Tentang Menulis Artikel Ilmiah Populer di Surat Kabar

by Alfathri Adlin
dilansir dari note fbnya di sini
Kemarin sore saya membuat janji untuk bertemu dengan Kang Budhiana, Wakil Pemred Pikiran Rakyat. Seperti biasa, setiap kali bertemu dan berbicara dengan Kang Budhi, selalu saja ada ‘oleh-oleh’ yang bisa saya bawa pulang. Salah satu pembicaraan yang menarik buat saya, dan mungkin juga buat Anda yang tertarik utuk menulis di koran, adalah rumusan kang Budhi tentang Intelektual Publik.

Kang Budhi menceritakan bahwa sebelumnya banyak intelektual yang gengsi menulis artikel ilmiah untuk di muat koran. Mereka lebih biasa menulis untuk jurnal yang mendalam atau malahan menulis buku yang dipandang lebih memiliki wibawa secara keilmuan. Bahkan, kalau berbicara CUM, menulis di koran nilai cum-nya hanya 1, sementara menulis di jurnal nilai cum-nya 25. Selain, honor menulis koran tidaklah sebesar kalau cuap-cuap di forum-forum ilmiah.

Namun, tembok gengsi itu justru runtuh oleh para saintis, di antaranya adalah Richard Feynman, yang menulis di surat kabar tentang teori-teori sains secara populer tanpa menampilkan satu rumus pun. Bisa dikatakan sejak itulah para akademisi dan intelektual mulai mau menulis ilmiah populer di koran.

Apa sih gunanya intelektual atau akademisi menulis ilmiah populer di koran? Kang Budhi merumuskan tiga tahapan yang sebaiknya dilalui secara baik oleh para intelektual atau akademisi ketika menulis ilmiah di surat kabar.

Pertama, sebaiknya saat seorang akademisi membuat suatu tulisan ilmiah di koran sebaiknya itu sesuai dengan otoritas dan kompetensinya. Otoritas dan kompetensi ini memang lebih mudah dilihat dari latar belakang pendidikan. Seorang Alfathri Adlin menulis tentang seluk-beluk Stroke hanya karena istrinya dokter spesialis syaraf tetaplah tidak bisa dibilang ‘kompeten dan otoritatif’. Sebaiknya tulisan tersebut tidak terlalu jauh dari latar belakang pendidikan kita, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang membentuk otoritas dan kompetensinya karena belajar otodidak. Tetapi, sebaiknya seseorang memperlihatkan otoritas dan kompetensinya tidak lebih dari dua bidang.

Kang Budhi menceritakan bahwa biasanya mahasiswa yang tulisannya di muat di surat kabar selalu bersemangat menulis lagi dan berharap dimuat lagi. Padahal, umumnya surat kabar paling sering memuat tulisan seseorang itu satu bulan sekali. Selain itu, karena saking semangatnya, mereka menulis tentang berbagai hal yang berada jauh dari lingkup ‘kompetensi dan otoritasnya’ (misal, mahasiswa jurusan sastra arab menulis tentang fisika kuantum). Namun, mahasiswa yang masih mengenyam pendidikan S1 jurusan apa pun masih diterima apabila menulis ihwal politik karena jejak historisnya sebagai ’yang suka berontak menuntut perubahan politik’. Nah, di tahap pertama ini, para intelektual atau akademisi sebaiknya ingat bahwa yang sedang dibangunnya melalui sekian artikel ilmiah populernya di surat kabar adalah untuk membangun otoritas dan komptensi diri.

Setelah menuliskan banyak artikel ilmiah populer yang menguatkan otoritas dan kompetensinya, maka sang intelektual atau akademisi akan mulai masuk tahap kedua, yaitu menjadi referensi atau rujukan. Pada tahap ini masyarakat akan mengacu kepada sang intelektual atau akademisi saat membutuhkan pandangan ihwal bidang tertentu yang diyakini menjadi otoritas atau kompetensinya (oh, kalau mau meminta pembicara tentang anu, ahlinya si anu…dst). Di tahap kedua inilah biasanya intelektual dan akademisi mulai mendapatkan ‘tambahan’ selain dari menulis di surat kabar, yaitu menjadi pembicara di berbagai forum dalam lingkup otoritas dan kompetensinya. Namun ada juga orang yang tiba-tiba menjadi referensi karena dirayakan oleh media sehingga menjadi ‘intelektual selebritis’. Resikonya, semakin dia dirayakan oleh media, semakin banyak dia berbicara, semakin terlihat kedangkalannya… contohnya, ah Anda tahu sendirilah…sering lihat kan di infotainment? Nanti saya bernasib kayak Prita kalau bicara gamblang di dunia maya ini he he he…

Nah, di tahap ketiga, sang intelektual atau akademisi akan menjadi simbol. Pada titik inilah baru masyarakat bertanya kepada sang intelektual atau akademisi tentang hal-hal di luar otoritas dan kompetensinya. Misalnya, si Anu adalah pakar fisika kuantum, tapi kira-kira apa ya pendapat dia tentang agama. Nah, di sinilah sang intelektual atau akademisi bisa ‘agak bebas’ untuk berbicara apa pun. Namun, posisi simbol ini sangat risakn dan mudah terjungkir apabila, menurut masyarakat, sang intelektual atau akademisi berbuat sesuatu yang mereka anggap salah, sekalipun itu belum tentu kesalahan. (Kang Budhi sering mencontohkan dengan Aa Gym yang setelah menjadi referensi dan kemudian simbol, kemudian dilupakan hanya karena mayoritas masyarakat menganggap keputusan berpoligami Aa Gym itu salah… yah kalau kata saya sih, merujuk pada Al-Quran, jangan ikuti kebanyakan manusia, karena kebanyakan manusia itu menyesatkan… peace ah, maaf kalau saya gak peduli seandainya Anda sewot dengan sikap saya he he he…)

Kang Budhi juga menambahkan bahwa akademisi itu menduduki peringkat ke satu dalam hal kepercayaan publik. Misalnya, kalau yang bicara adalah politikus, masyarakat langsung sinis dan gak percaya. Tapi kalau akademisi pakar politik yang berbicara, masyarakat lebih mempercayainya.

Wah, bagi saya betul-betul menarik apa yang diungkapkan Kang Budhi tersebut, terlebih beliau pun menegaskan bahwa umumnya redaktur surat kabar lain pun berpandangan serupa meski tidak sampai merumuskannya seperti Kang Budhi. Sebenarnya banyak hal yang Kang Budhi sampaikan kepada saya tentang tips dan seluk beluk menulis ilmiah di surat kabar, dan sangat menarik, tapi rasanya saya akan mendahului beliau apabila memaparkannya juga di sini. Biarlah Anda dengarkan sendiri Kang Budhi memaparkannya, misalnya dalam Pelatihan Menulis Ilmiah dan Ilmiah Populer, atau di berbagai training menulis lainnya yang menghadirkan beliau sebagai pembicaranya. Saya hanya mencoba merangkai ingatan saya tentang satu pokok pembicaraan dengan Kang Budhi yang, rasanya, bagi saya pribadi sangat menarik.

Akhir kata, saya minta maaf kepada Kang Budhi, yang juga menjadi friend saya di FB ini, apabila apa yang saya sampaikan di sini ternyata tidak tepat atau agak melenceng dari paparan beliau sebenarnya. Ini saya tuliskan kembali semata karena ketertarikan saya atas paparan Kang Budhi, dan juga rasa respek saya secara pribadi kepada beliau. Hatur nuhun Kang Budhi untuk selalu berbagi ilmunya, dan juga encouragement agar saya tidak tergiur menjadi ‘liar’ merambah berbagai bidang di luar ‘otoritas dan kompetensi’ saya dalam menulis di surat kabar. Hatur nuhun.

Oke, demikian. Selamat mencoba untuk Anda yang tertarik menulis di surat kabar. Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam.

Advertisements
%d bloggers like this: