Di Bawah Sinar Lampu Merkuri

Judul Buku: Di Bawah Sinar Lampu Merkuri (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Slamat P. Sinambela
Penerbit: Papyrus, Yogyakarta, 2006Berikut ini adalah kata pengantar yang aku buat di buku itu, silakan disimak dan beli bukunya hehehe…Bocah Itu Sembunyi-sembunyi Membaca Cerpen:
Sebuah Pengantar
Seorang bocah laki-laki berpakaian putih-biru, diam-diam membawa majalah remaja putri dan mengurung diri di kamarnya. Di sana, ia menghabiskan seluruh cerpen yang dimuat di majalah itu. Konon, membaca cerpen bagi bocah laki-laki adalah sesuatu yang tak lazim di lingkungannya. Teman-teman laki-lakinya lebih suka berita olahraga. Namun, bocah yang tak berminat pada olahraga itu, tetap saja lebih suka cerpen! Cerpen menyedot si bocah memasuki dunia yang lain, dunia yang menghibur dan penuh kejutan. Cerpen Donatus A. Nugroho menjadi salah satu yang ditunggu-tunggunya. Liukan-liukan di akhir cerpen-cerpen Donatus kerapkali memesona si bocah.Kira-kira lima belas tahun kemudian, si bocah yang beranjak dewasa menemukan sebuah cerpen Donatus A. Nugroho dalam sebuah tabloid remaja yang terbit di akhir 2005. Namun, dia tak sekedar penikmat cerpen lagi. Antologi cerpen yang ada di tangan Anda ini adalah karyanya!

Serpihan Proses Kreatif

Saya tak ingat kenapa saya berminat lagi pada cerpen. Ketika bekerja di Jakarta, saya menemukan Pelajaran Mengarang, sebuah cerpen Seno Gumira Ajidarma. Cerpen itu mengusik benak saya. Dalam kumpulan cerpen yang sama, saya juga menemukan Sepotong Senja untuk Pacarku, juga karya Seno, begitu menghibur, begitu bermain-main, begitu berhasil menertawakan keseriusan. Kedua cerpen tadi bukanlah yang paling berkesan, namun menjadi batu-loncatan bagi saya dalam menekuni penulisan cerpen. Karena kedua cerpen itu, saya mencoba menulis Bona Pasogit. Saya mengirimkannya ke sebuah media massa dekat tempat kos saya, di bilangan Palmerah, dan ditolak! Saya berhenti menulis sejenak.

Namun, setiap Minggu, ketika menggenggam koran, saya tergoda lagi oleh dunia cerpen. Lalu, saya coba lagi menulis. Isu posmodern dan cyberspace saya tuangkan dalam sebuah cerpen. Olala, cerpen itu dimuat di Suara Pembaruan, judulnya Huta Ginjang. Saya merasa di atas angin. Sayangnya, sampai hari ini, lembar koran yang edisinya memuat cerpen itu belum pernah saya lihat.

Huta Ginjang menjadi semacam momentum: saya harus jadi cerpenis.

Saya mendapat ide dari banyak hal. Setelah membaca China Moon, sebuah antologi cerpen bertema Tionghoa, saya menulis Pada Suatu Malam di Ambarita. Cerita seorang teman yang bertemu dengan teman wanitanya setelah bertahun-tahun mencetuskan Di Bawah Sinar Lampu Merkuri. Seorang tukang parkir yang mengantungi handphone menggerakkan saya menulis Pada Sebuah Perjalanan.

Menjadi orang lain adalah konsekuensi menulis fiksi. Semacam tipuan, yang legal tentunya. Itu pula yang kadang membuat saya geli. Ada dua pembaca Topeng yang bertanya: Mengapa tempat pelacuran itu bisa begitu detail digambarkan? Apakah ini pengalaman sendiri? Saya hanya bisa tertawa.

Godaan Honor

Motivasi pertama saya dalam menulis tidaklah muluk-muluk, yaitu untuk mendapat honor. Dangkal, mungkin. Tapi itulah adanya. Saya agak cemburu ketika seorang teman, mahasiswa jurusan Geografi UGM, menulis di salah satu media massa terbesar di Indonesia. Honor yang diterimanya saat itu setara gaji seorang sarjana yang baru lulus. Benar-benar menggoda.

Dalam kenyataannya, untuk mendapat honor tidaklah semudah yang saya bayangkan. Kerapkali karya saya ditolak media. Saya harus belajar berlapang dada dan terus mencoba menulis lebih baik lagi. Dan ketika karya saya dimuat di media untuk pertama kalinya, yang saya rasakan adalah kebahagiaan mendapat kepuasan berkarya, bukan honor.

Terima Kasih

Meskipun Marguerite Duras pernah mengatakan “Berani menyendiri, berada dalam kesepian dan keterasingan adalah hal yang harus terjadi dalam kepenulisan”, namun kenyataannya memperbincangkan karya adalah semacam kenikmatan. Adalah Arie Saptaji, yang beberapa kali memberi komentar konstruktif untuk cerpen-cerpen saya. Dia adalah mentor yang saya temukan pertama kali di jejaring jagat jembar, akhirnya juga di “darat”. Dia pulalah yang membumbui sehingga Mbak Tesa, sang editor dari Papyrus, mencoba menjajak kerjasama, sampai antologi ini terbit. Terima kasih, Mas Arie!

Saya juga berterimakasih kepada Mas Teguh Winarsho AS untuk kesediaannya berbagi cerita tentang “keringat-darah” seorang cerpenis. Juga kepada Mbak Djenar Maesa Ayu, untuk komentar atas Orang-orang Bisu, dan saran “Duh, Gusti!” pada akhir cerpen itu.

Teman-teman di milis Komunitas Penjunan—tempat saya belajar dan menumpahkan unek-unek: Sansulung John Sum, Marthino Andries, Ita Siregar, Purnawan Kristanto, Ang Tek Khun dan banyak nama yang belum dapat saya tulis (maafkanlah saya), terima kasih.

Untuk Mbak Tesa, Mbak Tina dan segenap kru Papyrus yang setia mendukung proses penerbitan buku ini, terima kasih banyak.

Buat Silvia Pohan, teman istimewa, yang menjadi editor-awal setiap cerpen saya, terima kasih untuk pisau bedahnya yang tajam, Hasian.

Untuk Sang Maha Kreatif: terima kasih untuk semuanya.

Juga buat Anda yang membaca antologi cerpen sederhana ini: terima kasih, terima kasih! Sebuah perbincangan setelah menikmati karya ini akan menyenangkan bagi saya. Temukan alamat pos-elektronik saya di bagian belakang buku ini!

Semarang, 8 Februari 2006
Salam kreatif!
Slamat P. Sinambela

Daftar Isi:

Bocah Itu Sembunyi-sembunyi Membaca Cerpen: Sebuah Pengantar
Orang-orang Bisu
Di Bawah Sinar Lampu Merkuri
Huta Ginjang
Suatu Malam di Ambarita
Parsarune dan Gereja yang Terbengkalai
Pada Sebuah Perjalanan
Topeng
Pak Gondo
Bona Pasogit
Sejuta Kenangan

Komentar Kawan:

Aroma Batak menguar di sebagian besar cerpen. Di tengah belantara teen-lit, chick-lit dan metro-lit, usungan warna lokal menawarkan oase segar. Dan yang paling penting, Slamat tampaknya telah menemukan, meminjam istilah Stephen King, “pembaca ideal”-nya – hampir setiap karyanya dipersembahkan untuk nama tertentu. Hmm….”

Arie Saptaji, penikmat fiksi, penulis Obrolan Tukang Nonton

Antologi ini cenderung melankolis. Hal-hal menarik dari kampung halaman banyak mengilhami penulis mendapatkan ide cerita. Pergolakan antar etnik dalam pertalian asmara juga disentuh meskipun tidak secara mendalam. Beberapa ending cerita dibiarkan mengambang, seperti mempersilakan pembaca untuk memilih: sedih atau bahagia. Untuk itulah buku ini perlu dibaca.”

Ita Siregar, Penulis & Novelis

Cerpen-cerpen Slamat padat pesan moral namun sekaligus ringan. Di sini, takkan kita temui pengumbaran gaya hidup serba glamour. Beberapa cerita dibiarkan menggantung untuk dengan cerdas kita gali sendiri kedalaman maknanya. Buat yang jenuh dengan cerita yang berlatarbelakang gaya hidup hedonis, antologi ini bisa jadi alternatif bacaan yang menarik. Sungguh!

Marthino Andries, Penulis Skenario & Novelis

 

Buku ini dikoleksi National Library Board Singapore,urutan 429,  lihat di sini