Ketika Para Penerjemah Berbagi

ppm0002Dipublikasikan di Koran Jakarta, Rabu, 15 Mei 2013.
“Anda membawa kelamin?” Tentu saja pertanyaan ini bisa runyam bila ditujukan kepada orang Indonesia. Di Malaysia, kalimat itu berarti apakah “Anda datang bersama keluarga?” (hal 103). Ini sebuah pertanyaan yang sangat wajar di Negeri Jiran. Namun, bagaimana bila tidak ada yang menjelaskan? Kalimat pertama tadi diulas dengan menarik oleh Sofia F Mansoor, seorang penerjemah senior dari ITB, di dalam artikelnya Suka Duka Berbahasa Serumpun.

Buku Pesona Penyingkap Makna hadir sebagai sarana berbagi para penerjemah yang bergabung dalam milis Bahasa dan Terjemahan Indonesia (Bahtera). Ini buku ketiga bertema alih bahasa. Isinya berbagai jenis tulisan, mulai catatan personal sampai teknis, yang disajikan dalam bahasa populer.

Tengoklah, misalnya, Kurnia Amirullah akhirnya menjadi penerjemah karena mengalami sindrom Tourette. Akibat minimnya literatur yang terperinci dalam bahasa Indonesia tentang sindrom Tourette, dia terpaksa menerjemahkan buku-buku dan berbagai teks lain tentang penyakit itu. Kurnia berharap hasil terjemahannya bisa meningkatkan awareness orang-orang Indonesia terhadap sindrom Tourette (hal 128-130).

Sindrom Tourette, suatu gangguan saraf dan perilaku (neurobehavioral disorder), dicirikan aksi tak disadari, berlangsung cepat (brief involuntary actions), berupa tics vokal (termasuk kata jorok) dan kotor, juga disertai gangguan kejiwaan (psychiatric disturbances).

Indah Nuritasari di Philadelphia bingung harus menerjemahkan keterangan dokter bahwa seorang pasien kanker hanya bisa bertahan sekitar 4 bulan. Dengan alasan kemanusiaan, akhirnya Indah menerjemahkan bahwa penyakit itu bisa disembuhkan, namun lama. Pasien akhirnya meninggal 5 tahun kemudian (hal 54–56). Tentu saja, tindakan Indah tidak dapat dibenarkan secara etika penerjemahan, namun apa jadinya jika saat itu Indah menerjemahkan apa adanya?

Buku ini memuat tulisan para penerjemah dari berbagai naungan organisasi profesi tersebut. Ada pula sharing dari Rahmad Ibrahim yang dapat hidup dari menerjemahkan. Dengan menerjemah, dia dapat membeli rumah dan membiayai kuliah pascasarjana istrinya di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang (hal 144).

Minat masyarakat untuk menekuni profesi penerjemah belum besar, namun cukup menjanjikan bila ditekuni secara serius. Beberapa tahun belakangan, penerjemah sudah diakui berupa tarif yang disahkan Menteri Keuangan. Di KTP pun sudah ada profesi penerjemah sebagai pekerjaan.

Diresensi Slamat P Sinambela, anggota penuh Himpunan Penerjemah Indonesia

Judul buku : Pesona Penyingkap Makna
Penyunting: Sofia F. Mansoor & Maria E. Sundah
Tebal : xiv + 216 halaman
Penerbit : Penerbit ITB, 2013
ISBN : 978-602-9056-47-1
Harga : Rp65.000

Sumber: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/119468

Edisi cetak:

A resensi

Advertisements
%d bloggers like this: