Penderitaan

oleh Slamat P. Sinambela

Perikop: Ayub 1: 1-22
Nas: O, alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusannya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! – Roma 11:33

Hari itu 15 Februari 1947. Sebuah pesawat Avianca Airline menuju Equito, Ekuador, menabrak puncak Gunung El Tablazo yang tingginya 14.000 kaki tidak jauh dari Bogota, kemudian jatuh, sebagai gumpalan logam yang menyala, ke jurang di bawahnya. Seorang warga New York yang masih muda, Glenn Chambers, adalah seorang korban. Dia merencanakan untuk memulai pelayanan dengan Voice of the Andes, impian seumur hidup yang tiba-tiba gagal dan menjadi mimpi buruk.

Sebelum meninggalkan Bandar Udara Miami pada pagi hari itu, Chambers cepat-cepat mengirimkan surat kepada ibunya di atas secarik kertas yang ditemukannya di lantai terminal. Kertas itu dulunya adalah sebuah iklan yang tercetak dengan satu kata WHY (mengapa) di tengah-tengahnya. Tetapi pada waktu antara pengiriman dan penerimaan surat itu, Chambers tewas. Setelah akhirnya surat itu datang, ibunya melihat pertanyaan menantang yang menghantuinya seumur hidupnya—MENGAPA?

Penderitaan selalu mendapat peran ganjil dalam perjalanan iman seseorang. Semakin baik kondisi iman seseorang, maka semakin positif efek penderitaan bagi kehidupan rohani-nya. Charles R. Swindoll melukiskan Allah pada saat kita masuk di dalam penderitaan sebagai berikut:
TUHAN TERLALU ADIL SEHINGGA TIDAK MELAKUKAN APAPUN YANG KEJAM …
TERLALU BIJAKSANA SEHINGGA TIDAK MEMBUAT KESALAHAN …
TERLALU MENDALAM SEHINGGA TIDAK MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI.

Kiranya kita dapat lebih arif memahami penderitaan, dan memaknai Allah di saat-saat Dia terlihat berbeda.[]

Seseorang yang beriman sejati seharusnya menanggapi penderitaan sama dengan suka cita. Semuanya merupakan anugerah Tuhan.

(dimuat di renungan harian Blessing, Januari 2008)

Advertisements
%d bloggers like this: