Kiat Menulis Opini di Media Massa

Oleh Victor Silaen
(Disampaikan pada Sesi Menulis untuk Media, pada Festival Penulis dan Pembaca Kristiani 2010, Museum Mandiri Kota, Jakarta, 28 November 2010)

Yongky Karman, Eman Dapa Loka, Victor Silaen

Pengantar
Saya mulai menulis opini untuk dikirim ke media massa, secara serius, sejak 1993, usai menamatkan studi magister saya. Saya memulainya dari media-media “kalangan sendiri” dulu (misalnya Kairos, Bahana, Narwastu, dan lainnya), baru kemudian memberanikan diri ke media-media umum yang berskala nasional seperti Suara Pembaruan, Kompas, Media Indonesia, Suara Karya, Merdeka, dan lainnya).

Setelah tulisan-tulisan saya mulai sering dimuat, terus-terang ada kenikmatan tersendiri yang saya rasakan. Pertama, saya bangga, karena ternyata saya bisa. Kedua, saya mulai dikenal orang banyak melalui tulisan yang terpampang di media-media tersebut. Ketiga, saya mendapatkan honorarium yang besar-kecilnya memang relatif, namun yang jelas sangat bermanfaat bagi saya. Terkadang, kalau saya menulis resensi buku, lalu fotokopi resensi buku yang dimuat di media itu saya kirimkan ke penerbitnya. Sebagai tanggapan, saya kemudian dikirimi beberapa buku terbaru terbitan mereka. Wah, saya senang sekali, dapat uang plus buku.

Keempat, karena saya mulai “agak dikenal”, maka saya pun sesekali diminta untuk menjadi narasumber dalam diskusi atau seminar ini dan itu, atau diminta untuk menulis di suatu media. Mulanya di kalangan internal umat beragama, lama-lama di kalangan lain yang lebih luas. Karena itulah bagi saya sekarang, menulis tidak hanya sebatas hobi, tetapi juga pekerjaan. Ya, menulis adalah sebuah pekerjaan, yang terhormat dan menghasilkan.

Bagaimana Memulainya
Untuk memulai aktivitas menulis atau menjadi penulis yang serius, pertama-tama pastikan dulu bidang atau hal apa saja yang menjadi minat Anda. Setelah memastikannya, maka kumpulkanlah semua informasi, opini, pandangan, pikiran, gagasan, terkait itu. Dari siapa saja, dan dari sumber mana saja. Ini penting, sebagai modal kita bila nanti akan atau sedang menulis dan ternyata kita membutuhkan tambahan, kelengkapan, atau pengayaan untuk menambah bobot tulisan kita.

Lalu, mulailah menulis. Tulis saja dulu sekali jalan sampai selesai, kalau durasi tulisan itu memang pendek. Tetapi kalau tulisan itu berdurasi panjang, mungkin perlu disambung beberapa kali. Sesudah tulisan itu selesai, barulah kita memerlukan waktu lagi untuk mengeditnya, supaya jika ada kesalahan dapat langsung diperbaiki (baik yang menyangkut huruf atau kesalahan pengetikan, data, kata dan kalimat yang kurang enak atau tidak nyambung, dan lain sebagainya). Di antara tahap-tahap tersebut jangan sampai terjadi masa jeda yang terlalu lama. Sebab biasanya, jeda yang lama berdampak negatif bagi pikiran atau insight atau “rasa” kita terkait tema tulisan tersebut.

Jika pola menulis seperti ini dibiasakan dan dilatih terus-menerus, maka kelak kita akan terbentuk menjadi penulis yang produktif, kreatif, dan cepat. Bagaimana membentuk dan menyambung kalimat demi kalimat pun kelak menjadi hal yang mudah bagi kita. Begitupun dalam memilih kata-kata atau istilah-istilah yang menarik dan cocok untuk digunakan.

Untuk itu tak ada salahnya dan bahkan perlu bagi kita untuk menjadikan beberapa penulis terkenal sebagai model untuk pembelajaran. Model yang dimaksud tidak hanya terkait dengan bagaimana kita menulis, tetapi juga bagaimana kita berpikir atau logika kita dalam menulis. Ini penting, karena kita akan mendapatkan banyak kemajuan dari proses pembelajaran yang merujuk ke beberapa penulis terkenal itu.

Tentang Ide dan Bank Data
Karena sekarang ini saya telah terbiasa menulis untuk sejumlah media secara rutin, maka dengan sendirinya saya harus mendapatkan ide-ide menarik terus-menerus. Untuk saya yang berlatar belakang dan berminat pada bidang sosial politik, maka mendengar radio dan menonton televisi setiap hari sudahlah merupakan keharusan. Selain itu, setiap hari pula saya harus membaca koran. Majalah, tabloid, dan media-media maya merupakan tambahannya, di samping diskusi formal atau percakapan dengan orang-orang yang seminat dengan saya.

Ada lagikah? Ya, saya juga memonitor beberapa mailing list setiap hari. Dari sanalah saya juga kerap mendapatkan ide, data, dan informasi penting. Namun, dari semua itu, yang penting kita sendiri adalah pribadi yang “gelisah”. Maksudnya, kita harus merasakan ada “sesuatu” yang penting untuk kita angkat dalam sebuah tulisan setiap kali kita mendengar, melihat, atau menonton sesuatu, atau juga mengalami sesuatu. Di dalam “sesuatu” itulah terkandung ide atau ilham, yang harus kita ingat dan pikirkan terus hingga akhirnya dituang menjadi sebuah tulisan.

Memang, mungkin saja tidak setiap hari saya dalam kondisi siap menulis – meski saya “memaksa diri” untuk itu. Atau, saya bisa mendapat ide dan data yang cukup banyak dalam waktu singkat, namun tak mungkin dapat saya tuangkan menjadi tulisan dalam sehari. Untuk itu, saya mempunyai bank data. Di komputer saya sejak dulu ada folder-folder khusus untuk bank data itu. Sekarang caranya gampang, akses ke situs web atau maling list, lalu copy and paste (kalau perlu, jika ada ide atau data sejenis tapi banyak, digabung saja dalam satu file). Lalu, berilah judul khusus. Nanti, kalau sudah ada waktu, baru dibikin menjadi sebuah tulisan. Tinggal dirangkai dan dijalin dengan teknik kompilasi. Namun ingatlah tadi, jangan lupa tambahi pandangan dan pikiran para ahli dan akhirnya juga pandangan dan pikiran kita sendiri.

Sebenarnya ada bank data lain yang sifatnya “darurat”, yakni ruang “konsep” (atau “draft”) pada telepon selular (ponsel) saya. Inilah yang kerap saya gunakan bila sewaktu-waktu muncul ide, yang saya pikir dapat saya kembangkan menjadi sebuah tulisan utuh selekas saya punya waktu yang luang untuk menulis.

Menyempurnakan Tulisan
Tulisan yang baik, bukan hanya terkait dengan keindahan kalimat yang dibuat, kebenaran bahasa yang digunakan, keabsahan data dan informasi yang dikutip, tetapi juga jalan pikiran kita sendiri. Artinya, tulisan itu harus diberi nilai tambah dan bobot khusus agar ketika dibaca orang lain menjadi menarik perhatian. Untuk itu ada kiatnya: 1) kutiplah teori atau pendapat para ahli yang relevan dengan soal yang kita tulis; banyak dan panjangnya tergantung dengan durasi tulisan kita; 2) tambahkan pendapat atau pikiran kita sendiri apa, terkait soal yang kita bahas itu; 3) tambahkan di bawah tulisan tentang keterangan diri kita yang punya “nilai jual”, misalnya “penulis adalah dosen bidang anu di universitas anu, penulis pernah melakukan penelitian di bidang anu di daerah anu, dan yang sejenisnya.

Perhatikan pula soal judul. Untuk tulisan yang akan dikirim ke media massa, lebih baik judulnya bersifat “ngepop” alias pendek tapi menggunakan kata-kata atau istilah-istilah yang pas dengan konteks saat itu. Ini penting, sebab pengalaman para penulis terkenal selama ini memang menunjukkan demikian. Artinya, dari judulnyalah si redaktur media massa tersebut sudah tertarik. Soal isi, itu belakangan. Memang tidak selalu begitu, tetapi ini penting diperhatikan. Jadi, jangan sampai kita membuat judul yang tidak menarik, bahasanya kaku, dan panjang pula. Ini bisa membuat si redaktur media yang bersangkutan tak tertarik sama sekali untuk membacanya.

Lain halnya jika tulisan itu ditujukan untuk jurnal atau media yang serius sifatnya. Untuk itu judul tulisan memang lazimnya dibuat agak panjang dan berbahasa formal.

Hal lain, perlu pula memperhatikan etika dan etiket. Maksudnya, kalau mengkritik, tetaplah gunakan bahasa yang santun. Mungkin juga, dalam konteks tertentu, tidak perlu menyebutkan identitas dari pihak yang kita kritisi. Ini penting, agar jangan sampai tulisan kita ditolak hanya gara-gara bahasa kita yang tidak santun dan terkesan kasar. Penting pula diperhatikan agar jangan sampai tulisan kita bernuansa emosional. Sebisa mungkin bersikaplah “dingin” ketika membahas atau menyoroti sesuatu dalam tulisan.

Ada kiat lain untuk memberi daya tarik pada sebuah tulisan, yang terkadang baik juga untuk kita lakukan. Yakni, mengutip kalimat mutiara atau motto atau yang sejenisnya di awal tulisan (atau bisa juga di akhir tulisan). Atau, mengakhiri sebuah tulisan dengan kalimat bernada imbauan atau pesan yang menarik. Di awal kalimat kita juga bisa menggunakan pertanyaan untuk memancing, di akhir kalimat juga begitu. Ini semua dimaksudkan hanya sebagai daya tarik pada sebuah tulisan.

Menjajakan Tulisan
Untuk mengirim tulisan ke media publik, mulailah dari media-media yang berskala “kecil” dan perlahan-lahan baru ke media-media berskala “besar”. Mulailah dari tulisan-tulisan yang “ringan” baru kemudian ke tulisan-tulisan yang “berat”.

Dalam kaitan itu juga, kita perlu mengenali karakter media yang akan menjadi target kita. Perhatikan soal durasinya, tema-tema favoritnya, aktualitasnya, gaya bahasanya, dan lain sebagainya. Kalau rasanya semua “syarat” itu sudah kita penuhi, maka kirimlah. Sekarang cukup dengan email saja. Kalau ada beberapa alamat email, kirimlah ke semua alamat itu. Jangan lupa sebutkan alamat dan ponsel kita, bahkan juga foto (sebaiknya bukan yang bergaya pasfoto, dan berwarna). Nomor rekening bank kita tidak usah disebutkan, kecuali nanti kalau sudah dimuat.

Menulis Tanpa Guru
Menurut Peter Elbow, gurubesar bahasa dan Direktur Program Menulis di University of Massachusetts, AS, menulis sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus ada guru. Untuk itu, yang pertama perlu dilakukan untuk bisa menulis adalah menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di benak kita. Ia memberi istilah ”menulis bebas” untuk tindak menuangkan apa saja yang terlintas dalam benak melalui tulisan. Menulis bebas adalah latihan yang bisa membantu untuk membiasakan diri menulis. Dalam latihan ini, orang disarankan untuk menuangkan, dalam bentuk tulisan, apa pun yang ia pikirkan, bahkan tentang ketidakmampuannya menulis. Saat diminta menulis apa pun yang terpikirkan selama sepuluh menit dan merasa buntu, orang boleh saja hanya menuliskan kebuntuannya, kebingungannya. Dalam menulis bebas, lupakan aturan, lupakan kesalahan. Tulis dan luapkan saja secara bebas.

Tentu, menulis bebas bukan akhir dari proses belajar menulis. Elbow juga bicara tentang proses menulis. Ibarat tanaman, bibit-bibit menulis adalah apa yang dihasilkan dalam menulis bebas. Bibit tidak diharapkan jadi bibit selamanya, ia harus tumbuh sehingga potensi-potensinya teraktualisasi. Bibit diharapkan menjadi pohon yang rindang dan kokoh atau jadi perdu yang indah.

Begitu pula bibit tulisan. Hasil menulis bebas perlu ditumbuhkan menjadi tulisan yang menggugah, mencerahkan, memberi kenikmatan bagi pembacanya. Menulis dalam tahap ini, menurut Elbow, bukan cara mengirim pesan, tetapi cara menumbuhkan pesan. Seperti pohon, dari batang tulisan yang sudah dihasilkan, ranting-ranting pesan bisa ditumbuhkan. Lalu daun-daun kata menghiasinya, rimbun dan berwarna. Caranya: baca ulang hasil tulisan itu (proofreading), tegaskan topik utama, temukan bagian-bagian yang perlu dielaborasi atau dihilangkan, tentukan alinea-alinea yang perlu diperjelas, rumuskan kalimat-kalimat yang terang, serta pilih kata-kata yang mewakili pikiran dan perasaan.

Seperti seorang apoteker atau koki, penulis perlu menggodok tulisannya. Mengutip Elbow, ”Pertumbuhan adalah proses yang sangat besar, evolusi seluruh organisme. Penulisan adalah proses yang lebih kecil: pendidihan, penyeduhan, peragian, pembelahan atom.” Dengan menggodok, penulis menggerakkan mesin penumbuh tulisan. Sebuah mesin butuh energi untuk bekerja. Namun, energi saja tidak memadai untuk menggodok, apalagi saat energi yang dimiliki terbatas.

Bagi Elbow, penggodokan lebih tepat dipahami sebagai interaksi antarmateri yang berbeda atau bertentangan. Penggodokan bisa sebagai interaksi antarmanusia, antaride, antara kata dan ide, antara keterlibatan dan perspektif, lebih rinci lagi interaksi antarmetafora, antarmode, antara penulis dan simbol-simbol di atas kertas. Berbagai pikiran yang dipaparkan digodok dalam tulisan agar menghasilkan ide yang kuat. Ide-ide dipertemukan dan dibandingkan untuk menghasilkan tesis yang tegas. Beragam keterlibatan dan perspektif dipakai untuk menghasilkan paparan komprehensif. Lalu, berbagai metafora, mode penulisan, dan simbol diolah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang bernas.

Proses menulis bebas yang dikuti oleh upaya menumbuhkan dan menggodok dapat dilakukan tanpa guru, tetapi tidak tanpa interaksi dengan orang lain. Menulis adalah interaksi dan yang terpenting adalah interaksi antarmanusia, sebab dari manusialah unsur-unsur tulisan paling penting berasal. Wujud interaksi itu bisa saja dengan membaca, mendengar, menonton, dan bercakap-cakap dengan orang lain.

Menulis tanpa guru berarti menulis secara mandiri, tidak bergantung pada keberadaan guru sebagai pemberi materi, pembimbing, dan pemberi umpan balik. Namun, menulis tetaplah rangkaian interaksi, baik selama penulisan maupun sesudahnya. Pesan yang termuat dalam tulisan ditujukan kepada seseorang, kepada pembaca. Pesan itu juga merupakan tanggapan terhadap pesan-pesan yang pernah diterima penulis.

Keberadaan orang lain tetap menjadi syarat bagi penulisan; lebih tepatnya, berinteraksi dengan orang lain. Menulis secara mandiri bukan berarti menulis dalam situasi yang terisolasi. Sebaliknya, menulis secara mandiri justru mensyaratkan keterbukaan terhadap dunia. Elbow menekankan pentingnya keterbukaan pada seorang penulis, berpikiran terbuka, berjiwa terbuka.

Apa yang dipaparkan oleh Elbow merupakan gugahan kepada pembacanya untuk menjadi penulis melalui latihan menulis secara mandiri. Menulis bebas merupakan usulan cara untuk mengatasi hambatan menulis. Dengan konsep “menulis bebas”, Elbow hendak membantu orang mengatasi keengganan dan ketakutan untuk menulis. Menulis sebagai kegiatan menumbuhkan merupakan cara Elbow membantu orang menghasilkan tulisan yang utuh dan jelas. Lalu menulis sebagai penggodokan menjadi petunjuk bagi kreasi tulisan yang matang, tuntas, dan bernas.

Menulis sebagai Keterampilan
Elbow secara tersirat tetapi jelas menempatkan aktivitas menulis sebagai cara belajar menulis. Ini mengingatkan kita kepada ungkapan filsuf dan penulis Iris Murdoch, “Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai.” Seperti mencintai, menulis adalah tindakan konkret dan praktis. Untuk dapat memiliki kemampuan itu, orang harus melakukannya. Hanya dengan menulislah kita dapat belajar menulis. Tanpa melakukannya, kita tak akan pernah mampu menulis dengan baik.

Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tidak akan bisa menulis. Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Sebab, kemampuan menulis tidak tergantung bakat – walaupun bakat diperlukan untuk  ”keindahan” tulisan, membuat sebuah tulisan menjadi ”berseni”. Orang yang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika ia sering berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli pemimpin atau bawahan.

Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi atau ilham. Juga tidak hanya mengandalkan mood atau suasana hati. Ia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis. Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Ia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Ia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Ia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.

Ringkasan Tahap-tahap Menulis yang Baik
Mencari ide tulisan. Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun, kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya. Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempit pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa poin pentingnya  buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu aktual atau basi?).

Merumuskan masalah. Mulailah dengan tulisan yang ringkas dan fokus. “Less is more,” kata novelis terkemuka Ernest Hemingway. Untuk itu, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan. Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain, seperti pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan, dan lain sebagainya.

Tata Bahasa dan Ejaan. Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma, tanda hubung dan tanda-tanda baca lainnya? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek ke buku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta. Tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama (atau apa saja) kita tulis dengan benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?

Bahasa yang lugas dan sederhana. Menulis di koran berbeda dengan menulis di jurnal atau menulis buku. Pembaca koran sangatlah luas dan lintas generasi, profesi. Karena itu, jangan menulis yang terlalu berbelit-belit dengan teori-teori ilmiah. Buatlah kalimat sesederhana mungkin untuk dipahami, dengan tetap memperhatikan diksi (pilihan kata). Dengan menggunakan bahasa yang lugas dan sederhana, para pembaca niscaya tidak kesulitan untuk memahami. Karena itulah hindari bahasa-bahasa spesifik keilmuan yang sangat berbelit-belit.

Pentingnya Proofreading
Membaca ulang seraya melakukan penyempurnaan, atau proofreading, adalah hal yang perlu dan penting dilakukan oleh seorang penulis. Siapa pun dia, tak hirau sudah berpengalaman atau belum, termasuk penulis yang baik atau bukan, harus melakukannya. Mengapa? Sebab, biasanya sebuah tulisan yang baru selesai dibuat, kalau dibaca lagi ternyata mengandung kelemahan dan kekurangan di sana-sini, entah itu kesalahan huruf (salah ketik atau salah ejaan), kurang enak dibaca, sulit dimengerti, dan lain sebagainya. Karena itulah maka kita harus melakukan proofreading, minimal satu kali, baru sesudah itu dianggap selesai (sudah rampung semuanya). Ingatlah, dalam hal ini, jangan sekali-kali Anda merasa cepat puas dengan tulisan yang sudah selesai dibuat. ***
————–
Keterangan Penulis
Victor Silaen. Mulai menulis tahun 1993 dan menjadi peneliti di majalah Tempo tahun 1994, setelah itu menjadi editor majalah Forum Keadilan, menjadi pemimpin redaksi Majalah Narwastu, Media Komunikasi, Jurnal Sociae Polites, FISIPOL-UI. Sudah menulis lebih dari 1000 tulisan berupa artikel, opini, jurnal ilmiah dan dimuat diberbagai media. Sekarang pemimpin redaksi Tabloid Reformata dan Editor Jurnal Lensa, STT Cipanas, juga sebagai dosen FISIP Universitas Pelita Harapan Jakarta. Tulisan-tulisan beliau bisa dibaca di http://www.victorsilaen.com