Anton Kurnia: Menerjemahkan Itu Pekerjaan Serius

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/08/kampus/obrolan.htm

BERKAT kerja penerjemah, boleh dibilang banyak orang jadi bisa mengenal dan membaca karya-karya para penulis besar dunia. Nama dan karya dari Karl Marx sampai J.K. Rowling mungkin sudah tak asing lagi bagi publik Indonesia, termasuk juga kawan Kampus. Anton Kurnia (32), seorang penerjemah asal Bandung yang sudah pernah menerjemahkan 50-an buku, kali ini akan menuturkan berbagai pendapat dan pengalamannya.

Semua berawal dari hobi Anton membaca karya-karya penulis dunia dalam bahasa Inggris. Dari membaca, lulusan Teknik Geologi ITB angkatan 1995 ini tergerak untuk menerjemahkan. Itu dilakukan oleh Anton, yang dulu juga aktif di media kampus, sebagai ajang belajar menulis.

Semenjak 1998, ketika cerpen terjemahannya dimuat di koran pertama kali, ia mulai yakin kalau dunianya adalah sastra. Seiring makin aktifnya ia membuat terjemahan karya berbagai penulis dunia, order pun mulai datang, dari mulai temannya sampai penerbit. Anton pun banting setir dari disiplin ilmu yang dipelajarinya semasa kuliah. Kemampuan bahasa Inggris sendiri diakuinya diperoleh secara otodidak. “Saya meng-improve dengan banyak membaca, belajar dari kamus, dan referensi lainnya,” ujar lelaki yang juga kerap duet dalam kerja penerjemahan, bersama istrinya, Atta Verin.

Kini, selain dikenal sebagai penerjemah, ia juga melakoni pekerjaan menulis dan menyunting beberapa buku. Ada 4 bukunya yang telah terbit, terakhir Ensiklopedia Sastra Dunia pada Oktober 2006, dan 30-an buku terjemahan yang telah ia sunting, di antaranya karya-karya Milan Kundera, Leo Tolstoy, Gabriel Garcia Marquez, Orhan Pamuk, dsb. Berikut petikan perbincangan Kampus dengannya.

Apa kesulitan dan kesenangan menjadi penerjemah?

Pada dasarnya karena saya suka sastra, jadi ini sebetulnya pekerjaan yang menyenangkan untuk saya. Saya dikasih buku, disuruh baca, dan saya dapat uang dari situ, hehehe. Kalau sulitnya, menerjemahkan itu susah karena bukan sekadar menerjemahkan kalimat per kalimat, tapi ada juga rasa dan nuansa yang harus kita tangkap. Kadang saya ikut membayangkan suasananya seperti apa, dsb. Pekerjaan ini juga butuh konsentrasi penuh, kalau perlu mengasingkan diri. Bekerja dengan naskah, komputer, buku, bisa berjam-jam per hari, dan itu bisa berbulan-bulan.

Paling lama, satu naskah saya pernah 4-5 bulan. Naskah tersebut adalah Les Miserables-nya Victor Hugo, karena bahasanya sulit sekali. Saya lupa pada abad ke berapa naskah itu ditulis, sudah kuno sekali, dan diterjemahkan pada abad itu juga, jadi bahasa Inggrisnya kuno. Saya hampir selalu menggunakan kamus
Inggris-Inggris. Tapi kalau cerpen, saya bisa lebih cepat.

Kadang terjadi kesulitan penerjemahan, misalnya, ada candaan dalam bahasa asing yang lucu, tapi ketika diterjemahkan ke Indonesia jadi tidak lucu. Bagaimana caranya menerjemahkan agar mungkin lebih bercita rasa Indonesia?

Ya betul, memang kadang ada yang istilahnya hambatan budaya. Ada satu problem dalam penerjemahan. Mau setia pada kata per kata, atau setia pada makna? Saya cenderung termasuk pada yang kedua. Ada beberapa aspek bahasa, yaitu bahasa asli dan bahasa sasaran. Menurut saya, yang penting itu bahasa sasaran. Misalnya, ada ungkapan, kalau dalam bahasa Inggris Bagai apel dibelah dua. Tapi saya akan menerjemahkan Bagai pinang dibelah dua, walaupun aslinya adalah apple. Karena
dalam konteks budaya jadinya lebih tepat itu.

Untuk hal-hal seperti itu, ada dua cara. Pertama, tetap biarkan tapi diberi catatan kaki. Kedua, cari konteks yang lebih tepat dalam bahasa Indonesia. Penerjemah harus pandai memilah mana yang lebih tepat dan bagaimana konteksnya.

Salah satu kritik pada hasil penerjemahan yaitu ada kesalahan interpretasi sehingga konteksnya beda dengan yang asli. Bahkan ada juga kesalahan huruf sehingga mengurangi kenyamanan membaca. Pernah punya pengalaman begitu?

Ketika sudah jadi buku, kadang tuh saya suka salah cetak. Tapi sebenarnya itu bisa diatasi dengan proof-reader, jadi tidak ada huruf salah naro. Yang fatal tuh kalau sampai salah konteks. Nah, kalau sejauh itu saya belum pernah.

Akan tetapi, saya pernah menemui dalam buku yang saya baca, mungkin itu karena kekurangan referensi ya. Misalnya, dalam satu novel, ada satu istilah di Amerika yaitu Ivyleague, lalu itu dibilang liga Ivy. Ternyata pas saya cek di referensi, itu maksudnya sebutan untuk 10 besar kampus terbaik di Amerika. Nah, penerjemah itu gagal menangkap konteksnya. Sebenarnya itu bisa diatasi dengan banyak baca, jangan malas buka kamus, dan tanya orang juga, karena kalau salah akan menyesatkan banyak orang.

Belum lagi dari segi keenakan dan halus bacanya. Misalnya novel, kalau bisa itu diterjemahkan seperti jadi novel lagi. Sebetulnya menerjemahkan itu mereproduksi karya. Ketika menerjemahkan novel, kita juga telah melahirkan novel lain, walau bukan berarti baru. Makanya, idealnya penerjemah itu penulis juga. Mungkin sulit menerjemahkan persis seperti maunya pengarang, tapi paling tidak kita bisa
menerjemahkan keindahannya, maknanya, pilihan katanya, dsb. Sehingga seorang pengarang yang luar biasa dalam pandangan dunia, tidak tercederai oleh penerjemahnya.

Januari lalu, ada seminar yang dibuat Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Katanya, masih ada kelemahan dalam hasil penerjemahan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Itu kurang lebih karena banyak penerjemah belajar secara otodidak. Menurut Anda, yang juga belajar otodidak, bagaimana?

Buat saya, otodidak itu bukan kelemahan. Perlu dikoreksi pernyataan Pak Benny Hoed (Ketua HPI-red.) itu. Kelemahan penerjemah adalah, mau dia belajar formal atau otodidak, kalau tidak mau belajar lagi. Belajar dan sekolah itu kan berbeda. Ada yang sekolah, tapi belum tentu benar-benar belajar. Kadang saya menemukan, penerjemah bergelar sarjana sastra Inggris dsb., tapi kemampuannya juga tidak lebih baik dari saya, yang otodidak. Masalahnya apa, dia tidak mau belajar lagi.

Sebetulnya saya sempat berpikir, karena suka sastra, untuk membentuk semacam forum penerjemah sastra. Tujuannya meningkatkan kemampuan para penerjemah, sharing, dan meningkatkan posisi tawar juga. Karena beberapa penerjemah pemula itu punya posisi yang lemah di depan penerbit. Sudah dibayar murah, kadang susah dilunasi pula.

Lembaga semacam itu di sini nggak ada, tapi di luar negeri ada, yaitu di Jerman. Itu lembaga independen, mengundang para penerjemah Eropa, lalu bekerja di sana.
Bagaimana riilnya lembaga itu jika diterapkan?

Saya sih mengusulkan pemerintah punya kepedulian untuk membentuk lembaga itu di sini. Kita bisa bekerja sama dengan pusat kebudayaan asing, misalnya Goethe, The British Council, dsb. Untuk awalan saja, kita bisa mengundang beberapa penerjemah, yang sudah berklasifikasi tertentu, misalnya sudah menerjemahkan berapa kali. Forum ini berkesinambungan, bukan pertemuan sehari-dua hari. Ini
untuk meningkatkan kemampuan para penerjemah kita. Karena menurut saya, penerjemahan itu kerja kolektif. Itu berguna bagi seluruh bangsa.

HPI sebenarnya ke arah sana, bikin seminar, dsb., tapi lembaga ini lebih live-in, seperti di Jerman. Di sana berjalan karena disubsidi oleh pemerintahnya, dan lembaga donor. Ya mungkin ini tinggal political will, katakanlah pemerintah lewat Departemen Pendidikan, misalnya. Karena kerja penerjemahan itu berkaitan erat dengan edukasi secara umum. Bagaimana rakyat kita bisa membaca buku-buku yang bagus. Ketika terkendala oleh kualitas kurang baik, itu kan sayang.

Bagaimana prospek profesi penerjemah sekarang?

Sangat bagus sebetulnya. Saya coba kasih ilustrasi. Untuk satu halaman, terjemahan dua spasi, saya bisa dibayar sekira Rp 25 ribu. Karena freelance, saya bisa mengatur kerja semau saya, tinggal mengikuti deadline. Dalam 1 jam saya bisa 2 halaman, 8 jam bisa 16 halaman, jadi bisa dapat Rp 400 ribu-an.
Karena saya juga butuh libur, dalam seminggu 5 hari kerja, saya bisa dapat Rp 2 juta, dan sebulan bisa Rp 8 juta. Saya kira uang itu cukup lumayan.

Apalagi dengan perkembangan media massa, dari mulai televisi, radio, penerbit, dsb. Stasiun televisi biasanya butuh subjudul, dsb. Di perusahaan juga, butuh penerjemahan kontrak kerja dan dokumen.

Saya kutip pernyataan Goenawan Mohammad. Sering orang menganggap, profesi penerjemah sebagai profesi sementara. Sebenarnya profesi itu kalau mau diseriusi, selain hasilnya bagus, uangnya juga bisa bagus, kok. ***
ngnya juga bisa bagus, kok. ***

Advertisements

4 Comments

  1. Dina Begum said,

    December 22, 2011 at 13:38

    Betul sekali. Saya penerjemah lepas dan mencari nafkah dari menerjemahkan, jadi saya sangat serius menekuni pekerjaan ini.

    • December 22, 2011 at 16:31

      Benar Mbak Dina, ini pekerjaan besar πŸ™‚ cuma kadang memang penghargaannya masih sebelah mata. salam dari semarang:)

      • Dina Begum said,

        December 22, 2011 at 16:43

        Salam dari Bekasi Mas Slamat. Sebenarnya agar mendapat penghargaan, menurutku penerjemahnya sendiri juga perlu menghargai diri sendiri. Dari Ilustrasi Mas Anton memang bisa dikatakan penghasilan penerjemah sangat layak. Akan tetapi ada yang bersedia dibayar jauh lebih rendah daripada itu karena takut kehilangan pelanggan. Menurut pengalaman saya, dan dari mengamati teman-teman penerjemah yang sukses dari ukuran materi, bila kita yakin kualitas kita baik dan diakui oleh klien, kita tidak usah takut menolak dibayar murah.
        Perkara profesi ini masih dipandang sebelah mata….memang tetangga-tetanggaku juga masih berkerut kening sewaktu aku bilang aku ini penerjemah, tapi saat membuat e-KTP, di kolom pekerjaan sudah ada pilihan profesi ‘Penterjemah’. hehe…. lumayanlah.

  2. December 23, 2011 at 07:23

    Wah, ada pilihan “penterjemah” ya sekarang, it is good:) Kalau saya lihat, memang tergantung idealisme Mbak. Memang ada yang melayani rate murah, misalnya terjemahan untuk tugas-tugas mahasiswa itu. Semua terserah pilihan kita. Memang enak juga layani klien asing, tetapi itu pun tidak selalu ada. Bagi saya sendiri menerjemah buku atau dokumen masing-masing ada plus minusnya. Kalau buku, kita punya porto yang dinikmati banyak orang, meski fee-nya relatif kecil, tetapi kalau dokumen, fee besar, tapi cuma untuk segelintir orang. Kalau saya sendiri, sering dianggap pengangguran karena setiap hari saya dilihat tetangga bermain dengan anak. Hahahaha, seringkali saya bersyukur untuk itu. Mereka tidak tahu isi kantong saya πŸ™‚


%d bloggers like this: