Kiat Menulis Renungan

oleh Purnawan Kristanto

Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel.  Di dalam menulis artikel penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan dan keterampilan (memberi makanan bagi otak), tapi dalam renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi makanan pada jiwa dan roh).

Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan lebih dari satu sumber tulisan.  Sedangkan dalam renungan, berpusat pada satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500 s/d 2000 kata. Sedangkan dalam renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan dari pengalaman batin (heart).

Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca. Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan.  Dia lalu mencari jawabannya melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat dalam Firman Tuhan.  Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu kepada pembaca.

Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi  Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.

Ada beberapa tipe renungan:

1.      Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata.  Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak sesuatu.

2.      Renungan yang memberi ketenangan.  Biasanya berisi kata-kata penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami pergumulan.

3.      Renungan yang memberikan teguran.  Renungan ini memperingatkan pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa mendatangkan dosa.

4.      Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu.  Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.

Menggali Ide

Kesulitan utama dalam menulis renungan adalah memilih tema renungan. Dalam satu tahun ada 365 renungan yang harus ditulis dengan tema yang bervariasi. Jika kita sudah menulis renungan selama bertahun-tahun maka lama-lama lumbung tema akan menipis. Lalu bagaimana menyiasati situasi ini? Berikut ini ada beberapa metode untuk menggali gagasan penulisan renungan (Disarikan dari buku ”Metode Pemahaman Alkitab yang Dinamis”, oleh Rick Warren):

1. Metode Berdoa

Metode ini meliputi pemahaman sebagian dari Alkitab, bersaat teduh, dan berdoa mohon bimbingan Roh Kudus. Ini dilakukan sedemikian lama sehingga Roh Kudus memperlihatkan cara menerapkan dalam kehidupan secara pribadi, praktis, bisa dilakukan dan terukur.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

Pertama: Berdoa memohon Allah menunjukkan kehendak-Nya

Kedua:  Merenungkan ayat yang terpilih untuk dipelajari. Merenungkan dapat disamakan dengan sapi yang memamah biak. Sapi menelan rumput ke dalam perut. Rumput itu dikeluarkam lagi untuk dikunyah pelan-pelan. Perenungan Alkitab dapat menggunakan cara visual. Misalkan mempelajari Yohanes 4, Anda membayangkan sedang berada di dekat Yesus dan perempuan di sumur dekat Sikhar. Renungkan: bagaimana perasaan Anda jika Anda adalah orang yang dimintai minum oleh Yesus? Emosi apa yang muncul jika Anda adalah salah seorang murid Yesus yang menyaksikan peristiwa itu?

Ketiga, catat aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi ini harus bersifat PRIBADI, PRAKTIS, DAPAT DILAKSANAKAN dan DAPAT DIBUKTIKAN.

2. Metode Mutu Karakter

Metode ini merupakan cars untuk mencari apa kata Alkitan tentang sifat pribadi khusus dari seseorang, dengan maksud utama memberlakukannya bagi diri kita.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

Pertama, tentukan mutu karakter yang akan dipelajari. Carilah padanan kata (sinonim) sehingga Anda lebih bisa mengerti.

Contoh:

Integritas
Kejujuran
Setia
Ketekunan
Ketulusan
Kerelaan

Kedua, tuliskan lawan kata dari karakter tersebut (antonim). Misalnya lawan kata Kejujuran adalah Kebohongan.

Ketiga, lakukan studi sederhana tentang kata-kata tersebut. Telusuri Alkitab dan dapatkan mutu-mutu karakter yang digunakan dalam Alkitab. Dalam hubungan apa kata itu dipakai. Gunakan kamus Alkitab, ensiklopedia atau buku lainnya yang bisa menjelaskan arti istilah tersebut. Misalnya kata ”lemah lembut” dalam bahasa Yunani berarti memecahkan sesuatu dan membayanya ke dalam ketaatan yang penuh. Dengan demikian, ”lemah lembut” bukan berarti kelemahan, justru sebuah kekuatan untuk senantiasa berada di bawah ketaatan pada Yesus Kristus.

Keempat, gunakan acuan silang (cross reference). Gunakan konkordansi, ensklopedia dan tafsir, lalu ajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apa manfaat dari karakter ini?
Konsekuensi apa yang timbul dari karakter ini?
Apa janji Tuhan yang terkandung dalam karakter ini?
Apa peringatan atau larangan  Tuhan yang terkandung dalam karakter ini?
Apa perintah Tuhan yang terkandung dalam karakter ini?
Penulis kitab apa yang sering menggunakan istilah ini?
Buatlah ringkasan dari jawaban Anda.

Kelima, lakukan studi biografi singkat. Pilihlah satu tokoh Alkitab yang mempeerlihatkan mutu karakter ini. Ajukan pertanyaan:

Apa yang diperlihatkan dari karakter orang ini?
Bagaimana karakter itu mempengaruhi hidupnya?
Apakah karakter itu membantu atau menghambat hidupnya?
Apa yang dihasilkan orang itu dalam hidupnya?

Keenam, bayangkan situasi dalam kehidupan yang menghendaki adanya karakter ini. Tuliskanlah aplikasi untuk menerapkan karakter ini.

3. Metode Biografis

Metode ini berusaha untuk menemukan keberhasilan atau kegagalan individu tertentu dalam Alkitab.

Pertama, Pilih nama dalam Alkitab

Kedua, tulislah data seputar orang itu. Misalnya tentang lahirnya, peristiwa besar dalam hidupnya, prestasinya, apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya, dan kematiannya.

Ketiga, tuliskan kesan pertama Anda setelah melakukan  pembacaan pertama. Buatlah catatan dari hasil pembacaan Anda. Tuliskan persoalan, pertanyaam atau kesulitan yang Anda temukan selama Anda membaca referensi itu.

Ketiga, buatlah kerangka kronologis (pembacaan kedua). Baca kembali catatan Anda dan buatlah kerangka kronologisnya. Ini akan membantu Anda memperoleh perspektif baik atas kehidupannya. Hal ini akan membantu Anda melihat perubahan dalam kehidupan tokoh tersebut. Misalnya:

Empatpuluh tahun pertama, Musa belajar menjadi seseorang di istana Firaun (learning to be somebody).

Empatpuluh tahun kedua, Musa belajar menjadi bukan siapa-siapa di gurun pasir Midian. (learning to be nobody)

Empatpuluh tahun ketiga, Musa belajar menjadi orang yang taat pada Allah (learning to be somebody subjected to LORD)

Keempat, temukan mutu karakter yang dimiliki orang ini.

Kelima, Carilah bagaimana kebenaran Alkitab diungkapkan dalam kehidupannya. Misalnya, apakah hidupnya melukiskan janji Allah, “bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mzm 37:4)?

Kelima, tuliskan aplikasi pribadi:

Apakah saya melihat sesuatu dari diriku yang ada di dalam kehidupan orang ini?
Apakah ia memperlihatkan beberapa dari kelemahanku?
Apakah ia memperlihatkan kekuatanku?
Apa yang mengesankan saya dari kehidupan orang ini?
Pelajaran apa yang saya petik dari kehidupan orang ini?
Ringkas apa yang Anda pelajari, dengan pertanyaan ”Apa arti kehidupan ini bagi orang lain?” Bagikan kepada orang lain.

4. Metode Studi Kata

Metode ini melihat ”kata” secara mikroskopik untuk meneliti asal, definisi, kejadian dan pemakaian kata itu. Tujuannya adalah belajar menafsirkan ”kata”, seperti diamksudkan oleh penulis Alkitab.

Dalam menggunakan metode ini, ada dua hal yang harus diperhatikan:

1.      Studi ini harus didasarkan pada kata aslinya. Bukan dalam bahasa Inggris.

2.      Kita harus senantiasa mengaitkannya dengan konteks yang bisa mencerminkan arti yang sesungguhnya.

Perlengkapan yang diperlukan:

Alkitab berbagai versi
Konkordansi Alkitab
Kamus Alkitab dan Ensiklopedi
Kamus bahasa Inggris yang baik.
Program Sabda

Pertama, pilih kata yang akan dipelajari

Kedua, temukan definisi dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Catat setiap sinonim dan antonimnya.

Ketiga, bandingkan terjemahan. Bandingkan pemakaian ”kata” itu dalam berbagai versi terjemahan. Catatlah perbedaan versi yang Anda temukan.

Keempat, tulis definisi dari kata asli.

Kelima, periksa berapa kali kata itu digunakan dalam Alkitab.

Berapa kali kata itu dipakai dalam Alkitab?
Dalam kitab apa kata itu dipakai?
Penulisan apa yang memakai kata itu?
Dimana kata itu muncul pertama kali dalam Alkitab?

Keenam, temukan arti dasar dan asal dari dari kata itu?

Ketujuh, cari pemakaian kata itu dalam Alkitab (dalam konteks apa).

Kedelapan, tulis aplikasi

5. Metode Analisa Ayat

Metode ini meliputi pemilihan bagian dari Alkitab dan meneliti detilnya dengan bertanya, menemukan referensi silang, dan mengungkapkan kembali dengan kata-kata sendiri arti ayat yang dianalis. Lalu Anda menulis aplikasi pribadi.

Pertama, Tulis ayat dengan kata-kata Anda sendiri (parafrase). Ungkapkan maksud ayat itu dan coba untuk memadatkannya dan bukan memperluasnya.

Kedua, buatlah catatan berisi: pertanyaan, jawaban dan observasi.

Ketiga, cari beberapa referensi silang setiap ayat. Identifikasi kata dan ungkapan ayat yang Anda teliti bersama dengan referensi silang yang terkait.

Keempat, cari setiap pengertian yang anda dapatkan dari setiap ayat. Setelah Anda merenungkan kata-kata, ungkapan, konsep di dalam ayatm catatlah setiap pengertian yang Anda peroleh. Gunakan imajinasi Anda.

Kelima, catat aplikasi pribadi.

6.      Rumus 4 C

Ada suatu formula yang dipakai untuk menulis renungan yang disebut “rumus 4 C “, yaitu Contextualize, Connect, Communicate, dan Conclude. Berikut ini penjelasannya:

Contextualize. Daratkanlah isi renungan Anda dengan peristiwa kehidupan sehari-hari secara nyata. Pembaca renungan bukan malaikat yang hidup tanpa masalah di angkasa.  Pembaca renungan adalah manusia biasa dengan pergumulan kehidupan yang tidak enteng. Mereka membutuhkan penguatan rohani yang aplikatif.  Karena itulah, tulisan Anda sebaiknya menjawab kebutuhan pembaca secara nyata.

Connect. Hubungkan persoalan kehidupan yang dibahas itu dengan Firman Tuhan.  Temukanlah jawaban Firman Tuhan atas persoalan yang digumulkan oleh penulis dan pembaca renungan itu.  Dalam hal ini, selain harus berdoa meminta hikmat dari Tuhan, lebih baik lagi jika Anda memiliki pengetahuan teologi yang memadai.

Communicate. Komunikasikan hasil studi Alkitab itu kepada pembaca. Komunikasikan tentang kasih dan karunia Tuhan serta penguatan dari Roh Kudus. Jika diperlukan, pakailah ilustrasi untuk menjelaskannya.

Conclude. Simpulkan renungan ini dengan sebuah tindakan yang bisa dilakukan oleh pembaca. Bagian ini sangat penting. Rumuskanlah kata-kata yang bisa mendorong pembaca untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan.  Inilah yang disebut perubahan hidup.

Advertisements

Tips Menulis Resensi Buku

Oleh: NUR MURSIDI

[1] Memilih Buku yang Tepat

Sebelum memulai menulis resensi buku –jika tujuannya adalah untuk dikirim ke koran atau majalah–, ada satu hal penting yang tidak bisa dikesampingkan. Hal penting itu adalah memilih buku yang tepat untuk diresensi. Memang semua buku bisa diresensi karena tidak ada satu orang pun yang melarang Anda menulis resensi buku berdasarkan selera atau kecintaan Anda pada satu jenis buku. Itu sepenuhnya adalah hak Anda atau tergantung pada Anda (suka-suka Anda).

Tapi, jika tujuan menulis resensi buku adalah untuk dikirim ke media massa –baik koran atau majalah– maka mau tidak mau Anda harus menyesuaikan selera atau jenis [genre] buku yang kerap kali dimuat di sebuah koran yang ingin Anda kirimi atau menjadi prioritas redaktur dari sebuah media massa. Sebab, ketika Anda tidak jeli dalam memilih buku yang akan diresensi, bukan satu hal yang aneh jika pada akhirnya tulisan resensi Anda itu tidak dimuat.

Tentu saja, Anda tidak mau hal itu terjadi atau menimpa diri Anda. Sebab, Anda sudah bersusah payah menulis resensi kemudian mengirimkan naskah tersebut ke koran (atau majalah) dan berharap besar akan dimuat tetapi harapan itu ternyata tak berpihak kepada Anda. Jadi, tatkala Anda berharap tulisan resensi Anda bisa dimuat, tidak ada pilihan lain, kecuali Anda harus jeli menangkap peluang dan kehendak redaktur.

Dulu, waktu saya masih awal-awal belajar menulis resensi buku dan masih buta dengan semua itu, saya menulis resensi buku hampir [jenis buku] apa saja. Dengan kata lain,  hampir semua jenis buku yang ada -selama buku itu masih termasuk kategori buku baru— sudah pasti saya resensi. Tapi, setelah berlalunya waktu, saya jadi sadar dan tahu.

Pengalaman kata sebuah pepatah memang guru yang berharga. Dari pengalaman itu saya kemudian belajar untuk menangkap peluang; membaca dengan jeli jenis-jenis buku apa yang sekiranya laku dan memiliki nilai muat di media massa? Sewaktu resensi buku saya tak dimuat, saya berusaha berpikir dengan jeli bahkan melakukan intropeksi. Setelah berkali-kali melakukan intropeksi dan belajar dari pengalaman, saya akhirnya tahu jenis-jenis buku yang dimuat.

Kebetulan, saat itu ada seorang redaktur di sebuah majalah yang tergolong baik. Dari redaktur itulah saya belajar tentang pilihan buku yang tepat untuk diresensi. Dia itu tak pelit untuk membalas atau memberikan jawaban dari setiap kiriman naskah resensi yang telah saya kirim. Jadi ceritanya, tak lama setelah saya mengirimkan resensi, kadang tidak sampai sehari atau paling lambat tiga hari, ia sudah memberikan “jawaban”. Dan seleksi awal yang jadi kriteria bagi sang redaktur itu; adalah soal pilihan buku.

Jika memang pilihan buku yang saya resensi itu “tepat” dan memiliki nilai muat, redaktur itu akan membalas email saya dengan jawaban yang memberikan “harapan”. Ia menulis dengan jawaban yang pendek tetapi menggembirakan; buku yang Anda resensi memiliki peluang untuk dimuat. Tolong, kami beri waktu beberapa hari untuk membaca dan memutuskan apakah naskah Anda layak muat atau tidak. Jika jawaban itu yang saya terima, di dalam hati, setidaknya saya sudah menggenggam harapan. Sebab, tak jarang, beberapa hari kemudian, naskah resensi saya dimuat. Jika kemudian tidak dimuat, itu sepenuhnya karena tulisan resensi saya kurang bagus, kurang kritis atau bisa jadi kalah bersaing dengan peresensi lain –jika memang ada peresensi lain yang kebetulan juga mengirim naskah resensi buku yang ternyata sama dengan buku yang saya resensi.

Tapi, kadang-kadang saya mendapatkan balasan dari redaktur itu yang membuat hati saya langsung lemas. Sebab, jika pilihan buku yang saya resensi itu tidak tepat, tak butuh waktu lama, redaktur itu langsung mengembalikan tulisan resensi saya dengan kalimat pendek dan jelas; buku yang Anda resensi kebetulan tak masuk kriteria redaksi kami. Jadi naskah Anda dikembalikan. Tapi, jangan berkecil hati. Kami tetap menunggu naskah resensi Anda yang lain.

Jadi, kriteria awal dimuat atau tidaknya naskah resensi buku itu tergantung pada pilihan buku. Karena itu, jangan sampai Anda salah atau bahasa yang halus kurang tepat dalam memilih buku untuk diresensi. Sebab, kalau salah pilih atau kurang tepat memilih buku, Anda akan rugi dan gigit jari; mengalami penolakan bahkan sebelum naskah Anda dibaca oleh redaktur sebuah media massa. Itu sungguh menyedihkan dan menyesakkan dada. Ibarat perang, Anda kalah sebelum bertarung dengan lawan.

Lalu, jenis buku-buku apa yang memiliki nilai muat cukup tinggi di media massa dan benar-benar menarik minat sang redaktur untuk membaca kemudian memuatnya? Tentu, cukup banyak pilihan buku yang bisa dipilih bahkan berlimpah ruah. Di antara pilihan-pilihan itu, antara lain adalah;

A. Buku Aktual

Apa yang dimaksud dengan buku aktual? Buku yang bisa dikata isinya mengupas tema yang sedang hangat atau sedang menjadi perbincangan. Tak sedikit, penerbit yang cukup jeli menangkap peluang pasar atau momentum terkait tema atau isu yang sedang berkembang di tengah masyarakat sehingga akhirnya menerbitkan buku-buku yang baru untuk menjawab momentum tersebut.

Contoh paling mudah adalah buku tentang Obama dan McCain. Ketika Amerika Serikat (USA) akan menggelar pemilu tahun 2008 yang menjadi pusat perhatian dunia, buku-buku yang mengangkat kehidupan kedua calon presiden itu diterbitkan –bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerbit Zahra Pustaka menangkap peluang itu dan memilih menerbitkan buku The Real McCain –sebuah buku yang mengisahkan tentang kehidupan McCain. Sementara itu penerbit Ufuk menerjemahkan buah pemikiran Obama Menerjang Harapan, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih.

Adapun untuk contoh jenis buku aktual yang sekarang ini bisa dikategorikan ke dalam ranah buku aktual ini adalah buku mengangkat tentang sosok Jokowi. Pemimpin sederhana yang kini menjadi walikota Solo itu, tidak dimungkiri, telah menarik perhatian publik ketika di tengah kebobrokan moral para pemimpin di negeri ini yang lagi berada di titik nadir, ia seperti hadir menjawab tantangan zaman; menjadi “oase dan harapan” bagi rakyat Indonesia. Ia jadi sosok pemimpin masa depan yang dirindukan rakyat. Apalagi, ketika ia dengan gagah berani menjadikan mobil Esemka, mobil rakitan anak-anak negeri sendiri sebagai mobil dinas dan kemudian berjuang menjadi mobil tersebut sebagai mobil nasional.

Di tengah kepopuleran Jokowi di blantika politik nasional itu, penerbit Ufuk Press menerbitkan buku Jokowi: Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi (Ufuk Press; 2012) dan penerbit Noura Books (kelompok Mizan) menerbit buku Jokowi: Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker (Noura Books; 2012). Buku-buku tentang Obama dan McCain pada masa itu, tahun 2008, adalah buku aktual yang memiliki nilai muat cukup tinggi di koran atau majalah. Demikian juga untuk buku tentang sosok Jokowi untuk kategori sekarang ini.

Itulah jenis buku-buku yang masuk kategori “buku aktual”. Meskipun jenis buku-buku tersebut memiliki satu kelemahan, biasanya hanya akan booming tidak lama, tetapi jika diresensi akan memiliki nilai muat yang kuat. Kenapa? Sebab isi atau berita di koran itu memiliki kecenderungan mengejar hal-hal yang aktual, baru dan menjadi pembicaraan publik, maka rubrik resensi koran atau majalah pun lebih mempertimbangkan perihal unsur-unsur kebaruan tersebut. Tak pelak, jika buku-buku aktual pun menjadi pilihan redaktur.

B. Buku Bestseller

Selain buku aktual, jenis buku-buku lain yang memiliki nilai muat tinggi di koran dan majalah adalah buku bestseller. Kenapa buku yang masuk dalam kategori bestseller itu bisa memiliki peluang muat cukup tinggi di media massa? Jawabnya simpel; karena buku-buku tersebut sedang menjadi buku laris di pasar dan koran atau majalah biasanya ingin memberikan informasi terkait buku tersebut kepada pembaca.

Adapun untuk “kategori buku bestseller, dapat disebutkan salah satu contohnya adalah novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna karya dari A. Fuadi –yang keduanya diterbitkan oleh penerbit Gramedia. Juga, buku Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta. Tak pelak, karena buku-buku tersebut cukup laris manis di pasaran hingga dicetak berulang kali. Bahkan, buku bestseller yang belakangan ini adalah Kisah Cinta Ainun Habibie.

Tentu saja masih banyak jenis buku bestseller yang bisa dijadikan sebagai pilihan buku ketika memutuskan hendak meresensi buku di koran atau majalah. Apalagi, zaman terus bergerak dan setiap tahun bisa dipastikan akan selalu lahir “buku-buku bestseller”. Jadi, seorang peresensi itu harus jeli dan tahu jenis buku-buku yang sedang laris atau bestseller.

C. Buku Kontroversial

Pilihan buku lain yang bisa diresensi di koran ataupun majalah adalah jenis buku yang masuk dalam kategori buku kontroversial. Seperti apakah buku yang kontroversial itu? Secara gampangnya, bisa didefinisikan sebagai buku yang mengundang perdebatan, mengundang rasa ingin tahu atau mematik rasa penasaran. Sebab buku kontroversial itu memang sengaja diterbitkan untuk mendobrak mainstream, mengungkap satu masalah yang belum diketahui oleh banyak orang bahkan bisa jadi menggugat pakem yang sudah baku dan bercokol lama di pikiran orang secara umum.

Buku-buku yang masuk dalam kategori ini, antara lain adalah buku The Origin of the Species karya Carles Darwin, novel The Da Vinci Code karya Dan Brown, dan Satanic Verses karya Salman Rusdhie. Adapun untuk buku-buku lokal yang masuk kategori buku kontroversial antara lain; IPDN Undercover karya dari Inu Kencana, Jakarta Uncercover karya Muammar Emka, Detik-detik yang Menentukan karya B.J. Habibie hingga buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Weiner.

D. Buku Pemikiran Baru

Kategori buku lain yang bisa dijadikan buku pilihan untuk diresensi adalah buku yang menghadirkan pemikiran baru. Buku jenis apa yang bisa dimasukkan sebagai buku pemikiran baru? Buku kategori “pemikiran baru” biasanya ditulis berdasarkan riset yang mendalam, menggugat pemikiran lama atau bisa jadi melahirkan teori baru terkait satu masalah atau bidang tertentu.

Contoh untuk buku-buku dalam kategori ini antara lain, buku karya Nur Khalik Ridwan “Agama Bojuis: Kritik atas Nalar Islam Murni” dan “Islam Borjuis Islam Proletar dan Islam: Konstruksi baru masyarakat Islam Indonesia”, “Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental” dan “Islam Pesisir” karya Nur Syam dan masih banyak lagi kategori atau jenis buku pemikiran baru yang bisa dijadikan pilihan.  Sebab, buku-buku di atas adalah buku lama, sementara untuk rubrik resensi buku harus buku terbitan baru. Jadi, seorang peresensi itu dituntut tahu perkembangan buku agar bisa memiliki wawasan luas dalam hal memilih buku-buku yang layak dan memiliki nilai muat di koran atau majalah.

E. Buku Para Pesohor

Bukan satu hal yang mengejutkan bahwa dalam dunia penerbitan buku pun kini sedang diramiakan oleh penulis yang berlatar belakang dari orang-orang terkenal seperti artis, pejabat maupun publik figur. Jadi, buku yang ditulis oleh para pesohor inilah yang saya sebut sebagai buku para pesohor. Karena, buku itu ditulis oleh “orang tekenal” atau para pesohor.

Tak dimungkiri, jika buku-buku yang ditulis oleh orang terkenal seperti artis atau publik figur akan memiliki nilai muat cukup kuat di koran, karena ditulis oleh artis atau orang-orang terkenal. Meskipun tidak semua buku yang ditulis oleh para pesohor itu jadi jaminan dimuat di koran ketika diresensi, tetapi buku-buku kategori buku para pesohor ini memiliki nilai lebih.

Sebagai contoh buku para pesohor yang belakangan ini menarik perhatian publik adalah buku-buku yang ditulis oleh Dee Lestari, seperti yang terbit belakangan; Perahu Kertas dan Madre (Bentang Pustaka). Selain memang ditulis oleh seorang artis, hampir semua buku yang ditulis oleh Dee memang berkualitas dan bermutu. Tak salah jika mutu itu semakin membuat karya Dee selain diminati di pasar juga memiliki nilai muat tinggi ketika diresensi.

Tetapi, sebagai catatan penting dari saya bahwa tak semua kategori buku pilihan yang saya sebutkan di atas –mulai dari buku aktual, buku bestseller, buku kontroversial, buku pemikiran baru dan buku para pesohor- jika diresensi pasti memiliki jaminan akan dimuat oleh redaktur di media massa. Sebab, seorang peresensi hanya memprediksi tapi semua keputusan dimuat atau tidaknya sebuah naskah resensi buku –tak bisa dinafikan- tergantung keputusan redaktur. Apalagi dalam adagium di dunia tulis menulis (di koran atau majalah) dikenal pameo yang sudah cukup terkenal dan tak asing lagi; bagus atau tidaknya sebuah tulisan itu ketika hendak dimuat tidak tergantung selera pembaca tetapi selera redaktur.

Jadi, redaktur itulah yang akan mengetok palu apakah tulisan Anda dimuat atau tidak. Peresensi mencoba meraba tentang buku-buku pilihan yang bisa diresensi, tetapi redaktur-lah yang kelak memutuskan. Karena itulah, dalam kesempatan lain, akan saya kupas lebih jauh lagi tentang kecenderungan atau selera dari seorang redaktur –karena dengan mengetahui akan kecenderungan dan selera redaktur itu, bisa menjadi penentu bisa dimuat atau tidaknya naskah resensi Anda.
[2] Membaca Buku untuk Meresensi

Setelah memilih buku yang tepat, lantas apakah buku yang akan diresensi itu harus dibaca seluruhnya dari awal hingga akhir? Tidak jarang bahkan sering kali saya mendapatkan pertanyaan seperti itu dari beberapa peresensi pemula atau beberapa teman yang baru belajar menulis resensi.

Jawaban saya pendek; lebih baik bahkan lebih mumpuni jika buku yang akan diresensi itu dibaca seluruhnya dari awal hingga akhir. Apalagi jika buku yang akan diresensi itu adalah novel. Sebab, untuk meresensi sebuah novel, seorang peresensi dituntut harus tahu setiap tikungan cerita, titik balik (dari jalan cerita), tokoh-tokoh penting dalam novel, bahkan dituntut untuk mengetahui ending cerita. Kalau tidak sampai tahu semua hal itu dengan detail, pasti tulisan resensi (untuk kategori novel) yang dihasilkan akan kurang mendalam atau bahkan bisa menyesatkan.

Kenapa harus membaca buku seluruhnya? Jawabnya saya pun cukup simpel. Pertama, dengan membaca seluruh buku, maka seorang peresensi akan lebih banyak tahu isi buku daripada hanya membaca sekilas atau beberapa bagian penting saja dari buku tersebut. Kedua, dengan membaca seluruh isi buku, maka peresensi akan tahu kalau ada kekurangan atau kelemahan yang ada dalam buku yang sedang dibaca itu.

Sebab, seorang penulis buku itu sejatinya bukan “malaikat”. Jadi, bukan satu jaminan bahwa buku yang terbit atau beredar di pasaran itu  pasti “sempurna”. Maka dengan membaca seluruh (dari isi) buku, seorang peresensi bisa menemukan, misal jika ada satu bagian atau bab yang kurang sempurna –bahkan bisa pula menemukan jika ada kesalahan tulis, kutip atau bahkan kekurangan data.

Tak salah lagi, jika di sini saya harus berani mengatakan dengan tegas bahwa membaca untuk tujuan meresensi itu beda dengan membaca buku pada umumnya. Dalam membaca buku untuk tujuan meresensi, seorang peresensi dituntut jeli, kritis dan cermat. Sebab, tujuan “membaca buku” untuk meresensi itu adalah menangkap ruh,  point penting, bahkan inti sari dari buku tersebut. Jika gagal menemukan poin penting, ruh atau inti sari dari isi buku tersebut, bisa bahaya. Resensi yang dihasilkan –tidak menutup kemungkinan—akan melenceng dari buku yang justru diresensi.

Jika hal itu yang terjadi, apakah itu bukan tindakan yang “fatal”? Karena itu, saya selalu menyarankan bagi peresensi pemula untuk membaca “seluruh isi” buku yang hendak diresensi. Bahkan, syarat itu membaca seluruh buku dari awal hingga akhir pun bagi saya masih kurang. Sebab, hal penting lain –selain membaca untuk menangkap ruh buku– yang tidak bisa dilupakan lagi adalah membaca dengan kritis.

Tuntutan membaca dengan kritis itu dimaksudkan sebagai modal agar resensi yang dihasilkan nanti akan lebih “berbobot”, karena peresensi memiliki ruang untuk memberi kritikan, jeli memangkap secuil kelemahan atau kekurangan buku.

Apakah tuntutan untuk membaca buku (yang hendak diresensi) secara utuh –dari halaman pertama sampai halaman akhir– itu wajib? Jawaban saya pun simpel; tergantung kapasitas, pengetahuan dan wawasan dari seorang peresensi itu. Semisal, jika kebetulan seorang peresensi itu memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas tentang tema yang dibahas dalam buku yang hendak diresensi maka tak ada tuntutan harus membaca seluruh isi buku. Sebab, tugas seorang peresensi membaca itu tidak kurang dan tak lebih adalah menemukan pokok pikiran yang dituangkan oleh penulis dalam sebuah buku. Tetapi, dengan catatan harus tetap membaca dengan jeli bahkan kritis.

Jadi, jika seorang peresensi sudah mampu menangkap pokok pikiran (point penting) dalam buku yang hendak diresensi, maka itu sudah cukup. Lalu, bagaimana cara membaca buku yang bisa langsung menemukan pokok pikiran penulis yang ada dalam sebuah buku? Di sinilah, seorang penulis resensi dituntut menguasai “teknik” membaca. Sebab, untuk menemukan pokok pikiran itu tidak harus membaca seluruh isi buku. Apalagi, jika secara kebetulan tema yang diangkat dalam buku yang hendak diresensi itu sudah tidak asing lagi. Jika itu yang dilakukan (membaca seluruh buku), tentu akan memakan cukup “waktu lama”. Padahal, seorang peresensi buku itu –jika tujuan sedari awal hendak meresensi buku tersebut di koran— dituntut cepat.

Setidaknya, ada beberapa teknik dalam membaca buku yang bisa diterapkan.

a). Membaca Cepat (speed reading)  Meski dalam teknik ini, seorang peresensi dituntut untuk tetap konsentrasi menangkap substansi (isi/pokok pikiran) dari buku yang dibaca, tetap saja tidak mengabaikan konsentrasi pada substansi ejaan. Apalagi teknik membaca cepat ini, sekarang ini sedang trend. Sebab, dengan teknik ini, orang tidak lagi butuh waktu lama dalam membaca sebuah buku, tetapi tidak “mengurangi” kualitas seseorang dalam menangkap pesan, isi dan bahkan pokok pikiran penulis di dalam buku tersebut.

Jadi, intinya seorang peresensi bisa membaca dengan cepat tetapi tetap saja berkonsentrasi membaca naskah secara seksama agar tetap menemukan pemahaman serta pemaknaan yang benar dari pembacaan tersebut. Jika seorang peresensi sudah menguasai teknik ini, maka itu adalah satu point plus yang dimiliki. Sebab, dia tidak perlu membaca buku dalam waktu yang lama, tetapi bisa memangkap isi buku yang hendak diresensi.

b) Membaca Secara Sekilas

Dalam teknik ini, seorang peresensi buku tak harus membaca huruf per huruf, kata per kata, atau kalimat per kalimat. Jika hal itu yang dilakukan, lagi-lagi akan membutuhkan waktu yang lama. Apalagi, bagi seorang peresensi yang tidak memiliki minat baca tinggi. Maka bisa butuh waktu satu minggu untuk bisa menyelesaikan bacaan satu buku. Padahal, meresensi di koran itu butuh waktu cepat –mengingat dead line buku baru itu singkat dan persaingan ketat antar peresensi pun cukup tinggi.

Padahal, jika kalah bersaing atau bahkan resensi buku yang hendak diresensi itu kalah cepat atau dikerjakan lebih dulu oleh peresensi lain, maka itu bisa dikata kehilangan peluang yang cukup berharga (untuk kriteria buku baru dan bagaimana dapat memenangkan persaingan dengan peresensi lain sewaktu mengirim di koran, akan saya bahas di lain waktu. Jadi mohon sabar. Tips-tips berikutnya seputar kedua tema tersebut, saya jamin tidak akan kalah berharga dan patut dicermati) Tunggu ya!

Lalu, bagaimana cara “membaca sekilas” tetapi tidak kehilangan poin penting dari sebuah buku yang dibaca? Tentu harus jeli menangkap ide utama (main idea) di dalam setiap paragraf dari lembaran-lembaran buku. Dengan tangkas (jeli) membaca ide utama, maka tidak perlu butuh waktu lama. Sebab, seorang peresensi bisa lompat dari paragraf satu ke paragraf yang lain setelah mengkap maksud dari setiap paragraf dari lembaran-lembaran buku tersebut.

Dari ide utama yang berhasil ditangkap itulah, peresensi bisa memberi garis bawah atau menorehkan stabilo. Metode ini selain untuk menemukan ide utama dari sebuah paragraf, juga untuk menandai kalimat-kalimat penting yang kelak akan bisa dijadikan bahan dalam membuat resensi buku. Dengan patokan kalimat yang diberi garis bawah atau stabilo itu, peresensi kelak ketika menulis resensi tinggal membalik dan mencari mana bagian penting yang harus dimasukkan ke dalam resensi. Mudah dan simpel kan?

Jadi, tidak perlu repot-repot membaca kata per kata. Kalau sudah ditemukan jalan yang bisa ditempuh dengan cepat, kenapa harus menempuh cara yang lambat? Tetapi, metode ini menurut saya, tidak bisa diterapkan dalam membaca buku untuk genre novel. Sebab, untuk kategori novel, membaca seluruh isi buku adalah wajib. Itu tidak lain, karena novel memiliki kisi-kisi dan tikungan-tikungan yang tidak sedikit, sehingga perlu dibaca dengan seksama dan cermat dari awal hingga akhir.

c) Membaca “to the Point”

Apa yang dimaksud dengan membaca to the poin? Saya sebenarnya tak punya  sebutan yang pas untuk metode satu ini (mungkin ada sebutannya, tetapi kebetulan saya saja yang belum mengenal ataupun belum tahu nama untuk metode ini). Jadi, membaca “to the point” itu pada intinya adalah menangkap pokok pikiran, ruh, inti sari yang dituangkan oleh penulis dalam sebuah buku. Sekali lagi, metode ini tak bisa diterapkan untuk membaca jenis buku kategori novel. Metode ini –sekali lagi– hanya dapat diterapkan untuk genre buku sistematis –seperti buku yang semula diangkat dari skripsi, tesis atau desertasi. Juga, buku-buku yang ditulis secara runtut, urut dan sistematis seperti buku yang ditulis dari hasil sebuah penelitian.

Lalu, bagaimana teknik membaca “to the point” itu? Pertama-tama, bukalah daftar isi buku, lalu temukan pokok pikiran dari buku tersebut dalam daftar isi buku tersebut. Bagaimana cara menemukan pokok pikiran hanya dari membaca daftar isi? Tentu gampang! Ini hanya sekadar untuk mengenali sistematika sebuah buku saja. Karena itu, setelah membaca daftar isi, bukalah “pendahuluan” buku tersebut. Dari pendahuluan itu, sudah pasti akan ditemukan pokok masalah yang jadi bahasan dari buku tersebut.

Sebagaimana susunan buku yang ditulis secara sistematis, pada “bagian awal” (atau pendahuluan) buku itu, sudah pasti penulis buku akan mengajukan “poin-poin” penting berupa pertanyaan yang akan dijawab di dalam (pembahasan) buku tersebut. Dengan kata lain, poin-poin penting yang akan jadi pertanyaan itu tidak lain adalah rumusan masalah. Jadi, temukan dengan cermat “rumusan masalah” buku tersebut.

Jika sudah ketemu, langkah berikutnya adalah membuka “bab pembahasan” –biasanya di bab akhir—dan setelah itu, bacalah dengan seksama, cermat dan kritis. Dengan menerapkan metode ini, maka peresensi tak perlu lagi harus membaca dari halaman awal sampai akhir. Cukup hanya membaca poin penting sebuah buku sebab untuk menemukan pokok pikiran sebuah buku, apalagi kalau kebetulan peresensi itu sudah menguasai tema yang dikupas dalam buku tersebut, maka tinggal membaca to the point dari sebuah buku.

Jadi, pada intinya, membaca buku untuk meresensi itu hukumnya wajib. Tak bisa ditawar lagi. Tanpa membaca, pastilah seorang peresensi tidak memiliki modal apa pun untuk dijadikan “sebagai bahan” tulisan dalam menulis resensi buku. Di sini saya bercerita sedikit tentang sebuah kisah curang dan tragis yang pernah dilakukan oleh satu satu teman saya dalam meresensi buku. Tapi, sekali lagi, ini hanya sekadar contoh. Dan contoh ini adalah contoh buruk, yang tidak saya anjurkan untuk ditiru! Jadi, untuk apa saya perlu menceritakan kisah ini? Tujuannya, tidak lain, agar Anda dan juga saya bisa belajar tak saja dari kisah-kisah yang baik tapi juga bisa memetik pelajaran dari kisah-kisah yang kurang baik.

Saya sebenarnya tak tahu apa motif teman saya di balik ulah curang dan culas yang dia lakukan dalam menulis resensi buku itu. Jadi kisahnya, satu hari teman saya itu menulis resensi buku. Tetapi, dia itu tidak memiliki buku tersebut. Jadi, intinya, dia tidak membaca buku itu, tetapi memaksakan diri menulis resensi buku tersebut. Pertanyaan yang mungkin hendak Anda ajukan, bagaimana dia (teman saya itu) bisa menulis resensi padahal dia itu tidak memiliki buku itu, apalagi membuka dari setiap halaman dan membaca buku tersebut.

Lalu bagaimana ia bisa membuat resensi untuk buku yang tidak dia baca itu? Inilah yang saya cebut ulah curang dan culas. Mungkin, dia itu butuh uang, atau lagi butuh buku sehingga kebelet menulis resensi dengan mengambil jalan pintas. Jadi, singkat cerita, teman saya itu tak mau susah-susah membaca buku tersebut. Apalagi, mau membeli. Intinya dia tidak mau susah-susah membaca buku tersebut, tapi mau jalan pintas dengan cara mencari-cari bahan seputar tema yang diulas buku tersebut.

Setelah dia mendapatkan bahan, dia menulis resensi buku berdasarkan dari bahan yang dia kumpulkan dari internet itu. Ironisnya, nasibnya sedang mujur. Tak lama setelah ia mengirimkan hasil resensi (palsu) dan menunggu, ternyata “resensi” yang dia tulis itu dimuat di koran. Redaktur memang bisa “kecolongan”. Dan kasus ini salah satu satu contoh! Sebab tak sedikit redaktur yang juga belum pernah tahu wujud buku. Jadi, dia tentu belum tahu apa isi buku yang kebetulan diresensi oleh hampir peresensi yang mengirim. Sementara tugas dia hanya menyeleksi. Tapi itulah yang kemudian terjadi. Redaktur itu ketipu bahkan bisa disebut kecolongan. Karena dia memuat sebuah resensi palsu.

Tetapi, tidak demikian dengan orang penerbit –dalam hal ini editor di sebuah penerbit. Dia sudah pasti tahu isi buku itu. Maka, ketika teman saya itu menelpon ke penerbit untuk meminta buku baru dan bonus (berupa uang), dia –teman saya itu– bukan mendapatkan pujian, penghargaan yang baik, atau rasa simpati, tetapi justru diumpat. Sebab, editor di penerbit –yang kebetulan bukunya di resensi oleh teman saya itu—tahu bahwa teman saya meresensi buku dengan ngawur, bahkan melenceng dari isi buku.

Setelah mendapatkan complain pedas dari editor, teman saya itu pun hanya duduk lemas dan termangu. Lebih dari itu, dia “merasa malu” lantaran telah merusak kepercayaan dan reputasi yang dia bangun. Dia tidak saja tidak jujur pada penerbit, dan banyak pembaca yang telah resensi buku yang dia tulis –karena jauh dari isi buku—tapi dia juga tidak jujur pada dirinya sendiri.

Dari kisah ini, saya ingin menegaskan bahwa penulis itu dituntut untuk jujur dan mau tidak mau juga harus “berjuang sekuat tenaga” untuk menjaga reputasi dan kepercayaan. Sebab, jika reputasi dan kepercayaan yang sudah diberikan orang lain –baik itu penerbit maupun redaktur dilukai, penulis itu sendiri yang akan rugi. Dia tak lagi dipercaya dan nama baiknya hancur.

Jadi, apakah untuk meresensi buku itu seorang peresensi harus “membaca” buku tersebut dari awal sampai akhir? Hanya Anda yang bisa menjawab. Sebab tugas peresensi itu selain memberikan informasi seputar buku yang diresensi, pada intinya juga memberikan penilaian dan pendapat Anda tentang buku yang diresensi. Maka, hasil bacaan Anda itu menentukan seberapa kuat resensi yang akan Anda tulis. Kian kuat Anda membaca, akan semakin berbobot hasil resensi yang Anda hasilkan.

[3] Menunjang Resensi dengan Riset

Lalu, apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah seorang peresensi membaca buku hingga tamat bahkan sudah menemukan pokok pikiran sebuah buku yang hendak diresensi? Apakah setelah itu langsung “menulis” resensi buku? Tentu,  tidak ada yang melarang Anda jika memang sudah merasa siap melakukan “eksekusi” atau tepatnya memulai menulis resensi.

Tetapi, saran saya sebaiknya hasrat untuk segera menulis resensi itu ditunda dulu. Meskipun sebenarnya bisa langsung memulai menulis (resensi), tapi akan jauh lebih baik jika Anda melakukan riset. Apalagi kalau tema buku yang hendak diresensi itu tergolong berat. Maka, melakukan riset bisa dikata “setengah wajib” atau bahkan bisa digolongkan wajib.

Kenapa harus melakukan pekerjaan tambahan riset segala? Bukankah hal itu hanya akan membuang-buang waktu saja? Apalagi, dalam “meresensi buku” di koran atau majalah itu dibutuhkan waktu yang cepat dan harus buru-buru lantaran dibatasi deadline. Pada sisi lain, juga agar tidak keduluan dengan peresensi lain. Tentu benar. Bahkan, tuntutan bekerja dengan cepat dan buru-buru itu harus diingat.

Tetapi kalau sesuatu pekerjaan –termasuk menulis resensi– harus dikerjakan dengan buru-buru, dan tanpa didukung dengan “riset mendalam” sebagai tambahan bahan, tidak menutup kemungkinan hasil dari resensi itu bisa kurang mendalam dan kurang menggigit. Tulisan bisa jadi kering, datar dan biasa-biasa saja. Padahal, kalau tulisan resensi seperti itu yang dihasilkan, peresensi bisa rugi. Sebab, tulisan resensi yang sudah dibuat dengan susah payah bahkan sudah menulis sampai “larut malam” ujungnya tidak dimuat.

Dapat dipastikan, setiap peresensi tidak mau mengalami nasib buruk seperti itu. Sebab hal itu menandakan bahwa peresensi itu tidak bekerja  dengan baik apalagi mendekati sempurna. Karena itu, tuntutan melakukan riset benar-benar dibutuhkan bahkan bagi peresensi yang masih baru (pemula), hal itu sangat wajib.

Lalu, jenis riset seperti apa yang dibutuhkan itu? Setidaknya, ada dua (2) riset yang bisa dilakukan, yakni riset lewat internet dan riset dengan mencari buku-buku dengan tema yang sama (dengan buku yang hendak diresensi).

a) Riset Internet
Riset internet bisa dikata merupakan riset kecil-kecilan dengan tujuan untuk mencari bahan-bahan tentang tema yang diulas dalam buku yang hendak diresensi. Riset ini perlu ditempuh (tidak lain) untuk menambah data atau menambah referensi dari sudut pandang lain sebagai bahan pijakan. Data atau referensi tambahan ini bisa dari makalah, opini atau bahkan tulisan ringan dari orang lain yang ada di internet.

Sebab, tidak menutup kemungkinan buku yang hendak diresensi itu kurang data dan bahkan bisa jadi sajian yang dipaparkan penulis di dalam buku itu kurang mendalam. Wajar, jika peresensi harus mencari tambahan data atau referensi supaya peresensi itu memiliki tambahan wawasan dan pengatahuan. Dengan keluasan atau tambahan pengetahuan itu, peresensi nanti dalam menulis resensi –bisa dipastikan– akan memiliki dua kelebihan.

Pertama, tulisan resensi yang dihasilkan akan tampak kaya dengan data dan referensi lain karena ditunjang dengan pengetahuan dari peresensi yang luas. Ini bisa menjadi bukti bahwa peresensi itu tidak sekadar berpijak dari buku yang diresensi, tapi masih menambah dengan pengetahuan dan rujukan lain. Alhasil, tulisan resensi yang dihasilkan itupun bisa jaduh lebih berwarna karena ditulis oleh presensi dengan kekayaan pengetahuan.

Kedua, dengan adanya tambahan data dan referensi yang dihasilkan dari riset kecil-kecilan lewat internet itu, peresensi bisa memiliki modal yang bisa digunakan untuk melihat kekurangan dan kelemahan buku yang diresensi. Jika menang dalam buku yang diresensi itu ada kekurangan data, misal, maka peresensi bisa menyajikan adanya kekurangan dan kelemahan buku itu.

Inilah nilai plus dari seorang peresensi yang mau melakukan riset tambahan lewat internet –apalagi jika peresensi pemula itu masih belum menguasai betul tema atau bidang yang dikupas dalam buku yang diresensi. Jadi, tambahan riset itu akan banyak membantuk dan menunjang dalam menulis resensi. Karena itulah, semakin banyak peresensi itu menemukan data-data tambahan dari hasil riset tersebut, justru hal itu akan lebih baik.

b) Riset Buku
Meski buku yang akan diresensi itu sudah tamat dibaca, dan peresensi sudah menemukan pokok pikiran di dalam buku tersebut, dan siap menulis menulis resensi buku dengan segera, bukan berarti kegiatan “mencari” dan bahkan “membaca” buku-buku lain yang memiliki tema yang sama dengan buku yang akan diresensi tidak lagi dibutuhkan. Dengan kata lain, justru membaca buku-buku lain yang bertema sama dengan buku yang akan diresensi itu sangat dibutuhkan. Pada point inilah, peresensi itu diharuskan melakukan riset untuk “mencari tahu lebih jauh” tentang buku-buku yang bertema sama.

Jika penulis buku itu kebetulan sebelumnya pernah menulis buku-buku yang “bertema sama” –dengan buku yang hendak diresensi–, hal ini jelas harus diketahui oleh peresensi. Sebab, buku sebelumnya yang ditulis oleh penulis yang sama itu akan bisa membantu peresensi, setidaknya untuk menyelami isi buku yang dihasilkan oleh penulis itu pada buku-buku yang lain. Apalagi, jika buku yang diresensi itu adalah buku lanjutan atau setidaknya masih memiliki hubungan dengan buku sebelumnya. Jadi, membaca buku-buku lain dari penulis buku yang hendak diresensi itu sangat diperlukan. Jadi, perlu membaca buku-buku lain yang dihasilkan penulis tersebut.

Selain membaca buku-buku lain yang dihasilkan oleh penulis buku yang akan diresensi, membaca buku-buku dari penulis lain yang kebetulan membahas bidang atau tema yang sama dengan buku yang hendak diresensi pun juga tak kalah penting. Bahkan, kemauan peresensi untuk membaca buku dari penulis lain yang kebetulan bertema sama akan sangat membantu.

Setidaknya, ada dua hal penting yang bisa menjadi nilai lebih ketika peresensi mau melakukan riset dengan mencari dan membaca buku-buku yang bertema sama –baik dari penulis buku yang hendak diresensi (jika kebetulan ada) maupun dari penulis lain.

Pertama, peresensi jadi “tahu lebih banyak” tentang buku-buku yang bertema sama dengan buku yang hendak diresensi. Kedua, dengan pengetahuan itu peresensi nanti bisa melakukan komparasi atau membandingkan antara buku-buku tersebut.

Setelah riset dan bahan-bahan yang dikumpulkan dirasa cukup, kini saatnya untuk melakukan eksekusi; memulai menulis resensi buku. Lalu bagaimana langkah-langkah dalam meresensi buku itu? Bahasan ini akan saya kupas dalam kesempatan yang lain.
[4] Membuat Konsep Tulisan Resensi

Setelah seorang peresensi membaca buku hingga tamat, dan sudah menemukan pokok pikiran penulis yang dituangkan dalam buku yang hendak diresensi dan bahkan sudah melakukan riset kecil-kecilan untuk menambah pengetahuan terkait tema buku tersebut, kini tak ada lagi yang menghalangi seorang peresensi untuk segera melakukan eksekusi atau memulai menulis resensi.

Tapi bagi seorang peresensi pemula, seringkali dia dihadapkan pada setumpuk kebingungan ketika hendak menulis resensi. Dari setumpuk kebingungan itu, antara lain adalah seputar sistematika tulisan resensi dan unsur-unsur apa yang harus ada dalam resensi buku. Bahkan, bisa jadi peresensi pemula akan dihinggapi kebingungan tentang bagaimana goresan awal dalam menulis resensi.

Ironisnya, ketika setumpuk kebingungan itu masih mengganjal di otak, seorang peresensi pemula tetap memilih memaksakan diri untuk menulis. Tak jarang, ide yang sudah menggumpal dan sedang dituliskan itu pun pada akhirnya membuat peresensi itu harus dihadapakan pada tembok besar kebuntuan lantaran menabrak batu karang. Dia mengalami kebuntuan ide atau berhenti di tengah jalan.

Kalau hal itu tetap diteruskan, bisa jadi tulisan resensi yang dihasilkan akhirnya akan tidak sistematis. Ide yang ditorehkan dalam tulisan resensi itu “tidak mengerucut”, antara satu paragraf dengan paragraf berikutnya tak saling terkait dan bahkan bisa jadi tulisan terasa hambar saat dibaca karena tidak memiliki ruh lantaran ditulis dengan ide yang kurang dikonsep secara jelas dan detail.

Untuk mengantipasi agar tidak terjadi kecelakaan seperti itu, saya menyarankan bagi peresensi pemula untuk membuat konsep tulisan resensi lebih dulu. Memang, bagi seorang peresensi yang sudah memiliki jam terbang tinggi atau sudah berpengalaman, cara bekerja dengan membuat “konsep tulisan” resensi lebih dulu itu tidak lebih ibarat buang-buang waktu atau kerja dua kali. Maka, bukan sesuatu yang aneh kalau peresensi yang sudah makan asam garam dan berpengalaman, akan langsung menuliskan ide yang ada di pikiran langsung di komputer. Sebab, di dalam pikiran sudah terkonsep.

Tetapi bagi peresensi pemula, pekerjaan membuat konsep tulisan resensi itu bisa dikata pilihan yang tepat. Kenapa? Sebab, saya mengibaratkan bahwa praktek menulis –termasuk menulis resensi– itu tidak ubahnya seseorang yang sedang menempuh sebuah perjalanan atau pelayaran. Wajar, jika dia tidak ingin tersesat, tidak ingin terperojok ke dalam jurang dan bahkan ingin segera cepat sampai di tempat tujuan dengan selamat. Maka, bukan hal yang aneh jika dia harus memiliki semacam petunjuk jalan agar dalam perjalanan yang ditempuh itu berjalan mulus dan lancar.

Lalu, apa yang dijadikan petunjuk bagi seorang pejalan? Tidak lain adalah PETA. Demikian juga dengan aktivitas menulis. Sedari awal, seorang penulis pun ingin menulis dengan harapan bisa sampai di tempat tujuan dengan cepat dan bahkan selamat (artinya tidak melenceng dari harapan awal). Maka, agar tidak ampai melenceng atau merangsek ke mana-mana, seorang penulis –jika boleh diibaratkan seperti seorang pejalan– harus memiliki PETA supaya perjalanan (atau kegiatan menulisnya) itu tidak melenceng dari tujuan awal.

Lantas, PETA seperti apa yang harus dijadikan sandaran oleh peresensi pemula? Tidak lain adalah KONSEP tulisan. Jadi, sebelum menulis, seorang peresensi pemula itu sangat dan sangat dianjurkan untuk membuat konsep tulisan resensi lebih dulu. Konsep tulisan resensi ini bisa berupa outline atau lebih gamblang coret-coretan ringan ataupun ide utama dalam setiap paragraf.

Keuntungan Membuat Konsep Tulisan

Kalau seorang peresensi pemula membuat konsep tulisan lebih dulu, setidaknya ada dua hal penting yang akan didapatkan. Pertama, konsep tulisan itu akan membantu dia dalam menulis, ibarat seorang pejalan yang berjalan dengan membawa peta sehingga dia tidak tersesat di tengah jalan. Sebab, KONSEP tulisan itu akan selalu menjaga setiap gerakan tangan yang sedang menulis tetap berada dalam rel. Ketika gerakan tangan itu tak selaras dengan ide semula, maka KONSEP tulisan itu akan membantunya kembali di jalur atau rel yang harus ditempuh. Jadi, dengan KONSEP tulisan itu, peresensi pemula tidak akan terperosok.

Kedua, dengan bantuan KONSEP tulisan itu peresensi pemula dijamin tidak akan mengalama kebuntuan ide di tengah jalan. Sebab, jika hal itu sampai terjadi, dia tinggal merujuk pada merujuk atau bersandar kembali pada konsep tulisan (atau ide utama dari setiap paragraf). Dari KONSEP itu, dia tinggal mengembangkan dan menjabarkan lebih luas dan lebih detail. Dengan demikian, dia akan selamat dari kebuntuan atau berhenti di tengah jalan. Alhasil, tulisan resensi pun bisa dengan cepat diselesaikan karena tidak mengalami hambatan.

Ketiga, dengan membuat KONSEP tulisan lebih dulu, bisa dijamin tulisan resensi yang dihasilkan pun akan sistematis, runtut dan urut karena memang sudah dikonsep sejak awal. Kalau kemudian tulisan yang jadi itu ternyata tidak runtut, dapat dipastikan hal itu terjadi bukan karena proses penulisan tetapi justru terletak pada KONSEP tulisan yang sedari awal memang sudah ditulis dengan tidak runtut dan sistematis.

Tiga poin penting itu, tidak dapat disangsikan lagi, adalah tiga keuntungan yang didapatkan saat seorang peresensi pemula menulis dengan cara membuat konsep tulisan lebih dulu. Tetapi, jika memang seorang peresensi pemula merasa hal itu terlalu bertele-tele bahkan dirasa tak perlu, maka bisa saja tidak membuat konsep tulisan dan langsung menulis di depan komputer –tetapi dengan catatan “ide resensi” yang ada dalam pikiran harus dikerucutkan dalam konsep yang kuat dalam pikiran.

Jika tidak dikonsep di dalam pikiran, bisa dipastikan, “di tengah jalan” peresensi pemula akan mengalami kebuntuan. Jika pada akhirnya bisa jadi tulisan, kadang tidak sistematis, mengalir lancar dan runtut. Maka, tidak ada salahnya jika peresensi pemula itu mencoba bersusah-susah payah lebih dulu dengan membuat KONSEP tulisan resensi dan kelak jika memang sudah lihai, mahir dan berpengalaman, bisa langsung menulis di depan komputer tanpa harus membuat konsep lebih dulu.

[5] Membuat Judul Resensi Yang Memikat

Tulisan resensi buku itu –pada hakekatnya– tidak beda jauh dengan bentuk tulisan yang ada di koran pada umumnya. Memang, ada beberapa hal yang beda dan menjadi ciri khas atau unsur penting dari tulisan resensi buku. Tetapi, pada sisi lain, ada pula beberapa hal yang sama. Salah satu dari “kesamaan” itu adalah keberadaan “judul”. Sebab, sebuah tulisan resensi buku tetap mensyaratkan keberadaan “judul”.
Lalu, yang jadi pertanyaan adalah; bagaimana cara membuat judul yang bagus? Apakah ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam membuat judul tulisan resensi buku? Apakah sebuah judul tulisan resensi buku itu memiliki pengaruh yang kuat sehingga dapat memengaruhi redaktur tergerak untuk memuat tulisan resensi dengan alasan bahwa judul yang dibuat itu bagus dan memikat?

Memang, membuat judul resensi buku itu bisa dikatakan gampang-gampang susah. Bagi peresensi yang sudah berpengalaman, membuat judul bisa jadi gampang. Tapi tidak demikian dengan peresensi pemula. Bagi seorang peresensi pemula, bisa jadi membuat “judul” (resensi) bisa-bisa membutuhkan perenungan, bahkan sampai menyita waktu cukup lama karena tak terlintas inspirasi untuk sebuah judul yang pas dan cocok.

Celakanya lagi, tak jarang peresensi pemula sudah menemukan “judul” tetapi sayangnya judul itu dirasa masih kurang kuat atau memikat sehingga memunculkan perasaan ragu-ragu. Akhirnya, ia hanya berkutat mencari dan berusaha menemukan judul sampai-sampai tidak segera memulai menulis resensi. Jika hal ini yang terjadi, sungguh celaka. Sebab, waktu habis hanya untuk menemukan judul semata.

Saya tidak ingin peresensi pemula mengalami nasib seperti itu. Karena itulah, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana membuat “judul” yang kuat dan memikat. Bahkan, jika peresensi pemula sudah merasa menemukan “judul” tetapi kurang kuat, jangan hiraukan. Sebab, pada tahap editing judul itu nanti bisa diganti. Jadi buat saja judul apa adanya dulu yang sekiranya itu mewakili pikiran utama atau sudut pandang Anda dalam menimbang sebuah buku yang Anda resensi. Sebab, meresensi buku itu –pada intinya– adalah penilaian atau pendapat peresensi tentang sebuah buku.

Tapi, ada beberapa hal yang tidak bisa dikesampingkan dalam membuat judul resensi buku. Sebab, dalam membuat “judul” ada syarat yang harus dipatuhi –apalagi  jika tulisan resensi itu untuk dikirim ke koran atau majalah. Selain itu, judul sebuah pun –tak dapat dinafikan— memiliki kekuatan yang bisa menjadi penentu seorang redaktur bisa terpikat dan kemudian mau membaca lebih jauh.

Lalu apa syarat yang harus dipenuhi dalam membuat judul sehingga redaktur bisa tergerak untuk membaca lebih lanjut. Pertama, dalam membuat judul usahakan yang simpel dan pendek. Artinya, jangan terlalu panjang. Bahkan dalam sebuah buku tentang teori menulis (maaf saya lupa di buku apa dulu saya pernah membaca), saya pernah menemukan teori bahwa “membuat judul itu jangan sampai lebih dari lima kata”.

Kenapa? Sebab resensi yang dibuat itu diperuntukkan untuk dikirim ke koran atau majalah dan “space” (ruang) yang tersedia di halaman koran itu terbatas. Jadi, mau tidak mau, judul tulisan resensi pun harus disesuaikan dengan space yang ada di koran. Alasan lain, judul tulisan -termasuk judul tulisan resensi buku- itu tidak lebih sebagai wajah dari sebuah tulisan. Karena itu, judul harus dibuat dengan porsi yang pas dan tidak terlalu berlebihan atau terlalu panjang.

Tak salah, jika sepanjang karier saya sebagai peresensi buku, saya tak pernah membuat judul yang panjang. Saya selalu membuat judul tidak lebih dari lima kata. Saya memang pernah menjumpai seorang cerpenis yang cukup diakui mencoba-coba membuat terobosan dengan membuat judul yang justru panjang. Di balik itu, tak ada maksud lain kecuali dia ingin membuat redaktur melihatnya lain dan kemudian mau membaca cerpen yang dia kirim. Hanya itu, tujuanya tak lebih hanya menjerat sang redaktur mau membaca tulisan cerpen yang ia kirim. Tapi, soal dimuat atau tidak itu urusan lain –asal redaktur telah terjerat dan mau membaca cerpen yang dia kirim.

Tapi bagaimana dengan judul untuk tulisan resensi buku? Apakah bisa dibuat yang panjang (lebih dari lima kata) dengan tujuan agar redaktur “tertarik” membaca tulisan resensi yang Anda kirim? Bertahun-tahun saya jadi peresensi, belum pernah saya menjumpai judul tulisan resensi yang panjang. Saya memang pernah beberapa kali menjumpai judul cerpen yang panjang (bahkan sampai sepuluh kata). Tapi, soal judul cerpen memang lain dan tak bisa disamakan dengan judul resensi. Sebab untuk tulisan cerpen memiliki ruang kebebasan yang lebih longgar dan kadang menabrak pakem bahasa, apalagi untuk kategori puisi.

Sementara itu, untuk resensi buku, tidak ada ruang kebebasan yang lebih, dan biasanya mengikuti pakem atau “aturan” yang ada. Jadi, jangan sekali-kali mencoba untuk berbuat nyeleneh dengan membuat judul yang panjang (sampai sepuluh kata) sekadar untuk menarik perhatian redaktur. Justru, ulah Anda itu bisa-bisa dianggap iseng dan kurang serius.

Kedua, buatlah judul resensi dengan bahasa yang “tidak kaku”, tidak populer bahasa gaul, tetapi ilmiah populer. Sebab, resensi buku yang dibuat diperuntukkan untuk koran atau majalah, maka mau tidak mau harus mengikuti bahasa koran atau majalah karena bahasa koran dan majalah itu tidak kaku, tetapi ilmiah populer. Tapi, jika resensi yang dibuat itu untuk majalah remaja, bisa saja membuat judul yang gaul dan pop. Juga, jika resensi itu diperuntukkan untuk jurnal, bisa dibuat judul dengan bahasa yang ilmiah.

Ketiga, dalam membuat judul pilihlah diksi –pilihan bahasa– yang memiliki sentuhan sastra. Sebab, dengan membuat judul yang memiliki sentuhan sastra, Anda akan memiliki nilai lebih dan judul dengan diksi sentuhan sastra bisa mengesankan kuat dan memikat. Dan judul dengan sentuhan sastra inilah yang memiliki kekuatan lebih untuk memikat redaktur mau tergerak membaca lebih jauh tulisan resensi yang Anda kirim.

Kenapa? Sebab judul yang dibuat dengan sentuhan sastra atau “pilihan diksi” yang tepat memiliki kekuatan dan “sengatan” yang kuat di benak. Judul dengan diksi yang tepat dan kuat inilah yang kerap kali saya pilih dan saya gunakan dalam hampir resensi-resensi yang saya tulis.

Sebagai contoh, di sini saya sebutkan beberapa judul dari resensi buku yang pernah saya buat, antara lain “Hasrat Membunuh untuk Sebuah Aroma” (judul untuk resensi buku Perfume; The Story of a Murderer, dimuat di Kompas, Minggu 18 Juni 2006), “Sosok Galileo dalam Lipatan Surat” (judul untuk resensi buku Sang Putri Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama, Sains, dan Cinta dimuat di Kompas Minggu 1 Agustus 2004), “Sisi Gelap ‘Sang Maverick’ McCain” (judul untuk resensi buku The Real McCain, dimuat di Media Indonesia, Sabtu 6 September 2008).

Untuk bisa menghasilkan judul-judul yang kuat dan memikat, memang tidak jarang dibutuhkan perenungan dan latihan. Jadi, tidak usah risau dan khawatir kalau memang untuk sementara ini belum mampu membuat judul yang kuat dan memikat. Tapi, lama kelamaan akan terbangun satu kebiasaan setelah menempuh latihan dan menjadi peresensi yang handal. Judul kadang terlintas secara tiba-tiba, tak ubahnya mendapatkan sebuah ilham.

[6] Mencantumkan Data Buku

Bentuk tulisan resensi buku dengan genre tulisan lain –yang biasa dimuat di koran– memang memiliki perbedaan. Karena itu, adanya perbedaan tersebut harus diketahui dan perlu diperhatikan. Sebab, salah dalam menuliskan apa yang harus ada dalam naskah resensi buku, tentu bisa berakibat “fatal”; bisa-bisa resensi yang sudah ditulis dengan susah payah pun bisa tidak dimuat. Padahal, persoalan ini bisa dikata sepele!

Salah satu perbedaan yang harus diperhatikan adalah tentang penulisan data buku. Dalam tulisan resensi buku, data buku “wajib” dicantumkan (atau disertakan) dalam naskah resensi buku. Sebab, dengan pencantuman data buku tersebut, orang yang membaca resensi jadi “tahu” tentang buku yang diresensi. Maka, pencantuman data buku itu tidak boleh terlewatkan. Wajib dan harus dicantumkan.

Lantas, bagaimana cara penulisan data buku yang baku dalam sebuah naskah resensi buku? Tidak ada pakem atau aturan yang baku dalam hal ini. Sebab, setiap koran memiliki sajian yang berbeda-beda tentang pencantuman data buku (tentang buku yang diresensi). Ada satu koran yang mensyaratkan bagi peresensi buku harus mencantumkan tentang soal harga buku –dan salah satu koran yang mensyaratkan bagi peresensi untuk mencantumkan harga buku adalah Koran Jakarta. Tetapi, koran lain tidak mensyaratkan hal ini.

Karena itu, untuk “tahu” seputar data buku yang perlu dicantumkan, seorang peresensi harus mau meluangkan waktu untuk mengamati resensi buku yang dimuat di koran yang akan dikirimi naskah resensi buku. Dengan “cara melihat” bentuk dan struktur data buku yang ditulis di koran tersebut, maka seorang peresensi tidak ragu lagi tentang bentuk pencantuman data buku yang disyaratkan koran (atau majalah) tertentu.

Tetapi, perihal pencantuman data buku itu tidak usah dibuat risau. Meskipun setiap koran (atau majalah) memiliki penyajian data buku yang berbeda-beda, akan lebih aman kalau peresensi mencantumkan data buku secara lengkap. Adapun yang dimaksud dengan mencantumkan data buku secara lengkap itu meliputi; judul buku (untuk buku terjemahan dapat disebutkan judul asli), penulis (atau bisa juga ditulis pengarang untuk kategori novel atau kumpulan cerpen), penerjemah (jika memang buku itu merupakan buku terjemahan), editor, penerbit, cetakan buku, tebal buku, ISBN, dan yang terakhir harga buku.  Jadi dengan pencantuman data buku selengkap mungkin, peresensi akan terhindar dari kesalahan.

Untuk lebih jelesnya, di bawah ini sengaja saya kutipkan penulisan data buku yang dimuat di beberapa koran atau majalah:
a) Majalah Gatra

Dalam pencantuman data buku, majalah Gatra tidak menulis secara lengkap, kecuali hanya beberapa data sebagaimana di bawah ini:
The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis   : Kitami Masao
Penerbit : Redline Publishing, Jakarta, 2009, 256 halaman
(sumber: N. Mursidi, “Jenderal Legendaris dari Nakamura”, Gatra nomor 23 tahun XV/ 16-22 April 2009)

b) Koran Jakarta

Berbeda dengan koran lain, Koran Jakarta dalam penulisan (“pencantuman”) data buku mensyaratkan tentang harga buku;
Judul buku     : Karmaka Surjaudaja; Tidak Ada yang Tidak Bisa
Penulis           : Dahlan Iskan
Penerbit         : Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan         : Pertama, 2012
Tebal buku     : 280 halaman
Harga buku    : 49.800,00
(sumber: N Mursidi, “Perjuangan Hebat untuk Tetap “Hidup”, Koran Jakarta, Selasa 20 Maret 2012)

c) Kompas

Koran Kompas dalam pencantuman data buku dapat dikata menganut pakem atau aturan umum (yang juga biasa diterapkan oleh sebagian besar koran):
Judul buku   : Shin Suikoden: Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air
Penulis         : Eiji Yoshikawa
Penerbit       : Kansha Books, Jakarta
Cetakan       : Pertama, 2011
Tebal buku   : 486 halaman
(sumber N Mursidi, Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberontak, Kompas Minggu 31 Juli 2011)

Dari contoh-contoh penulisan data buku di atas, bisa ditarik satu kesimpulan bahwa dalam pencantuman data buku ternyata ada “banyak versi”. Dengan kata lain, antara satu koran dengan koran yang lain itu berbeda. Tetapi, saran saya, usahakan dalam memilih bentuk penulisan data buku, dengan menulis yang lengkap. Kenapa?

Pertama, dengan mencantumkan data buku secara lengkap, akan memberi gambaran utuh sebuah buku. Persoalan apakah nanti redaktur yang bersangkutan akan mencantumkan atau membuang sebagian data buku, itu adalah urusan lain. Itu sepenuhnya hak redaktur atau editor. Saya selalu mencantumkan data buku secara lengkap, tapi tak jarang redaktur yang bersangkutan kemudian membuang sebagian data buku yang saya tulis di naskah resensi. Sebab, dengan membuang sebagian data buku, redaktur merasa hal itu akan menjadi ciri khas rubrik resensi yang diasuh atau digawangi. Jadi, tulislah secara lengkap!

Kedua, dengan mencantumkan data buku secara lengkap, bagi saya, ada satu keuntungan yang bisa dipetik. Kenapa? Jika akhirnya resensi yang saya kirim itu tak dimuat, tapi saya ingin mengirimkan naskah resensi yang ditolak itu ke media (koran atau majalah) lain, saya tidak perlu lagi mengedit data buku. Dengan demikian, tidak lagi butuh waktu untuk sekadar mengedit urusan yang sepele seperti itu!

[7] Membuat Prolog [Resensi] yang Mengesankan

Prolog (kalimat pembuka) sebuah tulisan resensi buku itu –tidak dapat disangkal– memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Karena itulah, saya menyarakan kepada setiap peresensi buku (terlebih peresensi pemula) untuk tidak gegabah dalam membuat prolog. Dengan kata lain, “tuntutan” untuk membuat “prolog yang bagus” bahkan yang “mengesankan dan kuat” itu, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Meski keberadaan prolog (sebuah tulisan resensi buku) itu bukan faktor satu-satunya atau faktor penentu bagi seorang redaktur resensi buku di salah satu media massa untuk memberikan penilaian dan kemudian memuatnya tapi kekuatan prolog resensi buku yang dibuat oleh seorang peresensi itu memiliki andil yang cukup besar. Maka, tidak ada pilihan lain bagi seorang peresensi kecuali ia harus membuat prolog tulisan resensi buku itu dengan sepenuh kemampuan, “tidak asal” membuat, apalagi ditulis dengan ceroboh. Jadi, soal membuat prolog yang kuat ini harus diperhatikan!

Kenapa saya berani mengatakan bahwa prolog itu memiliki andil besar dalam menentukan nasib sebuah resensi buku? Dalam hal ini tidak saja ketika diseleksi di atas meja redaksi, melainkan juga saat proses penulisan resensi buku itu secara utuh. Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa jadi alasan.

Pertama, prolog –tulisan– itu merupakan langkah pertama yang digoreskan oleh seorang peresensi dalam membuat tulisan. Jadi, dalam proses penulisan resensi itu, langkah pertama ini akan menentukan peresensi dalam menggoreskan huruf, kata maupun kalimat lebih jauh. Meski “tidak ada jaminan” ketika prolog itu dibuat dengan bagus akan menjadikan tulisan itu bagus –secara keseluruhan–, tetapi prolog yang ditulis dengan tidak bagus, rasanya sulit diikuti rentetan tulisan yang bagus. Jadi, tak ada pilihan lagi bagi peresensi untuk tidak megoreskan kalimat yang bagus karena itu akan jadi langkah yang menentukan hingga akhir proses penulisan.

Kedua, prolog (tulisan) itu ibarat “jejak pertama” yang ditorehkan seorang peresensi dalam sebuah tulisan. Tidak salah jika prolog itu akan memberikan “kesan” bagi redaktur. Sebab, dari prolog itu seorang redaktur resensi buku (di media massa) akan memberikan penilaian awal. Jika dalam tulisan prolog itu, redaktur terkesima, mendapatkan kesan yang menggetarkan, dan terpikat, maka dapat dipastikan ia akan membaca lebih jauh.

Jika akhirnya redaktur itu membaca sampai tuntas, dan menemukan bahwa resensi buku yang dibaca itu memang mengagumkan, maka tak ada alasan lagi untuk tidak memuatnya. Jadi prolog itu memiliki andil besar dalam memberikan “kesan pertama” bagi redaktur; apakah dia akan membaca lebih jauh atau tidak. Di sinilah, prolog sebuah tulisan resensi itu memiliki kekuatan. Tapi, kekuatan prolog itu hanya sebatas memikat redaktur di awal. Selanjutnya, naskah resensi itu akan ditentukan oleh kekuatan “secara menyeluruh” dari tulisan resensi tersebut.

Sebaliknya, ketika redaktur membaca prolog resensi itu tidak menemukan hal yang mengesankan, dan kuat, sudah pasti resensi yang dikirim seorang peresensi itu akan ditinggalkan atau tak dibaca lagi. Ini sungguh menyakitkan. Karena peresensi tak berhasil memikat (mengetuk hati) redaktur dari awal. Ibarat  petinju, peresensi itu sudah KO di babak awal. Maka, resensi yang dikirim pun jelas tak dimuat karena sang redaktur tidak sampai membaca hingga tuntas –tidak terkesima bahkan sejak dari goresan yang ditorehkan seorang peresensi pada kalimat pertama.

Tentu, setiap peresensi tak mau mengalami nasib buruk seperti –resensi yang sudah ditulis dengan susah payah tidak dibaca oleh redaktur hingga tuntas. Lantas, bagaimanakan teknik membuat kalimat pembuka (prolog) yang kuat, mengesankan, dan mampu memikat redaktur. Tentu, dibutuhkan latihan, latihan dan latihan secara terus-menerus.

Tetapi, di bawah ini –sekadar sebagai gambaran– akan saya kupas beberapa bentuk atau cara dalam membuat prolog yang bisa dijadikan sebagai panduan.

a) Mengupas Rekam Jejak Penulis 

 Prolog dengan mengupas rekam jejak penulis, tak dapat diragukan lagi, tentu dapat dijadikan “pilihan” sebagai kalimat pembuka yang bagus serta mengesankan. Apalagi, kalau kebetulan sang penulis itu sudah dikenal luas –semisal artis ternama, pejabat publik atau intelektual yang sudah mumpuni. Dengan mengisahkan sekilas tentang sosok penulis, tidak saja hal itu akan memberikan spektrum yang luas akan nuansa tulisan resensi, melainkan juga memberikan penegasan bahwa penulis buku itu memang sudah punya reputasi yang tak diragukan lagi.

Tentu, prolog itu akan sangat berbobot jika ditambah dengan deretan prestasi yang telah diukir oleh penulis. Tujuan dari semua itu, tidak lain untuk mengokohkan reputasi penulis yang memang bisa dijadikan sebagai “jaminan” akan kualitas sebuah buku yang telah ditulis.

Contoh bagaimana menulis prolog dengan mengupas rekam jejak penulis itu bisa disimak di bawah ini:

BISA dihitung dengan jari, selebritis di negeri ini yang memiliki “keahlian” dalam menulis cerita. Jika ada, salah satu dari selebritis itu adalah Dee -nama pena dari Dewi Lestari. Bahkan dalam dunia kepenulisan, nama Dee tak dapat dipandang sebelah mata. Maklum, sedari awal menelurkan karya Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh kemudian disusul Supernova: Akar, Supernova: Petir, Filosofi Kopi, dan Rectoverso, kepiawaian Dee di jagat sastra tidak diragukan lagi. Karya-karya yang lahir dari ide dan imajinasi Dee dapat menjelma serupa magnet yang cukup ampuh menghipnotis perhatian pembaca.

Tak mustahil, jika kekuatan magnet karya-karya Dee itu bisa mengantarkan Dee meraih prestasi dan penghargaan yang semakin menjulangkan namanya. Dalam polling nasional “Penulis Perempuan Paling Dikenal Indonesia” tahun 2009 ini, Dee menduduki peringkat pertama. Selain itu, Dee pun dinobatkan sebagai Top 88 Most Influential Women in Indonesia (Globe Asia) dan juga meraih The Most Outstanding Woman 2009 (Kementerian Pembedayaan Perempuan & Kantor Berita Antara).

(sumber: N. Mursidi, “Sebuah Novel yang Menghanyutkan”, Jurnal Nasional, Minggu 9 Mei 2010)

b) Prolog dengan Mengajukan Pertanyaan

 Selain mengupas rekam jejak penulis, pilihan lain yang bisa dijadikan sebagai prolog dalam membuat resensi adalah dengan cara mengajukan pertanyaan. Pilihan membuat kalimat pembuka resensi dengan teknik ini, tentu tak semata-mata sekadar pilihan. Tetapi, lebih dari itu, prolog model ini memiliki “kekuatan” yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Kenapa? Prolog dengan teknik ini –tak dapat disangsikan lagi– mengundang rasa penasaran. Sebab sedari awal peresensi sudah mencoba mengajukan pertanyaan sehingga hal itu seperti “mematik” keingintahuan siapa pun yang membaca tulisan resensi itu –baik redaktur atau pembaca secara umum– dibuat ingin tahu mengenai apa jawaban yang nanti ditawarkan dalam naskah resensi itu.

Jadi, prolog ini ibarat pematik api yang memercikkan rasa panas kalau tidak membaca lebih lanjut (tulisan resensi tersebut), rasanya tetap dihantui “penasaran”. Tak berlebihan, kalau prolog ini membuka peluang besar resensi tersebut dibaca oleh sang redaktur karena dengan memiliki kekuatan sengatan yang kuat. Kalau akhirnya redaktur itu membaca hingga tuntas naskah resensi itu dan memberikan nilai bagus, besar kemungkinan akan dimuat.

Contoh bentuk prolog resensi dengan mengajukan pernyataan itu, setidaknya bisa disimak di bawah ini:

Mana ada samurai tanpa pedang? Bagaimana mungkin, dia bisa menang perang? Setumpuk pertanyaan lain menggayut ketika membaca judul buku ini. Tapi setelah ditelaah lebih ke dalam, ternyata ada kisah nyata seorang samurai yang tampil tanpa mengandalkan pedang sebagai simbol kependekaran Jepang.

Itulah yang terungkap dari riwayat Toyotomi Hideyoshi. Tidak hanya samurai biasa, ia bahkan menjadi pemimpin legendaris di Jepang. Dengan sosok yang jauh dari citra pendekar, ia menyatukan negeri itu yang tercabik-cabik di abad XV-XVI. Bahkan di puncak kariernya, Hideyoshi menjadi wakil kaisar. Kuncinya adalah kecerdasan, kelicinan dan kemampuan negosiasinya yang luar biasa.

(sumber: N. Mursidi, “Jenderal Legendaris dari Nakamura”, Majalah Gatra, No. 23 tahun XV/ 16-22 April 2009)

Contoh lain:

Benarkah ada orang Kristen yang pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji? Rasanya, pertanyaan itu mengada-ngada. Pasalnya, ibadah haji adalah ritual dalam syariat Islam (sebagai rukun Islam kelima yang digolongkan wajib bagi seorang muslim yang mampu -sekali dalam seumur hidupnya). Jadi, jika ada orang Kristen yang menunaikan ibadah haji, kisah itu sepertinya tak mungkin dan tidak masuk akal.

Tetapi, setelah membaca buku Orang Kristen Naik Haji karya dari Augustus Ralli ini, ternyata cerita itu benar adanya dan bukan sekadar bualan. Karena dalam catatan sejarah, sebagaimana diceritakan dalam buku ini, ternyata ada beberapa petualang Kristen yang tergerak hati pergi ke tanah suci dan menjalankan ritual haji. Ketertarikan mereka itu memang beragam. Tapi, pesona dan magnet kota suci tersebut seakan menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun ada undang-undang yang menegaskan; bahwa tak seorang pun selain orang mukmin (muslim) yang boleh menginjakkan kaki di tanah Mekah, larangan itu tidak membuat petualang Kristen itu dihimpit takut. Para petualangan Kristen itu “berani” menantang maut; tetap nekat pergi ke Mekah dan Madinah

(sumber: N. Mursidi, “Petualangan Berbahaya ke Tanah Suci”, Jawa Pos, Minggu 30 Oktober 2011)

c) Mengungkap Sekilas Pemikiran Penulis

 Pilihan lain tentang teknik membuat prolog, dapat pula dengan menjelaskan sekilas tentang pemikiran penulis buku. Di sini, peresensi dituntut untuk menyelami isi buku dengan baik sehingga dia bisa menemukan ide utama buku tersebut. Tujuan dari teknik atau cara membuat prolog jenis ini, tidak lain untuk memikat redaktur dan pembaca (resensi buku itu) secara umum sejak dari awal tulisan. Sebab, sedari paragraf awal sudah disodorkan secara sekilas pemikiran atau ide utama yang ditulis oleh penulis buku.

Tetapi, teknik ini bukan berarti tanpa cela atau kelemahan. Sebab, ketika ide utama atau pemikiran penulis yang disodorkan sedari awal tidak menarik minat atau hasrat untuk ditahui lebih jauh, bisa-bisa redaktur tak melanjutkan membaca resensi tersebut dan hal itu bisa dipastikan sebagai pertanda buruk bahwa resensi yang telah dikirim dan kemudian diseleksi oleh redaktur itu akan tidak lolos –tidak dimuat.

Jadi ketika seorang peresensi memilih membuat prolog dengan teknik ini, tak ada pilihan lain kecuali harus bisa menyajikan “sekilas pemikiran penulis” itu dengan mengagumkan, kuat dan memiliki cengkraman yang meninggalkan jejak mendalam sehingga redaktur terpikat dan digelayuti ingin tahu lebih jauh tentang pemikiran penulis itu sebagaimana diulas dalam naskah resensi. Contoh cara membuat prolog dengan mengungkap sekilas pemikiran penulis, bisa disimak di bawah ini:

Tuhan menganugerahi hadiah istimewa buat manusia berupa akal (rasio). Tidak disangsikan, kalau manusia merupakan satu-satunya makhluk mulia di muka bumi ini. Dengan akal itu, manusia kemudian bisa berpikir tentang masa depan, bercita-cita untuk menjadi apa yang diinginkan, merajut mimpi bahkan mengubah takdir atas jalan hidup yang ingin dipilihnya di kelak kemudian hari.

Tetapi “kekuatan pikiran” (sebagai watak akal) yang dihadiahkan Tuhan itu ternyata tak sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik sebagian besar umat manusia. Tak pelak, banyak orang tidak memahami kekuatan pikiran, dan efeknya terhadap kehidupan. Padahal, kalau kekuatan pikiran itu dikelola dengan baik, dan kemudian diselaraskan dengan jiwa –yang dibimbing oleh Daya Ilahi– maka tak mustahil setiap apa yang diinginkan manusia, bisa diwujudkan. Dengan kata lain, manusia dapat mengukir takdirnya dengan memanfaatkan kekuatan pikiran.

Tesis itulah yang digemakan Mary T Browne dalam buku 5 Aturan Pikiran ini. Ditulis berdasarkan pengalaman Browne -yang sudah bertahun-tahun menjadi seorang cenayang hebat-, tentu buku ini bukan sekadar susunan aturan mengenai pikiran melainkan juga telah teruji dan terbukti untuk bisa dimanfaatkan. Tak mustahil, dalam buku ini Mary T. Browne berpesan, “Berhati-hatilah dengan apa yang Anda pikirkan.”

(sumber: N. Mursidi, ”Merajut Takdir dengan Kekuatan Pikiran”,  Surya, Minggu 6 April 2008)

d) Mengungkapkan Tema Buku

Tema sebuah buku, sebenarnya, memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh untuk dijadikan sebagai prolog. Apalagi, kalau tema buku itu secara kebetulan memiliki keterkaitan dengan kondisi yang sedang terjadi dan sedang aktual di tengah masyarakat. Maka, mengangkat tema buku untuk dijadikan sebagai kalimat pembuka resensi bisa jadi merupakan sebuah pilihan yang tepat.

Contoh teknik ini bisa disimak di bawah ini:

Satu lagi, sebuah novel yang mengangkat tema tentang “terorisme” terbit –diterjemahkan– dalam edisi Indonesia. Setelah menerbitkan novel Terrorist (karya John Updike), penerbit Pustaka Alvabet, Jakarta kini menerbitkan lagi novel bertema sama karya dari Yasmina Khadra yang berjudul The Attack. Tapi, berbeda dengan novel Terrorist yang bercerita tentang terorisme di Amerika yang dilatarbelakangi ulah kaum militan setelah melihat hidup yang memuakkan di negara Paman Sam itu, novel The Attack mengangkat persoalan warga Israel (di Pelestina) yang melahirkan pejuang-pejuang militan, seperti Intifada.

Ditulis oleh pengarang ternama yang bernama asli Mohamed Maulessehoul, The Attack ini merupakan satu karya fiksi yang ingin memotret perbedaan pendapat antara seorang dokter bedah keturunan Arab yang memilih bernaturalisasi menjadi warga Israel dan “pandangan penduduk Palestina” yang hidup penuh derita dalam memaknai serangan bom bunuh diri untuk mencapai suatu kemerdekaan. Tak pelak, kalau perseteruan (konflik) itu lantas menyeret “dilema” yang menukik bahkan menohok; antara kematian -bom bunuh diri- yang dipilih kaum fundamentalis dalam mencapai kemerdekaan dan tugas suci agama menuju surga (baca: kemuliaan) dengan kelapangan dalam memaknai hidup sebagai hal yang cukup penting.

(sumber: N. Mursidi, “Menggugat Terorisme Lewat Novel” Koran Jakarta, Jum`at 9 Mei 2008)

e) Membandingkan dengan Buku Lain (Komparasi)

 Setiap peresensi itu dituntut untuk tahu lebih jauh tentang keberadaan buku-buku dari penulis lain yang kebetulan mengupas tema yang sama dengan buku yang sedang diresensi. Meskipun tuntutan itu tak bisa dikatakan wajib dan menjadi syarat mutlak, tapi dengan tahu keberadaan buku-buku lain yang bertema sama, akan jadi nilai plus bagi seorang peresensi. Hal ini sangat dibutuhkan tatkala seorang peresensi itu “dituntut” untuk melakukan komparasi atau membandingkan dengan buku-buku lain yang bertema sama.

Teknik komparasi ini tidak saja bisa diterapkan di bagian akhir resensi, tetapi juga bisa digunakan dalam membuat prolog resensi. Dengan menulis “prolog model komparasi” ini, seorang peresensi tidak saja akan “kelihatan” memiliki pengetahuan dan wawasan  yang luas tetapi justru membuat tulisan resensi itu bisa tampak kaya, mendalam dan mengesankan.

Pada sisi lain, dengan teknik memilih prolog komparasi, tentu resensi itu bisa mengungkap lebih jauh tentang kelebihan buku yang diresensi dibandingkan dengan buku-buku yang lain. Itu kelebihan dari model prolog komparasi. Contoh bagaimana teknik  membuat prolog model ini, bisa disimak di bawah ini:

Buku Sang Putri Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama, Sains, dan Cinta ini jelas bukan satu-satunya buku yang berbicara tentang Galileo. Sudah cukup banyak buku tentang Galileo yang ditulis, entah itu dalam bentuk biografi (misal, Galileo at Work: His Scientific Biography, Memorials of Galileo Galilei 1564-1642, dan A Life Galileo), lakon, (Lebens das Galileo karya Bertolt Brecht) maupun kajian lain. Semua itu lahir dari dorongan, kepentingan, dan sudut pandang yang berlainan.

Kendati demikian, kalau mau dibandingkan dengan buku-buku lain dalam bentuk biografi, buku karya Dava Sobel ini setidaknya patut diperhatikan karena tiga alasan. Pertama, buku ini merupakan suatu upaya realistis dalam menampilkan sosok Galileo. Lewat 124 surat Maria Celeste (putri Galileo yang memilih takdir sebagai biarawati) yang pernah dikirim kepada Galileo, Sobel coba menghadirkan sisi lain kehidupan Galileo di balik mitos dan kontroversi yang kerap melingkupinya, dengan sudut pandang kesaksian putri Galileo.

Kedua, di tengah hujatan dan cercaan gereja saat itu atas kiprah spektakuler dan menakjubkan yang diperankan Galileo di dunia sains, buku ini tidak lebih dari suatu pembelaan atas pengadilan Galileo. Ketiga, gaya tutur Sobel yang enak, bahkan mengalir dengan bertolak dari 124 surat sang putri, kemudian dirangkai dalam bentuk narative science history membuat buku ini memikat untuk dibaca.

(Sumber: N. Mursidi, “Sosok Galileo dalam Lipatan Surat”, KOMPAS, Minggu 1 Agustus 2004)

f) Menguatkan dengan Pendapat Penulis Lain

 Tak jarang, sebuah resensi –meskipun itu resensi novel— butuh pengukuhan dari pendapat seorang tokoh yang telah melahirkan teori atau pemikiran yang sudah dikenal luas di tengah masyarakat. Bahkan, hal itu bisa dikutip dari “pendapat” tokoh yang telah ditorehkan dalam buku. Lalu, untuk apa hal itu dilakukan? Tak lain adalah untuk menguatkan bahwa isi buku (ataupun cerita yang dikisahkan dalam novel) itu ternyata bukan hal aneh, tapi justru terjadi di tengah masyarakat dan bahkan cukup mengakar dalam perjalanan sejarah.

Cara ini –tidak bisa dimungkiri- dapat dijadikan pilihan untuk prolog resensi.  Dengan pilihan model ini, resensi yang dibuat tidak saja terlihat kuat, mengesankan dan kaya, melainkan juga menunjukkan bahwa sang peresensi memiliki pengetahuan luas dalam menghubungkan buku yang diresensi itu dengan pendapat penulis lain. Cara membuat prolog model ini, bisa disimak dalam contoh di bawah ini:

Bagi Machiavelli, seseorang bisa jadi pengeran dalam sebuah negera kerajaan karena ia memang diberkahi keberuntungan. Sebab dalam (negara) kerajaan, orang diangkat jadi pengeran berdasarkan keturunan. Tapi tanpa didukung “kemampuan”, jelas keberuntungan itu akan sirna. Dengan kata lain, keberuntungan itu haruslah ditopang dengan kemampuan besar, otak genius, tahu cara memimpin, bertahan, dan bahkan bertindak demi mempertahankan kekuasaan itu. Dan tindakan kejam (meskipun tak bermoral, dan tidak beragama), tetap dibutuhkan untuk memberikan sebuah kekuatan. Sekali pun langkah itu tidak mengantarkan sang pangeran itu pada kemuliaan.

Tetapi, sejarah menorehkan segudang kisah. Ketika sang pangeran (negara kerajaan) mengandalkan keberuntungan semata, pastilah akan berujung tragis –tersungkur dari tahta. Pasalnya, tatkala rakyat ditikam duka lara kelaparan, dan elite politik hanya mengurus perut sendiri, bahkan ketidakadilan teronggok di sudut-sudut kota, benih pemberontakan pun meneguhkan tindakan brutal di luar konstitusi untuk menumbangkan “kursi kekuasaan” sang pangeran.

Apa yang dikatakan Machiavelli di atas tidak dapat ditepis mengukuhkan ruh cerita novel Shin Suikoden karya Eiji Yoshikawa yang mengisahkan kepahlawanan 108 pendekar –yang di mata rakyat disebut-sebut pahlawan tetapi di mata penguasa disebut bandit– untuk melakukan pemberontakan melawan “kebengisan pemerintah Dinasti Song. Cerita ini sebenarnya adalah penuturan ulang Eiji Yoshikawa terhadap kisah klasik China Suikoden (Batas Air). Tetapi, Yoshikawa mampu menorehkan tinta dengan gemulai. Tak pelak, kisah ini pun menjadi kisah yang populer.

(sumber: N. Mursidi, “Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberontak”, Kompas, Minggu 31 Juli 2011)

g) Mengaitkan dengan Peristiwa Aktual

Tak jarang, sebuah buku ditulis oleh penulis dipicu dari latar belakang yang krusial sehingga dia bermaksud menerbitkan buku itu akan bisa menjawab persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Tak berlebihan, jika buku itu kemudian memiliki korelasi dengan peristiwa yang terjadi, aktual dan jadi pembicaraan. Maka, dengan mengaitkan dengan konteks yang terjadi atau peristiwa yang aktual itu pun memiliki nilai penting. Apalagi, koran tidak menepis dituntut untuk menyajikan berita yang aktual.

Pada aras itulah, pilihan peresensi untuk membuat kalimat pembuka dengan mengangkat satu peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat akan memiliki kekuatan –sebanding lurus dengan tuntutan koran yang menyajikan berita aktual. Di sinilah, nilai plus yang bisa diambil ketika seorang peresensi memutuskan membuat prolog dengan cara mengaitkan peristiwa yang terjadi –sehingga buku itu pun patut mendapat apresiasi.

Contoh model prolog ini, bisa disimak di bawah ini:

Dunia pendidikan kita kembali dirundung “duka”. Hasil dari pengumuman ujian nasional kemarin (Senin,26/4) benar-benar mengejutkan banyak pihak –terutama orangtua siswa, guru, kepala sekolah, dan siswa bersangkutan. Pasalnya, jumlah siswa yang tidak lulus meningkat drastis. Ujian nasional tingkat SMA (dan sederajat) 2010 terjun bebas mencapai 89,88% –kalau dibandingkan angka kelulusan ujian nasional 2009: 94,85%. Tak mustahil, jika dari 1.522.162 peserta, ada 154.079 peserta yang harus mengikuti UN ulang pada 10-14 Mei. Siapa yang patut disalahkan dalam kasus ini?

Tentu ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi keterpurukan angka kelulusan tersebut. Salah satunya adalah kopetensi guru. Memang, setiap orang bisa menjadi guru. Tetapi, tak bisa disangkal jika tidak semua orang mampu menjadi guru yang baik, mengobarkan semangat, memberi inspirasi, memancarkan energi, mencerahkan, sekaligus menanamkan pengaruh yang luar biasa sehingga bisa membekas sepanjang hidup di benak anak didik. Padahal guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan itulah yang saat ini dibutuhkan di negeri ini, karena guru semacam itu akan mengantarkan kesuksesan siswa di kelak kemudian hari dan membawa kemajuan bangsa.

(sumber: N. Mursidi, “Jadi Guru Yang Menginspirasi Siswa”, Jawa Pos, Minggu 2 Mei 2010)

h) Mengutip Hadits, Ayat, atau Kutipan Tokoh Terkenal 

 Setiap tulisan resensi itu memang terbuka peluang untuk dibuka atau diawali dengan berbagai bentuk prolog (kalimat pembuka). Tak terkecuali dengan mengutip hadits nabi, ayat al-Qur`an, peribahasa atau bahkan bisa (juga) diambil dari kutipan orang terkenal. Tetapi, dengan catatan, selama kutipan yang dipilih itu masih punya korelasi atau keterkaitan dengan tema yang dikupas dalam buku yang diresensi.

Ketepatan dalam “memilih kutipan” untuk dijadikan sebagai prolog itu, tentu akan memiliki nilai plus. Selain akan menguatkan tulisan resensi, poin penting lain adalah kesan yang kuat bahwa peresensi itu ingin menghubungkan atau mengaitkan buku tersebut dengan kutipan yang dipilih.

Bagaimana membuat prolog yang dibuka dengan kutipan itu, setidaknya bisa disimak dari contoh di bawah ini:

Suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah kami telah banyak berdoa, tetapi kenapa doa kami tak dikabulkan?” Rasulullah pun menjawab, “Sebab kalian berdoa kepada Tuhan yang tidak kalian kenal.”

Hadits nabi itu menegaskan bahwa mengenal Allah (ma`rifatullah) adalah kunci utama dari sebuah doa. Bahkan ibadah (baik itu shalat, haji maupun puasa) yang tidak disertai cinta dan ma`rifat kepada Allah, akan sia-sia. Secara syar`i memang bisa dikata sah, tapi ibadah itu akan jadi sebuah ritual yang semata-mata menggugurkan kewajiban, tak memiliki ruh. Tak meninggalkan bekas dan menimbulkan keberkahan. Hal itu tak lain, karena ma`rifatullah adalah pengetahuan yang paling penting bagi seorang hamba.

(sumber: N. Mursidi, “Meraih Ketenangan Berfondasikan Ma`rifatullah”, Majalah Hidayah edisi 103/Maret 2010)

i) Mengukuhkan dengan Kutipan dalam Buku

Saat peresensi membaca buku yang akan diresensi, tak jarang ia menemukan satu kutipan (atau bahkan dialog dalam sebuah novel) yang cukup mengesankan dan meninggalkan jejak yang mendalam. Tak salah, kalau peresensi itu kemudian merasa perlu kutipan itu dijadikan sebagai prolog sebuah tulisan resensi. Dengan kesan yang dia dapatkan saat membaca buku itu, ia pun berhasan dialog itu cukup berkesan kuat jika dijadikan prolog.

Teknik menorehkan prolog dengan model ini, memang jarang dilakukan oleh peresensi, tetapi tidak ada salahnya kalau sesekali waktu dicoba atau dipraktekkan. Adapun contoh bagaimana membuat prolog dengan mengutip dialog dalam buku itu, setidaknya bisa disimak di bawah ini:

“SAAT itu, usiaku sudah lebih tua dari usia kakakku Noura tatkala dia menikah. Usiaku delapan belas tahun atau mungkin saja lebih, aku tidak tahu dan aku berharap sekaligus berputus asa. Kenangan menguap bersama asap di hari api melahap tubuhku, tetapi aku mencoba membangun kembali apa yang terjadi,” demikianlah kesaksian Souad (nama samaran) dalam novel Burnaed alive, terkait pembunuhan dirinya atas nama kehormatan keluarga.

Kenapa Souad harus dibunuh? Semata-mata, karena keluarga Souad merasa “malu” dengan kondisinya yang hamil tanpa suami. Di tempat Souad dilahirkan dan dibesarkan (Tepi Barat, Palestina) ternyata perempuan dianggap tak lebih berharga dari seekor keledai. Tak salah, jika terlahir sebagai perempuan dianggap sebuah kutukan. Toh, kalau kemudian ia tak dibunuh saat lahir maka diperlakukan tak adil, tak mendapat kesempatan seperti anak lelaki, dan yang lebih tragis, hukum telah menetapkan bahwa membunuh perempuan itu bukan satu dosa. Apalagi jika perempuan itu dicap sebagai charmuta, maka atas nama kehormatan, tradisi dan adat justru menghalalkan perempuan seperti Suoad itu harus dibunuh!

(sumber: N. Mursidi, “Kesaksian Kejahatan atas Nama Kehormatan”, Sinar Harapan, Sabtu 30 September 2006)

j) Menjadikan Pembuka Buku Sebagai Prolog

Setiap penulis dituntut untuk membuat prolog buku (bahkan novel) yang dia tulis akan meninggalkan kesan kuat ketika dibaca. Maka, tidak ada salahnya, kalau seorang peresensi kemudian “ikut-ikutan” mengutip prolog yang ada dalam buku itu untuk dijadikan sebagai prolog tulisan resensi. Dengan memilih model prolog seperti ini, selain seorang peresensi itu ingin menunjukkan bahwa prolog buku itu dari awal mengesankan, juga “mengundang” keingintahuan lantaran tiba-tiba terjadi peristiwa yang tidak diketahui latar belakang.

Model prolog ini tak ubahnya dengan prolog mengajukan sebuah pertanyaan, tetapi tidak dibuat dalam kalimat tanya. Tetapi, mengisahkan peristiwa yang terjadi dan mengecutkan. Tak salah, jika model ini akan mematik hasrat yang kuat untuk membaca resensi itu lebih lanjut.

Contoh tentang teknik membuat prolog seperti ini, bisa disimak di bawah:

PAGI itu, Cecilia –putri terakhir dari keluarga Lisbon– memilih mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Gadis berusia 13 tahun itu berulah menyanyatkan silet di pergelangan tangannya seraya berendam di bak mandi. Ia ditemukan terkapar, dan bugil dalam genangan air yang penuh darah. Mata Cecilia terbelalak. Kedua tangannya mendekap erat gambar perawan suci. Mr dan Mrs Lisbon tercekat saat melihat putrinya itu memilih ritual bunuh diri seperti penganut aliran sesat.

Kisah cukup menegangkan itu menjadi pembuka novel The Virgin Suicides ini. Sebuah pilihan pembuka yang dapat dikatakan cukup memikat. Jeffrey Eugenides mengangkat tema tentang bunuh diri yang sebenarnya kisah amat biasa, tetapi pengarang yang lulus meraih predikat magna cumlaude dari Brown University, serta penghargaan gelar MA sastra Inggris juga penulisaan kreatif dari Stanford University 1986 ini ternyata mampu mengolahnya jadi cerita yang mendebarkan. Tak mustahil, kalau novel perdana karya pengarang –yang kini tinggal di Berlin, Jerman– ini sudah diterjemahkan ke dalam enam belas bahasa dan best seller.

(sumber: N Mursidi, “Ritual Bunuh Diri Lima Perawan”, Koran Jakarta Sabtu 9 Agustus 2008)

k) Prolog Bernada Pujian atau Kekaguman

Dalam buku biografi atau memoar, tak jarang tokoh yang dituliskan kisahnya dalam buku itu mengundang decak kagum bagi pembaca –bahkan tak terkecuali bagi peresensi. Apalagi jika buku memoar atau biografi itu tergolong buku inspiratif yang bisa memberikan asupan semangat untuk meraih sukses. Maka, sang tokoh seolah tampil bak seorang pahlawan dan pejuang hebat yang memang layak mendapatkan pujian dan sanjungan.

Pujian dan sanjungan itu –setidaknya— bisa dijadikan sebagai prolog resensi. Selain untuk tujuan rasa kekaguman, dengan memilih prolog itu, sebenarnya seorang peresensi ingin menggarisbawahi bahwa buku itu memang layak untuk dibaca sebab sang tokoh itu bisa dijadikan pelajaran dalam meraih sukses.

Contoh model prolog ini, bisa disimak di bawah ini:

SUNGGUH luar biasa dan mengagumkan! Itulah ungkapan yang pas untuk disematkan di pundak Merry Riana, wanita muda Indonesia yang kini jadi miliuner, diakui sebagai pengusaha sukses, motivator dan penulis buku terlaris di Singapura. Padahal, dulu waktu kuliah di Singapura, ia harus menelan “ludah pahit”. Ia menanggung utang 40 ribu dollar yang ia pinjam dari Development Bank of Singapore untuk kuliah di Nanyang Technological University, Singapura.

Tapi di tengah kondisi hidup pas-pasan itu, Merry ternyata memiliki strategi bertahan hidup yang luar biasa. Bahkan, selain itu ia mampu bangkit dari keheningan kemiskinan. Ia rela meredam segala keinginan bersenang-senang, hidup sederhana bahkan hemat –dengan mengkonsumsi mie instan hampir tiap hari dan menahan lapar lantaran tidak mampu membeli lauk yang mewah. Dengan kegigihan, tekat yang kuat, disiplin yang tinggi, bahkan melibatkan Tuhan dalam bekerja, akhirnya mimpi yang ia cita-citakan itu berhasil direngkuh setelah kerja dengan keras. Ia mampu mengumpulkan uang sejuta dolar ketika masih terbilang muda, 26 tahun.

Perjalanan hidup Merry penuh lika-liku itulah yang dituturkan Alberthiene Endah dengan bahasa yang mengalir lancar, indah, dan sungguh menggugah hati pembaca. Alberthiene Endah bisa mengungkap hampir setiap langkah yang dijejakkan Merry ketika mulai tantangan baru kuliah di Singapura dan harus menahan lapar hingga bisa mengukir prestasi gemilang sebagai seorang lulusan sarjana atau anak muda yang sukses lantaran mampu mewujudkan mimpinya meski dihadang keterbatasan dan kemiskinan. Apa rahasia di balik kecemerlangan prestasi Merry sehingga ia mampu meraih mimpi spektakuler dan terbebas dari belitan beban finasial di usia yang tergolong masih muda?

(sumber: N. Mursidi, “Sukses Mewujudkan Mimpi”, Seputar Indonesia, Minggu, 4 Desember 2011)

Tentu, teknik atau cara membuat prolog di atas bukanlah harga mati. Dengan kata lain, selain beberapa prolog yang saya sebutkan di atas, sebenarnya masih ada banyak teknik dan cara lain dalam membuat kalimat pembuka. Jadi, dalam konteks inilah, seorang peresensi itu dituntut untuk terus kreatif dan memiliki kemampuan plus dalam mengolah kata agar dia dapat membuat prolog yang kuat, mengesankan bahkan mengundang daya gugah redaktur untuk tidak menoleh ke naskah peresensi lain.

Sebab, semakin piawai seorang peresensi itu membuat prolog, reputasi dia sebagai peresensi buku akan diakui. Apalagi, kalau dia tidak saja mampu membuat prolog yang kuat dan memikat semata, melainkan juga mampu menulis tulisan utuh yang bagus. Pasalnya, bagi saya, menulis itu sebenarnya gampang. Tetapi bagaimana mampu menghasilkan tulisan yang bagus dan kemudian bisa dimuat di koran itulah yang sungguh sulit dan butuh kerja keras –bahkan kerja cerdas.

Untuk itu, saya berharap penjelasan saya tentang teknik bagaimana membuat prolog yang bagus, kuat dan mengesankan ini dapat menjadi “pemicu semangat” bagi peresensi lain (terlebih peresensi pemula) untuk tak menyerah dan dalam membuat prolog yang kuat. Sebab, prolog itu –meskipun bukan faktor utama seorang redaktur menilai sebuah naskah— tapi memberikan andil besar dimuat atau tidaknya sebuah tulisan resensi. ***

PELATIHAN DASAR MENULIS DI SEMARANG

PELATIHAN DASAR MENULIS DI SEMARANG

Komunitas Semarang Menulis (sebuah komunitas Kristen yang bertujuan untuk membangkitkan orang-orang Kristen di Semarang untuk menggeluti dunia tulis-menulis) akan mengadakan Pelatihan Dasar Menulis di Semarang

Hari: Sabtu, 29 September 2012

Waktu: Pukul 10.00-14.30WIB

Tempat: Kantor LPMI Jl. Ngesrep Timur V Dalam II No. 10 Semarang

Peserta: Mahasiswa dan Umum
Pembicara: Arie Saptaji, Slamat Parsaoran Sinambela
Moderator: Pither Randan B
Biaya: Rp20.000,-
Pendaftaran bisa via sms ke 087831018876 atau 085242166446 paling lambat 27 September 2012
TEMPAT DIBATASI HANYA 40 orang.

Dunia Menulis dan Menulis Dunia: Membangun Budaya Literasi

by Yasraf Amir Piliang

Dunia akademik tidak dapat dipisahkan dari dunia literasi, khususnya dunia tulis menulis. Meskipun demikian, ada yang mengatakan menulis itu susah, meskipun ada juga yang tidak mengalami kesulitan. Ada yang mengatakan menulis itu perlu bakat, tetapi ada pula yang mengatakan bisa dipelajari. Ada yang menghindarkan diri dari tugas menulis, tetapi ada pula yang mencari kesempatan menulis. Menulis memang merupakan business yang kompleks, khususnya di dalam dunia akademik. Menulis tidak saja merangkai kata-kata, tetapi menciptakan sebuah dunia.

Sebagai sebuah dunia, menulis bukanlah aktivitas tunggal. Ada berbagai cara menulis dan ada berbagai genre tulisan: ayat suci, tulisan ilmiah, tulisan jurnal, makalah seminar, tulisan propaganda, artikel surat kabar, tulisan majalah, novel atau cerita pendek. Masing-masing genre tulisan mempunyai prinsip, karakteristik, dan metodenya sendiri. Tulisan ilmiah tentu berbeda dari tulisan propaganda, baik dalam metode, sistematika dan gaya bahasanya. Tulisan jurnal berbeda dengan tulisan surat kabar dalam hal kedalaman dan gaya penyampaiannya.

Meskipun demikian, ada ciri-ciri umum aktivitas menulis dan produk tulisannya. Di satu pihak, seperti aktivitas riset, menulis (untuk semua genre) melibatkan kapasitas intelektual atau nalar, yaitu kapasitas dalam mengolah pikiran dan akal budi dalam rangka menghasilkan konsep lewat medium tulisan. Di pihak lain, seperti aktivitas seni pada umumnya (misalnya, melukis), menulis melibatkan kapasitas intuisi, yaitu kapasitas pengolahan rasa dan hati dalam rangka menghasilkan tulisan yang estetis atau komunikatif. Oleh karena itu, tulisan tidak saja harus mengandung nilai kebenaran, tetapi juga komunikatif dan estetik.

Menulis berarti mengembangkan horizon, yaitu cakrawala tentang kemungkinan dunia, yang hendak dibangun di dalam penulisan, serta mengembangkan perangkat dan cara-cara dalam pengembangan horizon tersebut. Menulis adalah mencoba mencari kemungkinan dunia tersebut dengan mengembangkan kemungkinan horizon di dalamnya. Setiap penulis pasti mempunyai sebuah (atau beberapa) horizon, atau dengan perkataan lain harus mengembangkan horizon tersebut, dan mempunyai cara, metode, dan gayanya sendiri dalam penciptaan horizonnya itu.

Tulisan ini tidak hendak membicarakan metode atau model-model penulisan secara teoretis, melainkan upaya untuk bercerita ulang tentang pengalaman personal dalam dunia tulis-menulis. Menceritakan kembali pengalaman menulis itu dapat dianggap sebagai sebentuk refleksi personal, yang meskipun demikian diharapkan dapat diambil hikmahnya secara umum. Berbagai konsep berikut adalah hasil refleksi dari pengalaman tulis-menulis tersebut.

Menulis itu Mendesain

Di dalam sebuah kesempatan penulis pernah mengatakan, bahwa menulis itu melukis, bahwa ada persamaan antara hakikat menulis dan melukis, disebabkan menulis tidak saja memerlukan kapasitas, kompetensi atau keterampilan merangkai kata-kata, bahasa, intelektualitas dan nalar, akan tetapi juga membutuhkan kemampuan kreativitas, perasaan, intuisi dan kepekaan estetis tertentu. Menulis yang tanpa nilai-nilai melukis tersebut layaknya mesin bahasa, yang hanya memproduksi teks tak berjiwa atau bahasa tanpa aura. Oleh karena itu, menulis juga memerlukan suasana jiwa (mood), emosi, rasa dan spirit.

Akan tetapi, berkaitan dengan dan mendukung konsep menulis itu melukis, dapat dikatakan pula bahwa menulis itu mendesain. Oleh karena melukis bukanlah proses murni chaotic, kacau dan disorder, akan tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Ahmad Sadali, memerlukan perencanaan. Melukis adalah proses desain, yaitu mengubah disorder menjadi order, ketidakberaturan menjadi keteraturan. Menulis itu memerlukan proses desain seperti itu, yang di dalamnya melibatkan antara lain proses: 1) menetapkan tujuan, 2) identifikasi masalah, 3) penyusunan metode, 4) pengumpulan data, 5) penyusunan konsep, dan 5) mencari alternatif solusi.

Meskipun demikian, proses desain yang dimaksud bukanlah proses linier, yang mengikuti alur atau urutan-urutan yang kaku dan tertutup. Menulis, sebaliknya, memerlukan proses maju-mundur, bolak-balik atau persilangan yang kompleks dan terbuka, yang di dalamnya terdapat proses isi mengisi atau tumpang tindih antara metode, inspirasi dan ide-ide, di dalam proses yang disebut abduksi. Keterbukaan dan sifat kelenturan merupakan inti dari menulis. Pada satu kasus, ide solusi itu muncul secara tiba-tiba (eureka), meskipun tujuan masih samar-samar. Pada kasus yang lain, ide solusi itu baru muncul setelah tujuan disusun secara jelas.

Untuk tulisan-tulisan yang lebih ilmiah, penulis biasanya memulai dari identifikasi masalah, yaitu melihat masalah-masalah kongkrit di dalam masyarakat, baik dalam konteks sosial, politik, hukum, kebudayaan atau seni, dan mengembangkan opini sementara tentang masalah tersebut. Untuk mengembangkan opini sementara (doxa) itu ke dalam argumen-argumen yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (logos), diperlukan data-data yang mendukung, teori-teori yang relevan (yang memerlukan studi kepustakaan yang memakan waktu), dan diperlukan pula gaya bahasa (bahasa ilmiah) yang mendukung penulisannya.

Disebabkan menulis adalah proses desain, maka ia memerlukan cara berpikir desain yang tidak linier, akan tetapi cara berpikir horizontal, yang disebut Edward de Bono, sebagai cara berpikir lateral, yaitu cara berpikir yang membuka selebar-lebarnya berbagai kemungkinan atau alternatif bagi suatu masalah yang ingin dipecahkan, tidak justru berhenti dan puas dengan sebuah solusi. Kata, judul, kalimat, paragraf, istilah, atau konsep yang ditawarkan di dalam sebuah tulisan memerlukan cara berpikir lateral ini, yang membiarkan berkembangnya berbagai alternatif, dan pada akhirnya memilih ekspresi yang dianggap optimal dalam relevansinya dengan tema yang dikerjakan.

Membaca Itu Memproduksi Ide

Sebuah tulisan memerlukan gizi, agar ia sehat dan tumbuh, apalagi tulisan ilmiah. Tanpa gizi, tulisan akan kering, dangkal, permukaan dan penuh pengulangan (tautology). Gizi bagi seorang penulis adalah pengetahuan, teori atau konsep-konsep baru, yang bisa diperoleh dengan membaca buku. Pengetahuan, teori atau konsep-konsep baru tersebut dapat menjadi inspirasi bagi penulisan, yang dengan kekayaannya, dapat meningkatkan produktivitas ide, gagasan atau tema-tema tulisan.

Membaca buku (sebagai sumber inspirasi ide) adalah seperti orang mengembangbiakkan atau beternak ide. Artinya, buku yang dibaca menawarkan sebuah (atau beberapa) ide yang diproduksi oleh seorang penulis terinspirasi oleh penulis (atau beberapa penulis) sebelumnya. Ketika seorang penulis membaca buku, maka ide yang ada di dalam buku itu dikembangbiakkannya di dalam pikirannya, sehingga ide tersebut dapat menghasilkan satu, belasan, puluhan, ratusan bahkan jutaan ide-ide lain, yang siap menjadi bahan penulisan. Dengan demikian, membaca buku bagi seorang penulis bukanlah mereproduksi ide (yaitu, memindahkan ide-ide penulis ke dalam pikiran pembaca), melainkan proses produksi, yaitu menghasilkan ide-ide dipicu oleh sebuah ide. Inilah mungkin yang disebut di dalam teori kreativitas sebagai produksi meme (informasi budaya). Meme adalah informasi yang mampu berkembang biak lewat proses diseminasi dan penyebaran di dalam pikiran banyak orang.

Sebagaimana orang memilih-milih makanan dalam hal jenis dan tingkat gizinya, maka membaca juga memerlukan proses memilih-milih bahan yang hendak dibaca, baik dari segi jenis bacaan dan tingkat gizinya: bacaan yang lunak, lembek, keras; bergizi tinggi, berkolesterol tinggi, dan selanjutnya, untuk kemudian mengembangkan perlakuan tertentu terhadap bahan bacaan tersebut. Untuk bahan bacaan yang berbeda jenis maupun gizinya diperlukan perlakuan membaca yang berbeda. Untuk bahan bacaan tertentu yang bersifat teoretis sangat diperlukan sikap kritis, sementara untuk bahan bacaan yang lebih populer lebih dituntut sikap menikmati.

Membaca bukanlah proses pasif memindahkan ide, melainkan proses aktif dan kritis, yang tidak saja memahami apa dari sebuah teks, akan tetapi menemukan logika di balik teks tersebut, dalam rangka menemukan titik-titik kritis, horizon-horizon yang terbuka, atau ruang kosong di dalamnya, yang mungkin dapat diisi secara kreatif oleh pembaca berdasarkan logika dan horizonnya sendiri. Dengan demikian, membaca adalah proses inovatif, yaitu membuka horizon bagi sesuatu yang baru (ide, gagasan, struktur, strategi, konsep, bentuk, relasi, klasifikasi), dengan menjadikan ide yang ditawarkan sebuah teks sebagai titik berangkat untuk memproduksi ide-ide yang lebih kaya atau berbeda.

Membaca adalah membuka horizon seluas-luasnya, melampaui ide atau gagasan yang dimaksud oleh seorang pengarang. Artinya, ketika membaca, pembaca harus membiarkan imajinasinya bergerak secara liar mengikuti energi dan hasratnya—memikirkan, membayangkan, mengkonstruksi, mengkhayalkan, mengangankan—segala kemungkinan dunia yang dimungkinkan oleh daya imajinasi tersebut. Pembaca seharusnya tidak bersikap menunggu di hadapan sebuah teks, melainkan secara aktif mengembangkan horizonnya, agar mampu memproduksi teks (ide, gagasan, struktur) baru, dengan segala kekhasan bentuk, nilai dan keyakinan di baliknya. Oleh sebab itu, pembaca harus menempatkan dirinya sebagai subjek, yang mempunyai kapasitas pemahaman sendiri, dan mampu memproduksi maknanya sendiri.

Disebabkan menulis itu seperti orang merawat tubuh, dan membaca adalah gizi dari tulisan, maka membaca itu harus dibuatkan rumah yang nyaman. Artinya, harus diciptakan ruang-waktu untuk aktivitas membaca. Bila ruang-waktu untuk membaca itu sangat terbatas, disebabkan berbagai kesibukan (struktural akademis) maka harus diciptakan ruang-waktu tersebut. Diperlukan ruang (rumah, lapangan, kantor) untuk membaca, dan diperlukan waktu (istirahat, pagi, malam) untuk melakukannya. Dengan perkataan lain, perlu ditumbuhkan habit membaca. Membaca tidak lagi dianggap sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan, dengan memberinya ruang-waktu yang memadai, yang kalau tidak diadakan akan mengakibatkan kondisi lapar pengetahuan.

 

Praduga Bersalah Terhadap Teori

Membaca memerlukan sikap mempertanyakan, meragukan, menanamkan praduga bersalah terhadap pikiran atau teori yang ada, termasuk pikiran sendiri, dalam upaya mencari berbagai kemungkinan dunia dan kebenaran lain, khususnya untuk pembacaan yang bersifat teoretis. Artinya, membaca memerlukan proses berpikir, olah nalar dan olah kognisi, tidak sekadar proses linguistik penerjemahan makna sebuah teks, tetapi secara aktif mencari berbagai kemungkinan makna lain secara kritis.

Khusus untuk bacaan teroritis, membaca bukanlah proses pasif memindahkan isi buku ke dalam otak, seperti camera obscura, melainkan proses membangun ruang kritik, yang memungkinkan seorang pembaca menempatkan dirinya sebagai seorang reserse yang menginterogasi sebuah buku. Pembaca selalu memahami ide-ide sebuah buku dengan pikiran kritis, yaitu melihat berbagai aspek kritis pada ide atau teori-teori yang ditawarkan sebuah teks, dalam rangka menemukan celah-celah untuk mengembangkan koreksi teoritis atau pengetahuan baru.

Membaca adalah mencari makna yang ditawarkan oleh sebuah buku. Akan tetapi, makna itu tidak selalu dapat ditemukan di dalam teks itu sendiri. Boleh jadi makna itu berkembang di luar teks, ketika pembaca mencoba menempatkan ide-ide sebuah teks di dunia lain di luar teks tersebut: dunia pengalaman personal, dunia imajinasi, dunia realitas sosial, dunia spiritual. Di depan atau di luar teks, ada berbagai dunia yang tersedia, dan tugas pembaca adalah menemukan dunia di depan teks tersebut. Adalah kreativitas pembacaan yang memungkinkan terbentangnya dunia kemungkinan baru tersebut. Misalnya, ketika seorang fisikawan seperti Einstein membaca kumpulan puisi, muncul ide-ide tentang teori fisika; ketika Dewi Lestari membaca teori-teori kuantum, muncul ide-ide tentang cerita novel, dan seterusnya. Inilah kreativitas membaca.

Pembaca yang terjebak di dunia di dalam teks, tidak mempunyai kekuatan untuk menemukan dunia di depan teks, dengan demikian tidak mampu menciptakan dunia baru dari pembacaannya. Oleh karena itu, pembaca harus menciptakan sendiri dunia di depan teks tersebut, memperluas sendiri horizon pembacaannya. Pembacaan penulis terhadap teori-teori semiotika, dengan berupaya memperluas horizon pembacaan, misalnya dengan mengkaitkan semiotika dengan dunia kriminalitas, membuka cakrawala teoritis baru. Di dalam buku Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna (Jalasutra, 2003), penulis mengembangkan kategori-kategori baru tanda, yang tidak ditemukan di dalam teks-teks semiotik, dengan mencoba menghadapkan teori-teori semiotik yang ada (interior teks) dengan realitas yang ada (eksterior teks), dan menemukan kenyataaan, bahwa ada realitas penggunaan tanda yang tidak tersentuh oleh kategorisasi teori semiotik, sehingga memunculkan ide tentang kategori-kategori baru tanda.

Ada masa ketika pembaca teks dituntut untuk meragukan atau menanamkan praduga bersalah (melihat kesalahan, kekurangan, kekosongan, ketidaktepatan, irelevansi, kemandulan) sebuah teori, dan berupaya bagaikan reserse mengiterogasi teori-terori tersebut, dengan menghadapkannya dengan realitas yang ada, sehingga dari proses interogasi ini dapat dibentangkan berbagai kemungkinan kebenaran lain yang tidak ada di dalam teks, tetapi ditemukan di luar teks tersebut (di dalam kehidupan sehari-hari).

Tampil Beda dengan Neologi

Banyak perkembangan di dunia keseharian, dunia akademik, dunia seniman, yang tidak dapat dijelaskan melalui perbendaharaan kata atau gramar yang ada. Artinya, perbendaharaan kata atau kamus, tidak mampu mengantisipasi berbagai realitas baru yang tengah berkembang dan hidup di dalam masyarakat (oleh karena itulah, kamus itu perlu selalu direvisi dan diaktualisasikan). Sebuah kamus hanya mampu menjelaskan dunia di belakangnya, tetapi tidak kuasa menjelaskan dunia di depannya, oleh karena dunia itu belum ada atau belum didefinisikan.

Disebabkan keterbatasan kamus inilah, banyak pemikir, penyair atau novelis yang menciptakan kata, istilah atau frase-frase baru (neology), dengan berbagai alasannya masing-masing. Penggunaan kata atau frase baru itu tentunya tidak karena alasan gaya semata, tetapi alasan dan kebutuhan penulisan yang jauh lebih kompleks, dengan berbagai bentuk dan kemungkinan kombinasi neologi di dalamnya.

Bagi pemikir atau filsuf, neologi digunakan disebabkan ada situasi, realitas, konsep, struktur atau teori khusus yang tidak dapat diekspresikan melalui perbendaharaan kata yang ada. Penggunaan kata atau istilah yang ada dikawatirkan akan menjebak di dalam proses generalisasi, reduksionisme dan penyederhanaan masalah, sehingga diperlukan perbendaharaan kata baru untuk menghindarkan situasi tersebut, agar semuanya lebih kontekstual dan lebih benar. Bagaimana Jacques Derrida, menggunakan kata differance, Deleuze menggunakan kata deteritorialisation, Guattari menggunakan desiring machine, Lyotard menggunakan libidinal economy, dan sebagainya, dalam rangka mewadahi perkembangan dunia realitas dan ide yang tidak ada definisinya di dalam kamus.

Bagi para penulis novel atau penyair, neologi diperlukan disebabkan kamus atau perbendaharaan kata yang ada tidak mampu menampung emosi, suasana hati, gejolak jiwa dan perasaan yang ingin diungkapkan, sehingga diperlukan kata atau ungkapan baru. Bagaimana James Joyce, di dalam Ullyses, menggunakan kata-kata yang tidak ada di dalam kamus Bahasa Inggris, seperti rhododendrons, plumpeddered, megeggagget, treestems, cooeing, hobbledehoy, whorusalaminyourhoghhohhh. Hanya lewat kata-kata aneh itulah Joyce secara akurat dapat melukiskan dunia yang diimajinasikannya.

Penulis sendiri sangat mengandalkan diri pada kekuatan neologi ini, dengan berbagai alasan. Pada sebuah kasus karena alasan filosofis, pada kasus lain karena alasan style. Di dalam berbagai buku, makalah seminar, tulisan jurnal atau artikel surat kabar, banyak sekali neologi yang penulis kembangkan, dengan alasannya masing-masing, antara lain: horosofi, horografi, horrocracy, libidonomi, libidocracy, libidografi, pseudosophy, pseudocracy, pseudonomics, hipersemiotika, hipermoralitas, hiperpornografi, poshorosofi, symbolicum horrobilis, semiotic violence, dan sebagainya. Berbagai neologi tersebut perlu diciptakan, agar realitas sosial, politik dan kultural yang ingin diungkapkan tidak dapat dilukiskan secara tepat oleh kata-kata yang ada di dalam kamus.

Penulis berpendapat, bahwa neologi merupakan kekuatan tulisan, tidak saja kekuatan eye catching yang dimilikinya, yaitu kemampuannya menangkap perhatian pembaca, akan tetapi lebih jauh lagi kekuatan untuk mengajak pembaca membayangkan atau mengimajinasikan dunia baru, yang hanya bisa direpresentasikan oleh sebuah neologi. Kadang-kadang ada berbagai fenomena realitas yang sudah lama atau usang, akan tetapi ketika ia dikemas dengan kata baru (neologi) ia mampu menghadirkan spirit baru pada realitas yang sudah usang tersebut.

Akan tetapi, neologi tidak hanya sekadar kosmetik atau make-up sebuah tulisan yang bersifat artifisial. Kadang-kadang situasi atau kondisi yang lama itu mengalami perubahan, pergeseran atau transformasi di dalam konteksnya yang baru, sehingga untuk menjelaskannya tidak dapat lagi digunakan istilah lama. Penggunaan istilah-istilah seperti horrosophy, bukan untuk mengemas realitas lama (realitas kekerasan) dengan kosmetik baru, akan tetapi realitas kekerasan itu sendiri yang berkembang sedemikian rupa, sampai pada satu titik, di mana kekerasan (horror) itu bersimbiosis dan melebur menjadi satu dengan kebijaksanaan (sophos) dan estetis (aisthetikos), sehingga kekerasan itu dianggap menjadi bijak (kasus terorisme) atau menjadi indah (kasus film aksi), sehingga hanya neologi horrosophy yang dapat mewadahi kecenderungan baru ini.

Menulis itu Merayu

Menulis tidak saja menyampaikan ide, gagasan atau pesan tertentu, dan bagaimana orang dapat memahami ide, gagasan atau pesan tersebut, akan tetapi lebih jauh lagi, bagaimana orang dibuat tertarik, terpesona, bahkan terpengaruh pikirannya (dan melakukan tindakan tertentu) oleh sebuah tulisan. Seorang penulis tidak hanya ingin dimengerti ide atau gagasannya oleh para pembacanya, akan tetapi lebih jauh lagi, ingin diperhatikan, didengarkan, dicintai, disukai, dipatuhi atau bahkan dipuja. Menulis, dengan demikian adalah sebentuk rayuan.

Dalam pengertiannya yang umum, rayuan adalah cara seseorang menampilkan penampakan dirinya melalui tanda-tanda artifisial (make-up, lipstik, eye-shadow, eyebrow, mascara, wig, atau bedah plastik) agar orang yang melihat tertarik dan terpesona akan penampakan itu. Akan tetapi, ciri dari rayuan semacam itu adalah sifat artifisialnya, yaitu trik-trik manipulasi yang menyembunyikan realitas dirinya yang sebenarnya. Rayuan adalah penampilan diri secara palsu, dan orang terpesona akan kepalsuan itu.

Akan tetapi, konsep merayu di dalam menulis adalah dalam pengertiannya yang sangat khusus, yaitu membuat para pembaca sebuah tulisan tertarik, terpesona, terhipnotis, atau jatuh cinta pada penampilan sebuah tulisan (elemen tulisan), bukan karena sifat artifisialitas, fetishism atau kepalsuannya, melainkan oleh kekuatan karisma yang ada di dalam tulisan itu sendiri. Karisma sebuah tulisan bisa muncul dari kandungan isinya yang mendalam, dari gaya bahasa yang mempesona, dari pemilihan kata-kata atau judul yang menarik, dari metode yang digunakan, atau dari realitas yang diangkat.

Rayuan dalam tulisan adalah dalam pengertian, bahwa seorang penulis membangun semacam daya tarik atau eye catching di dalam teksnya, dengan cara tertentu, sehingga menimbulkan daya pikat, rasa keingintahuan, atau daya pesona tertentu pada orang yang membacanya. Sebuah tulisan—terutama tulisan populer atau tulisan untuk media massa—harus menampilkan dirinya dengan wajah yang menarik. Sebagus apa pun sebuah tulisan, bila ia tidak dapat ditampilkan dengan penampilan yang menarik, tidak akan mengundang orang membacanya.

Ada berbagai cara dalam merayu atau mengemas penampakan sebuah tulisan. Pertama, judul yang menarik, kreatif dan menimbulkan rasa ingin tahu. Judul sebuah tulisan membutuhkan kreativitas sendiri, yaitu kemampuan untuk mengemas kata-kata yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu atau daya tarik. Dalam kasus tertentu diperlukan neologi atau bahasa asing (Inggris, Latin, Yunani atau kombinasi beberapa bahasa) untuk memberikan daya tarik, khususnya untuk konsep-konsep yang susah dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Kedua, paragraf pertama (pembuka) yang menarik, baik dan stylist. Kalimat dan paragraf pertama adalah pintu gerbang ke dalam sebuah tulisan. Bila pintu gerbang itu buruk, kumuh, dan kumal, tidak ada orang yang tertarik memasuki ruang-ruang tulisan. Menulis, dengan demikian, tidak sekadar menyampaikan ide, gagasan atau pesan tertentu dengan benar, tetapi juga dengan daya tarik tertentu; tidak saja sistematik, tetapi juga komunikatif; tidak saja logis, tetapi juga estetis.

Menulis Bagaikan Menunggang Angin

Seorang penulis bukan manusia soliter, yang dalam memproduksi tulisan, terisolir dari konteks masyarakatnya, atau tercabut dari jagat budayanya, khususnya untuk tulisan-tulisan tertentu yang membutuhkan aktualitas, seperti artikel surat kabar. Untuk tulisan-tulisan surat kabar, majalah atau jurnal, penulis harus jeli melihat isu aktual, pemikiran yang tengah ramai, berita yang hangat, kejadian yang kongkrit, masalah yang nyata, dan melihat semuanya sebagai peluang untuk memproduksi tulisan aktual. Khusus untuk tulisan surat kabar atau majalah, sifat aktualitas tulisan tersebut menjadi syarat mutlak. Sebagus apa pun sebuah tulisan, sedalam apa pun isinya, sekreatif apa pun metodanya, atau sebagus apa pun gaya penulisannya, bila ia tidak membicarakan kondisi yang aktual, tulisan itu tidak akan dimuat di dalam media. Tentunya ini tidak berlaku untuk tulisan ilmiah.

Dengan perkataan lain, seorang penulis itu seperti seorang pengendara angin, yaitu ia harus tahu persis arah angin, yaitu arah perkembangan opini, isu, pendapat, pengetahuan, dan mencoba untuk menunggangi arah angin tersebut. Oleh sebab itu, seorang penulis harus selalu awas terhadap perubahan cuaca atau arah angin pengetahuan, yang selalu berubah-ubah setiap saat, dengan cara selalu mengikuti perkembangan isu atau pengetahuan yang ada melalui buku, media cetak, televisi atau internet, agar pengetahuannya tetap up-to-date, sebagai prasyarat bagi tulisan yang kreatif. Inilah penulis reaktif.

Akan tetapi, seorang penulis tidak selalu harus bersikap pasif menunggu datangnya angin perubahan (isu, trend, pengetahuan, kecenderungan) tersebut. Pada satu situasi tertentu, seorang penulis harus dapat meramalkan arah angin tersebut, yaitu mengantisipasi perkembangan isu, pengetahuan, tren pemikiran yang mungkin akan muncul, dan secara proaktif membangun opini baru, dengan menggiring publik ke arah isu baru tersebut. Inilah penulis proaktif.

Untuk tulisan surat kabar seorang penulis bisa bersifat reaktif, disebabkan tuntutan sifat aktualitas sebuah tulisan. Untuk tulisan yang lebih hidup lama (durable), seperti buku, penulis dapat bersifat proaktif dengan cara mendahului zaman (beyond zeitgeist). Banyak ide-ide yang dikembangkan di beberapa buku penulis merupakan upaya proaktif untuk membuat asumsi, perkiraan, atau bahkan prediksi tentang masa depan, meskipun di antaranya bersifat spekulatif. Akan tetapi, setidak-tidaknya secara teoritis berbagai kecenderungan masa depan sudah dapat diantisipasi. Untuk itu, kesadaran tentang masa depan (futuristic) sangat diperlukan dalam penulisan. Seorang penulis yang ingin melampaui zamannya harus mempunyai kapasitas membaca masa depan (futurolog).

Siapkan Jaring Pengaman Ide (JPI)

Ide itu muncul secepat kilat (eureka), tetapi juga menghilang secepat kilat. Ide tidak menunggu kita untuk merealisasikannya. Ia bahkan tidak memberi kabar kapan akan datang, dan kapan akan pergi. Jangan mengharapkan ide itu akan berbaik hati, seperti pegawai asuransi yang dengan muka ramah datang kepada kita setiap pagi, yang secara gigih merayu calon nasabahnya. Ide itu jangan ditunggu, akan tetapi harus dijemput, dan bila ia datang, ia harus segera diberikan rumah tempat tinggalnya sementara, bila tidak ingin ia kabur selamanya.

Rumah ide itu adalah bahasa. Seorang penulis harus membangun rumah ide tersebut, dengan caranya masing-masing, yaitu dengan membangun mekanisme bahasa untuk menampung ide tersebut. Sebuah ide dirumahkan dengan cara membahasakan, merekam dan mendokumentasikannya, agar menjadi tahan lama, dan dapat diputar ulang, dipakai, dikembangkan di satu ketika. Untuk dapat menangkap ide tersebut, seorang penulis harus menyiapkan diri dengan perangkat yang disebut Jaring Pengaman Ide (JPI).

JPI itu merupakan totalitas pikiran, mental, situasi, alat-alat, bahasa dan ruang, yang melaluinya ide-ide dicari, ditangkap, direkam, dan didokumentasikan, agar ia tidak menghilang. Ide-ide (atau inspirasi) itu bisa datang di mana saja dan kapan saja (di ruang belajar, kamar makan, kamar mandi, WC, di dalam mobil, di dalam bioskop). Momentum ide itu harus ditangkap, dimasukkan ke dalam JPI, sebab bila tidak momen tersebut bisa segera hilang, dan tidak ada slow motion replay untuk sebuah ide, tidak ada siaran ulang untuk sebuah gagasan.

Ada berbagai cara seorang penulis dapat mengembangkan JPI ini dengan metode dan pendekatannya masing-masing. Penulis sendiri mengembangkan model JPI yang bertingkat, tergantung moment of ideas itu sendiri. Tingkat pertama, adalah tingkat actual moment of ideas, yaitu momen ketika ide itu muncul secara tiba-tiba di sembarang tempat dan peristiwa (di WC, di dalam angkot, sedang menyetir mobil, di dalam bioskop, sedang menonton televisi, sedang memasak, makan, naik sepeda) dan sembarang waktu (pagi, siang, sore, malam). Untuk menangkap ide yang datang tiba-tiba itu yang diperlukan adalah alat tulis (pensil, pulpen, spidol) dan media tulis apa pun yang ditemukan (bungkus korek api, kertas tissue, kartu nama, bon belanja, telapak tangan), yang penting adalah, bahwa ide itu telah dirumahkan untuk sementara sebelum ia pergi.

Tingkat kedua, adalah moment of idea’s development, yaitu ketika ide-ide awal tersebut berkembang lebih jauh, lebih luas, lebih kompleks, khususnya dengan adanya peluang mengkaitkan satu ide awal dengan ide-ide lainnya, sehingga lebih lengkap, lebih komprehensif dan lebih jelas sosoknya. Untuk itu, diperlukan mekanisme perekaman yang lebih permanen. Penulis, dalam hal ini, selalu mempersiapkan diri dengan seperangkat note book, buku tulis, atau buku agenda, yang di dalamnya catatan-catatan ide awal tersebut dibuat ke dalam bentuk skema-skema yang lebih komprehensif dan sistematis.

Tingkat ketiga, adalah moment of reflection, yaitu momen ketika akumulasi ide-ide yang bersifat skematis itu direnungkan, dipikirkan atau dianalisis secara lebih mendalam (mungkin juga lebih filosofis), dalam rangka untuk menghasilkan pemikiran–pemikiran yang lebih dalam, matang dan reflektif. Untuk itu, penulis menyediakan format catatan ide yang lebih besar, berupa buku tulis yang lebih besar dan tebal, yang di dalamnya dikembangkan berbagai bentuk perenungan dan refleksi, yang bersifat lebih durable, yang pada suatu ketika nanti dapat dikembangkan menjadi pemikiran, konsep atau bahkan teori baru, baik dalam format artikel jurnal atau buku.

Hidup di dalam Dunia Metafora

Jangan abaikan kekuatan metafora di dalam menulis dan dunia literasi pada umumnya, karena metafora dapat menjadi pintu gerbang kreativitas menulis. Ada suatu masa ketika bahasa lateral tidak mampu melukiskan sebuah dunia secara elegan dan menarik, disebabkan keterbatasan bahasa formal itu sendiri. Dalam hal ini, metafora dapat mengambil alih peran bahasa lateral tersebut. Kekuatan metafora harus dimanfaatkan untuk melukiskan dunia dengan cara yang baru, unik dan menyegarkan.

Metafora adalah prinsip penggunaan bahasa secara khusus melalui proses peminjaman, yaitu proses menjelaskan sebuah sistem tanda melalui sistem tanda yang lainnya. Metafora adalah semacam peralihan (transference) dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya, yang di dalamnya sebuah tanda dipinjamkan untuk menjelaskan sebuah objek lainnya, dengan mentransfer maknanya. Kepala batu untuk menjelaskan orang yang tidak mau diatur; muka badak untuk menjelaskan seseorang yang bebal; kantong kempis untuk menjelaskan orang yang tidak punya uang, dan sebagainya.

Metafora merupakan proses kreasi bahasa yang lebih dinamis, yang di dalamnya tidak hanya berlangsung peminjaman dan pemindahan bahasa, melainkan ada proses penafsiran, transformasi, inovasi makna, dan penciptaan kode-kode baru secara kreatif. Melalui kendaraan metafora, seorang penulis dapat menjelaskan berbagai realitas yang tidak dapat dijelaskan melalui bahasa yang lateral atau formal. Metafora, dengan demikian, mempunyai kekuatan menjelaskan melampaui bahasa lateral.

Penulis yang menggunakan prinsip metafora tidak sekadar memindahkan makna dari sebuah sumber pertandaan, berdasarkan alur atau kode asalnya, melainkan melibatkan proses mengkombinasikan berbagai sumber tanda secara kreatif, untuk memudahkan pemaknaan sebuah realitas, atau membuatnya lebih akrab. Penulis dapat menggunakan metafora yang kreatif untuk menjadikan proses pembacaan tulisannya oleh pembaca lebih akrab. Banyak penulis dan pemikir besar yang mengandalkan pemikirannya pada kekuatan metafora. Misalnya, penggunaan metafora base dan superstruktur oleh Marx untuk menjelaskan struktur ideologi; penggunaan metafora astronomi orbit oleh Baudrillard untuk menjelaskan fenomena perputaran ekonomi, moneter, fashion dan media; penggunaan metafora biologi rhizome oleh Deleuze untuk menjelaskan berbagai bentuk umum pertumbuhan ekonomi, sosial, kultural dan bahasa.

Sebuah Dunia yang Dilipat mengandalkan dirinya pada kekuatan metafora tersebut. Sebagai judul, melipat dunia itu sendiri adalah metafora, untuk melukiskan berbagai kondisi dunia, yang telah diringkas (space shuttle), dimampatkan (media), diminiaturisasikan (Disneyland), dipadatkan (cyberspace). Sebuah Dunia yang Berlari adalah metafora lain, untuk melukiskan kondisi kecepatan dan percepatan yang mewarnai berbagai wajah dunia (dunia ekonomi, politik, media, kebudayaan).

Ada berbagai metafora lain yang penulis kembangkan, seperti tubuh bangsa untuk menjelaskan relasi organis di antara elemen-elemen bangsa; hutan rimba tanda untuk melukiskan kondisi pertandaaan (signification) dan produksi tanda yang begitu massal, sehingga mengalami over-produksi; fatamorgana politik, untuk melukiskan dunia politik yang disarati oleh berbagai kepalsuan, kesemuan dan manipulasi, sehingga lenyap batas antara kebenaran dan kepalsuan; pengadilan bayang-bayang untuk menggambarkan wajah hukum yang dipenuhi oleh kekaburan, ketidakjelasan dan indeterminasi antara keadilan dan ketidakadilan.

Menulis itu Mendekonstruksi Diri Sendiri

Penulis bukanlah seorang yang sempurna, seperti Tuhan, yang dari awalnya mampu menghasilkan karya yang sempurna, tanpa cacat. Sebagai manusia, penulis tidak kebal dari kesalahan (pemahaman, pembacaan, pemikiran, perenungan). Oleh karena tidak kebal terhadap berbagai kesalahan, seorang penulis harus menyediakan waktu bagi refleksi diri, yaitu untuk membentangkan secara genealogis berbagai kesalahan atau aib diri di masa lalu. Penulis—terutama dalam konteks akademis—harus terbuka bagi kritik dari luar maupun kritik diri sendiri.

Penulis harus berani menilai diri sendiri secara terbuka dan jujur, sehingga melalui itu ia berani melakukan kritik terhadap dirinya sendiri. Kejujuran terhadap diri sendiri itu merupakan awal dari proses dialektika dalam penulisan. Penulis yang jujur terhadap dirinya sendiri adalah yang secara terbuka dan fair berani melihat kesalahan masa lalu (thesis) dan melakukan proses koreksi diri (anti-thesis), untuk pada akhirnya melakukan koreksi diri (synthesis)—inilah dialektika menulis. Melalui proses dialektika itulah seorang penulis dapat menghasilkan karya-karya tulis secara produktif.

Menulis, dengan demikian, adalah proses dekonstruksi diri sendiri secara terus-menerus, untuk melakukan proses self-correction yang tanpa akhir. Mendekonstruksi diri sendiri adalah semacam proses genealogi diri, yaitu proses mencoba menemukan asal-usul tak sedap atau relasi asal yang memalukan di dalam pemikiran, tulisan atau teks sendiri. Dekonstruksi diri berarti mempertanyakan secara terus-menerus sebuah tulisan atau teks, untuk melihat berbagai cacat (epistemologis, metodologis, linguistik, stylistic) di dalam pikiran-pikirannya, sehingga setiap titik akhir sebuah karya selalu dilihat sebagai permulaan baru, disebabkan selalu saja ada celah bagi pembetulan cacat dan koreksi pemikiran tersebut. Tulisan, dengan demikian, tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang selesai atau sebuah ada (being), tetapi proses menjadi secara terus-menerus (becoming).

Banyak penulis yang secara berani melakukan proses dekonstruksi diri atau genealogi diri semacam ini. Roland Barthes, seorang ahli semiotik, misalnya, melakukan koreksi besar-besaran atas pemikiran awalnya tentang semiotika (ilmu tentang tanda), yang memungkinkannya untuk beralih dari pemikir strukturalis (semiotika strukturalis) menjadi pemikir postrukturalis (semiotika postrukturalis). Barthes melihat berbagai cacat pada teori awalnya tentang tanda, dan berupaya tidak saja mengkoreksinya tetapi menolaknya, yang memungkinkan terbentangnya ruang baru bagi teori baru. Dengan demikian, proses dekonstruksi atau genealogi diri itu bersifat produktif dan transformatif.

Ada berbagai kemungkinan kesalahan atau cacat yang dilakukan penulis. Pertama, kesalahan bahasa, yaitu kesalahan dalam penggunaan kata, gramar dan tata bahasa. Kedua, kesalahan data, yaitu kesalahan dalam penulisan data (nama, tahun, kuantitas, seks), yang berakibat kesalahan informasi. Ketiga, kesalahan konseptual, yaitu kesalahan penyampaian konsep tertentu, yang dapat mengakibatkan kesalahan pemahaman. Keempat, kesalahan gaya, yaitu kesalahan dalam penerapan aspek-aspek estetik dari bahasa, yang menyebabkan kurang estetisnya sebuah tulisan. Keempat aspek kesalahan ini mungkin sama pentingnya, bergantung pada tipe tulisan yang ada.

Penulis sendiri melakukan proses dekonstruksi diri tersebut di atas, setidak-tidaknya pada dua tingkat dekonstruksi. Pertama, dekonstruksi pada proses penulisan itu sendiri (moment of writing), yaitu berbagai koreksi diri pada waktu menulis tulisan. Kadang teks (koran, tulisan jurnal) yang sedang disiapkan dibaca ulang sampai empat atau lima kali sebelum dikirim ke redaksi. Di dalam pembacaan ulang itu, ada berbagai koreksian, tidak saja mengenai ejaan, istilah dan gramar, akan tetapi juga koreksi mengenai gaya. Dalam hal ini diperlukan kesabaran dan kecermatan.

Kedua, dekonstruksi pasca-penulisan, yaitu berbagai bentuk refleksi diri yang dilakukan jauh setelah tulisan (artikel, buku) diterbitkan, dalam rangka merenungkan berbagai cacatnya, dalam rangka melakukan transformasi. Misalnya, pembacaan ulang yang penulis lakukan terhadap buku awal Sebuah Dunia yang Dilipat (1997), menemukan berbagai kekurangan, ketidaklengkapan atau ketidakdalaman pada buku tersebut, untuk kemudian melakukan berbagai bentuk pendalaman dan penyempurnaan, yang memungkinkan proses transformasi menjadi buku Dunia yang Dilipat (2003). Transformasi yang sama terjadi dari buku Hiperrealitas Kebudayaan (1999) menjadi buku Hipersemiotika (2003). Dengan melakukan dekonstruksi (atau setidak-tidaknya koreksi diri), sebuah buku tidak pernah berhenti menemukan dirinya alias mati; akan tetapi selalu hidup dalam proses menjadi dan transformasi diri yang kompleks dan tanpa akhir.

Menggali Seluruh Potensi Bahasa

Menulis menawarkan berbagai kemungkinan dunia, yaitu kemungkinan dunia yang tercipta di dalam dan bahkan di luar tulisan. Menulis berarti membentangkan horizon, membangun dunia. Struktur sebuah tulisan menawarkan dunia baru. Sebuah tulisan menawarkan harapan tentang sebuah dunia. Kemungkinan dunia itu adalah semacam jagat imajinasi (imaginative atmosphere), yang harus dibangun oleh seorang penulis ketika ia menciptakan tulisan. Imajinasi adalah pembangun dunia literasi yang sangat penting. Tanpa imajinasi—meskipun ada bahasa—tidak akan mungkin ada dunia literasi.

Akan tetapi, disebabkan kemungkinan dunia imajinasi itu tak berbatas, maka seorang penulis benar-benar harus menggali seluruh potensi dan kekuatan dirinya untuk dapat membentangkan kemungkinan dunia tersebut melalui kekuatan imajinasinya. Salah satu potensi kekuatan imajinatif yang harus habis-habisan digali oleh seorang penulis adalah potensi dan kekuatan imajinasi bahasa. Orang tidak saja dapat menggunakan bahasa sebagai media untuk berimajinasi, akan tetapi orang dapat pula mengembangkan imajinasinya tentang bahasa itu sendiri, sehingga memungkinkan kreativitas bahasa, seperti yang dicontohkan oleh Joyce. Bahasa itu adalah kekuatan, disebabkan kata-kata tidak saja dapat membuat orang menjadi paham, akan tetapi dapat menggerakkan, mempengaruhi, menggiring dan menghipnotis.

Ada banyak cara para penulis memanfaatkan kekuatan bahasa. Joyce menggunakan kekuatan neologi di dalam berbagai novelnya, yang mampu menjadi kekuatan imajinatif novelnya; Jacques Derrida menggunakan kekuatan lay-out sebuah tulisan, sehingga beberapa bukunya menggunakan pola lay-out double-text yang menarik, yang mengundang imajinasi tentang ruang bahasa; Pierre Bourdieu memanfaatkan kekuatan kalimat, dengan menciptakan kalimat yang sangat panjang, yang membutuhkan perhatian besar dalam membacanya; Ayu Utami memanfaatkan kekuatan kata-kata indigenous di dalam novelnya Shaman, sehingga mampu menghadirkan nilai eksotik.

Penulis sendiri secara sadar memanfaatkan kekuatan imajinasi kata-kata dalam menggerakkan (berpikir, merasakan, bertindak). Beberapa buku penulis oleh berbagai pihak dikatakan mempunyai kekuatan menggerakkan semacam itu, melalui bahasanya yang cenderung mengandung unsur retoris, meskipun sebagian orang lain mengatakannya sebagai bahasa hiperbolik atau superlatif. Berbagai buku tersebut mengeksplorasi kekuatan retoris tersebut.

Bahasa tidak saja mempunyai kekuatan melukiskan dunia, akan tetapi lebih jauh lagi melukiskan dunia yang belum ada, dalam pengertian dunia yang masih diimajinasikan, diyakini, diinginkan atau dihasratkan. Tugas penulis adalah mencoba menemukan dunia imajinasi, keyakinan dan hasrat tersebut, sebagai bagian dari fungsi kreatif dan produktif dari dunia penulisan dan literasi pada umumnya. Keliaran imajinasi bahasa seorang penulis tentunya sangat ditentukan oleh lingkungan budayanya, meskipun budaya itu sendiri selalu dalam proses menjadi. Oleh sebab itu, menulis adalah proses dinamis yang selalu menjadi, yaitu upaya tanpa henti dan lelah menemukan berbagai kemungkinan dunia yang tak berbatas itu.[]

Lapotta direkam sebuah buku

Judul: Berguru Pada Pesohor, Panduan Wajib Menulis Resensi Buku Penulis: Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan Penerbit: d:buku dan I:BOEKOE Tebal: 265 hlm

Judul: Berguru Pada Pesohor, Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis: Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan
Penerbit: d:buku dan I:BOEKOE
Tebal: 265 hlm
Ukuran: 13 x 20 cm (Paperback)
ISBN: 978-602-98997-0-2
Harga: Rp 50.000 (tidak termasuk ongkos kirim)

LIMITED EDITION

Resensi bukan semata timbangan buku yang menjadi promosi, melainkan juga sebuah pengadilan atas sebuah buku. Melalui resensi nasib sebuah buku ditentukan takdirnya, cacat atau hidup mulus.

Di sini, penulis resensi dituntut bermata ganda: mata seorang wisatawan dan sekaligus penyidik.

Buku panduan menulis resensi ini mencoba merumuskan tahapan-tahapan penulisan resensi dari awal persiapan hingga akhir menjadi buku. Disertai pula contoh-contoh yang diambil dari resensi beberapa penulis ternama di Indonesia, mulai dari Tirto Adhi Soerjo, Abdullah SP, Boejong Saleh, hingga Budi Darma, Goenawan Mohamad, dan Syahrir.

Ada pula tips-tips praktis di setiap pokok bahasan.

++++++++++

Daftar Isi

KATA PENGANTAR » 5

APA, MENGAPA RESENSI » 12

  • Apa Resensi Buku Itu? » 13
  • Ringkasan Buku (Book Report) dan Resensi Buku (Book Review) » 14
  • Untuk Apa Resensi? » 14
  • Apa Bedanya Dengan Artikel? » 18

PERSIAPAN-PERSIAPAN » 20

  • Memilih » 20
  • Baru Atau Lama » 22
  • Membaca » 23
  • Daftar Pertanyaan Interogratif » 24

KARTU TANDA BUKU » 28

  • Penerbit » 30
  • Media Massa » 31

MODEL-MODEL RESENSI » 33

  • Model Rangkuman » 34
  • Model Resensi Lebih Dari Dua Buku » 36
  • Buku Sebagai Catatan Perjalanan » 41
  • Model Kritik » 43
  • Model Cerita » 54

MEMBUAT JUDUL MENGGUGAH » 57

  • Sarkastis » 65
  • Ironi » 69
  • Tindakan Tokoh » 70
  • Waktu/Silsilah » 72
  • Penulis » 73
  • Serial » 76
  • Poin Terpenting, Eye Catching » 77
  • Pertanyaan » 78
  • Metafora » 79
  • Mengolah Judul Buku » 81
  • Istilah Populer » 85
  • Penjelasan, Keluasan, Dan Peristiwa Buku » 86
  • Geografi/Tempat » 87
  • Kontradiksi » 87
  • Penekanan Dan Definitif » 89

MENAKLUKKAN PARAGRAF PERTAMA » 92

  • Tema dan Metode » 93
  • Pertanyaan » 97
  • Penulis Buku » 104
  • Gaya Penulisan » 112
  • Deskripsi » 116
  • Kisah Yang Paling Menarik » 120
  • Fisik Buku » 121
  • Kritik » 124
  • Kutipan » 127
  • Keunggulan Buku » 136
  • Perbandingan » 140
  • Angka Unik » 143
  • Puisi » 143

MENGOLAH TUBUH RESENSI » 146

  • Jenis Buku » 147
  • Metode Penulisan » 150
  • Tema » 152
  • Bagian Vital » 157
  • Karya-Karya Lain Penulis Yang Sama » 159
  • Cerita Yang Menonjol » 161
  • Kebaruan Dan Keunikan Tema » 166
  • Titik Perdebatan » 168
  • Kritik » 173
  • Cacat Buku » 178
  • Kisah Pribadi Peresensi dan
  • Buku yang Diresensinya » 188

MENGUNCI PARAGRAF TERAKHIR » 192

  • Kepada Siapa Buku Ini » 193
  • Kritik-Kritik » 194
  • Pujian » 201

PROSES AKHIR » 206

MENERBITKAN ANTOLOGI RESENSI BUKU » 210

  • Mengumpulkan Serpihan » 213
  • Terbitkan Bukumu » 215
  • Bagaimana Mendapatkan ISBN? » 219
  • Persyaratan Yang Mesti Disiapkan » 220
  • Promosi Buku » 221

KOLOM RESENSI DI MEDIA MASA » 222

  • Media Massa » 222
  • Radio » 235
  • Televisi » 237

HALAMAN RESENSI BUKU DI INTERNET » 239

BUKU RESENSI BUKU » 257

PROFIL PENULIS » 265

Sumber: Indonesia Buku

Kiat Menulis Opini di Media Massa

Oleh Victor Silaen
(Disampaikan pada Sesi Menulis untuk Media, pada Festival Penulis dan Pembaca Kristiani 2010, Museum Mandiri Kota, Jakarta, 28 November 2010)

Yongky Karman, Eman Dapa Loka, Victor Silaen

Pengantar
Saya mulai menulis opini untuk dikirim ke media massa, secara serius, sejak 1993, usai menamatkan studi magister saya. Saya memulainya dari media-media “kalangan sendiri” dulu (misalnya Kairos, Bahana, Narwastu, dan lainnya), baru kemudian memberanikan diri ke media-media umum yang berskala nasional seperti Suara Pembaruan, Kompas, Media Indonesia, Suara Karya, Merdeka, dan lainnya).

Setelah tulisan-tulisan saya mulai sering dimuat, terus-terang ada kenikmatan tersendiri yang saya rasakan. Pertama, saya bangga, karena ternyata saya bisa. Kedua, saya mulai dikenal orang banyak melalui tulisan yang terpampang di media-media tersebut. Ketiga, saya mendapatkan honorarium yang besar-kecilnya memang relatif, namun yang jelas sangat bermanfaat bagi saya. Terkadang, kalau saya menulis resensi buku, lalu fotokopi resensi buku yang dimuat di media itu saya kirimkan ke penerbitnya. Sebagai tanggapan, saya kemudian dikirimi beberapa buku terbaru terbitan mereka. Wah, saya senang sekali, dapat uang plus buku.

Keempat, karena saya mulai “agak dikenal”, maka saya pun sesekali diminta untuk menjadi narasumber dalam diskusi atau seminar ini dan itu, atau diminta untuk menulis di suatu media. Mulanya di kalangan internal umat beragama, lama-lama di kalangan lain yang lebih luas. Karena itulah bagi saya sekarang, menulis tidak hanya sebatas hobi, tetapi juga pekerjaan. Ya, menulis adalah sebuah pekerjaan, yang terhormat dan menghasilkan.

Bagaimana Memulainya
Untuk memulai aktivitas menulis atau menjadi penulis yang serius, pertama-tama pastikan dulu bidang atau hal apa saja yang menjadi minat Anda. Setelah memastikannya, maka kumpulkanlah semua informasi, opini, pandangan, pikiran, gagasan, terkait itu. Dari siapa saja, dan dari sumber mana saja. Ini penting, sebagai modal kita bila nanti akan atau sedang menulis dan ternyata kita membutuhkan tambahan, kelengkapan, atau pengayaan untuk menambah bobot tulisan kita.

Lalu, mulailah menulis. Tulis saja dulu sekali jalan sampai selesai, kalau durasi tulisan itu memang pendek. Tetapi kalau tulisan itu berdurasi panjang, mungkin perlu disambung beberapa kali. Sesudah tulisan itu selesai, barulah kita memerlukan waktu lagi untuk mengeditnya, supaya jika ada kesalahan dapat langsung diperbaiki (baik yang menyangkut huruf atau kesalahan pengetikan, data, kata dan kalimat yang kurang enak atau tidak nyambung, dan lain sebagainya). Di antara tahap-tahap tersebut jangan sampai terjadi masa jeda yang terlalu lama. Sebab biasanya, jeda yang lama berdampak negatif bagi pikiran atau insight atau “rasa” kita terkait tema tulisan tersebut.

Jika pola menulis seperti ini dibiasakan dan dilatih terus-menerus, maka kelak kita akan terbentuk menjadi penulis yang produktif, kreatif, dan cepat. Bagaimana membentuk dan menyambung kalimat demi kalimat pun kelak menjadi hal yang mudah bagi kita. Begitupun dalam memilih kata-kata atau istilah-istilah yang menarik dan cocok untuk digunakan.

Untuk itu tak ada salahnya dan bahkan perlu bagi kita untuk menjadikan beberapa penulis terkenal sebagai model untuk pembelajaran. Model yang dimaksud tidak hanya terkait dengan bagaimana kita menulis, tetapi juga bagaimana kita berpikir atau logika kita dalam menulis. Ini penting, karena kita akan mendapatkan banyak kemajuan dari proses pembelajaran yang merujuk ke beberapa penulis terkenal itu.

Tentang Ide dan Bank Data
Karena sekarang ini saya telah terbiasa menulis untuk sejumlah media secara rutin, maka dengan sendirinya saya harus mendapatkan ide-ide menarik terus-menerus. Untuk saya yang berlatar belakang dan berminat pada bidang sosial politik, maka mendengar radio dan menonton televisi setiap hari sudahlah merupakan keharusan. Selain itu, setiap hari pula saya harus membaca koran. Majalah, tabloid, dan media-media maya merupakan tambahannya, di samping diskusi formal atau percakapan dengan orang-orang yang seminat dengan saya.

Ada lagikah? Ya, saya juga memonitor beberapa mailing list setiap hari. Dari sanalah saya juga kerap mendapatkan ide, data, dan informasi penting. Namun, dari semua itu, yang penting kita sendiri adalah pribadi yang “gelisah”. Maksudnya, kita harus merasakan ada “sesuatu” yang penting untuk kita angkat dalam sebuah tulisan setiap kali kita mendengar, melihat, atau menonton sesuatu, atau juga mengalami sesuatu. Di dalam “sesuatu” itulah terkandung ide atau ilham, yang harus kita ingat dan pikirkan terus hingga akhirnya dituang menjadi sebuah tulisan.

Memang, mungkin saja tidak setiap hari saya dalam kondisi siap menulis – meski saya “memaksa diri” untuk itu. Atau, saya bisa mendapat ide dan data yang cukup banyak dalam waktu singkat, namun tak mungkin dapat saya tuangkan menjadi tulisan dalam sehari. Untuk itu, saya mempunyai bank data. Di komputer saya sejak dulu ada folder-folder khusus untuk bank data itu. Sekarang caranya gampang, akses ke situs web atau maling list, lalu copy and paste (kalau perlu, jika ada ide atau data sejenis tapi banyak, digabung saja dalam satu file). Lalu, berilah judul khusus. Nanti, kalau sudah ada waktu, baru dibikin menjadi sebuah tulisan. Tinggal dirangkai dan dijalin dengan teknik kompilasi. Namun ingatlah tadi, jangan lupa tambahi pandangan dan pikiran para ahli dan akhirnya juga pandangan dan pikiran kita sendiri.

Sebenarnya ada bank data lain yang sifatnya “darurat”, yakni ruang “konsep” (atau “draft”) pada telepon selular (ponsel) saya. Inilah yang kerap saya gunakan bila sewaktu-waktu muncul ide, yang saya pikir dapat saya kembangkan menjadi sebuah tulisan utuh selekas saya punya waktu yang luang untuk menulis.

Menyempurnakan Tulisan
Tulisan yang baik, bukan hanya terkait dengan keindahan kalimat yang dibuat, kebenaran bahasa yang digunakan, keabsahan data dan informasi yang dikutip, tetapi juga jalan pikiran kita sendiri. Artinya, tulisan itu harus diberi nilai tambah dan bobot khusus agar ketika dibaca orang lain menjadi menarik perhatian. Untuk itu ada kiatnya: 1) kutiplah teori atau pendapat para ahli yang relevan dengan soal yang kita tulis; banyak dan panjangnya tergantung dengan durasi tulisan kita; 2) tambahkan pendapat atau pikiran kita sendiri apa, terkait soal yang kita bahas itu; 3) tambahkan di bawah tulisan tentang keterangan diri kita yang punya “nilai jual”, misalnya “penulis adalah dosen bidang anu di universitas anu, penulis pernah melakukan penelitian di bidang anu di daerah anu, dan yang sejenisnya.

Perhatikan pula soal judul. Untuk tulisan yang akan dikirim ke media massa, lebih baik judulnya bersifat “ngepop” alias pendek tapi menggunakan kata-kata atau istilah-istilah yang pas dengan konteks saat itu. Ini penting, sebab pengalaman para penulis terkenal selama ini memang menunjukkan demikian. Artinya, dari judulnyalah si redaktur media massa tersebut sudah tertarik. Soal isi, itu belakangan. Memang tidak selalu begitu, tetapi ini penting diperhatikan. Jadi, jangan sampai kita membuat judul yang tidak menarik, bahasanya kaku, dan panjang pula. Ini bisa membuat si redaktur media yang bersangkutan tak tertarik sama sekali untuk membacanya.

Lain halnya jika tulisan itu ditujukan untuk jurnal atau media yang serius sifatnya. Untuk itu judul tulisan memang lazimnya dibuat agak panjang dan berbahasa formal.

Hal lain, perlu pula memperhatikan etika dan etiket. Maksudnya, kalau mengkritik, tetaplah gunakan bahasa yang santun. Mungkin juga, dalam konteks tertentu, tidak perlu menyebutkan identitas dari pihak yang kita kritisi. Ini penting, agar jangan sampai tulisan kita ditolak hanya gara-gara bahasa kita yang tidak santun dan terkesan kasar. Penting pula diperhatikan agar jangan sampai tulisan kita bernuansa emosional. Sebisa mungkin bersikaplah “dingin” ketika membahas atau menyoroti sesuatu dalam tulisan.

Ada kiat lain untuk memberi daya tarik pada sebuah tulisan, yang terkadang baik juga untuk kita lakukan. Yakni, mengutip kalimat mutiara atau motto atau yang sejenisnya di awal tulisan (atau bisa juga di akhir tulisan). Atau, mengakhiri sebuah tulisan dengan kalimat bernada imbauan atau pesan yang menarik. Di awal kalimat kita juga bisa menggunakan pertanyaan untuk memancing, di akhir kalimat juga begitu. Ini semua dimaksudkan hanya sebagai daya tarik pada sebuah tulisan.

Menjajakan Tulisan
Untuk mengirim tulisan ke media publik, mulailah dari media-media yang berskala “kecil” dan perlahan-lahan baru ke media-media berskala “besar”. Mulailah dari tulisan-tulisan yang “ringan” baru kemudian ke tulisan-tulisan yang “berat”.

Dalam kaitan itu juga, kita perlu mengenali karakter media yang akan menjadi target kita. Perhatikan soal durasinya, tema-tema favoritnya, aktualitasnya, gaya bahasanya, dan lain sebagainya. Kalau rasanya semua “syarat” itu sudah kita penuhi, maka kirimlah. Sekarang cukup dengan email saja. Kalau ada beberapa alamat email, kirimlah ke semua alamat itu. Jangan lupa sebutkan alamat dan ponsel kita, bahkan juga foto (sebaiknya bukan yang bergaya pasfoto, dan berwarna). Nomor rekening bank kita tidak usah disebutkan, kecuali nanti kalau sudah dimuat.

Menulis Tanpa Guru
Menurut Peter Elbow, gurubesar bahasa dan Direktur Program Menulis di University of Massachusetts, AS, menulis sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus ada guru. Untuk itu, yang pertama perlu dilakukan untuk bisa menulis adalah menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di benak kita. Ia memberi istilah ”menulis bebas” untuk tindak menuangkan apa saja yang terlintas dalam benak melalui tulisan. Menulis bebas adalah latihan yang bisa membantu untuk membiasakan diri menulis. Dalam latihan ini, orang disarankan untuk menuangkan, dalam bentuk tulisan, apa pun yang ia pikirkan, bahkan tentang ketidakmampuannya menulis. Saat diminta menulis apa pun yang terpikirkan selama sepuluh menit dan merasa buntu, orang boleh saja hanya menuliskan kebuntuannya, kebingungannya. Dalam menulis bebas, lupakan aturan, lupakan kesalahan. Tulis dan luapkan saja secara bebas.

Tentu, menulis bebas bukan akhir dari proses belajar menulis. Elbow juga bicara tentang proses menulis. Ibarat tanaman, bibit-bibit menulis adalah apa yang dihasilkan dalam menulis bebas. Bibit tidak diharapkan jadi bibit selamanya, ia harus tumbuh sehingga potensi-potensinya teraktualisasi. Bibit diharapkan menjadi pohon yang rindang dan kokoh atau jadi perdu yang indah.

Begitu pula bibit tulisan. Hasil menulis bebas perlu ditumbuhkan menjadi tulisan yang menggugah, mencerahkan, memberi kenikmatan bagi pembacanya. Menulis dalam tahap ini, menurut Elbow, bukan cara mengirim pesan, tetapi cara menumbuhkan pesan. Seperti pohon, dari batang tulisan yang sudah dihasilkan, ranting-ranting pesan bisa ditumbuhkan. Lalu daun-daun kata menghiasinya, rimbun dan berwarna. Caranya: baca ulang hasil tulisan itu (proofreading), tegaskan topik utama, temukan bagian-bagian yang perlu dielaborasi atau dihilangkan, tentukan alinea-alinea yang perlu diperjelas, rumuskan kalimat-kalimat yang terang, serta pilih kata-kata yang mewakili pikiran dan perasaan.

Seperti seorang apoteker atau koki, penulis perlu menggodok tulisannya. Mengutip Elbow, ”Pertumbuhan adalah proses yang sangat besar, evolusi seluruh organisme. Penulisan adalah proses yang lebih kecil: pendidihan, penyeduhan, peragian, pembelahan atom.” Dengan menggodok, penulis menggerakkan mesin penumbuh tulisan. Sebuah mesin butuh energi untuk bekerja. Namun, energi saja tidak memadai untuk menggodok, apalagi saat energi yang dimiliki terbatas.

Bagi Elbow, penggodokan lebih tepat dipahami sebagai interaksi antarmateri yang berbeda atau bertentangan. Penggodokan bisa sebagai interaksi antarmanusia, antaride, antara kata dan ide, antara keterlibatan dan perspektif, lebih rinci lagi interaksi antarmetafora, antarmode, antara penulis dan simbol-simbol di atas kertas. Berbagai pikiran yang dipaparkan digodok dalam tulisan agar menghasilkan ide yang kuat. Ide-ide dipertemukan dan dibandingkan untuk menghasilkan tesis yang tegas. Beragam keterlibatan dan perspektif dipakai untuk menghasilkan paparan komprehensif. Lalu, berbagai metafora, mode penulisan, dan simbol diolah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang bernas.

Proses menulis bebas yang dikuti oleh upaya menumbuhkan dan menggodok dapat dilakukan tanpa guru, tetapi tidak tanpa interaksi dengan orang lain. Menulis adalah interaksi dan yang terpenting adalah interaksi antarmanusia, sebab dari manusialah unsur-unsur tulisan paling penting berasal. Wujud interaksi itu bisa saja dengan membaca, mendengar, menonton, dan bercakap-cakap dengan orang lain.

Menulis tanpa guru berarti menulis secara mandiri, tidak bergantung pada keberadaan guru sebagai pemberi materi, pembimbing, dan pemberi umpan balik. Namun, menulis tetaplah rangkaian interaksi, baik selama penulisan maupun sesudahnya. Pesan yang termuat dalam tulisan ditujukan kepada seseorang, kepada pembaca. Pesan itu juga merupakan tanggapan terhadap pesan-pesan yang pernah diterima penulis.

Keberadaan orang lain tetap menjadi syarat bagi penulisan; lebih tepatnya, berinteraksi dengan orang lain. Menulis secara mandiri bukan berarti menulis dalam situasi yang terisolasi. Sebaliknya, menulis secara mandiri justru mensyaratkan keterbukaan terhadap dunia. Elbow menekankan pentingnya keterbukaan pada seorang penulis, berpikiran terbuka, berjiwa terbuka.

Apa yang dipaparkan oleh Elbow merupakan gugahan kepada pembacanya untuk menjadi penulis melalui latihan menulis secara mandiri. Menulis bebas merupakan usulan cara untuk mengatasi hambatan menulis. Dengan konsep “menulis bebas”, Elbow hendak membantu orang mengatasi keengganan dan ketakutan untuk menulis. Menulis sebagai kegiatan menumbuhkan merupakan cara Elbow membantu orang menghasilkan tulisan yang utuh dan jelas. Lalu menulis sebagai penggodokan menjadi petunjuk bagi kreasi tulisan yang matang, tuntas, dan bernas.

Menulis sebagai Keterampilan
Elbow secara tersirat tetapi jelas menempatkan aktivitas menulis sebagai cara belajar menulis. Ini mengingatkan kita kepada ungkapan filsuf dan penulis Iris Murdoch, “Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai.” Seperti mencintai, menulis adalah tindakan konkret dan praktis. Untuk dapat memiliki kemampuan itu, orang harus melakukannya. Hanya dengan menulislah kita dapat belajar menulis. Tanpa melakukannya, kita tak akan pernah mampu menulis dengan baik.

Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tidak akan bisa menulis. Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Sebab, kemampuan menulis tidak tergantung bakat – walaupun bakat diperlukan untuk  ”keindahan” tulisan, membuat sebuah tulisan menjadi ”berseni”. Orang yang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika ia sering berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli pemimpin atau bawahan.

Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi atau ilham. Juga tidak hanya mengandalkan mood atau suasana hati. Ia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis. Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Ia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Ia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Ia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.

Ringkasan Tahap-tahap Menulis yang Baik
Mencari ide tulisan. Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun, kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya. Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempit pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa poin pentingnya  buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu aktual atau basi?).

Merumuskan masalah. Mulailah dengan tulisan yang ringkas dan fokus. “Less is more,” kata novelis terkemuka Ernest Hemingway. Untuk itu, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan. Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain, seperti pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan, dan lain sebagainya.

Tata Bahasa dan Ejaan. Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma, tanda hubung dan tanda-tanda baca lainnya? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek ke buku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta. Tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama (atau apa saja) kita tulis dengan benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?

Bahasa yang lugas dan sederhana. Menulis di koran berbeda dengan menulis di jurnal atau menulis buku. Pembaca koran sangatlah luas dan lintas generasi, profesi. Karena itu, jangan menulis yang terlalu berbelit-belit dengan teori-teori ilmiah. Buatlah kalimat sesederhana mungkin untuk dipahami, dengan tetap memperhatikan diksi (pilihan kata). Dengan menggunakan bahasa yang lugas dan sederhana, para pembaca niscaya tidak kesulitan untuk memahami. Karena itulah hindari bahasa-bahasa spesifik keilmuan yang sangat berbelit-belit.

Pentingnya Proofreading
Membaca ulang seraya melakukan penyempurnaan, atau proofreading, adalah hal yang perlu dan penting dilakukan oleh seorang penulis. Siapa pun dia, tak hirau sudah berpengalaman atau belum, termasuk penulis yang baik atau bukan, harus melakukannya. Mengapa? Sebab, biasanya sebuah tulisan yang baru selesai dibuat, kalau dibaca lagi ternyata mengandung kelemahan dan kekurangan di sana-sini, entah itu kesalahan huruf (salah ketik atau salah ejaan), kurang enak dibaca, sulit dimengerti, dan lain sebagainya. Karena itulah maka kita harus melakukan proofreading, minimal satu kali, baru sesudah itu dianggap selesai (sudah rampung semuanya). Ingatlah, dalam hal ini, jangan sekali-kali Anda merasa cepat puas dengan tulisan yang sudah selesai dibuat. ***
————–
Keterangan Penulis
Victor Silaen. Mulai menulis tahun 1993 dan menjadi peneliti di majalah Tempo tahun 1994, setelah itu menjadi editor majalah Forum Keadilan, menjadi pemimpin redaksi Majalah Narwastu, Media Komunikasi, Jurnal Sociae Polites, FISIPOL-UI. Sudah menulis lebih dari 1000 tulisan berupa artikel, opini, jurnal ilmiah dan dimuat diberbagai media. Sekarang pemimpin redaksi Tabloid Reformata dan Editor Jurnal Lensa, STT Cipanas, juga sebagai dosen FISIP Universitas Pelita Harapan Jakarta. Tulisan-tulisan beliau bisa dibaca di http://www.victorsilaen.com

Tentang Menulis Artikel Ilmiah Populer di Surat Kabar

by Alfathri Adlin
dilansir dari note fbnya di sini
Kemarin sore saya membuat janji untuk bertemu dengan Kang Budhiana, Wakil Pemred Pikiran Rakyat. Seperti biasa, setiap kali bertemu dan berbicara dengan Kang Budhi, selalu saja ada ‘oleh-oleh’ yang bisa saya bawa pulang. Salah satu pembicaraan yang menarik buat saya, dan mungkin juga buat Anda yang tertarik utuk menulis di koran, adalah rumusan kang Budhi tentang Intelektual Publik.

Kang Budhi menceritakan bahwa sebelumnya banyak intelektual yang gengsi menulis artikel ilmiah untuk di muat koran. Mereka lebih biasa menulis untuk jurnal yang mendalam atau malahan menulis buku yang dipandang lebih memiliki wibawa secara keilmuan. Bahkan, kalau berbicara CUM, menulis di koran nilai cum-nya hanya 1, sementara menulis di jurnal nilai cum-nya 25. Selain, honor menulis koran tidaklah sebesar kalau cuap-cuap di forum-forum ilmiah.

Namun, tembok gengsi itu justru runtuh oleh para saintis, di antaranya adalah Richard Feynman, yang menulis di surat kabar tentang teori-teori sains secara populer tanpa menampilkan satu rumus pun. Bisa dikatakan sejak itulah para akademisi dan intelektual mulai mau menulis ilmiah populer di koran.

Apa sih gunanya intelektual atau akademisi menulis ilmiah populer di koran? Kang Budhi merumuskan tiga tahapan yang sebaiknya dilalui secara baik oleh para intelektual atau akademisi ketika menulis ilmiah di surat kabar.

Pertama, sebaiknya saat seorang akademisi membuat suatu tulisan ilmiah di koran sebaiknya itu sesuai dengan otoritas dan kompetensinya. Otoritas dan kompetensi ini memang lebih mudah dilihat dari latar belakang pendidikan. Seorang Alfathri Adlin menulis tentang seluk-beluk Stroke hanya karena istrinya dokter spesialis syaraf tetaplah tidak bisa dibilang ‘kompeten dan otoritatif’. Sebaiknya tulisan tersebut tidak terlalu jauh dari latar belakang pendidikan kita, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang membentuk otoritas dan kompetensinya karena belajar otodidak. Tetapi, sebaiknya seseorang memperlihatkan otoritas dan kompetensinya tidak lebih dari dua bidang.

Kang Budhi menceritakan bahwa biasanya mahasiswa yang tulisannya di muat di surat kabar selalu bersemangat menulis lagi dan berharap dimuat lagi. Padahal, umumnya surat kabar paling sering memuat tulisan seseorang itu satu bulan sekali. Selain itu, karena saking semangatnya, mereka menulis tentang berbagai hal yang berada jauh dari lingkup ‘kompetensi dan otoritasnya’ (misal, mahasiswa jurusan sastra arab menulis tentang fisika kuantum). Namun, mahasiswa yang masih mengenyam pendidikan S1 jurusan apa pun masih diterima apabila menulis ihwal politik karena jejak historisnya sebagai ’yang suka berontak menuntut perubahan politik’. Nah, di tahap pertama ini, para intelektual atau akademisi sebaiknya ingat bahwa yang sedang dibangunnya melalui sekian artikel ilmiah populernya di surat kabar adalah untuk membangun otoritas dan komptensi diri.

Setelah menuliskan banyak artikel ilmiah populer yang menguatkan otoritas dan kompetensinya, maka sang intelektual atau akademisi akan mulai masuk tahap kedua, yaitu menjadi referensi atau rujukan. Pada tahap ini masyarakat akan mengacu kepada sang intelektual atau akademisi saat membutuhkan pandangan ihwal bidang tertentu yang diyakini menjadi otoritas atau kompetensinya (oh, kalau mau meminta pembicara tentang anu, ahlinya si anu…dst). Di tahap kedua inilah biasanya intelektual dan akademisi mulai mendapatkan ‘tambahan’ selain dari menulis di surat kabar, yaitu menjadi pembicara di berbagai forum dalam lingkup otoritas dan kompetensinya. Namun ada juga orang yang tiba-tiba menjadi referensi karena dirayakan oleh media sehingga menjadi ‘intelektual selebritis’. Resikonya, semakin dia dirayakan oleh media, semakin banyak dia berbicara, semakin terlihat kedangkalannya… contohnya, ah Anda tahu sendirilah…sering lihat kan di infotainment? Nanti saya bernasib kayak Prita kalau bicara gamblang di dunia maya ini he he he…

Nah, di tahap ketiga, sang intelektual atau akademisi akan menjadi simbol. Pada titik inilah baru masyarakat bertanya kepada sang intelektual atau akademisi tentang hal-hal di luar otoritas dan kompetensinya. Misalnya, si Anu adalah pakar fisika kuantum, tapi kira-kira apa ya pendapat dia tentang agama. Nah, di sinilah sang intelektual atau akademisi bisa ‘agak bebas’ untuk berbicara apa pun. Namun, posisi simbol ini sangat risakn dan mudah terjungkir apabila, menurut masyarakat, sang intelektual atau akademisi berbuat sesuatu yang mereka anggap salah, sekalipun itu belum tentu kesalahan. (Kang Budhi sering mencontohkan dengan Aa Gym yang setelah menjadi referensi dan kemudian simbol, kemudian dilupakan hanya karena mayoritas masyarakat menganggap keputusan berpoligami Aa Gym itu salah… yah kalau kata saya sih, merujuk pada Al-Quran, jangan ikuti kebanyakan manusia, karena kebanyakan manusia itu menyesatkan… peace ah, maaf kalau saya gak peduli seandainya Anda sewot dengan sikap saya he he he…)

Kang Budhi juga menambahkan bahwa akademisi itu menduduki peringkat ke satu dalam hal kepercayaan publik. Misalnya, kalau yang bicara adalah politikus, masyarakat langsung sinis dan gak percaya. Tapi kalau akademisi pakar politik yang berbicara, masyarakat lebih mempercayainya.

Wah, bagi saya betul-betul menarik apa yang diungkapkan Kang Budhi tersebut, terlebih beliau pun menegaskan bahwa umumnya redaktur surat kabar lain pun berpandangan serupa meski tidak sampai merumuskannya seperti Kang Budhi. Sebenarnya banyak hal yang Kang Budhi sampaikan kepada saya tentang tips dan seluk beluk menulis ilmiah di surat kabar, dan sangat menarik, tapi rasanya saya akan mendahului beliau apabila memaparkannya juga di sini. Biarlah Anda dengarkan sendiri Kang Budhi memaparkannya, misalnya dalam Pelatihan Menulis Ilmiah dan Ilmiah Populer, atau di berbagai training menulis lainnya yang menghadirkan beliau sebagai pembicaranya. Saya hanya mencoba merangkai ingatan saya tentang satu pokok pembicaraan dengan Kang Budhi yang, rasanya, bagi saya pribadi sangat menarik.

Akhir kata, saya minta maaf kepada Kang Budhi, yang juga menjadi friend saya di FB ini, apabila apa yang saya sampaikan di sini ternyata tidak tepat atau agak melenceng dari paparan beliau sebenarnya. Ini saya tuliskan kembali semata karena ketertarikan saya atas paparan Kang Budhi, dan juga rasa respek saya secara pribadi kepada beliau. Hatur nuhun Kang Budhi untuk selalu berbagi ilmunya, dan juga encouragement agar saya tidak tergiur menjadi ‘liar’ merambah berbagai bidang di luar ‘otoritas dan kompetensi’ saya dalam menulis di surat kabar. Hatur nuhun.

Oke, demikian. Selamat mencoba untuk Anda yang tertarik menulis di surat kabar. Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam.

Menulis Resensi Buku

MERESENSI BUKU

Ulasan buku (a book review) merupakan gambaran sekaligus evaluasi terhadap suatu buku. Ia harus berfokus pada tujuan, kandungan, dan otoritas buku.

Pemindaian (Scanning) Halaman Awal Buku

Sebelum mulai membaca, perhatikan hal-hal berikut:

1. Judul–Apa yang tersirat dari judul?

2. Kata Pengantar—Memberikan informasi panting tentang tujuan pengarang menulis buku tersebut dan membantu Anda menakar keberhasilan karyanya itu.

3. lsi Buku—Memberi tahu Anda tentang organisasi buku tersebut dan akan membantu dalam menentukan gagasan  utama pengarang dan bagaimana alur pengembangannya—secara kronologis, berdasarkan topik, dan sebagainya.

Bacalah lsinya

Catat kesan-kesan Anda saat mambaca buku yang Anda ingin ulas, dan perhatikan bagian yang patut dikutip. Ingat-ingat pertanyaan berikut ini:

1 . Apa bidang kajian dan bagaimana buku itu bisa dlmasukkan ke dalam kelompok tersebut? (jika perlu, gunakan sumber luar agar Anda akrab dengan bidang kajian tersebut.)

2. Dari sudut pandang mana buku itu ditulis?

3. Bagaimana gaya penulisan si pengarang? Formal atau informal? Sesuaikah dengan target pembaca? Jika ini karya fiksi, teknik menulis apa yang dipakai penulis?

4. Apakah konsepnya didefinisikan dengan jelas? Sebagus apa pengembangan gagasan penulis? Bidang apa yang tercakup/tidak tercakup di dalamnya? Kenapa? Hal ini membantu membangun otoritas buku tersebut.

5. Jika buku tersebut adalah karya fiksi, buat catatan mangenai unsur-unsur seperti penokohan, plot, seting, dan bagaimana keterkaitan semuanya dengan tema buku. Bagaimana cara pengarang menggambarkan tokoh-tokohnya? Bagaimana pengembangannya? Bagaimana struktur plotnya?

6. Seberapa akurat informasl dalam buku itu? Periksa sumber Iuar jika perlu.

7. Jika relevan, buat catatan mengenai format buku–tata letak, penjilidan, tipografi, dan lain-lain. Apakah ada peta, ilustrasi? Apakah gambar-gambar itu membantu pemahaman?

8. Periksa halaman-halaman belakang. Apakah indeksnya akurat? Sumber apa yang dipergunakan—primer atau sekunder? Bagaimana memanfaatkannya? Catat kelalaian penting.

9. Terakhir sejauh mana prestasi buku itu? Apakah diperlukan karya selanjutnya? Bandingkan buku itu dengan buku lain dengan pengarang yang sama atau berbeda. (Gunakan daftar pustaka.)

Rujuk kepada Sumber Tambahan

Berusahalah menemukan informasi Iebih jauh tentang si pengarang—reputasi, kualifikasi, pengaruhnya, dan lain-lain–informasi apa pun yang relevan dengan buku yang sedang diulas dan yang akan membantu membangun otoritas si pengarang. Pengetahuan tantang periode kesusasteraan dan teori kritis juga sangat berguna bagi ulasan Anda. Mintakan saran tentang sumber yang bisa dipergunakan kepada orang yang menguasai tema buku itu dan/atau pustakawan rujukan.

Persiapkan Kerangka Tulisan

Perhatikan dengan cermat catatan Anda dan berusahalah menyatukan kesan Anda menjadi sebuah pernyataan yang akan menggambarkan tujuan atau tesis ulasan Anda. Kemudian, buat kerangka argumen yang mendukung tesis Anda. Argumen Anda harus mengembangkan tesis itu dengan cara yang Iogis.

Buat Draf Tulisan Resensi

Amati kembali catatan Anda; kemudian, menggunakan kerangka tadl sebagai panduan dan merujuk kepada catatan jika perlu, mulallah menulls. Ulasan buku Anda harus meliputi:

1. lnformasi Awal—Kutipan bibliografis lengkap tentang buku tersebut. yaitu judul lengkap,  penulis, tempat terbit, penerbit,  tahun terbit, edisi, jumlah halaman, tambahan khusus (peta, gambar/halaman berwarna, dan sebagainya), harga, dan lSBN. Contoh:

Judul : Bahasa, Citra, Media

Penulis : Howard Davis dan Paul Walton (ed.)

Penerjemah : Ikramullah Mahyuddin

Penerbit : Jalasutra

Tahun : I, 2010

Tebal : 350 halaman

Harga : Rp87.000

2. Pembukaan–Berusahalah memikat perhatian pembaca dengan kalimat pembuka Anda. Pembukaan ini harus menyatakan tesis utama, dan menentukan nada ulasan Anda.

3. Pengembangan—Kembangkan tesis Anda dengan argumen pendukung sebagaimana tersusun pada kerangka tulisan Anda. Gunakan deskripsi, evaluasi, dan jika mungkin penjelasan tentang alasan pengarang menulis buku itu. Cantumkan kutipan untuk menggambarkan poin-poin penting atau sesuatu yang ganjll.

4. Kesimpulan—Apabila tesis Anda terkemukakan dengan baik. kesimpulan akan mengikuti dengan sendlrinya. Kesimpulan ini bisa berisikan pernyataan terakhir atau sekadar mengulang tesis Anda. Jangan mengedepankan hal baru di sini.

Perbaiki Draf Anda

1. Beri jeda yang cukup sebelum Anda memeriksa ulang ulasan Anda, untuk mendapatkan perspektif.

2. Dengan hati-hati baca naskah itu secara menyeluruh, periksa kejernihan dan pertalian (antarbagian),

3. Perbaiki tata bahasa dan ejaan.

4. Cek kutipan untuk ketepatan catatan kaki.

Sumber Rujukan

– Drewry John.Writing Book Reviews. Boston: The Writer. 1974. (REF PN98.B7D7 1974).

Literary Reviewing. Charlottesville: University Press of Virginia, 1987. (PN441.L487 1987 — buku-buku Stauffer Library)

– Meek, Gerry. How to Write a Book Review. UW Library Reference Service Aids 16. (Tt.: t.p., t.t.)

– Teitelbaum, Harry . How to Write Book Reports. New York: Monarch Press, 1975.

– Thomson, Ashley. “How  to Review a Book”. Canadian Library Journal (Desember 1991): 416-418.

— Walford, A.J., peny. Reviews and Reviewing:  A Guide. Phoenix. AZ: Oryx Press, 1986.

Sumber: http://libraryqueensu.ca/inforef/bookrev/write_review.htm

Writing Rules

sumber: purnawankristanto.com