Islam di Mata Saya

kemarin, pemilik warung langganan saya beli beras, penampilannya berubah. tahun lalu masih berjilbab saja, wajahnya masih kelihatan. tapi, kemarin, hanya matanya yang tampak mengintip. wajahnya sudah ditutup. apakah saya akan pindah warung untuk pembelian beras? tolol sekali kalau saya melakukan hal itu. tentu saja saya gak peduli dengan penampilan ibu tersebut. lagi pula apa hubungannya dengan beras saya?

 

nah, tahun lalu, saya protes keras di sebuah resto steak di bilangan kampung kali, semarang. saya jengkel dengan ibu yang cuek saja membawa masuk anjingnya ke dalam resto. lambat sekali karyawan di situ menyampaikan keberatannya saat anjing itu dibawa masuk. saat karyawan yang pertama menyampaikan keberatannya, si ibu itu menggeleng-geleng. sepertinya dia bilang, “tenang saja, mas, gak akan terjadi apa-apa semua baik-baik saja.”

saya panggil karyawan yang in charge, saya minta agar dia beri tahu peraturan di resto, bahwa binatang peliharaan dilarang masuk. stiker pemberitahuan itu memang kecil tertempel di salah satu sudut tembok. si karyawan menyampaikan pesan saya. dari kejauhan saya lihat telunjuk si karyawan mengarah ke saya. sialan!

 

ibu itu menatap saya. akhirnya, saya tatap ibu itu dan keluarganya dengan jengkel. istri saya menggamit tangan saya. “sudah cuekin saja. gak usah lihat ke sana!” jujur, saya tidak bermasalah dengan anjing. dulu, saat masih tinggal dengan orangtua, saya memelihara anjing, dan terjadwal sebulan sekali menyembelih anjing dengan kawan-kawan kongkow Bapak saya.

 

tapi si ibu itu gak paham betapa risihnya mbak-mbak, karyawan berjilbab di resto itu terhadap anjing di tangannya. kurasa, si ibu gak tahu berapa kali pencucian yang harus dilakukan untuk bekas anjingnya kalau kena ke mbak-mbak itu. akhirnya, ibu itu pergi dengan ngedumel juengkel. mereka semua dengan keluarga besarnya. saya tertawa kecil sambil menyambut steak saya. bahagia rasanya. sungguh, seperti menang lotere!!  :v