipinjamkan untuk menjelaskan sebuah objek lainnya, dengan mentransfer maknanya. Kepala batu untuk menjelaskan orang yang tidak mau diatur; muka badak untuk menjelaskan seseorang yang bebal; kantong kempis untuk menjelaskan orang yang tidak punya uang, dan sebagainya.

Metafora merupakan proses kreasi bahasa yang lebih dinamis, yang di dalamnya tidak hanya berlangsung peminjaman dan pemindahan bahasa, melainkan ada proses penafsiran, transformasi, inovasi makna, dan penciptaan kode-kode baru secara kreatif. Melalui kendaraan metafora, seorang penulis dapat menjelaskan berbagai realitas yang tidak dapat dijelaskan melalui bahasa yang lateral atau formal. Metafora, dengan demikian, mempunyai kekuatan menjelaskan melampaui bahasa lateral.

Penulis yang menggunakan prinsip metafora tidak sekadar memindahkan makna dari sebuah sumber pertandaan, berdasarkan alur atau kode asalnya, melainkan melibatkan proses mengkombinasikan berbagai sumber tanda secara kreatif, untuk memudahkan pemaknaan sebuah realitas, atau membuatnya lebih akrab. Penulis dapat menggunakan metafora yang kreatif untuk menjadikan proses pembacaan tulisannya oleh pembaca lebih akrab. Banyak penulis dan pemikir besar yang mengandalkan pemikirannya pada kekuatan metafora. Misalnya, penggunaan metafora base dan superstruktur oleh Marx untuk menjelaskan struktur ideologi; penggunaan metafora astronomi orbit oleh Baudrillard untuk menjelaskan fenomena perputaran ekonomi, moneter, fashion dan media; penggunaan metafora biologi rhizome oleh Deleuze untuk menjelaskan berbagai bentuk umum pertumbuhan ekonomi, sosial, kultural dan bahasa.

Sebuah Dunia yang Dilipat mengandalkan dirinya pada kekuatan metafora tersebut. Sebagai judul, melipat dunia itu sendiri adalah metafora, untuk melukiskan berbagai kondisi dunia, yang telah diringkas (space shuttle), dimampatkan (media), diminiaturisasikan (Disneyland), dipadatkan (cyberspace). Sebuah Dunia yang Berlari adalah metafora lain, untuk melukiskan kondisi kecepatan dan percepatan yang mewarnai berbagai wajah dunia (dunia ekonomi, politik, media, kebudayaan).

Ada berbagai metafora lain yang penulis kembangkan, seperti tubuh bangsa untuk menjelaskan relasi organis di antara elemen-elemen bangsa; hutan rimba tanda untuk melukiskan kondisi pertandaaan (signification) dan produksi tanda yang begitu massal, sehingga mengalami over-produksi; fatamorgana politik, untuk melukiskan dunia politik yang disarati oleh berbagai kepalsuan, kesemuan dan manipulasi, sehingga lenyap batas antara kebenaran dan kepalsuan; pengadilan bayang-bayang untuk menggambarkan wajah hukum yang dipenuhi oleh kekaburan, ketidakjelasan dan indeterminasi antara keadilan dan ketidakadilan.

Menulis itu Mendekonstruksi Diri Sendiri

Penulis bukanlah seorang yang sempurna, seperti Tuhan, yang dari awalnya mampu menghasilkan karya yang sempurna, tanpa cacat. Sebagai manusia, penulis tidak kebal dari kesalahan (pemahaman, pembacaan, pemikiran, perenungan). Oleh karena tidak kebal terhadap berbagai kesalahan, seorang penulis harus menyediakan waktu bagi refleksi diri, yaitu untuk membentangkan secara genealogis berbagai kesalahan atau aib diri di masa lalu. Penulis—terutama dalam konteks akademis—harus terbuka bagi kritik dari luar maupun kritik diri sendiri.

Penulis harus berani menilai diri sendiri secara terbuka dan jujur, sehingga melalui itu ia berani melakukan kritik terhadap dirinya sendiri. Kejujuran terhadap diri sendiri itu merupakan awal dari proses dialektika dalam penulisan. Penulis yang jujur terhadap dirinya sendiri adalah yang secara terbuka dan fair berani melihat kesalahan masa lalu (thesis) dan melakukan proses koreksi diri (anti-thesis), untuk pada akhirnya melakukan koreksi diri (synthesis)—inilah dialektika menulis. Melalui proses dialektika itulah seorang penulis dapat menghasilkan karya-karya tulis secara produktif.

Menulis, dengan demikian, adalah proses dekonstruksi diri sendiri secara terus-menerus, untuk melakukan proses self-correction yang tanpa akhir. Mendekonstruksi diri sendiri adalah semacam proses genealogi diri, yaitu proses mencoba menemukan asal-usul tak sedap atau relasi asal yang memalukan di dalam pemikiran, tulisan atau teks sendiri. Dekonstruksi diri berarti mempertanyakan secara terus-menerus sebuah tulisan atau teks, untuk melihat berbagai cacat (epistemologis, metodologis, linguistik, stylistic) di dalam pikiran-pikirannya, sehingga setiap titik akhir sebuah karya selalu dilihat sebagai permulaan baru, disebabkan selalu saja ada celah bagi pembetulan cacat dan koreksi pemikiran tersebut. Tulisan, dengan demikian, tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang selesai atau sebuah ada (being), tetapi proses menjadi secara terus-menerus (becoming).

Banyak penulis yang secara berani melakukan proses dekonstruksi diri atau genealogi diri semacam ini. Roland Barthes, seorang ahli semiotik, misalnya, melakukan koreksi besar-besaran atas pemikiran awalnya tentang semiotika (ilmu tentang tanda), yang memungkinkannya untuk beralih dari pemikir strukturalis (semiotika strukturalis) menjadi pemikir postrukturalis (semiotika postrukturalis). Barthes melihat berbagai cacat pada teori awalnya tentang tanda, dan berupaya tidak saja mengkoreksinya tetapi menolaknya, yang memungkinkan terbentangnya ruang baru bagi teori baru. Dengan demikian, proses dekonstruksi atau genealogi diri itu bersifat produktif dan transformatif.

Ada berbagai kemungkinan kesalahan atau cacat yang dilakukan penulis. Pertama, kesalahan bahasa, yaitu kesalahan dalam penggunaan kata, gramar dan tata bahasa. Kedua, kesalahan data, yaitu kesalahan dalam penulisan data (nama, tahun, kuantitas, seks), yang berakibat kesalahan informasi. Ketiga, kesalahan konseptual, yaitu kesalahan penyampaian konsep tertentu, yang dapat mengakibatkan kesalahan pemahaman. Keempat, kesalahan gaya, yaitu kesalahan dalam penerapan aspek-aspek estetik dari bahasa, yang menyebabkan kurang estetisnya sebuah tulisan. Keempat aspek kesalahan ini mungkin sama pentingnya, bergantung pada tipe tulisan yang ada.

Penulis sendiri melakukan proses dekonstruksi diri tersebut di atas, setidak-tidaknya pada dua tingkat dekonstruksi. Pertama, dekonstruksi pada proses penulisan itu sendiri (moment of writing), yaitu berbagai koreksi diri pada waktu menulis tulisan. Kadang teks (koran, tulisan jurnal) yang sedang disiapkan dibaca ulang sampai empat atau lima kali sebelum dikirim ke redaksi. Di dalam pembacaan ulang itu, ada berbagai koreksian, tidak saja mengenai ejaan, istilah dan gramar, akan tetapi juga koreksi mengenai gaya. Dalam hal ini diperlukan kesabaran dan kecermatan.

Kedua, dekonstruksi pasca-penulisan, yaitu berbagai bentuk refleksi diri yang dilakukan jauh setelah tulisan (artikel, buku) diterbitkan, dalam rangka merenungkan berbagai cacatnya, dalam rangka melakukan transformasi. Misalnya, pembacaan ulang yang penulis lakukan terhadap buku awal Sebuah Dunia yang Dilipat (1997), menemukan berbagai kekurangan, ketidaklengkapan atau ketidakdalaman pada buku tersebut, untuk kemudian melakukan berbagai bentuk pendalaman dan penyempurnaan, yang memungkinkan proses transformasi menjadi buku Dunia yang Dilipat (2003). Transformasi yang sama terjadi dari buku Hiperrealitas Kebudayaan (1999) menjadi buku Hipersemiotika (2003). Dengan melakukan dekonstruksi (atau setidak-tidaknya koreksi diri), sebuah buku tidak pernah berhenti menemukan dirinya alias mati; akan tetapi selalu hidup dalam proses menjadi dan transformasi diri yang kompleks dan tanpa akhir.

Menggali Seluruh Potensi Bahasa

Menulis menawarkan berbagai kemungkinan dunia, yaitu kemungkinan dunia yang tercipta di dalam dan bahkan di luar tulisan. Menulis berarti membentangkan horizon, membangun dunia. Struktur sebuah tulisan menawarkan dunia baru. Sebuah tulisan menawarkan harapan tentang sebuah dunia. Kemungkinan dunia itu adalah semacam jagat imajinasi (imaginative atmosphere), yang harus dibangun oleh seorang penulis ketika ia menciptakan tulisan. Imajinasi adalah pembangun dunia literasi yang sangat penting. Tanpa imajinasi—meskipun ada bahasa—tidak akan mungkin ada dunia literasi.

Akan tetapi, disebabkan kemungkinan dunia imajinasi itu tak berbatas, maka seorang penulis benar-benar harus menggali seluruh potensi dan kekuatan dirinya untuk dapat membentangkan kemungkinan dunia tersebut melalui kekuatan imajinasinya. Salah satu potensi kekuatan imajinatif yang harus habis-habisan digali oleh seorang penulis adalah potensi dan kekuatan imajinasi bahasa. Orang tidak saja dapat menggunakan bahasa sebagai media untuk berimajinasi, akan tetapi orang dapat pula mengembangkan imajinasinya tentang bahasa itu sendiri, sehingga memungkinkan kreativitas bahasa, seperti yang dicontohkan oleh Joyce. Bahasa itu adalah kekuatan, disebabkan kata-kata tidak saja dapat membuat orang menjadi paham, akan tetapi dapat menggerakkan, mempengaruhi, menggiring dan menghipnotis.

Ada banyak cara para penulis memanfaatkan kekuatan bahasa. Joyce menggunakan kekuatan neologi di dalam berbagai novelnya, yang mampu menjadi kekuatan imajinatif novelnya; Jacques Derrida menggunakan kekuatan lay-out sebuah tulisan, sehingga beberapa bukunya menggunakan pola lay-out double-text yang menarik, yang mengundang imajinasi tentang ruang bahasa; Pierre Bourdieu memanfaatkan kekuatan kalimat, dengan menciptakan kalimat yang sangat panjang, yang membutuhkan perhatian besar dalam membacanya; Ayu Utami memanfaatkan kekuatan kata-kata indigenous di dalam novelnya Shaman, sehingga mampu menghadirkan nilai eksotik.

Penulis sendiri secara sadar memanfaatkan kekuatan imajinasi kata-kata dalam menggerakkan (berpikir, merasakan, bertindak). Beberapa buku penulis oleh berbagai pihak dikatakan mempunyai kekuatan menggerakkan semacam itu, melalui bahasanya yang cenderung mengandung unsur retoris, meskipun sebagian orang lain mengatakannya sebagai bahasa hiperbolik atau superlatif. Berbagai buku tersebut mengeksplorasi kekuatan retoris tersebut.

Bahasa tidak saja mempunyai kekuatan melukiskan dunia, akan tetapi lebih jauh lagi melukiskan dunia yang belum ada, dalam pengertian dunia yang masih diimajinasikan, diyakini, diinginkan atau dihasratkan. Tugas penulis adalah mencoba menemukan dunia imajinasi, keyakinan dan hasrat tersebut, sebagai bagian dari fungsi kreatif dan produktif dari dunia penulisan dan literasi pada umumnya. Keliaran imajinasi bahasa seorang penulis tentunya sangat ditentukan oleh lingkungan budayanya, meskipun budaya itu sendiri selalu dalam proses menjadi. Oleh sebab itu, menulis adalah proses dinamis yang selalu menjadi, yaitu upaya tanpa henti dan lelah menemukan berbagai kemungkinan dunia yang tak berbatas itu.[]