5 Bahasa Apresiasi dalam Dunia Kerja

Judul: 5 Bahasa Apresiasi dalam Dunia Kerja
Judul asli: The 5 Language of Appreciation in the Workplace: Empowering Organizations by Encouraging People
Penulis: Gary Chapman & Paul White
Penerjemah: Slamat Parsaoran Sinambela
Penerbit: Visi, Bandung, September 2012

Atas budi baik Mas T. Nugroho Angkasa, buku ini diresensi di Harian Seputar Indonesia tanggal 17 Februari 2013. Berikut resensinya:

Keunikan Bahasa Apresiasi Manusia

Presisi alias ketepatan menjadi kata kunci dalam buku ini. Bayangkan pada suatu siang yang terik,seorang rekan sekerja Anda merasa kehausan.Kemudian, datanglah seorang karyawan lain menawarkan pertolongan seturut pemahamannya sendiri.

Alih-alih menyuguhkan segelas air es, ia justru menyodorkan kursi untuk diduduki. Insiden miskomunikasi tersebut niscaya membuat frustrasi, baik dalam diri si pemberi maupun si penerima bantuan (halaman 26). Buku 5 Bahasa Apresiasi dalam Dunia Kerja mendedah lima macam bahasa apresiasi manusia. Mulai bagian hulu hingga hilir,sehingga interaksi antar individu menjadi lebih lancar. Pun kerja sama antarlini dalam perusahaan terjalin kian harmonis.

Ada sebuah kisah nyata, Claricia menghadiahi tiket gratis pertandingan Yankees di akhirpekankepadaMike, sebabkoleganya tersebut telah bekerja secara profesional dan optimal. Mike bersedia lembur untuk merampungkan proyek tertentu. Anehnya, Mike tetap bermuram durja. Bahkan ia justru beranggapan pihak manajemen perusahaan tak menghargai jerih payahnya sama sekali. Ternyata Mike tak menginginkan tiket gratis itu.Sebab bahasa apresiasi primernya ialah act of service alias tindak pelayanan.

Mike lebih suka teman- temannya membantu tatkala proyek tersebut musti dikebut. Pun ia tak suka bekerja sendirian. Dalam hati ia berharap mereka dan supervisornya turut kerja lembur dan bahumembahu menyingsingkan lengan baju. Sekadar mengucap terima kasih ataupun memberi hadiah nyata (tangible gift) tak akan memuaskan dahaga emosional Mike untuk dihargai. Menurut Gary Chapman dan Paul White, ada lima model bahasa apresiasi,yakni, “Kata-kata Penghargaan”,“Waktu Berkualitas”,“ Tindak Pelayanan”, “Hadiah Nyata”, dan “Sentuhan Fisik”.

Tak dapat dipungkiri bahwa mayoritas pegawai mendambakan kenaikan gaji, tapi faktor utama kepuasan kerja bukan materi semata.Apresiasi merupakan kebutuhan eksistensial manusia. Jiwa para pekerja– dari Direksi,CEO sampai cleaning service dan bagian rumah tangga–memberontak jika tak dihargai. Buku ini juga memaparkan hasil penelitian Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat.

Temuannya cukup mengagetkan, ternyata 65 persen orang Amerika meninggalkan pekerjaan mereka bukan karena urusan finansial an sich,tapi karena ketiadaan penghargaan batin (baca: apresiasi). Dalam konteks ini, tesis almarhum Stephen R.Covey menjadi relevan, “Setelah keberlangsungan fisik,kebutuhan terbesar manusia ialah keberlangsungan psikologis,yakni untuk dipahami,diakui,dihargai,dan dicintai.”(halaman 22).

Sebelumnya, Gary Chapman telah menulis buku The Five Love Languages: The Secret to Love That Lasts(Lima Bahasa Cinta: Rahasia Mengasihi Yang Langgeng). Penerbitnya The New York Times. Buku tersebut terjual sebanyak enam juta kopi versi bahasa Inggris-nya. Bahkan kemudian diterjemahkan pula ke dalam 40 bahasa. Lantas, banyak pembaca meminta Direktur Marriage and Family Life Consultant Inc tersebut menulis topik senada, tapi fokusnya lebih dalam dunia kerja.

Singkat cerita, konselor keluarga berjam terbang 40 tahun lebih tersebut menggandeng Dr.Paul White. Selama tiga tahun terakhir,mereka berkolaborasi dalam Motivating by Appreciation Project (Proyek Memotivasi dengan Apresiasi). Terkait sistematika buku ini, 5 Bahasa Apresiasi dalam Dunia Kerja terdiri atas empat bagian.Ibarat bangunan rumah diawali dengan fondasi, “Apa itu apresiasi?” Lantas, tiangtiang penyangganya ialah penjelasan runut ihwal lima model bahasa apresiasi.

Pun dilengkapi dengan ornamen penerapan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir atapnya, penulis menyajikan tips praktis untuk mengatasi tantangan yang biasa menghadang. Keunggulan buku ini memberi porsi besar bagi pengembangan karakter positif,antara lain ketekunan, keberanian, kerendahan hati, disiplin diri, welas asih,kesediaan mengampuni, kejujuran, integritas, kesabaran, kebajikan, dan pengorbanan. Butir-butir mutiara nilai keutamaan tersebut niscaya tak lekang oleh waktu.

Seorang pemimpin juga perlu loyal dalam memberi pujian bagi pegawai yang berprestasi. Penulis menceritakan pengalamannya sendiri ketika disanjung secara verbal oleh bosnya. “Saya belum pernah menyampaikan hal ini namun saya mengagumi Anda.Anda salah satu orang terbaik yang pernah saya temui. Saya memerhatikan cara kerja Anda membantu rekan kerja ketika mereka kewalahan dengan tugasnya. Anda sebetulnya tak perlu melakukan semua itu sebab memang bukan bagian dari tugas pekerjaan Anda. Tapi pengorbanan Anda tersebut menyiratkan karakter Anda yang sungguh mendalam.” (halaman 49).

Selain kata-kata penghargaan, ada juga karyawan yang suka menerima hadiah “liburan”. Menurut observasi penulis yang kerap menjadi narasumber di hampir seluruh lima benua ini, pekerja muda dari generasi muda (Gen X, Gen Y, dan Millennial) sangat mengapresiasi waktu senggang.Namun tentu syaratnya, mereka harus merampungkan dulu proyek besar perusahaan.

Akhir kata, buku setebal 285 halaman ini bisa dijadikan sebuah referensi berharga untuk menyelami keunikan bahasa apresiasi manusia. 

T.Nugroho Angkasa S.Pd,
Guru bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam),Ekskul English Club di SMP Kanisius Sleman dan TK Mata Air Yogyakarta)

Visi@Sindo

Advertisements
%d bloggers like this: