Berani Memulai dan Menjalankan BISNIS INTERNET

Judul Buku: Berani Memulai & Menjalankan BISNIS INTERNET
Penulis: Carol Anne Strange
Penerjemah: Slamat P Sinambela
Editor: Mokhamad Irfan
Penerbit: Tiga Kelana Jakarta (Imprint Tiga Serangkai)
Tahun Terbit: 2010

Internet telah membuat dunia lebih kecil da lebih mudah dijangkau. Saat ini, makin banyak orang yang melakukan aktivitas jual beli menggunakan media internet. Makin hari, makin banyak pesaing dalam bisnis ini. Untuk itu, perlu persiapan matang untuk memulai dan menjalankannya.

Buku ini adalah panduan yang mencakup ide-ide bisnis, studi kasus, tip-tip untuk menarik dan mempertahankan pelanggan, serta segala sesuatunya yang sebaiknya Anda tahu untuk memulai dan menjalankan bisnis internet. Ditulis oleh seorang konsultan kreatif di Digital Enterpreneurship, seorang praktisi bisnis internet, dan pendiri beberapa website.

Buku ini akan memandu Anda:
– menghasilkan pendapatan secara online
– membangun dan mengembangkan website
– membuat jendela toko virtual yang dapat diandalkan dan berdaya tarik
– melindungi usaha Anda dari kecurangan dan masalah hukum
– menarik serta mempertahankan pelanggan

Pujian untuk buku ini:

Telah terbukti, bisnis dengan media internet memberikan keuntungan dan kemudahanyang tak terduga. Buku ini dilengkapi dengan studi kasus sehingga memberikan pemahaman ten tang bagaimana memulai dan menjalankannya. Anda harus memilikinya!”
JOSUA M. SINAMBELA, Founder http://RootBrain.Com & IT Consultant

Satu kata untuk buku ini, “Two thumbs up!”. Cocok bagi yang awam maupun yang mahir. Setelah membaca buku ini, saya jadi jauh lebih tahu detail pembuatan web. Saya yakin jika dipraktikkan sebagaimana mestinya. Anda akan berhasil. Bravo!
TOPAN BRAMARTHA (www.cdhosting.net)

Tentang Menulis Artikel Ilmiah Populer di Surat Kabar

by Alfathri Adlin
dilansir dari note fbnya di sini
Kemarin sore saya membuat janji untuk bertemu dengan Kang Budhiana, Wakil Pemred Pikiran Rakyat. Seperti biasa, setiap kali bertemu dan berbicara dengan Kang Budhi, selalu saja ada ‘oleh-oleh’ yang bisa saya bawa pulang. Salah satu pembicaraan yang menarik buat saya, dan mungkin juga buat Anda yang tertarik utuk menulis di koran, adalah rumusan kang Budhi tentang Intelektual Publik.

Kang Budhi menceritakan bahwa sebelumnya banyak intelektual yang gengsi menulis artikel ilmiah untuk di muat koran. Mereka lebih biasa menulis untuk jurnal yang mendalam atau malahan menulis buku yang dipandang lebih memiliki wibawa secara keilmuan. Bahkan, kalau berbicara CUM, menulis di koran nilai cum-nya hanya 1, sementara menulis di jurnal nilai cum-nya 25. Selain, honor menulis koran tidaklah sebesar kalau cuap-cuap di forum-forum ilmiah.

Namun, tembok gengsi itu justru runtuh oleh para saintis, di antaranya adalah Richard Feynman, yang menulis di surat kabar tentang teori-teori sains secara populer tanpa menampilkan satu rumus pun. Bisa dikatakan sejak itulah para akademisi dan intelektual mulai mau menulis ilmiah populer di koran.

Apa sih gunanya intelektual atau akademisi menulis ilmiah populer di koran? Kang Budhi merumuskan tiga tahapan yang sebaiknya dilalui secara baik oleh para intelektual atau akademisi ketika menulis ilmiah di surat kabar.

Pertama, sebaiknya saat seorang akademisi membuat suatu tulisan ilmiah di koran sebaiknya itu sesuai dengan otoritas dan kompetensinya. Otoritas dan kompetensi ini memang lebih mudah dilihat dari latar belakang pendidikan. Seorang Alfathri Adlin menulis tentang seluk-beluk Stroke hanya karena istrinya dokter spesialis syaraf tetaplah tidak bisa dibilang ‘kompeten dan otoritatif’. Sebaiknya tulisan tersebut tidak terlalu jauh dari latar belakang pendidikan kita, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang membentuk otoritas dan kompetensinya karena belajar otodidak. Tetapi, sebaiknya seseorang memperlihatkan otoritas dan kompetensinya tidak lebih dari dua bidang.

Kang Budhi menceritakan bahwa biasanya mahasiswa yang tulisannya di muat di surat kabar selalu bersemangat menulis lagi dan berharap dimuat lagi. Padahal, umumnya surat kabar paling sering memuat tulisan seseorang itu satu bulan sekali. Selain itu, karena saking semangatnya, mereka menulis tentang berbagai hal yang berada jauh dari lingkup ‘kompetensi dan otoritasnya’ (misal, mahasiswa jurusan sastra arab menulis tentang fisika kuantum). Namun, mahasiswa yang masih mengenyam pendidikan S1 jurusan apa pun masih diterima apabila menulis ihwal politik karena jejak historisnya sebagai ’yang suka berontak menuntut perubahan politik’. Nah, di tahap pertama ini, para intelektual atau akademisi sebaiknya ingat bahwa yang sedang dibangunnya melalui sekian artikel ilmiah populernya di surat kabar adalah untuk membangun otoritas dan komptensi diri.

Setelah menuliskan banyak artikel ilmiah populer yang menguatkan otoritas dan kompetensinya, maka sang intelektual atau akademisi akan mulai masuk tahap kedua, yaitu menjadi referensi atau rujukan. Pada tahap ini masyarakat akan mengacu kepada sang intelektual atau akademisi saat membutuhkan pandangan ihwal bidang tertentu yang diyakini menjadi otoritas atau kompetensinya (oh, kalau mau meminta pembicara tentang anu, ahlinya si anu…dst). Di tahap kedua inilah biasanya intelektual dan akademisi mulai mendapatkan ‘tambahan’ selain dari menulis di surat kabar, yaitu menjadi pembicara di berbagai forum dalam lingkup otoritas dan kompetensinya. Namun ada juga orang yang tiba-tiba menjadi referensi karena dirayakan oleh media sehingga menjadi ‘intelektual selebritis’. Resikonya, semakin dia dirayakan oleh media, semakin banyak dia berbicara, semakin terlihat kedangkalannya… contohnya, ah Anda tahu sendirilah…sering lihat kan di infotainment? Nanti saya bernasib kayak Prita kalau bicara gamblang di dunia maya ini he he he…

Nah, di tahap ketiga, sang intelektual atau akademisi akan menjadi simbol. Pada titik inilah baru masyarakat bertanya kepada sang intelektual atau akademisi tentang hal-hal di luar otoritas dan kompetensinya. Misalnya, si Anu adalah pakar fisika kuantum, tapi kira-kira apa ya pendapat dia tentang agama. Nah, di sinilah sang intelektual atau akademisi bisa ‘agak bebas’ untuk berbicara apa pun. Namun, posisi simbol ini sangat risakn dan mudah terjungkir apabila, menurut masyarakat, sang intelektual atau akademisi berbuat sesuatu yang mereka anggap salah, sekalipun itu belum tentu kesalahan. (Kang Budhi sering mencontohkan dengan Aa Gym yang setelah menjadi referensi dan kemudian simbol, kemudian dilupakan hanya karena mayoritas masyarakat menganggap keputusan berpoligami Aa Gym itu salah… yah kalau kata saya sih, merujuk pada Al-Quran, jangan ikuti kebanyakan manusia, karena kebanyakan manusia itu menyesatkan… peace ah, maaf kalau saya gak peduli seandainya Anda sewot dengan sikap saya he he he…)

Kang Budhi juga menambahkan bahwa akademisi itu menduduki peringkat ke satu dalam hal kepercayaan publik. Misalnya, kalau yang bicara adalah politikus, masyarakat langsung sinis dan gak percaya. Tapi kalau akademisi pakar politik yang berbicara, masyarakat lebih mempercayainya.

Wah, bagi saya betul-betul menarik apa yang diungkapkan Kang Budhi tersebut, terlebih beliau pun menegaskan bahwa umumnya redaktur surat kabar lain pun berpandangan serupa meski tidak sampai merumuskannya seperti Kang Budhi. Sebenarnya banyak hal yang Kang Budhi sampaikan kepada saya tentang tips dan seluk beluk menulis ilmiah di surat kabar, dan sangat menarik, tapi rasanya saya akan mendahului beliau apabila memaparkannya juga di sini. Biarlah Anda dengarkan sendiri Kang Budhi memaparkannya, misalnya dalam Pelatihan Menulis Ilmiah dan Ilmiah Populer, atau di berbagai training menulis lainnya yang menghadirkan beliau sebagai pembicaranya. Saya hanya mencoba merangkai ingatan saya tentang satu pokok pembicaraan dengan Kang Budhi yang, rasanya, bagi saya pribadi sangat menarik.

Akhir kata, saya minta maaf kepada Kang Budhi, yang juga menjadi friend saya di FB ini, apabila apa yang saya sampaikan di sini ternyata tidak tepat atau agak melenceng dari paparan beliau sebenarnya. Ini saya tuliskan kembali semata karena ketertarikan saya atas paparan Kang Budhi, dan juga rasa respek saya secara pribadi kepada beliau. Hatur nuhun Kang Budhi untuk selalu berbagi ilmunya, dan juga encouragement agar saya tidak tergiur menjadi ‘liar’ merambah berbagai bidang di luar ‘otoritas dan kompetensi’ saya dalam menulis di surat kabar. Hatur nuhun.

Oke, demikian. Selamat mencoba untuk Anda yang tertarik menulis di surat kabar. Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam.

Menulis Resensi Buku

MERESENSI BUKU

Ulasan buku (a book review) merupakan gambaran sekaligus evaluasi terhadap suatu buku. Ia harus berfokus pada tujuan, kandungan, dan otoritas buku.

Pemindaian (Scanning) Halaman Awal Buku

Sebelum mulai membaca, perhatikan hal-hal berikut:

1. Judul–Apa yang tersirat dari judul?

2. Kata Pengantar—Memberikan informasi panting tentang tujuan pengarang menulis buku tersebut dan membantu Anda menakar keberhasilan karyanya itu.

3. lsi Buku—Memberi tahu Anda tentang organisasi buku tersebut dan akan membantu dalam menentukan gagasan  utama pengarang dan bagaimana alur pengembangannya—secara kronologis, berdasarkan topik, dan sebagainya.

Bacalah lsinya

Catat kesan-kesan Anda saat mambaca buku yang Anda ingin ulas, dan perhatikan bagian yang patut dikutip. Ingat-ingat pertanyaan berikut ini:

1 . Apa bidang kajian dan bagaimana buku itu bisa dlmasukkan ke dalam kelompok tersebut? (jika perlu, gunakan sumber luar agar Anda akrab dengan bidang kajian tersebut.)

2. Dari sudut pandang mana buku itu ditulis?

3. Bagaimana gaya penulisan si pengarang? Formal atau informal? Sesuaikah dengan target pembaca? Jika ini karya fiksi, teknik menulis apa yang dipakai penulis?

4. Apakah konsepnya didefinisikan dengan jelas? Sebagus apa pengembangan gagasan penulis? Bidang apa yang tercakup/tidak tercakup di dalamnya? Kenapa? Hal ini membantu membangun otoritas buku tersebut.

5. Jika buku tersebut adalah karya fiksi, buat catatan mangenai unsur-unsur seperti penokohan, plot, seting, dan bagaimana keterkaitan semuanya dengan tema buku. Bagaimana cara pengarang menggambarkan tokoh-tokohnya? Bagaimana pengembangannya? Bagaimana struktur plotnya?

6. Seberapa akurat informasl dalam buku itu? Periksa sumber Iuar jika perlu.

7. Jika relevan, buat catatan mengenai format buku–tata letak, penjilidan, tipografi, dan lain-lain. Apakah ada peta, ilustrasi? Apakah gambar-gambar itu membantu pemahaman?

8. Periksa halaman-halaman belakang. Apakah indeksnya akurat? Sumber apa yang dipergunakan—primer atau sekunder? Bagaimana memanfaatkannya? Catat kelalaian penting.

9. Terakhir sejauh mana prestasi buku itu? Apakah diperlukan karya selanjutnya? Bandingkan buku itu dengan buku lain dengan pengarang yang sama atau berbeda. (Gunakan daftar pustaka.)

Rujuk kepada Sumber Tambahan

Berusahalah menemukan informasi Iebih jauh tentang si pengarang—reputasi, kualifikasi, pengaruhnya, dan lain-lain–informasi apa pun yang relevan dengan buku yang sedang diulas dan yang akan membantu membangun otoritas si pengarang. Pengetahuan tantang periode kesusasteraan dan teori kritis juga sangat berguna bagi ulasan Anda. Mintakan saran tentang sumber yang bisa dipergunakan kepada orang yang menguasai tema buku itu dan/atau pustakawan rujukan.

Persiapkan Kerangka Tulisan

Perhatikan dengan cermat catatan Anda dan berusahalah menyatukan kesan Anda menjadi sebuah pernyataan yang akan menggambarkan tujuan atau tesis ulasan Anda. Kemudian, buat kerangka argumen yang mendukung tesis Anda. Argumen Anda harus mengembangkan tesis itu dengan cara yang Iogis.

Buat Draf Tulisan Resensi

Amati kembali catatan Anda; kemudian, menggunakan kerangka tadl sebagai panduan dan merujuk kepada catatan jika perlu, mulallah menulls. Ulasan buku Anda harus meliputi:

1. lnformasi Awal—Kutipan bibliografis lengkap tentang buku tersebut. yaitu judul lengkap,  penulis, tempat terbit, penerbit,  tahun terbit, edisi, jumlah halaman, tambahan khusus (peta, gambar/halaman berwarna, dan sebagainya), harga, dan lSBN. Contoh:

Judul : Bahasa, Citra, Media

Penulis : Howard Davis dan Paul Walton (ed.)

Penerjemah : Ikramullah Mahyuddin

Penerbit : Jalasutra

Tahun : I, 2010

Tebal : 350 halaman

Harga : Rp87.000

2. Pembukaan–Berusahalah memikat perhatian pembaca dengan kalimat pembuka Anda. Pembukaan ini harus menyatakan tesis utama, dan menentukan nada ulasan Anda.

3. Pengembangan—Kembangkan tesis Anda dengan argumen pendukung sebagaimana tersusun pada kerangka tulisan Anda. Gunakan deskripsi, evaluasi, dan jika mungkin penjelasan tentang alasan pengarang menulis buku itu. Cantumkan kutipan untuk menggambarkan poin-poin penting atau sesuatu yang ganjll.

4. Kesimpulan—Apabila tesis Anda terkemukakan dengan baik. kesimpulan akan mengikuti dengan sendlrinya. Kesimpulan ini bisa berisikan pernyataan terakhir atau sekadar mengulang tesis Anda. Jangan mengedepankan hal baru di sini.

Perbaiki Draf Anda

1. Beri jeda yang cukup sebelum Anda memeriksa ulang ulasan Anda, untuk mendapatkan perspektif.

2. Dengan hati-hati baca naskah itu secara menyeluruh, periksa kejernihan dan pertalian (antarbagian),

3. Perbaiki tata bahasa dan ejaan.

4. Cek kutipan untuk ketepatan catatan kaki.

Sumber Rujukan

– Drewry John.Writing Book Reviews. Boston: The Writer. 1974. (REF PN98.B7D7 1974).

Literary Reviewing. Charlottesville: University Press of Virginia, 1987. (PN441.L487 1987 — buku-buku Stauffer Library)

– Meek, Gerry. How to Write a Book Review. UW Library Reference Service Aids 16. (Tt.: t.p., t.t.)

– Teitelbaum, Harry . How to Write Book Reports. New York: Monarch Press, 1975.

– Thomson, Ashley. “How  to Review a Book”. Canadian Library Journal (Desember 1991): 416-418.

— Walford, A.J., peny. Reviews and Reviewing:  A Guide. Phoenix. AZ: Oryx Press, 1986.

Sumber: http://libraryqueensu.ca/inforef/bookrev/write_review.htm