Menjadi Pendorong

oleh Slamat P. Sinambela

Perikop: Kolose 4:2-6
Nas: Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana harus memberi jawab kepada setiap orang. –  Kolose 4:6

Suatu kali seorang gubernur negara bagian di Amerika berkunjung ke sebuah daerah yang kumuh di bawah kekuasaannya. Sang gubernur datang bersama istrinya, seorang kulit putih yang cantik. Istrinya memakai topi lebar dengan senyum menawan. Di antara kerumunan orang-orang kulit hitam di kawasan itu, terdapat seorang gadis miskin berkulit hitam yang mengagumi sang istri gubernur. Tiba-tiba sang istri gubernur datang kepada gadis kecil itu, menyalaminya dengan hangat dan berkata, ”Hai, kamu cantik sekali, matamu indah seperti bintang.”

Saat kembali ke rumah, si gadis cilik itu bertanya-tanya dalam hati, ”Benarkah yang dikatakan istri gubernur tadi? Apakah aku cantik dan mataku seperti bintang?”

Sejak saat itu kehidupannya berubah. Ia berjuang sekuat tenaganya mengejar impiannya dan bertahun-tahun kemudian menjadi orang yang sangat berhasil, selebriti, pengusaha, dan pembawa acara yang sangat terkenal di seluruh dunia. Bahkan, beberapa orang biasa bisa jadi selebriti bila terpilih diwawancarainya. Gadis kecil berkulit hitam itu adalah Oprah Winfrey.
Dalam Alkitab, Barnabas (seorang yang seperti nyala api yang berkedip-kedip) menjadi pendorong Paulus (yang seperti lampu sorot) yang luar biasa melayani Tuhan. Seringkali seseorang yang dimotivasi menjadi jauh lebih hebat dari motivatornya. Perintah untuk menjadi pendorong banyak kita temukan di dalam Alkitab. Kita seharusnya memulainya dari keluarga kita, sahabat-sahabat kita, lalu orang-orang lain di sekitar kita. []

Satu kalimat yang membangun bisa mempengaruhi seluruh dunia. Maka ucapkanlah!

(pernah dimuat  renungan harian Blessing, Januari 2008)

Advertisements
%d bloggers like this: