Menulis sebagai Gaya Hidup [Majalah Bahana, ed. Februari 2013]

tulisanku di bahanaMenulis Sebagai Gaya Hidup

[dimuat di Majalah Bahana, Edisi Februari 2013, Vol. 262, halaman 73]

Beriku adalah naskah awal sebelum diedit redaksi:

[SEMARANG] Komunitas Semarang Menulis, sebuah komunitas Kristen yang bergerak di bidang literasi, bekerja sama dengan LPMI Semarang , mengadakan pelatihan dasar menulis, Sabtu, 29 September 2012, dengan tajuk “Menulis Sebagai Gaya Hidup”.

Acara yang diselenggarakan di kantor LPMI di bilangan Ngesrep, Semarang, diikuti oleh 22 peserta yang terdiri dari staf-staf LPMI, para hamba Tuhan dan mahasiswa. Dua orang narasumber yang dihadirkan adalah Arie Saptaji dan Slamat P. Sinambela.

Arie Saptaji, penulis 27 buah buku,  mengulas tentang dasar-dasar menulis, mulai pencarian ide dan metodenya, pengenalan kalimat sampai analisa kelengkapan kalimat. Pemred RH Sahabat Gloria ini juga mencoba melakukan beberapa praktik singkat yang melibatkan semua peserta.

Untuk menghasilkan tulisan yang baik, Arie menyarankan peserta untuk membaca karya penulis bermutu seperti Rendra, Seno Gumira, Umar Kayam, Ahmad Tohari, dsb. Bagi Arie, membaca karya sastra bermanfaat untuk meluweskan tulisan, bahkan bagi penulis nonfiksi sekalipun. Arie berharap peserta meluangkan waktu menulis setiap hari sampai kegiatan ini menjadi gaya hidup.

Sementara itu, di sesi kedua, Slamat P. Sinambela, salah satu founder Komunitas Semarang Menulis, mencoba membagikan beberapa hasil penelitian tentang manfaat menulis. Managing editor pada TelitiKata.com ini menyayangkan betapa rendahnya kemampuan menulis di kalangan Kristen dewasa ini. Sinambela mencoba memberikan provokasi ada peserta untuk menekuni aktivitas yang merupakan salah satu warisan kekristenan ini.

Menutup acara, Piter Randan Bua, koordinator Komunitas Semarang Menulis, berharap dalam beberapa waktu ke depan, komunitas ini akan menghasilkan para penulis Kristen yang tangguh. Tidak seperti pelatihan menulis yang biasanya tanpa follow up, para peserta pelatihan ini akan mengadakan diskusi berkala untuk terus mempertahankan semangat menulis para peserta secara gratis. Soli Deo Gloria. [sps]***

Bapak Rumah Tangga, Kenapa Tidak?

Berikut adalah Artikel menarik yang ditulis Pramana Sukmajati di  Intisari No. 586 edisi Desember 2011. Tulisan tersebut dapat diunduh di sini.

Wawasan Kristen, Etika Kerja dan Kekayaan

oleh Slamat P. Sinambela

(Artikel ini dulu dipesan seorang teman untuk dijadikan prakata di dalam salah satu bukunya, namun buku tersebut, yang semula akan diberi judul Bolehkah Orang Kristen Kaya, sepertinya belum sempat terbit. Jadi mohon maaf jika tulisan ini terasa tercerabut dari bagian naskah yang lebih besar 🙂 )

Beberapa waktu sebelum diminta menyiapkan tulisan ini, saya mengikuti sebuah seminar bertajuk Memulai Bisnis dengan Modal Otak, yang diselenggarakan Greenleaf, sebuah organisasi pebisnis Muslim. Saat pembicara mencoba menggali beberapa alasan langsung dari peserta, tentang mengapa tidak/belum memulai bisnis, tercuatlah beberapa masalah. Salah satu yang saya tangkap adalah: “takut gagal”.

Sang pembicara yang memukau sejak awal, mulai menawarkan cara berpikir yang berbeda kepada para peserta. “Mengapa kita takut gagal?” tanyanya. Kemudian dia menjawab, “Alasan yang paling pasti adalah  karena kita masih menganggap harta atau uang yang kita investasikan adalah milik kita, bukan milik Allah. Jadi, jika Anda masih takut untuk berinvestasi, tentu saja bukan dengan cara yang ngaco atau sembrono, iman Anda saya pertanyakan.”

Saya tertegun. Saya mengaminkannya. Seringkali masalah terbesar dalam hidup kita adalah pola pikir atau wawasan kita atas berbagai persoalan hidup. Harry Blamires, pada tahun 1963,  menulis kalimat yang sangat tajam dalam bukunya The Christian Mind:

“Orang Kristen…menerima agamanya, moralitasnya, penyembahannya, budaya spiritualnya tetapi menolak wawasan hidup Kristennya yang religius, yaitu wawasan yang meletakkan semua isu duniawi di dalam konteks kekekalan, yang menghubungkan segala persoalan manusia—sosial, politik, budaya—dengan landasan-landasan doktrinal iman Kristen, dan melihat segala sesuatu di bawah terang supremasi Allah dan kefanaan dunia….”

Wawasan itulah yang diusung di dalam buku ini, khususnya pandangan Kekristenan terhadap uang dan harta. Sejak mengenalnya secara pribadi, saya mendapati minatnya pada wawasan Kristen yang menonjol. Tulisan-tulisannya yang mengintegrasikan iman dan kehidupan nyata bisa juga ditilik pada karya-karyanya yang lain.

Etika Kerja Protestan

Apa yang membuat negara Barat secara umum dan Amerika secara khusus menjadi negara yang kaya? Satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah Etika Kerja Protestan. Etika kerja ini adalah salah satu sumbangan terbesar reformasi.

Pada abad pertengahan, para penulis menganggap bahwa bekerja yang tingkatannya tinggi adalah mengabdikan hidup melayani Tuhan (menjadi biarawan atau pendeta). Salah satu penulis, Eusebius dari Caesarea berpendapat bahwa kehidupan Kristen sempurna bila seseorang mengabdikan diri kepada Allah, tidak ternoda oleh kerja jasmani (Mc Grath, 1997). Tradisi ini telah memberikan anggapan bahwa bekerja yang bukan bersifat gerejawi, dilihat sebagai suatu yang merendahkan derajat. Orang Kristen yang bekerja bukan di gereja pada masa itu, adalah Kristen kelas dua.

Reformasi telah mengubah sikap-sikap tersebut. Martin Luther memulainya dengan  menggunakan kata “beruf” (yang bermakna “panggilan” pada bahasa Jerman abad pertengahan—hanya dimaksudkan untuk para biarawan/pendeta) pada tulisan-tulisannya untuk kegiatan dunia sehari-hari. Suatu perkembangan serupa terjadi untuk kata “talent” (talenta). Talenta secara harfiah merujuk pada kepingan perak atau emas (Perumpamaan Talenta, Luk 19: 11-27). Khotbah-khotbah di abad pertengahan menafsirkan talenta secara metaforis sebagai anugerah yang dicurahkan Allah secara rohani bagi orang-orang Kristen tertentu. Namun, John Calvin menafsirkan talenta dalam pengertian panggilan duniawi orang Kristen dan kemampuan-kemampuan dan keterampilan    yang diberikan Allah bagi mereka, supaya mereka dapat bekerja lebih efektif di dalam dunia (McGrath, 1997).

Bagi reformator-reformator itu, semua jenis pekerjaan, betapapun rendahnya sanggup memuliakan Allah. Setiap orang Kristen, mengutip pendapat Luther, adalah imam-imam. Dengan kata lain, jika Anda adalah seorang dokter, maka Anda adalah Hamba Tuhan di bidang kedokteran. Jika Anda seorang pekerja Cleaning Service, Anda adalah Hamba Tuhan di bidang Cleaning Service. Semuanya harus bekerja sama seperti seorang pendeta yang melayani di gereja. Perubahan makna “kerja” sejak jaman reformasi ini, secara signifikan, telah menyebabkan kemajuan di berbagai bidang.

D. James Kennedy & Jerry Newcombe (1999) menggambarkan Etika Kerja Protestan secara sederhana sebagai berikut:

Pertama-tama, kami tidak memperdulikan kekuatiran (Filipi 4:6).

Kedua, kami mendapat bantuan dan tuntunan Allah yang memberikan kami kekuatan tambahan untuk melaksanakan tugas kami.

Ke-tiga, kami punya kearifan baru dan gagasan baru yang datang dari Allah (Yak 1:5)

Keempat, mereka yang ditebus diberikan kekuatan untuk bertahan dan meneruskannya apabila orang lain jatuh dan roboh.

Kelima, kami punya tujuan untuk apa yang kami lakukan. Pekerjaan kami, apapun pekerjaan itu, dilakukan demi kemuliaan Allah.

Kekayaan

Jangan mencuri, … Jangan mengingini apapun yang dipunyai sesamamu” (Kel 20: 15, 17). Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa Allah mengijinkan kepemilikan kita atas uang atau harta. Ini adalah salah satu Kebenaran Allah. Kita dapat melihat setiap negara yang mengadopsi paham komunis—yang tidak mengakui kepemilikan pribadi—seringkali rontok di tengah jalan.

Berapa pentingkah berbicara tentang uang bagi orang Kristen? Larry Burkett pernah menulis, “Uang adalah pokok pembicaraan yang penting sehingga hampir dua per tiga perumpamaan yang diwariskan Kristus berbicara mengenai menggunakan dan menangani uang. Itu saja sebenarnya memberitahu kita betapa pentingnya mengetahui rencana Allah untuk keuangan.” (Kennedy & Newcombe 1999)

Salah satu pernyataan Tuhan yang paling mengejutkan adalah bahwa betapa sukarnya seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (lih. Luk 18:24-25). Namun, ini hanya satu dari banyak pernyataan Tuhan tentang kekayaan. Kalau kita kaya apakah kita lebih sulit melayani Tuhan daripada kalau kita miskin? Jawabnya: tidak! orang kaya dicobai untuk menyangkal Allah, namun orang miskin dicobai untuk mengutuk Dia (lih. Amsal 30: 8-9).

Kini, pertanyaannya: Boleh nggak orang Kristen kaya?

Kiranya buku ini jadi berkat dalam kehidupan Anda. Soli Deo Gloria.

Semarang, 8 Oktober 2006

Empat Jari Anugerah

oleh Slamat P. Sinambela

Anda bisa memainkan Ode to Joy karya Beethoven sampai dengan Fantasie Impromptu karya Chopin pada piano? Mungkin mudah bila Anda telah bertahun-tahun belajar piano dengan kondisi sepuluh jari tangan yang lengkap. Tapi, pianis satu ini bisa melakukannya hanya dengan empat jari yang ia miliki. Di samping itu, ia juga mengalami kecacatan mental.

Hee Ah Lee

Hee Ah Lee nama gadis pianis itu. Ia menderita lobster claw syndrome. Pada masing-masing ujung tangan Hee terdapat dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting.  Tingginya hanya 104 Cm, yang menyulitkannya untuk menginjak pedal piano. Gadis luar biasa itu dilahirkan oleh Woo Kap Sun pada tanggal 9 Juli 1985.

Woo sebelumnya telah mengetahui kalau anaknya itu akan dilahirkan cacat. Ayah Hee sendiri seorang bekas tentara Korea. ”Ada sanak keluarga kami menganggap itu sebagai aib. Mereka bahkan menyarankan agar jika kelak lahir, bayi itu dikirim ke panti asuhan,” kata Woo.

Sang ibu menolak saran itu. Ia menerima Hee sebagai kenyataan dan anugerah. Nama yang ia berikan cukup indah. Hee berarti suka cita dalam bahasa Korea. Dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh, sedangkan Lee adalah nama marga. Nama Hee Ah Lee berarti suka cita yang terus tumbuh.

Saran Fisioterapis
Saat Hee berumur enam tahun, mengangkat pensil pun ia tak sanggup. Atas saran para ahli, ia dianjurkan untuk belajar piano untuk menguatkan otot-ototnya. Cho Mi Kyong, guru piano pertamanya, memperlakukan Hee layaknya murid sepuluh jari. Ia tidak melatih Hee dengan rasa kasihan karena kondisi fisik. ”Guru saya bilang, jangan bersikap sebagai orang cacat. Tetapi bermainlah sebagai orang normal,” kenang Hee.

”Aku berlatih terus hingga lelah dan menangis. Betapa sulit bermain dengan empat jari. Susah sekali bagiku memainkan notasi yang bersambungan,” kata Hee. Setiap kali Hee memainkan arpeggio atau chord secara melodik dan runut, memang terdengar ada not yang terlompati. Tapi itu tidak merusak melodi apapun atau mengubah bangun komposisi. Ia mengaku 70 persen bermain dengan hati dan sisanya dengan teknik yang ia kondisikan untuk empat jari.

Woo berperan banyak dalam pembentukan Hee. Ia memperlakukan Hee sebagaimana anak-anak lain. ”Ibu menanamkan rasa percaya diri padaku. Bahwa aku harus bisa melakukan segalanya sendiri. Bahwa kalau aku bisa main piano, aku bisa melakukan apa saja, meski aku tahu itu makan waktu,” ungkap Hee. Bayangkan, untuk memainkan karya Chopin, Fantasia Impromptu, Hee berlatih lima sampai sepuluh jam sehari selama lima tahun. Hasilnya memang luar biasa. Umur 12 tahun, Hee telah menggelar resital piano tunggal.

Hee Ah Lee

Sederet penghargaan ia peroleh. Ia juga telah konser keliling dunia, termasuk bermain bersama Richard Clayderman di Gedung Putih. Di dunia, ia dikenal sebagai The Four Fingered Pianist (Pianis Berjari Empat).

Untuk apa yang dimiliki oleh tubuhnya, yang kita katakan golongkan sebagai kekurangan, Hee menyebutnya sebagai, ”Special gift, anugerah spesial dari Tuhan.”

Begitulah, Hee Ah Lee telah menjadi inspirasi yang hidup bagi mereka yang sempurna.[]

Artikel ini pernah dimuat di renungan harian Blessing, Januari 2008