Melihat Allah

Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah (Matius 5:8)

Sherron Watkins, wakil presiden Enron, perusahaan terbesar ke-7 di Amerika, menulis surat ke Chairman Enron dan melaporkan penyelewengan metode akuntansi perusahaan tersebut. Penyelewengan tersebut menutup-nutupi hutang perusahaan milyaran dollar dengan skenario kontrak kerjasama yang mencurigakan, sementara eksekutif top Enron meraup keuntungan pribadi dengan stock option mereka. Enron akhirnya menyatakan diri bangkrut dengan kerugian sebesar US $618 juta dan write-off US $1.2 milyar.

Watkins dengan berani memilih untuk menyuarakan kebenaran walau sebenarnya takut dengan masa depannya, takut dengan apa yang terjadi kelak dengan keluarganya (karena dia pencari nafkah). Namun ada yang lebih besar dari ketakutannya. Menyelamatkan organisasi dan bahkan stakeholders organisasi yang lebih luas. Akibat laporannya, ia turut berperan merontokkan Arthur Andersen, satu dari lima besar perusahaan akuntansi kelas dunia yang turut dalam kecurangan itu.

Watkins menjadi salah satu contoh seorang anak Tuhan (ia seorang Kristen seperti laporan Time) yang menjaga kesucian hatinya di dalam dunia yang semakin bobrok, yang berakibat hancurnya karirnya, masa depannya, dan keluarganya.

Watkins telah mengasihi kebenaran dan membenci kejahatan. Bagaimana dengan kita?

Kadangkala untuk melihat Kemuliaan Allah, kita diharuskan menghancurkan karir kita—SPS

Artikel ini pernah dimuat di Agenda Pribadi 2008, terbitan Gloria Graffa, Yogyakarta

Advertisements

Kekhawatiran

Perikop: Mazmur 91:1-16
Nas: Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. – 1Petrus 5: 7

Setiap kali terbersit kekhawatiran akan masa depan—kesehatan, pendidikan—anak saya (maklum saja, saya baru menjadi ayah lima bulan lalu), saya selalu dikuatkan oleh sebuah kesaksian seorang pelayan di kota asal saya:

”Ketika saya mulai kuliah, ladang-ladang kopi kami berbuah lebat, harga kopi bagus, ayam-ayam ibu saya semua bertelur. Semua biaya kuliah, biaya kos dan biaya makan saya terpenuhi. Setelah saya menjadi sarjana, ayam semuanya kena tetelo, kopi pun bahkan tidak berbunga,” kata bapak itu.

”Tuhan mengatur semua keperluan hidup saya. Saya dapat mengandalkan-Nya. Semuanya tepat pada waktunya.”

Kekhawatiran memang seringkali muncul di saat kita membandingkan kerasnya kehidupan saat ini dan belum diketahuinya masa yang akan datang. Tetapi firman Tuhan, ”Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu,” berimplikasi bahwa tak setitikpun kuasa ada di tangan saya untuk mengubah masa depan anak saya. Dan, tentu saja, sebenarnya Tuhanlah yang memeliharanya.

Apa pun yang akan terjadi dalam kehidupan anak saya kelak, ia dapat bergantung total pada pemeliharaan Allah, yang akan menaunginya sampai akhir hidupnya.

Inilah satu keunikan iman Kristen. Sebuah iman yang dimulai dengan persetujuan atas berdaulatnya Allah atas segala kehidupan saya dan Anda. Dan, mengandalkan semua janji-janji-Nya atas masa depan kita. []

Kita mungkin khawatir akan masa depan, namun kita harus yakin bahwa Dia akan terus memelihara.

Penderitaan

oleh Slamat P. Sinambela

Perikop: Ayub 1: 1-22
Nas: O, alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusannya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! – Roma 11:33

Hari itu 15 Februari 1947. Sebuah pesawat Avianca Airline menuju Equito, Ekuador, menabrak puncak Gunung El Tablazo yang tingginya 14.000 kaki tidak jauh dari Bogota, kemudian jatuh, sebagai gumpalan logam yang menyala, ke jurang di bawahnya. Seorang warga New York yang masih muda, Glenn Chambers, adalah seorang korban. Dia merencanakan untuk memulai pelayanan dengan Voice of the Andes, impian seumur hidup yang tiba-tiba gagal dan menjadi mimpi buruk.

Sebelum meninggalkan Bandar Udara Miami pada pagi hari itu, Chambers cepat-cepat mengirimkan surat kepada ibunya di atas secarik kertas yang ditemukannya di lantai terminal. Kertas itu dulunya adalah sebuah iklan yang tercetak dengan satu kata WHY (mengapa) di tengah-tengahnya. Tetapi pada waktu antara pengiriman dan penerimaan surat itu, Chambers tewas. Setelah akhirnya surat itu datang, ibunya melihat pertanyaan menantang yang menghantuinya seumur hidupnya—MENGAPA?

Penderitaan selalu mendapat peran ganjil dalam perjalanan iman seseorang. Semakin baik kondisi iman seseorang, maka semakin positif efek penderitaan bagi kehidupan rohani-nya. Charles R. Swindoll melukiskan Allah pada saat kita masuk di dalam penderitaan sebagai berikut:
TUHAN TERLALU ADIL SEHINGGA TIDAK MELAKUKAN APAPUN YANG KEJAM …
TERLALU BIJAKSANA SEHINGGA TIDAK MEMBUAT KESALAHAN …
TERLALU MENDALAM SEHINGGA TIDAK MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI.

Kiranya kita dapat lebih arif memahami penderitaan, dan memaknai Allah di saat-saat Dia terlihat berbeda.[]

Seseorang yang beriman sejati seharusnya menanggapi penderitaan sama dengan suka cita. Semuanya merupakan anugerah Tuhan.

(dimuat di renungan harian Blessing, Januari 2008)

Menjadi Pendorong

oleh Slamat P. Sinambela

Perikop: Kolose 4:2-6
Nas: Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana harus memberi jawab kepada setiap orang. –  Kolose 4:6

Suatu kali seorang gubernur negara bagian di Amerika berkunjung ke sebuah daerah yang kumuh di bawah kekuasaannya. Sang gubernur datang bersama istrinya, seorang kulit putih yang cantik. Istrinya memakai topi lebar dengan senyum menawan. Di antara kerumunan orang-orang kulit hitam di kawasan itu, terdapat seorang gadis miskin berkulit hitam yang mengagumi sang istri gubernur. Tiba-tiba sang istri gubernur datang kepada gadis kecil itu, menyalaminya dengan hangat dan berkata, ”Hai, kamu cantik sekali, matamu indah seperti bintang.”

Saat kembali ke rumah, si gadis cilik itu bertanya-tanya dalam hati, ”Benarkah yang dikatakan istri gubernur tadi? Apakah aku cantik dan mataku seperti bintang?”

Sejak saat itu kehidupannya berubah. Ia berjuang sekuat tenaganya mengejar impiannya dan bertahun-tahun kemudian menjadi orang yang sangat berhasil, selebriti, pengusaha, dan pembawa acara yang sangat terkenal di seluruh dunia. Bahkan, beberapa orang biasa bisa jadi selebriti bila terpilih diwawancarainya. Gadis kecil berkulit hitam itu adalah Oprah Winfrey.
Dalam Alkitab, Barnabas (seorang yang seperti nyala api yang berkedip-kedip) menjadi pendorong Paulus (yang seperti lampu sorot) yang luar biasa melayani Tuhan. Seringkali seseorang yang dimotivasi menjadi jauh lebih hebat dari motivatornya. Perintah untuk menjadi pendorong banyak kita temukan di dalam Alkitab. Kita seharusnya memulainya dari keluarga kita, sahabat-sahabat kita, lalu orang-orang lain di sekitar kita. []

Satu kalimat yang membangun bisa mempengaruhi seluruh dunia. Maka ucapkanlah!

(pernah dimuat  renungan harian Blessing, Januari 2008)