Gadis-gadis dengan Pedang

gadis2 dgn pedang

Gadis-gadis dengan Pedang
Penulis Lisa Bevere
Penerjemah: Slamat Sinambela & Hembang Tambun
Editor: Slamat Parsaoran Sinambela
Layouter: Yosua Agustinus Sirait
Penerbit: Messenger International. USA, Januari 2015

Di seluruh dunia, wanita menjadi target dari prasangka buruk, perdagangan manusia, penganiayaan dan pemusnahan gender. Satu musuh rohani sedang melucuti para wanita di setiap tingkatan. Lisa Bevere menjelaskan bagaimana Firman Allah merupakan sebuah pedang yang harus dipelajari dan digunakan. Jika pernah ada suatu waktu bagi wanita untuk dipersenjatai, sekaranglah saatnya.
Menempa pedang yang digambarkan secara kreatif, yaitu antara Firman Allah dan Salib, Gadis-gadis dengan Pedang akan mengajar Anda:
• Bagaimana mengucapkan bahasa-bahasa surga di bumi
• Apa artinya bersyafaat
• Apa artinya memikul salib
• Apa artinya menjadi bijaksana
• Bagaimana melucuti sang musuh
• Mengapa para wanita menjadi target sang musuh – dan mengapa Allah memerlukan mereka menjadi pahlawan

pedagang bensin eceran dan perempuan yang tidak saya tahu namanya

jogja 30/10/2014. hari ini saya mendapatkan perlakuan tak simpatik dari pedagang bensin eceran. motor yang saya gunakan mogok di kantor pos gejayan depan realino. bensinnya habis. setelah dapat info dari tukang parkir, saya menuju pedagang bensin sekaligus tukang tambal ban yang jaraknya sekitar 25 meter dari kantor pos itu.

saya bawa bayi (1 tahun 10 bulan) serta abangnya (7 tahun). kepada tukang bensin itu, saya jelaskan bahwa motor saya posisinya di kantor pos yang saya yakin dia tahu betul. saya berniat meminjam jerigen bensinnya. sembari asyik menambal ban motor di hadapannya, dia bilang, “tidak bisa. bawa motornya ke sini.”

“waduh, saya bawa bayi pak, repot sekali. saya titip uang deh pak kalau bapak ragu. nanti saya lewat sini.”

“nggak boleh, mas, maaf ya, maaf ya.” tapi, wajahnya menjengkelkan.

saya naikkan posisi si bungsu di pangkuan, tarik tangan si sulung, “ayo pulang.”

kami berjalan kembali ke kantor pos. di jalan, seorang gadis berjilbab menghentikan kami. saya kira dia mahasiswi.

“ada apa pak? saya tadi tambal ban di situ.”

saya jelaskan apa yang terjadi.

“tunggu ya, pak saya carikan bensin,” janjinya, setelah paham motor saya ada di kantor pos yang saya tunjuk.

“terima kasih, mbak, merepotkan.”

kami menuju parkiran kantor pos. di otak saya, apes-apesnya, saya akan dorong motor itu. saya tendang lagi kick starter motor itu berharap keajaiban datang. sia-sia. tak lebih dari 10 menit, eh, si mbak tadi datang dengan seliter bensin di tangannya.

“maaf ya pak, bisanya pakai plastik.”

“terima kasih banyak ya, mbak, saya harus bayar berapa?”

“tujuh ribu saja,” katanya. wajahnya menarik. saya rogoh saku saya, saya berikan sepuluh ribu.

“jangan kembalikan,” saya bersikeras. ia memasukkan kembali recehan yang dia keluarkan dari tasnya.

“saya sudah merepotkan. terima kasih.”

“sama-sama. baik, pak. saya pergi dulu,” katanya setelah menggoda si kecil.

konyolnya saya, saya lupa tanya apa pun tentang dirinya. 😦
[]

Why Christian Kids Leave the Faith

whyJudul Buku : WHY CHRISTIAN KIDS LEAVE THE FAITH
Penulis : Tom Bisset
Penerjemah : Slamat P. Sinambela
Publisher : Visi Press, Bandung (Agustus 2014)
ISBN : 9786021315125
Price : Rp 60.000 ,-

Manusia mulai menjauh dari Allah sejak awal sejarah manusia. Adam dan Hawa menjauh dari Allah. Kain juga melakukannya. Demasa telah berpaling dari kepercayaannya dan pergi ke kota Tesalonika yang gemerlap.
Kaum Puritan Amerika kesulitan mengatasi anak-anak mereka yang tidak mau patuh dan menciptakan berbagai cara untuk mencegah serangan roh jahat terhadap generasi penerus mereka.
Meninggalkan iman bukanlah hal yang kebetulan atau terjadi begitu saja. Orang-orang yang meninggalkan imannya kepada Allah melakukannya karena alasan khusus. Jika kita memahami alasan-alasan tersebut, kita dapat membantu mereka yang sedang dalam pergumulan yang sama.
Kita juga dapat mengurangi resiko penolakan iman dalam diri orang lain, termasuk anak-anak kita, yang mungkin berpotensi meninggalkan iman mereka.

Orang Kristen yang meninggalkan imannya membuat kita tercengang. Kenapa bisa begitu? Salah siapa ini? Namun pertanyaannya bukan hanya itu saja, masih ada lebih banyak lagi. Ada juga kepedihan dari mereka yang meninggalkan imannya dan mereka yang ditinggalkan.
Dalam buku ini,saya menguraikan 4 alasan mendasar mengapa orang-orang meninggalkan iman Kristennya.

Roh Kudus: Sebuah Pengantar

Roh Kudus: Sebuah Pengantar

Roh Kudus: Sebuah Pengantar

Judul Buku: Roh Kudus: Sebuah Pengantar

Penulis: John Bevere & Addison Bevere

Penerjemah: Slamat Parsaoran Sinambela

Penerbit: Messenger International, Palmer Lake, Colorado, USA. Maret 2014

Lokakarya Pelestarian Alam untuk Keluarga

mangrove

 

Mari bergabung bersama kami pada Lokakarya Pelestarian Alam untuk Keluarga –  Mangrove for the Future! pada tanggal 23-24 Nov 2013 dan Ayo juga kita ikut Peduli Anak-anak SOS Children’s Villages Semarang dengan Hijaukan Dunia !

 

 

Anda dan keluarga adalah prioritas kami. Dapatkan tempat dan kontribusi peserta dengan harga khusus !

 

– Rp 100.000 untuk peserta Dewasa dan Anak-anak usia 7 tahun dan keatas

 

– Rp 50.000 untuk Anak-anak usia 2-6 tahun

 

 

14 November 2013 adalah batas waktu untuk memakai hak istemewa ini.

 

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan lihat pada dua leaflet program terlampir dan jangan ragu juga untuk kontak kami.

 

salam,

 

potTrack

 

– in the Magic of Nature

 

 

Aity – Hp 08156609612

 

Fifi – Hp 0811272063

 

E-mail: nature_potTrack@yahoo.com

 

Website: http://pottrack.weebly.com/

 

Bertemu John Bevere

john bevere

Holy Stadium, Semarang, 8 September 2013

Amazing! Ketemu pertama kali dengan John Bevere, setelah 4 buku dan belasan transkrip videonya saya terjemahkan/edit dalam rentang 3 tahun. Beliau adalah bos MessengerInternational.org.

“Apakah kau pernah tinggal di US makanya bisa menerjemah?” tanya John. Saya hanya tertawa. “Saya tak pernah ke luar negeri, John.” Dia geleng-geleng kepala. Orang bule itu kadang lucu juga:)

Buku John Bevere dapat Anda peroleh melalui www.CloudLibrary.org secara gratis.

Penerjemah, Jembatan Antarbangsa

 

SABTU (24/8/2013), tak kurang dari lima puluh penerjemah (translator) dan juru bahasa (interpreter) profesional berkumpul di salah satu kafe nan anggun di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka tergabung dalam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) yang dipimpin Eddie R. Notowidigdo (67). Didukung para sejawatnya, Eddie bersungguh-sungguh mengelola HPI sehingga profesi penerjemah dan juru bahasa semakin diakui eksistensinya.

Hari itu, mereka bersilaturahmi dalam Temu HPI Kompak. Pada sesi gelar wicara yang membahas Kongres XI HPI (30 November 2013) tampil empat penerjemah senior, yakni Eddie R. Notowidigdo, Hananto Sudharto, Rudy Hendarto, Wiyanto Suroso dengan pemandu Indra Blanquita Hurip. Selanjutnya digelar pelatihan singkat ”Kiat Penyuntingan Dalam Penerjemahan” dengan narasumber jurnalis senior Imam Jahrudin Priyanto (Wakil Kepala Pusat Data Redaksi dan Pengembangan Program Pikiran Rakyat) yang juga mahasiswa pascasarjana linguistik UPI.

Menurut Eddie, seorang penerjemah tidak cukup hanya mahir dalam bahasa sumber tetapi   harus juga menguasai bahasa sasaran. ”Karena pelatihan Sabtu waktunya singkat, saya berharap rekan-rekan memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan penyuntingan sehari penuh pada 12 Oktober 2013,” ujar Eddie yang lama bertandem dengan Anna Wiksmadhara (Sekretaris HPI) walau kini Anna sudah mundur karena alasan keluarga.

HPI didirikan 5 Februari 1974 dengan Ali Audah sebagai ketua pertama. Setelah sempat ”mati suri”, pada  2000 HPI dibangkitkan kembali oleh Prof Benny H Hoed yang kemudian terpilih sebagai ketua hingga 2007. Pada Kongres IX HPI 23 Juni 2007, Hendarto Setiadi dipercaya menjadi ketua. Sementara Eddie R Notowidigdo menjadi ketua pada Kongres X HPI 16 Oktober 2010.

HPI pun terus berkembang. Waktu Eddie terpilih sebagai ketua, organisasi ini baru memiliki 224 anggota. Dengan digelarnya berbagai program, kini HPI memiliki kurang lebih 950 anggota.

Dalam perkembangannya itu, HPI memiliki partner yakni milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia) yang didirikan Bashir Basalamah, Sofia Fifi Mansoor, dan Wiwit Margawiati. Di milis yang beranggotakan 3.597 orang tersebut, berbagai istilah didiskusikan oleh para penerjemah dan juru bahasa yang berkedudukan di berbagai belahan dunia. Sementara di Facebook, HPI menyelenggarakan dua grup,  yakni Himpunan Penerjemah Indonesia dan HPI English Grammar Corner.

HPI kini sudah memiliki empat komisariat daerah (komda), yakni Jawa Barat, DI Yogyakarta-Jawa Tengah (digabung), Jawa Timur, dan Bali. Pada 5 Oktober 2013 nanti akan didirikan komda kelima, yakni Nusa Tenggara (NTB dan NTT). Sebagai organisasi profesi, sejak 2010 HPI menyelenggarakan Tes Sertifikasi Nasional (TSN). Mulai Oktober 2013 ini, HPI merencanakan penyelenggaraan TSN Penerjemah Umum dan TSN Penerjemah Hukum, sedangkan awal 2014 TSN Juru Bahasa.

Untuk pembinaan, HPI menggelar berbagai pelatihan dan lokakarya, baik menyangkut penerjemahan maupun penyuntingan bahasa terjemahan. Organisasi nirlaba ini juga menyediakan basis data dalam jaringan (daring) bagi penerjemah dan juru bahasa dengan nama Indonesian Directory of Translators and Interpreters di http://sihapei.hpi.or.id sebagai layanan bagi masyarakat umum dan para anggota HPI. Selain bermanfaat bagi para penerjemah, direktori itu pun memudahkan masyarakat untuk mendapat penerjemah profesional bermutu sesuai dengan kebutuhan. Direktori yang diluncurkan Februari 2013 tersebut juga sudah dilaporkan kepada Federasi Internasional Penerjemah (Fédération Internationale des Traducteurs/International Federation of Translators), dan kiprah HPI di ranah internasional semakin teruji. Perkembangan itu membuktikan bahwa kini para penerjemah dan juru bahasa sudah berperan sebagai ”jembatan” yang mampu mengokohkan hubungan bangsa-bangsa di dunia. (Imam JP/”PR”)***

imam

Ketika Para Penerjemah Berbagi

ppm0002Dipublikasikan di Koran Jakarta, Rabu, 15 Mei 2013.
“Anda membawa kelamin?” Tentu saja pertanyaan ini bisa runyam bila ditujukan kepada orang Indonesia. Di Malaysia, kalimat itu berarti apakah “Anda datang bersama keluarga?” (hal 103). Ini sebuah pertanyaan yang sangat wajar di Negeri Jiran. Namun, bagaimana bila tidak ada yang menjelaskan? Kalimat pertama tadi diulas dengan menarik oleh Sofia F Mansoor, seorang penerjemah senior dari ITB, di dalam artikelnya Suka Duka Berbahasa Serumpun.

Buku Pesona Penyingkap Makna hadir sebagai sarana berbagi para penerjemah yang bergabung dalam milis Bahasa dan Terjemahan Indonesia (Bahtera). Ini buku ketiga bertema alih bahasa. Isinya berbagai jenis tulisan, mulai catatan personal sampai teknis, yang disajikan dalam bahasa populer.

Tengoklah, misalnya, Kurnia Amirullah akhirnya menjadi penerjemah karena mengalami sindrom Tourette. Akibat minimnya literatur yang terperinci dalam bahasa Indonesia tentang sindrom Tourette, dia terpaksa menerjemahkan buku-buku dan berbagai teks lain tentang penyakit itu. Kurnia berharap hasil terjemahannya bisa meningkatkan awareness orang-orang Indonesia terhadap sindrom Tourette (hal 128-130).

Sindrom Tourette, suatu gangguan saraf dan perilaku (neurobehavioral disorder), dicirikan aksi tak disadari, berlangsung cepat (brief involuntary actions), berupa tics vokal (termasuk kata jorok) dan kotor, juga disertai gangguan kejiwaan (psychiatric disturbances).

Indah Nuritasari di Philadelphia bingung harus menerjemahkan keterangan dokter bahwa seorang pasien kanker hanya bisa bertahan sekitar 4 bulan. Dengan alasan kemanusiaan, akhirnya Indah menerjemahkan bahwa penyakit itu bisa disembuhkan, namun lama. Pasien akhirnya meninggal 5 tahun kemudian (hal 54–56). Tentu saja, tindakan Indah tidak dapat dibenarkan secara etika penerjemahan, namun apa jadinya jika saat itu Indah menerjemahkan apa adanya?

Buku ini memuat tulisan para penerjemah dari berbagai naungan organisasi profesi tersebut. Ada pula sharing dari Rahmad Ibrahim yang dapat hidup dari menerjemahkan. Dengan menerjemah, dia dapat membeli rumah dan membiayai kuliah pascasarjana istrinya di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang (hal 144).

Minat masyarakat untuk menekuni profesi penerjemah belum besar, namun cukup menjanjikan bila ditekuni secara serius. Beberapa tahun belakangan, penerjemah sudah diakui berupa tarif yang disahkan Menteri Keuangan. Di KTP pun sudah ada profesi penerjemah sebagai pekerjaan.

Diresensi Slamat P Sinambela, anggota penuh Himpunan Penerjemah Indonesia

Judul buku : Pesona Penyingkap Makna
Penyunting: Sofia F. Mansoor & Maria E. Sundah
Tebal : xiv + 216 halaman
Penerbit : Penerbit ITB, 2013
ISBN : 978-602-9056-47-1
Harga : Rp65.000

Sumber: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/119468

Edisi cetak:

A resensi

Pena Beracun (Moving Finger) karya Agatha Christie

penaBuku ini saya proofread beberapa waktu lalu.

The Moving Finger
Pena Beracun
Oleh Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis
Kematian menyerang secara diam-diam. Aku ingat, surat itu tiba waktu kami sedang sarapan. Pengirimnya pasti dari desa ini saja, dan alamatnya diketik. Aku membuka surat itu sebelum dua surat lain yang berstempel pos London. Di dalamnya terdapat sehelai kertas yang ditempeli kata-kata dan huruf-huruf cetak yang telah digunting dari sebuah buku. Sesaat aku menatap kata-kata itu tanpa memahaminya. Kemudian napasku tersekat.
Mula-mula surat-surat kaleng yang keji itu hanya menyebabkan rasa takut. Tapi kemudian surat-surat itu menyebabkan kematian. Pertanyaannya adalah siapa yang akan menjadi korban berikutnya?

Ukuran : 11 x 18 cm
Tebal : 320 halaman
Terbit : April 2013
Cover : Softcover
ISBN : 978-979-22-9377-7
No Produk : 40201130048
Harga Rp. 48.000

Kiat Menulis Renungan

oleh Purnawan Kristanto

Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel.  Di dalam menulis artikel penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan dan keterampilan (memberi makanan bagi otak), tapi dalam renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi makanan pada jiwa dan roh).

Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan lebih dari satu sumber tulisan.  Sedangkan dalam renungan, berpusat pada satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500 s/d 2000 kata. Sedangkan dalam renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan dari pengalaman batin (heart).

Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca. Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan.  Dia lalu mencari jawabannya melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat dalam Firman Tuhan.  Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu kepada pembaca.

Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi  Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.

Ada beberapa tipe renungan:

1.      Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata.  Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak sesuatu.

2.      Renungan yang memberi ketenangan.  Biasanya berisi kata-kata penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami pergumulan.

3.      Renungan yang memberikan teguran.  Renungan ini memperingatkan pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa mendatangkan dosa.

4.      Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu.  Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.

Menggali Ide

Kesulitan utama dalam menulis renungan adalah memilih tema renungan. Dalam satu tahun ada 365 renungan yang harus ditulis dengan tema yang bervariasi. Jika kita sudah menulis renungan selama bertahun-tahun maka lama-lama lumbung tema akan menipis. Lalu bagaimana menyiasati situasi ini? Berikut ini ada beberapa metode untuk menggali gagasan penulisan renungan (Disarikan dari buku ”Metode Pemahaman Alkitab yang Dinamis”, oleh Rick Warren):

1. Metode Berdoa

Metode ini meliputi pemahaman sebagian dari Alkitab, bersaat teduh, dan berdoa mohon bimbingan Roh Kudus. Ini dilakukan sedemikian lama sehingga Roh Kudus memperlihatkan cara menerapkan dalam kehidupan secara pribadi, praktis, bisa dilakukan dan terukur.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

Pertama: Berdoa memohon Allah menunjukkan kehendak-Nya

Kedua:  Merenungkan ayat yang terpilih untuk dipelajari. Merenungkan dapat disamakan dengan sapi yang memamah biak. Sapi menelan rumput ke dalam perut. Rumput itu dikeluarkam lagi untuk dikunyah pelan-pelan. Perenungan Alkitab dapat menggunakan cara visual. Misalkan mempelajari Yohanes 4, Anda membayangkan sedang berada di dekat Yesus dan perempuan di sumur dekat Sikhar. Renungkan: bagaimana perasaan Anda jika Anda adalah orang yang dimintai minum oleh Yesus? Emosi apa yang muncul jika Anda adalah salah seorang murid Yesus yang menyaksikan peristiwa itu?

Ketiga, catat aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi ini harus bersifat PRIBADI, PRAKTIS, DAPAT DILAKSANAKAN dan DAPAT DIBUKTIKAN.

2. Metode Mutu Karakter

Metode ini merupakan cars untuk mencari apa kata Alkitan tentang sifat pribadi khusus dari seseorang, dengan maksud utama memberlakukannya bagi diri kita.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

Pertama, tentukan mutu karakter yang akan dipelajari. Carilah padanan kata (sinonim) sehingga Anda lebih bisa mengerti.

Contoh:

Integritas
Kejujuran
Setia
Ketekunan
Ketulusan
Kerelaan

Kedua, tuliskan lawan kata dari karakter tersebut (antonim). Misalnya lawan kata Kejujuran adalah Kebohongan.

Ketiga, lakukan studi sederhana tentang kata-kata tersebut. Telusuri Alkitab dan dapatkan mutu-mutu karakter yang digunakan dalam Alkitab. Dalam hubungan apa kata itu dipakai. Gunakan kamus Alkitab, ensiklopedia atau buku lainnya yang bisa menjelaskan arti istilah tersebut. Misalnya kata ”lemah lembut” dalam bahasa Yunani berarti memecahkan sesuatu dan membayanya ke dalam ketaatan yang penuh. Dengan demikian, ”lemah lembut” bukan berarti kelemahan, justru sebuah kekuatan untuk senantiasa berada di bawah ketaatan pada Yesus Kristus.

Keempat, gunakan acuan silang (cross reference). Gunakan konkordansi, ensklopedia dan tafsir, lalu ajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apa manfaat dari karakter ini?
Konsekuensi apa yang timbul dari karakter ini?
Apa janji Tuhan yang terkandung dalam karakter ini?
Apa peringatan atau larangan  Tuhan yang terkandung dalam karakter ini?
Apa perintah Tuhan yang terkandung dalam karakter ini?
Penulis kitab apa yang sering menggunakan istilah ini?
Buatlah ringkasan dari jawaban Anda.

Kelima, lakukan studi biografi singkat. Pilihlah satu tokoh Alkitab yang mempeerlihatkan mutu karakter ini. Ajukan pertanyaan:

Apa yang diperlihatkan dari karakter orang ini?
Bagaimana karakter itu mempengaruhi hidupnya?
Apakah karakter itu membantu atau menghambat hidupnya?
Apa yang dihasilkan orang itu dalam hidupnya?

Keenam, bayangkan situasi dalam kehidupan yang menghendaki adanya karakter ini. Tuliskanlah aplikasi untuk menerapkan karakter ini.

3. Metode Biografis

Metode ini berusaha untuk menemukan keberhasilan atau kegagalan individu tertentu dalam Alkitab.

Pertama, Pilih nama dalam Alkitab

Kedua, tulislah data seputar orang itu. Misalnya tentang lahirnya, peristiwa besar dalam hidupnya, prestasinya, apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya, dan kematiannya.

Ketiga, tuliskan kesan pertama Anda setelah melakukan  pembacaan pertama. Buatlah catatan dari hasil pembacaan Anda. Tuliskan persoalan, pertanyaam atau kesulitan yang Anda temukan selama Anda membaca referensi itu.

Ketiga, buatlah kerangka kronologis (pembacaan kedua). Baca kembali catatan Anda dan buatlah kerangka kronologisnya. Ini akan membantu Anda memperoleh perspektif baik atas kehidupannya. Hal ini akan membantu Anda melihat perubahan dalam kehidupan tokoh tersebut. Misalnya:

Empatpuluh tahun pertama, Musa belajar menjadi seseorang di istana Firaun (learning to be somebody).

Empatpuluh tahun kedua, Musa belajar menjadi bukan siapa-siapa di gurun pasir Midian. (learning to be nobody)

Empatpuluh tahun ketiga, Musa belajar menjadi orang yang taat pada Allah (learning to be somebody subjected to LORD)

Keempat, temukan mutu karakter yang dimiliki orang ini.

Kelima, Carilah bagaimana kebenaran Alkitab diungkapkan dalam kehidupannya. Misalnya, apakah hidupnya melukiskan janji Allah, “bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mzm 37:4)?

Kelima, tuliskan aplikasi pribadi:

Apakah saya melihat sesuatu dari diriku yang ada di dalam kehidupan orang ini?
Apakah ia memperlihatkan beberapa dari kelemahanku?
Apakah ia memperlihatkan kekuatanku?
Apa yang mengesankan saya dari kehidupan orang ini?
Pelajaran apa yang saya petik dari kehidupan orang ini?
Ringkas apa yang Anda pelajari, dengan pertanyaan ”Apa arti kehidupan ini bagi orang lain?” Bagikan kepada orang lain.

4. Metode Studi Kata

Metode ini melihat ”kata” secara mikroskopik untuk meneliti asal, definisi, kejadian dan pemakaian kata itu. Tujuannya adalah belajar menafsirkan ”kata”, seperti diamksudkan oleh penulis Alkitab.

Dalam menggunakan metode ini, ada dua hal yang harus diperhatikan:

1.      Studi ini harus didasarkan pada kata aslinya. Bukan dalam bahasa Inggris.

2.      Kita harus senantiasa mengaitkannya dengan konteks yang bisa mencerminkan arti yang sesungguhnya.

Perlengkapan yang diperlukan:

Alkitab berbagai versi
Konkordansi Alkitab
Kamus Alkitab dan Ensiklopedi
Kamus bahasa Inggris yang baik.
Program Sabda

Pertama, pilih kata yang akan dipelajari

Kedua, temukan definisi dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Catat setiap sinonim dan antonimnya.

Ketiga, bandingkan terjemahan. Bandingkan pemakaian ”kata” itu dalam berbagai versi terjemahan. Catatlah perbedaan versi yang Anda temukan.

Keempat, tulis definisi dari kata asli.

Kelima, periksa berapa kali kata itu digunakan dalam Alkitab.

Berapa kali kata itu dipakai dalam Alkitab?
Dalam kitab apa kata itu dipakai?
Penulisan apa yang memakai kata itu?
Dimana kata itu muncul pertama kali dalam Alkitab?

Keenam, temukan arti dasar dan asal dari dari kata itu?

Ketujuh, cari pemakaian kata itu dalam Alkitab (dalam konteks apa).

Kedelapan, tulis aplikasi

5. Metode Analisa Ayat

Metode ini meliputi pemilihan bagian dari Alkitab dan meneliti detilnya dengan bertanya, menemukan referensi silang, dan mengungkapkan kembali dengan kata-kata sendiri arti ayat yang dianalis. Lalu Anda menulis aplikasi pribadi.

Pertama, Tulis ayat dengan kata-kata Anda sendiri (parafrase). Ungkapkan maksud ayat itu dan coba untuk memadatkannya dan bukan memperluasnya.

Kedua, buatlah catatan berisi: pertanyaan, jawaban dan observasi.

Ketiga, cari beberapa referensi silang setiap ayat. Identifikasi kata dan ungkapan ayat yang Anda teliti bersama dengan referensi silang yang terkait.

Keempat, cari setiap pengertian yang anda dapatkan dari setiap ayat. Setelah Anda merenungkan kata-kata, ungkapan, konsep di dalam ayatm catatlah setiap pengertian yang Anda peroleh. Gunakan imajinasi Anda.

Kelima, catat aplikasi pribadi.

6.      Rumus 4 C

Ada suatu formula yang dipakai untuk menulis renungan yang disebut “rumus 4 C “, yaitu Contextualize, Connect, Communicate, dan Conclude. Berikut ini penjelasannya:

Contextualize. Daratkanlah isi renungan Anda dengan peristiwa kehidupan sehari-hari secara nyata. Pembaca renungan bukan malaikat yang hidup tanpa masalah di angkasa.  Pembaca renungan adalah manusia biasa dengan pergumulan kehidupan yang tidak enteng. Mereka membutuhkan penguatan rohani yang aplikatif.  Karena itulah, tulisan Anda sebaiknya menjawab kebutuhan pembaca secara nyata.

Connect. Hubungkan persoalan kehidupan yang dibahas itu dengan Firman Tuhan.  Temukanlah jawaban Firman Tuhan atas persoalan yang digumulkan oleh penulis dan pembaca renungan itu.  Dalam hal ini, selain harus berdoa meminta hikmat dari Tuhan, lebih baik lagi jika Anda memiliki pengetahuan teologi yang memadai.

Communicate. Komunikasikan hasil studi Alkitab itu kepada pembaca. Komunikasikan tentang kasih dan karunia Tuhan serta penguatan dari Roh Kudus. Jika diperlukan, pakailah ilustrasi untuk menjelaskannya.

Conclude. Simpulkan renungan ini dengan sebuah tindakan yang bisa dilakukan oleh pembaca. Bagian ini sangat penting. Rumuskanlah kata-kata yang bisa mendorong pembaca untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan.  Inilah yang disebut perubahan hidup.

« Older entries Newer entries »