Menggugah Kesadaran akan Keberadaan Allah

Oleh Slamat P. Sinambela*)

Judul buku: You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
Kategori: Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
ISBN: 978-979-27-7918-9
Harga: Rp.52.800,-

The essence of religion did not lie in knowing or doing, but in the consciousness of being absolutely dependent or, which is the same thing, of being in relation with God. — Frederick Schleiermacher, filsuf (1768-1834)

Buku You Are Not Alone adalah karya Arvan Pradiansyah yang kelima setelah You Are A Leader (2003), Life is Beautiful (2004), Cherish Every Moment (2007), dan The 7 Laws of Happiness (2008).

Kreativitas desainer cover buku ini membuat kata “Not” tidak begitu kelihatan, sehingga bila dibaca dari jauh, selintas berjudul “You Are Alone” (kamu sendirian). Faktanya, kita memang seperti itu, sendirian; atau merasa sendirian, padahal sesungguhnya tidak, sebab Tuhan menemani kita melintasi ruang dan waktu.

Arvan, narasumber tetap untuk talkshow “Smart Happiness” di Smart FM Network yang disiarkan di 22 kota di Indonesia ini, mencoba menggugah kesadaran kita akan keberadaan Allah. Senada dengan apa yang dikatakan Schleiermacher di awal tulisan ini, Arvan berpendapat bahwa alasan mengapa agama tak berkaitan dengan perilaku manusia karena agama hanya diajarkan dalam bentuk pengetahuan dan bukan spiritualitas.

Ia menyoroti perilaku masyarakat kita yang dikenal sebagai masyarakat religius tetapi sayangnya bukan masyarakat yang spiritual. Kita rajin pergi ke tempat ibadat tetapi begitu keluar dari tempat ibadah kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Kita percaya kepada Tuhan tetapi tidak “beriman” kepada Tuhan. Ketika melakukan hal-hal tercela, kita melakukannya tanpa beban, seolah-olah Tuhan tidak melihat kita, bahkan seakan-akan Tuhan tidak pernah ada.

Kehadiran buku ini seakan tepat waktunya dengan kondisi yang terjadi pada bangsa kita: bencana alam seperti banjir Wasior, tsunami di Padang dan Kepulauan Mentawai, meletusnya Gunung Merapi, juga bencana politik kasus Bank Century, pola tingkah para wakil rakyat yang menodai akal sehat, kasus mafia hukum dan perpajakan Gayus, dan masih banyak lagi karut marut di bangsa ini. Buku ini, dari sudut pandang spiritual, membongkar pelbagai hal yang hakiki perihal persoalan yang kita hadapi sehari-hari.

Bagi Arvan, banyak persoalan yang muncul di tengah kehidupan kita terjadi karena lemahnya kesadaran kita akan keberadaan Allah. Sebutlah misalnya, bagaimanakah seharusnya memaknai bencana? Apakah bencana berarti Tuhan sedang marah seperti penafsiran beberapa tokoh agama yang tersiar di media massa?

Arvan mematahkan tafsiran itu. Pertama, menurut Arvan, pernyataan itu batal dengan sendirinya karena kenyataan di lapangan. Menurutnya, Tuhan seharusnya marah dengan orang-orang berdosa, para koruptor penghisap darah rakyat serta orang yang menyalahgunakan kekuasaannya. Sebab jika kita percaya Tuhan sedang marah, kita tak bisa menjelaskan mengapa Tuhan  selalu marah dengan orang-orang baik.

Kedua, pernyataan Tuhan marah sangatlah tidak sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Cinta Tuhan bersifat unconditional.

Ketiga, pernyataan bahwa Tuhan marah sangat tidak bertanggung jawab. Pernyataan tersebut sangat memojokkan dan menuduh Tuhan sebagai biang keladi dari segala bencana. Pernyataan tersebut menunjukkan ketidakmauan kita bertanggung jawab.

Buku ini tidaklah diperuntukkan khusus bagi pemeluk agama tertentu. Arvan mengapresiasi berbagai ajaran yang mulia dan indah dari pelbagai agama. Oleh karena itu, Tuhan yang dibicarakan di dalam buku ini adalah Tuhan yang bersifat universal. Inilah salah satu keunggulan buku ini.

Dalam renungan-renungannya ini, Arvan menyuguhkan ilustrasi yang ciamik untuk melontarkan argumennya atas topik yang sedang dibahas. Di dalam halaman-halaman tertentu disisipkan khusus kata-kata mutiara dari para ahli agama.

Beberapa renungannya menyulut kontroversi, bahkan ulasannya pernah dikecam ketika diangkat secara “live” pada program radionya. Bacalah, misalnya, bab yang diberi judul Orang Beragama Belum Tentu Baik. Bab ini mencoba mengurai fenomena mengapa banyak orang beragama ternyata tidak baik dan sebaliknya, orang tidak beragama, atau tidak menjalankan agamanya dengan baik, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya adalah orang baik.

Setelah perenungannya yang mendalam, Arvan mengajukan tiga kesalahan pokok dalam memaknai agama. Pertama, agama sering disosialisasikan dalam bentuk ritual semata. Sejak kecil kita belajar shalat namun kita lupa tidak pernah diajarkan” mengapa kita harus shalat?”

Kedua, agama sering diartikan sebagai sebuah kewajiban yang bila melakukannya akan diganjar pahala dan surga sedangkan mengabaikannya akan diganjar dosa dan neraka. Padahal kata-kata kewajiban seringkali bernuansa buruk. Kewajiban memberikan konotasi paksaan bagi orang yang melakukannya.

Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan. Padahal esensi agama adalah kasih. Dalam argumen Arvan, tanpa kasih tidak ada gunanya kita beragama. Orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama manusia.

Lewat renungan-renungannya Arvan seringkali dengan lugas mengoreksi pemahaman keberagamaan kita yang kadang picik, tertutup dan ekskusif. Ibarat sebuah sekolah rohani, buku ini menyibakkan berbagai wawasan kesadaran spiritual kita atas keberadaan Allah.

Seperti tujuan awalnya, ketiga puluh renungan ini berusaha memprovokasi para pembacanya untuk berubah secara spiritual menuju keadaan yang lebih baik dan memetik kebahagiaan hidup.

*)Slamat P. Sinambela, penerjemah dan editor lepas, tinggal di Semarang

sumber: Analisis News, 2 Maret 2011,

tautan:  http://analisisnews.com/analisis/resensi-buku/447-you-are-not-alone

Advertisements
%d bloggers like this: