Orang-orang Bisu

Cerpen Slamat P.  Sinambela
Dimuat di Suara Pembaruan 09/18/2005
Cerpen ini dimuat juga dalam buku “Di Bawah Sinar Lampu Merkuri” yang diterbitkan Papyrus, Yogyakarta, 2006. Silakan beli bukunya yah 🙂

Matahari membakar kampung. Kulitku masih terasa digigiti ribuan jarum walau sudah terbalut jaket. Dari atas motorku yang uzur, aku menikmati gurauan anak-anak yang saling berkejaran di gang kecil yang aku lewati. Muatan motorku menagih kehati-hatian tambahan menghindari seliweran mereka.

Memasuki halaman rumah, aku meraungraungkan gas motor untuk memastikannya gampang dinyalakan lagi. Dengan tergopoh-gopoh, Juminten menyambutku. Dia langsung membantuku menurunkan beberapa barang belanjaan pesanannya.

“Bapak ndak lupa beli odol dan sabun cucinya kan?”

“Tidak, Bu. Ada di karton merah,” ujarku langsung menuju sebuah kursi di balai-balai rumah.

“Lho, rokok yang Ibu pesan?” tanyanya menyelidik.

“Ada, di plastik hitam. Semuanya lengkap. Ko Acuan bilang harga minyak goreng naik, harga sabun naik, rokok juga. Yang lain, mungkin akan naik juga bulan depan, Bu.”

“Lha piye iki Pak, besok-besok bisa ndak cukup buat modal dagang ini, huh….”

Istriku mulai mengomel-ngomel kecil. Setiap ada kenaikan harga dari toko Ko Acuan-agen termurah di kota kecamatan-dia akan bertingkah seperti itu.

Aku bersyukur, Juminten seorang yang setia dan ulet. Untuk seorang buruh di pabrik gula, mana mungkin aku bisa menyekolahkan anakku sampai SLTA. Dan, Juminten, dengan ketelatenannya telah membesarkan warung kelontong yang kami usahakan sejak enam tahun lalu. Jarang tak ada lauk di meja dapur. Paling tidak, ada telur ceplok atau tempe garing teman bersantap setiap hari. Sayur-asem berkuah banjir bisa dipastikan melengkapinya. Cukup memenuhi empat sehat-lah. Sempurna hanya bagi si bungsu Tono-putraku berumur lima tahun. Setiap hari, harus ada tambahan susu buatnya.

“Bu, tadi warungnya rame, ndak?” tanyaku sambil mengipas-ngipas sepotong koran bekas

“Lumayan Pak. Tapi, kelihatannya Bu Marman juga akan buka warung di ujung jalan. Aku dengar dari ‘Jeng Tuti, waktu dia belanja di sini. Kalau jadi begitu, piye yo, Pak? Rejeki kita bisa berkurang toh yo?” Tangan-tangan istriku itu terus bergerak. Barang-barang belanjaan dikeluarkan satu-persatu, disusunnya dengan kecepatan yang selalu mengagumkan.

“Welah, Bu, Bu. Rejeki kan Tuhan yang atur. Susah payah juga ndak menambahnya. Mbok ya jangan terlalu dipikirkan. Lagipula kan belum pasti toh ya, Bu Marman ngewarung di sana. Tapi, ngomong-ngomong, mana nih kopinya, Bu?”

“Maaf Pak, sampai lupa. ‘Ti, Wati, ambilkan kopi Bapakmu, Nduk!” Dia berteriak, sambil tangannya terus merapikan beberapa dagangan yang bergeser dari tempatnya. Tutup-tutup stoples yang terlihat kendor dikencangkan

“Lha, Wati sudah pulang, Bu?” tanyaku penasaran.

“Sudah Pak, di sekolahnya hari ini ada penyuluhan tentang Pilkada. Jadi anak-anak lebih cepat pulang.”

“Ooh…”

Tak lama, Wati, putri sulungku muncul dengan nampan berisi kopi yang masih panas. Tubuhnya terlihat melampaui umurnya. Beberapa kali aku diam-diam mendapatinya berlama-lama berdandan di cermin besar di ruang tamu-yang hanya ada satu di rumah ini. Aku geli sendiri jika mengingatnya.

“Kopinya, Pak,” ujarnya, kemudian duduk di sebelahku.

“Makasih ya, Nduk. Gimana sekolahmu?”

“Baik, Pak,” ujarnya tersenyum manis.

Aku sudah tahu, paling dia akan bilang baik. Dia selalu dapat rangking. Salah satu yang aku bisa banggakan. Putriku bisa masuk di SMU negeri dengan prestasi yang baik. Walaupun kadang aku kerap merasakan sebuah kekalahan tatkala perlengkapan belajarnya tidak dapat terpenuhi. Kebutuhan sekolahnya menyita bagian yang cukup besar dari penghasilan kami.

“Pak, mbok Wati dibelikan Majalah, Pak. Wati kan harus tahu perkembangan dunia perempuan. Sudah tak bilangin ibu, tapi ndak pernah dikasih,” rengeknya.

“Sabar ya, Nduk. Kalau Bapak ada duit, ntar tak belikan. Yang penting uang sekolahmu lunas dan bisa makan setiap hari kan sudah syukur toh, Nduk?” ujarku sambil merasakan campur-aduk, antara geli dan nelangsa.

“Bener lho, Pak! Matur nuwun ya, Pak!” segaris senyum terpatri di wajahnya. Wati beranjak dari kursinya ke dalam rumah. Wajah sumringah-nya itu menekan senut-senut yang mulai terasa di kepalaku. Entah bagaimana memenuhi keinginannya itu.

“Pak, mbok ya jangan selalu dituruti putrimu itu. Masih banyak yang harus kita pikirkan. Hutang pada bu Sastro-uang pengobatan si Tono yang dulu-masih seratus delapan puluh ribu lagi lho, Pak,” istriku mengangkat suara.

“Iya, iya Bu. Bapak ingat. Nanti gajian Bapak ngutang dulu ke pabrik. Bapak mau istirahat dulu,” ujarku.

Kulangkahkan kakiku menggapai kamar. Sambil lalu, kuperhatikan Wati yang sedang serius memelototi TV ukuran paling kecil itu. Di kamar, aku langsung menghempaskan badanku.

*

“KANG Pri, Kang…!” Suara itu memaksaku menoleh. Kulihat Budiyono setengah berlari ke arahku.

“Ono opo, Bud?” Kuhentikan motor bututku.

“Aku cuma mau bilang kalau Suharto ndak bisa masuk, Kang. Istrinya bilang kalau dia tiba-tiba bisu. Ndak tahu kenapa. Sudah dibawa ke dokter puskesmas, tapi belum ketahuan sakit apa. Dokter di kota kecamatan saja geleng-geleng kepala, ndak ngerti. Kasihan betul dia, Kang.”

“Jadi dia ndak kerja hari ini?” tanyaku

“Iya Kang, tolong Kang Pri bilang ke mandor pabrik juga. Aku ndak enak langsung ke pak mandor.”

“Iya, nanti aku bilang ke pak mandor,” kataku. “Mau pulang?”

“Iya, Kang. Tadi aku shift malam. Matur nuwun ya, Kang.” Dia meninggalkanku. Motorku kudorong masuk ke parkiran. “Kasihan Suharto,” batinku.

Keesokannya, tambah lagi buruh jadi bisu. Sebagai senior, aku segera mendapatkan kabar tentang teman-teman kerja itu. Ini membuat bagian produksi harus bekerja keras. Sejak krisis, satu regu diciutkan hanya beberapa orang. Ini membuat setiap regu akan kesulitan jika ada yang tidak masuk kerja.

Setiap hari, selalu bertambah yang jadi bisu. Seperti sambaran geledek. Pembicaraan di setiap sudut kampung hanya cerita tentang orang-orang bisu. Belum ada dokter yang mengetahui penyebabnya. Dukun-dukun kampung juga mulai kebingungan.

“Si Sapto juga sudah bisu,” ujar yang satu.

“Mbak Sri, bagian kontrol kena juga.”

“RT-ku juga jadi bisu,” suara yang lain

“Kang Pri, kenal dengan Plimin, tetangga RT-mu? Dia juga jadi bisu.”

“Sutikno, kakak Marni, juga bisu, Kang….”

*

SHIFT malam cukup melelahkanku. Hari ini, Minggu pagi, aku ingin istirahat tidur di rumah. Untung saja tidak ada mesin yang rewel malam tadi. Target produksi terlewati sedikit. Lebih dua ton.

“Wati, Wati, kemari Nduk!” seruku begitu memasuki pintu depan rumah. Aku tidak mendengar satupun sahutan.

“Wati…!” Aku mulai mendekati kamarnya yang tidak tertutup. Kusibakkan tirai pintunya. Aku mendapati wajah putriku yang memucat. Dia memandangku seperti melihat sesuatu yang mengerikan. “Kamu kenapa, Nduk?”

Dia menjauhkan tubuhnya dariku, kemudian dengan telunjuknya dia menunjuk bibirnya, dan mengisyaratkan kata “tidak”. Tapi, aku belum mengerti.

“Bicara Nduk, bicaralah!”

Dia terlihat ketakutan, air matanya tidak terbendung lagi. Aku memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya.

“Nduk, apa yang terjadi?”

“Nyanyanya…nyanya..nya..nya…nyanya…” itu saja yang terlintas di telingaku.

Seperti ada kala yang menyengatku tiba-tiba. Emosiku memuncak. Tubuhku bergetar. Berulangkali aku mengepalkan tangan, geram.

“Coba ulangi, Nduk. Coba ulangi!”

Lamat-lamat dia mengulanginya, tapi aku masih belum bisa mengerti maksudnya. Bunyinya masih “nyanyanya….”

Aku sambar pena dan selembar kertas di atas mejanya. Kusodorkan ke tangannya. “Sejak kapan kamu tidak bersuara lagi, Nduk?” Suaraku agak memaksa.

Mataku mengikuti tulisan tangannya:

Wati ndak tahu, Pak. Tadi malam, Wati masih bisa bicara sepulang dari rumah Pak Sastro. Tapi setelah pagi, Wati sudah ndak bisa bersuara lagi. “Ada apa di rumah Pak Sastro, Nduk? Tumben ke sana?” selidikku

Wati dikasih empat puluh ribu agar pilkada nanti Wati milih Pak Sastro. Uangnya buat beli Majalah. Aku tak dapat menahan diri lagi untuk memberitahu istriku, “Bu, Ibu…!” Aku setengah berlari mencarinya ke warung, tapi tetap tidak ada sahutan. Di sana, kutemukan istriku memandangku dengan tatapan yang sangat aneh.

“Lho, kog ndak dijawab, Bu?”

Dari bibirnya kudengar, “Nyanya…nya..nya..nyanya..nya….” Hampir seperti bisikan.

Duh, Gusti!!! *

Palmerah-Semarang, 3 Mei 2004 – 29 Juni 2005

A gift to Christina Margaretha Sinambela

Advertisements
%d bloggers like this: