Empat Jari Anugerah

oleh Slamat P. Sinambela

Anda bisa memainkan Ode to Joy karya Beethoven sampai dengan Fantasie Impromptu karya Chopin pada piano? Mungkin mudah bila Anda telah bertahun-tahun belajar piano dengan kondisi sepuluh jari tangan yang lengkap. Tapi, pianis satu ini bisa melakukannya hanya dengan empat jari yang ia miliki. Di samping itu, ia juga mengalami kecacatan mental.

Hee Ah Lee

Hee Ah Lee nama gadis pianis itu. Ia menderita lobster claw syndrome. Pada masing-masing ujung tangan Hee terdapat dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting.  Tingginya hanya 104 Cm, yang menyulitkannya untuk menginjak pedal piano. Gadis luar biasa itu dilahirkan oleh Woo Kap Sun pada tanggal 9 Juli 1985.

Woo sebelumnya telah mengetahui kalau anaknya itu akan dilahirkan cacat. Ayah Hee sendiri seorang bekas tentara Korea. ”Ada sanak keluarga kami menganggap itu sebagai aib. Mereka bahkan menyarankan agar jika kelak lahir, bayi itu dikirim ke panti asuhan,” kata Woo.

Sang ibu menolak saran itu. Ia menerima Hee sebagai kenyataan dan anugerah. Nama yang ia berikan cukup indah. Hee berarti suka cita dalam bahasa Korea. Dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh, sedangkan Lee adalah nama marga. Nama Hee Ah Lee berarti suka cita yang terus tumbuh.

Saran Fisioterapis
Saat Hee berumur enam tahun, mengangkat pensil pun ia tak sanggup. Atas saran para ahli, ia dianjurkan untuk belajar piano untuk menguatkan otot-ototnya. Cho Mi Kyong, guru piano pertamanya, memperlakukan Hee layaknya murid sepuluh jari. Ia tidak melatih Hee dengan rasa kasihan karena kondisi fisik. ”Guru saya bilang, jangan bersikap sebagai orang cacat. Tetapi bermainlah sebagai orang normal,” kenang Hee.

”Aku berlatih terus hingga lelah dan menangis. Betapa sulit bermain dengan empat jari. Susah sekali bagiku memainkan notasi yang bersambungan,” kata Hee. Setiap kali Hee memainkan arpeggio atau chord secara melodik dan runut, memang terdengar ada not yang terlompati. Tapi itu tidak merusak melodi apapun atau mengubah bangun komposisi. Ia mengaku 70 persen bermain dengan hati dan sisanya dengan teknik yang ia kondisikan untuk empat jari.

Woo berperan banyak dalam pembentukan Hee. Ia memperlakukan Hee sebagaimana anak-anak lain. ”Ibu menanamkan rasa percaya diri padaku. Bahwa aku harus bisa melakukan segalanya sendiri. Bahwa kalau aku bisa main piano, aku bisa melakukan apa saja, meski aku tahu itu makan waktu,” ungkap Hee. Bayangkan, untuk memainkan karya Chopin, Fantasia Impromptu, Hee berlatih lima sampai sepuluh jam sehari selama lima tahun. Hasilnya memang luar biasa. Umur 12 tahun, Hee telah menggelar resital piano tunggal.

Hee Ah Lee

Sederet penghargaan ia peroleh. Ia juga telah konser keliling dunia, termasuk bermain bersama Richard Clayderman di Gedung Putih. Di dunia, ia dikenal sebagai The Four Fingered Pianist (Pianis Berjari Empat).

Untuk apa yang dimiliki oleh tubuhnya, yang kita katakan golongkan sebagai kekurangan, Hee menyebutnya sebagai, ”Special gift, anugerah spesial dari Tuhan.”

Begitulah, Hee Ah Lee telah menjadi inspirasi yang hidup bagi mereka yang sempurna.[]

Artikel ini pernah dimuat di renungan harian Blessing, Januari 2008

Advertisements
%d bloggers like this: